Pelvic Inflammatory Disease

November 18, 2021 | Author: Anonymous | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

Download Pelvic Inflammatory Disease...

Description

GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI WANITA PELVIC INFLAMMATORY DISEASE (PID)

Oleh :

SGD 6 Ni Ketut Rahajeng Intan H

(1002105016)

Kadek Fira Parwati

(1002105017)

Thayakinta Pertiwi

(1002105019)

Ni Luh Putu Susi Mardi Lestari

(1002105026)

Kadek Dian Praptini

(1002105029)

Ni Made Indah Hermayoni

(1002105039)

Bagus Adi Marthayoga

(1002105056)

Putu Inge Ruth Suantika

(1002105072)

Ni Made Candra Yundarini

(1002105074)

Komang Arya Oktaviantara

(1002105079)

Kadek Vany Almamita

(1002105080)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2013

Case 3 ( Kelompok 5 dan 6) Nona Rani 25 tahun, mengeluh nyeri pada perut dan panggul. Nyeri dirasakan terus menerus dan bertambah parah bila beraktifitas. Klien juga mengeluh nyeri saat berkemih dan muncul bercak pada vagina. Pada pemeriksaan fisik ditemukan S: 380C, N: 84x/menit, TD : 120/80 mmHg. Klien diketahui bekerja disebuah diskotik dengan gaya hidup bebas, merokok dan minum-minuman beralkohol. Berdasarkan data diatas: a. Sebutkan dan jelaskan masalah yang terjadi pada Nona Rani b. Jelaskan penyebab dan faktor resikonya c. Uraikan patofisiologinya d. Jelaskan pemeriksaan penunjang untuk kasus diatas e. Sebutkan komplikasi yang timbul karena kelainan tersebut f. Jelaskan terapi untuk masalah tersebut g. Pendidikan kesehatan apa yang perlu pada pasien dengan kasus diatas h. Uraikan WOC sampai timbulnya masalah keperawatan pada pasien dengan kelainan diatas, tujuan dan kriteria hasil, dan intervensi yang dipergunakan (Gunakan TRIPLE N)

A. Masalah yang terjadi pada Nona Rani Pada kasus diatas Nona Rani mengalami Pelvic Inflammatory disease (PID). Dimana Pelvic inflammatory disease (PID) adalah penyakit infeksi dan inflamasi pada traktur reproduksi bagian atas, termasuk uterus, tuba fallopi, dan struktur penunjang pelvis termasuk peritoneum (emedicine,2009). Pada PID terjadi infeksi genitalia bagian atas wanita yang sebagian besar akibat hubungan seksual. Biasanya disebabkan oleh Neisseria gonore dan Klamidia trakomatis oleh organisme lain yang menyebabkan vaginosis bakteria. Penyakit Radang Panggul (Salpingitis, PID, Pelvic Inflammatory Disease) adalah suatu peradangan pada tuba falopii (saluran menghubungkan indung telur dengan rahim). Peradangan tuba falopii terutama terjadi pada wanita yang secara seksual aktif. Penyakit radang panggul (PRP) adalah istilah umum untuk infeksi pada lapisan rahim, tuba falopi, atau indung telur. Sebagian besar kasus penyakit radang panggul disebabkan oleh bakteri yang bergerak dari vagina atau leher rahim ke dalam rahim, tuba falopi, ovarium, atau panggul. Gejala paling sering dialami adalah nyeri pada perut dan panggul. Nyeri ini umumnya nyeri tumpul dan terus menerus,terjadi beberapa hari setelah menstruasi terakhir, d a n diperparah dengan gerakan, aktivitas, atau sanggama. Nyeri karena radang panggul biasanya kurang dari 7 hari. Beberapa wanita dengan penyakit ini terkadang tidak mengalami gejala sama sekali. Keluhan lain adalah mual, nyeri berkemih, perdarahan atau bercak pada vagina, demam, nyeri saat sanggama, menggigil, perdarahan haid yang abnormal. Dari gejala yang umumnya terjadi pada penderita PID, Nona Rani mengalami gejala yaitu nyeri pada perut dan panggul dan bertambah parah bila beraktifitas, nyeri berkemih, muncul bercak pada vagina dan demam.

Gbr 1. Uterus normal

Gbr 2. Jalan Masuk Bakteri

Gbr 3. Tuba fallopi normal dan tuba

Gbr 4. Pelvic

Gbr 5. Penyebab PID

fallopi yang mengalami inflamasi

Inflammatory Disease

(gonorea dan klamidia)

B. Penyebab dan faktor resikonya 1. Penyebab Penyakit berbahaya ini biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri yang juga menyebabkan penyakit menular seksual lainnya, seperti klamidia, gonore, mikoplasma, stafilokokus, streptokokus. Bakteri ini masuk melalui vagina dan bergerak menuju rahim lalu ke tuba falopi. Menurut Moore (2000), penyebab paling sering dari penyakit ini adalah infeksi chlamydia trachomatis (60%) atau Neisseria gonorrhoeae (30-80%) pada serviks atau vagina yang menyebar ke dalam endometrium, tuba fallopi, ovarium, dan struktur yang berdekatan. Tetapi selain itu ada beberapa penyebab lain diantaranya : 

Infeksi Gardnerella vaginalis



Infeksi Bacteroides



Bacterial vaginosis



Streptococcus Group B



Escherichia coli



Actinomycosis



Enterococcus

Penyakit radang panggul terjadi apabila terdapat infeksi pada saluran genital bagian bawah, yang menyebar ke atas melalui leher rahim. Butuh waktu dalam hitungan hari atau minggu untuk seorang wanita menderita penyakit radang panggul. Bakteri penyebab tersering adalah N. Gonorrhoeae dan Chlamydia

trachomatis yang menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan sehingga menyebabkan berbagai bakteri dari leher rahim maupun vagina menginfeksi daerah tersebut. Kedua bakteri ini adalah kuman penyebab PMS. Proses menstruasi dapat memudahkan terjadinya infeksi karena hilangnya lapisan endometrium yang menyebabkan berkurangnya pertahanan dari rahim, serta menyediakan medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri (darah menstruasi). Infeksi ini jarang terjadi sebelum siklus menstruasi pertama, setelah menopause maupun selama kehamilan. Penularan yang utama terjadi melalui hubungan seksual, tetapi bakteri juga bisa masuk ke dalam tubuh setelah prosedur kebidanan/kandungan (misalnya pemasangan IUD, persalinan, keguguran, aborsi dan biopsi endometrium). 2. Faktor Resiko PID Adapun faktor resiko dari PID adalah:  Wanita yang aktif secara seksual di bawah usia 25 tahun berisiko tinggi untuk mendapat penyakit radang panggul. Hal ini disebabkan wanita muda berkecenderungan

untuk berganti-ganti

pasangan

seksual

dan

melakukan

hubungan seksual tidak aman dibandingkan wanita berumur. Faktor lainnya yang berkaitan dengan usia adalah lendir servikal (leher rahim). Lendir servikal yang tebal dapat melindungi masuknya bakteri melalui serviks(seperti gonorea), namun wanita muda dan remaja cenderung memiliki lendir yang tipis sehingga tidak dapat memproteksi masuknya bakteri.  Menggunakan douche (cairan pembersih vagina dengan disemprotkan). Penelitian telah menunjukkan bahwa douching menyebabkan perubahan flora vagina (organisme yang hidup dalam vagina) dengan cara yang membahayakan, dan dapat memaksa bakteri ke dalam organ reproduksi bagian atas dari vagina.  Wanita dengan pekerja seks lebih rentang dan beresiko mengalami PID. Juga, seorang wanita yang pasangannya memiliki lebih dari satu pasangan seks yang berisiko lebih besar terkena PID, karena potensi untuk lebih banyak eksposur terhadap agen infeksi.  Wanita yang memakai intrauterine device (IUD) mungkin memiliki risiko sedikit peningkatan PID dibandingkan dengan wanita yang menggunakan kontrasepsi lain atau tidak ada sama sekali memakai kontrasepsi. Namun, risiko ini sangat berkurang jika seorang wanita diperiksa dan bila perlu dirawat karena PMS sebelum IUD dimasukkan.

(Centers for Disease Control and Prevention-CDC fact sheet, 2011)  Irigasi vagina  Sering berganti-ganti pasangan seksual atau lebih dari 2 pasangan dalam waktu 30 hari  Pernah menderita penyakit menular seksual sebelumnya  Pernah menderita penyakit radang panggaul sebelumnya  Pemakaian alat kontrasepsi yang bukan penghalang

C. Patofisiologi PID PID disebabkan oleh infeksi yang menyebar melalui serviks. Salah satu teori patofisiologi

adalah

organisme

menular

seksual

seperti

N.gonorrhoeae

atau

C.trachomatis mengawali sebuah proses inflamasi akut yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan dengan cara demikian akses untuk organisme lainnya dari vagina atau serviks ke traktus genital atas. Organisme ini yang awali timbulnya suatu infeksi klinis. Perdarahan menstrual dapat memudahkan terjadinya infeksi pada traktus bagian atas karena hilangnya lapisan mukosa servikal sehingga menyebabkan hilangnya batasan endometrial sebagai suatu efek proteksi dan juga menyediakan sebuah media kultur yang baik (darah menstruasi) untuk bakteri. Terdapat beberapa pertahanan natural untuk naiknya organisme pathogen dari vagina ke tuba fallopi seperti: adanya sekresi vagina yang bersifat asam yang dapat mencegah tumbuhnya bakteri, kanal servikal yang berlumen relative kecil dan secara normal terisi dengan mucus yang bersifat basa, pergerakan silia dari garis endometrial pada uterus dank anal servikal adalah langsung menuju ke bawah dan mengecilkan penyebaran ke atas dari organisme non-motil ke kavitas uterus. Mekanisme proteksi alamiah ini terganggu selama menstruasi, setelah abortus dan persalinan, karena kanal servikal menjadi lebar, epitel endometrium yang protektif terlepas dan permukaan lecet tampak pada kavitas uterus serta pH vaginal meningkat., semua hal ini dapat menyebabkan traktus genital mudah diserang infeksi. Infeksi dapat terjadi pada bagian manapun atau semua bagian saluran genital atas endometrium (endometritis), dinding uterus (miositis), tuba uterina (salpingitis), ovarium (ooforitis), ligamentum latum dan serosa uterina (parametritis) dan peritoneum pelvis (peritonitis).

Perjalanan penyakit tergantung pada jenis (strain ) dan virulensi organisme penyerang maupun resistensi masing-masing pejamu terhadap mikroorganisme. Organisme dapat menyebar ke dan di seluruh pelvis dengan salah satu dari lima cara: Jalur penyebaran bakteri yang umum adalah  Interlumen Penyakit radang panggul akut non purpuralis hampir selalu (kira-kira 99%) terjadi akibat masuknya kuman patogen melalui serviks ke dalam kavum uteri. Infeksi kemudian menyebar ke tuba uterina, akhirnya pus dari ostium masuk ke ruang peritoneum. Organisme yang diketahui menyebar dengan mekanisme ini adalah N.gonorrhoeae, C. Tracomatis, Streptococcus agalatiae, sitomegalovirus dan virus Herpes simpleks.  Limfatik Infeksi puerpuralis (termasuk setelah abortus) dan infeksi yang berhubungan dengan IUD menyebar melalui sistem limfatik seperti infeksi Myoplasma non purpuralis.  Hematogen Penyebaran hematogen penyakit panggul terbatas pada penyakit tertentu (misalnya tuberkulosis) dan jarang terjadi di Amerika Serikat.  Intraperitoneum Infeksi intraabdomen (misalnya apendisitis, divertikulitis) dan kecelakaan intra abdomen (misalnya virkus atau ulkus dengan perforasi) dapat menyebabkan infeksi yang mengenai sistem genetalia interna.  Kontak langsung Infeksi pasca pembedahan ginekologi terjadi akibat penyebaran infeksi setempat dari daerah infeksi dan nekrosis jaringan.

Terjadinya radang panggul di pengaruhi beberapa faktor yang memegang peranan, yaitu:  Terganggunya barier fisiologik Secara fisiologik penyebaran kuman ke atas ke dalam genetalia eksterna, akan mengalami hambatan, karena kuman tersebut harus melewati beberapa bagian organ reproduksi interna sebelum sampai ke pelvik,yaitu a. ostium uteri internum b. ostium uteri eksternum, penyebaran asenden kuman – kuman dihambat secara : mekanik, biokemik dan imunologik c. kornu tuba

d. Pada waktu haid, akibat adanya deskuamasi endometrium maka kuman – kuman pada endometrium turut terbuang. Pada keadaan tertentu, barier fisiologik ini dapat terganggu, misalnya pada saat persalinan, abortus, instrumentasi pada kanalis servikalis dan insersi alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).  Adanya organisme yang berperan sebagai vector. Trikomonas vaginalis dapat menembus barier fisiologik dan bergerak sampai tuba fallopii. Beberapa kuman patogen misalnya E coli dapat melekat pada Trikomonas vaginalis yang berfungsi sebagai vektor dan terbawa sampai tuba fallopii dan menimbulkan peradangan di tempat tersebut. Spermatozoa juga terbukti berperan sebagai vektor untuk kuman – kuman N. gonerea, Ureaplasma ureolitik, C. trakomatis dan banyak kuman – kuman aerobik dan anaerobik lainnya.  Aktivitas seksual Pada waktu koitus, bila wanita orgasme, maka akan terjadi kontraksi utrerus yang dapat menarik spermatozoa dan kuman – kuman memasuki kanalis servikalis.  Peristiwa Haid Radang panggul akibat N gonorea mempunyai hubungan dengan siklus haid. Peristiwa haid yang siklik, berperan pentig dalam terjadinya radang panggul gonore. Periode yang paling rawan terjadinya radang panggul adalah pada minggu pertama setelah haid. Cairan haid dan jaringan nekrotik merupakan media yang sangat baik untuk tumbuhnya kuman – kuman N gonore. Pada saat itu penderita akan mengalami gejala – gejala salpingitis akut disertai panas badan. Oleh karena itu gejala ini sering juga disebut sebagai ”Febril Menses”.

D. Pemeriksaan Penunjang pada pasien PID Diagnosis PID adalah sulit karena tanda dan gejala yang muncul berubah-ubah. Pada pasien dengan serviks, uterus atau nyeri tekan adneksal, PID secara akurat didiagnosis dengan hanya sekitar 65%. Karena sekuele PID, terutama infertilitas, kehamilan ektopik dan nyeri pelvis kronik, harus dicurigai PID pada wanita dengan resiko tinggi, dan hendaklah ditangani dengan agresif pula. Skema kriteria diagnosis dari Pusat Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit dapat membantu meningkatkan ketepatan diagnosis dan penatalaksanaannya. a. Kriteria minimum untuk diagnosis klinik (ketiganya harus ada) sebagai berikut.

1. Nyeri tekan abdominal bagian bawah bilateral 2. Nyeri tekan gerakan serviks 3. Nyeri tekan adneksal bilateral b. Kriteria tambahan untuk diagnosis Kriteria rutin adalah yang dapat diketahui dengan prosedur sederhana dan mendukung atau konfirmasi adanya proses inflamasi akut. Kriteria spesial adalah verifikasi yang membutuhkan prosedur yang lebih sulit dengan keadaan klinis yang mana pasien dengan temuan klinis lebih berat dan yang mana diagnosis serius lainnya harus disingkirkan. 1. Rutin a. Suhu oral lebih tinggi dari 38 o celcius b. Discharge abnormal servikal dan vaginal c. Peningkatan laju endap darah, peningkatan level C-Reactive Protein atau keduanya d. Pemeriksaan laboratorium untuk infeksi servikal dengan N. gonorrhoeae atau C.trachomatis 2. Khusus a. Pemeriksaan histopatologik dari endometritis b. Abses tubo-ovarian pada sonografi atau imaging lainnya c. Pemeriksaan laparoskopi Adapun pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan untuk pasien PID yaitu: 1.

USG (ultrasonografi) Merupakan pemeriksaan diagnostic pertama yang dilakukan pada kasus-kasus yang dicurigai sebagai PID, dimana tidak ditemukan petunjuk klinis. Ultarsonografi akan membantu mendeteksi adanya massa adneksal dan intrateurin atau kehamilan ektopik, terutama bila ada nyeri tekan abdomen dan tidak dapat dilakukannya pemeriksaan pelvis yang adekuat. Hasil terapi dapat diukur secara objektif dengan mengecikan massa pelvis dan berkurangnya indurasi pewarnaan Gram servikal : jika gram negatif intraseluler dipplococi muncul, gonnorhoeae adalah diagnosisnya. Walaupun pewarnaan Gram sendiri terlewat ½ dari kasus gonnorhoeae.

2.

TVS (transvaginal sonografi) Menunjukkan visualisasi detail dari uterus dan adnexa, termasuk ovarium. Pada pemeriksaan fisik, tuba fallopi biasanya terlihat hanya pada keadaan abnormal dan distensi karena obstruksi postinflamasi.

3.

TAS (transabdominal sonografi)

TAS menyediakan gambaran isi pelvis yang lebih menyeluruh yaitu adnexa, uterus, termasuk ovarium. Pada pemeriksaan ini PID akut Nampak dengan adanya ketebalan dinding tuba lebih dari 5 mm, adanya septa inkomplit dalam tuba, cairan mengisi tuba fallopi, dan tanda cogwheel. Tuba fallopi normal biasanya tidak terlihat pada USG. 4.

MRI (magnetic resonance imaging) Menghasilkan gambaran yang lebih baik dari USG. Dalam penelitian Tukeva, menyebutkan bahwa hasil MRI lebih akurat untuk menegakkan diagnosa PID daripada USG. Meski begitu, penelitian ini hanya terbatas pada beberapa kelompok pasien tertentu.

5.

CT (computed tomography) Biasa digunakan dalam initial diagnostic untuk menyelidiki nyeri nonspesifik pelvis pada wanita, dan PID dapat ditemukan secara tidak sengaja. Penemuan CT pada PID adalah servisitis, ooforitis, salpingitis, penebalan ligament uterosakral, dan adanya abses atau kumpulan cairan pelvis. Penemuan CT scan tidak spesifik pada kasus PID dimana tidak bukati abses. (Mudgil,2009)

6.

Pewarnaan Gram servikal : jika gram negatif intraseluler dipplococi muncul, gonnorhoeae adalh diagnosisnya. Walaupun pewarnaan Gram sendiri terlewat ½ dari kasus gonnorhoeae.

7.

Serum Human Chorionic Gonadotropin. Uji kehamilan yang sensitif adalah penting dalam diagnosis banding dari nyeri pelvis untuk menyingkirkan kemungkinan dari kehamilan ektopik. Pada masa lalu, sekitar 3-4% wanita dengan diagnosis PID memiliki kehamilan ektopik pewarnaan Gram servikal : jika Gram negatif intraseluler dipplococi muncul, gonnorhoeae adalh diagnosisnya. Walaupun pewarnaan Gram sendiri terlewat ½ dari kasus gonnorhoeae.

8.

Peningkatan laju endap darah dan C-protein: menunjukkan adanya infeksi

9.

Biopsi endometrium : pemeriksaan USG per vaginam dan per pelvis untuk menyingkirkan KET usia > 6 minggu, kuldosintesis untuk mengetahui bahwa perdarahan yang terjadi diakibatkan oleh hemoperitenium (salpingitis, abses pelvis rupture, atau apendiks yang ruptur

10. Laparoskopi untuk melihat langsung gambaran tuba fallopi. Laparaskopi adalah prosedur pemasukan alat dengan lampu dan kamera melaliu insisi (potongan) kecil di perut untuk melihat secara langsung organ di dalam paggul apabila terdapat

kelainan. Pemeriksaan ini invasive sehingga bukan merupakan pemeriksaan rutin. Untuk mendiagnosis penyakit infeksi pelvis, bila antibiotik yang diberikan selama 48 jam tak memberi respon, maka dapat menggunakan tindakan operatif 11. Urinalisis dan kultur urin untuk mengekslusi enfeksi saluran kemih 12. Pemeriksaan darah a) Leukositosis, adalah bukan indikator yang dapat dipercaya dari PID akut. Kurang dari 50% wanita dengan PID akut mempunyai sel darah putih lebih dari 10.000 sel/ml. b) Peningkatan laju endap darah adalah temuan nonspesifik, tetapi nilai sedimentasi meningkat pada sekitar 75% wanita yang dengan laparoskopi dikonfirmasi sebagai PID. c) Kultur serviks (walaupun hanya 50% korelasi antara kultur serviks dan organisme traktus atas) dan pewarnaan Gram. (dikutip dari pdf “Ancaman Penyakit Radang Panggul pada Infeksi Menular Seksual” oleh Francisca Tjhay)

E. Komplikasi PID 

Infertilitas Satu dari sepuluh wanita dengan PID mengalami infertilitas. PID dapat menyebabkan perlukaan pada tuba fallopii. Luka yang kemudian menjadi scar yang menghalangi tuba dan mencegah terjadinya fertilisasi sel telur.



Ektopik pregnancy Scar yang terbentuk oleh PID juga dapat menghalangi telur yang sudah difertilisasi berpindah ke uterus. Sehingga, telur tersebut justru tumbuh dalam tuba fallopii. Tuba dapat mengalami rupture dan menyebabkan perdarahan yang mengancam nyawa. Operasi darurat dapat dilakukan bila kehamilan ektopik ini tidak terdiagnosa sebelumnya. Rasio kehamilan ektopik 12-15% lebih tinggi pada wanita yang mempunyai episode PID.



Nyeri pelvis kronis Scar juga dapat terbentuk di tempat lain dalam abdomen dan menyebabkan nyeri pelvis yang berlangsung berbulan-bulan atau hingga bertahun-tahun (emedicine,2009)



PID berulang Kondisi ini terjadi jika penyebab infeksi tidak seluruhnya teratasi atau karena pasangan seksualnya belum mendapat perawatan yang sesuai.



Jika pada episode PID sebelumnya terjadi kerusakan servik, maka bakteri akan lebih mudah untuk masuk ke dalam organ reproduksi lain dan membuat wanita tersebut rentan terkena PID berulang. Episode PID berulang ini seringkali dihubungkan dengan resiko infertilitas.



Abses Terkadang PID menyebabkan abses pada bibir vagina, juga pada tuba fallopii dan ovarium. Abses ini adalah kumpulan dari cairan yang terinfeksi. Penggunaan antibiotik dibutuhkan untuk menangani abses ini, jika tidak berhasil maka operasi biasanya merupakan pilihan yang disarankan oleh dokter. Penanganan abses tersebut sangat penting karena abses yang pecah dapat membahayakan (NHS,2010).

Keterlambatan diagnosis dan penatalaksanaan dapat menyebabkan sekuele seperti infertilitas. Mortalitas langsung muncul pada 0,29 pasien per 100000 kasus pada wanita usia 15-44 tahun. Penyebab kematian yang utama adalah rupturnya abses tuba-ovarian. Kehamilan ektopik 6 kali lebih sering terjadi pada wanita dengan PID.

Gbr 6. Ektopik pregnancy F. Terapi pada pasien PID PID dapat disembuhkan dengan beberapa jenis antibiotik. Namun, pengobatan antibiotik tidak membalikkan kerusakan yang telah terjadi pada organ reproduksi. Jika seorang wanita memiliki nyeri panggul dan gejala lain dari PID, sangat penting untuk mencari perawatan segera. Pengobatan antibiotik Prompt dapat mencegah kerusakan parah pada organ reproduksi. Semakin lama seorang wanita menunda pengobatan untuk PID, semakin besar kemungkinan dia menjadi tidak subur atau mengalami kehamilan ektopik di masa depan karena kerusakan pada saluran tuba. Karena kesulitan dalam mengidentifikasi organisme yang menginfeksi organ reproduksi internal dan karena lebih dari satu organisme yang menyebabkan PID, PID

biasanya dirawat dengan setidaknya dua antibiotik yang efektif terhadap berbagai agen infeksius. Antibiotik ini dapat diberikan melalui mulut atau melalui suntikan. Gejalagejala dapat pergi sebelum infeksi sembuh. Bahkan jika gejala pergi, wanita harus menyelesaikan meminum semua obat yang diresepkan. Ini akan membantu mencegah infeksi kembali. Wanita yang sedang dirawat untuk PID harus dievaluasi kembali oleh penyedia layanan kesehatan mereka tiga hari setelah memulai pengobatan untuk memastikan antibiotik bekerja untuk menyembuhkan infeksi. Selain itu, pasangan seks wanita harus dirawat untuk mengurangi risiko infeksi ulang, bahkan jika pasangan tidak memiliki gejala. Meskipun pasangan seks mungkin tidak memiliki gejala, mereka masih dapat terinfeksi dengan organisme yang dapat menyebabkan PID. Rawat Inap untuk mengobati PID dapat direkomendasikan jika wanita a)

sakit parah (misalnya, mual, muntah, dan demam tinggi),

b)

sedang hamil,

c)

tidak merespon atau tidak dapat minum obat oral dan membutuhkan antibiotik intravena ,

d)

memiliki abses pada tuba falopii atau ovarium (tubo-ovarium abses), atau

e)

perlu monitoring untuk memastikan bahwa gejala-gejala tidak disebabkan kondisi lain yang akan membutuhkan operasi darurat (misalnya, usus buntu). Jika gejala berlanjut atau jika abses tidak pergi, operasi mungkin diperlukan.

Pengobatan pada kehamilan dan pada wanita muda Tes kehamilan harus dilakukan pada semua wanita yang diduga menderita PID untuk membantu menyingkirkan kehamilan ektopik. Obat yang dikenal untuk menjadi racun dalam kehamilan, seperti tetrasiklin, harus dihindari. Kombinasi sefotaksim, azitromisin dan metronidazole selama 14 hari dapat digunakan. Risiko yang terkait dengan metronidazol tidak pasti tapi tidak ada laporan mengenai hasil yang merugikan mengenai kombinasi antibiotic. Pengobatan pada wanita dengan alat kontrasepsi intrauterine Pertimbangan harus diberikan untuk mengangkat perangkat kontrasepsi intrauterine (IUD) pada wanita yang mengalami PID. Pengelolaan mitra seksual dari wanita dengan PID Ketika seseorang positif mengalami infeksi menular seksual atau mungkin PID, pasangan seksual saat ini harus dihubungi dan menawarkan saran kesehatan untuk dilakukan skrining gonore dan klamidia. Wanita yang terinfeksi HIV

Wanita dengan PID yang juga terinfeksi HIV harus diobati dengan rejimen antibiotik yang sama seperti perempuan yang HIV-negatif. Perempuan dengan HIV harus dikelola dalam hubungannya dengan dokter HIV mereka. Kontrasepsi pilihan dan PID Wanita yang menggunakan alat kontrasepsi yang mengalami pendarahan harus diskrining untuk mengetahui adanya infeksi saluran genital, terutama disebabkan karena C. trachomatis. Jika seorang wanita cenderung beresiko PID di masa depan dan memiliki permintaan untuk memasang IUD untuk kontrasepsi, LNG-IU akan menjadi pilihan paling tepat. (netdoctor.co.uk)

Menurut Swierzewski (2001), penatalaksanaan yang dilakukan pada pasien PID antara lain :  Sediakan analgesik -

Bila pasien menggunakan IUD maka stop penggunaan in situ, dengan catatan pasien dapat mencegah kehamilan meski tanpa alat kontrasepsi minimal 7 hari

-

Segera rujuk ke bagian genitourinaria (obgyn), untuk pasien dengan riwayat STD agar menjalani skrining, dan terapi bagi pasangan seksual pasien

 Penatalaksanaan antibiotik : -

Pasien PID sebaiknya segera diberikan antibiotik paling tidak untuk 1 minggu. Kadang PID disebabkan oleh lebih dari satu jenis bakteri sehingga kombinasi antibiotik atau antibiotik spektrum luas sering diberikan.

-

Yang harus dilakukan pasien, antara lain:  Tetap mengkonsumsi semua obat yang diresepkan, meskipun gejala PID sudah tidak dirasakan.  Kembali lagi untuk kontrol dalam 2 atau 3 hari setelah penatalaksanaan pertama, untuk memastikan antibiotiknya bekerja.  Kembali dalam 7 hari setelah antibiotik habis untuk memastikan bahwa infeksi sudah sembuh.

 Jika tidak ada perubahan setelah penatalaksanaan antibiotic yang pertama, maka antibiotic jenis lain harus diberikan.

 Pada beberapa kasus berat, pasien harus menjalani opname dan menerima antibiotic dengan intravena. Pasien-pasien tersebut biasanya mengalami :  Sakit parah dengan demam, menggigil dan berkeringat.  Tidak mampu melakukan terapi oral dan membutuhkan antibiotic intravena  Tidak berespon terhadap antibiotic oral  Terdapat abses  Diagnosa penyakitnya tidak pasti dan pasien mungkin mengalami keadaan darurat medis lain (e.g., appendicitis).  Hamil  Immunodeficiency (misalnya HIV , terapi imunosupresi).  Terapi untuk pasangan seksual pasien  Biasanya asimptomatik pada pria  Cegah koitus selama terapi dan follow up selesai.  Skrining bila ternyata pasangan mempunyai riwayat STD bila terbukti pasien pernah koitus dengan pasangan  Beri terapi terhadap infeksi Klamidia pada pasangan meski tidak menderita Klamidia berdasarkan hasil uji pemeriksaan tambahan  Bila terdapat Gonorhea, beri terapi Gonorhea.  Terapi empiris untuk pasangan yang menderita Klamidia dan Gonorea yang tidak mau di-skrining Sedangkan menurut CDC, terapi pada pasien dengan PID ada 2 yaitu: terapi untuk pasien rawat inap dan rawat jalan.

1. Terapi pasien rawatan inap  Regimen A : berikan cefoxitin 2 gram iv atau cefotetan 2 gr iv per 12 jam ditambah doxisiklin 100 mg per oral atau iv per 12 jam. Lanjutkan regimen ini selama 24 jam setelah pasien pasien membaik secara klinis, lalu mulai doxisiklin 100 mg per oral 2 kali sehari selama 14 hari. Jika terdapat abses tubaovarian, gunakan metronoidazole atau klindamisin untuk menutupi bakteri anaerob.  Regimen B : berikan clindamisin 900 mg iv per 8 jam tambah gentamisin 2 mg/kg BB dosis awal iv diikuti dengan dosis lanjutan 1,5 mg/kg BB per 8 jam. Terapi iv

dihentikan 24 jam setelah pasien membaik secara klinis, dan terapi per oral 100 mg doxisiklin dilanjutkan hingga 14 hari.

2. Terapi pasien rawatan jalan 

Regimen A : berikan ceftriaxone 250 mg im dosis tunggal tambah doxisiklin 100 mg oral 2 kali sehari selama 14 hari, dengan atau tanpa metronidazole 500 mg 2 kali sehari selama 14 hari.



Regimen B : berikan cefoxitin 2 gr im dosis tunggal dan proibenecid 1 gr per oral dosis tunggal atau dosis tunggal cephalosporin generasi ketiga tambah dozisiklin 100 mg oral 2 kali sehari selama 14 hari dengan atau tanpa metronidazole 500 mg oral 2 kali sehari selama 14 hari.

Pasien dengan terapi intravena dapat digantika dengan terapi per oral setelah 24 jam perbaikan klinis. Dan dilanjutkan hingga total 14 hari. Penanganan juga termasuk penanganan simptomatik seperti antiemetic, analgesia, antipiretik, dan terapi cairan.

Terapi Pembedahan Pasien yang tidak mengalami perbaikan klinis setelah 72 jam terapi harus dievaluasi ulang bila mungkin dengan laparoskopi dan intervensi pembedahan. Laparotomi digunakan untuk kegawatdaruratan sepeti rupture abses, abses yang tidak respon terhadap

pengobatan,

salpingoooforektomi,

drainase histerektomi,

laparoskopi. dan

Penanganan

bilateral

dapat

pula

salpingooforektomi.

pembedahan dilakukan bila infeksi dan inflamasi telah membaik.

berupa Idealnya,

Panduan CDC untuk penatalaksanaan PID

G. Pendidikan kesehatan yang diperlukan pada pasien PID Pendidikan kesehatan dilakukan lebih pada pencegahan PID itu sendiri yaitu:  Pendidikan seksual harus yang dapat diberikan antara lain mengenai pencegahan dari penularan tersebut. Metode kontrasepsi sawar, seperti kondom dengan tambahan spermisida, tampaknya menawarkan perlindungan terbaik untuk mencegah PMS dan komplikasi seriusnya. Remaja putri yang aktif secara seksual harus menjalani skrining secara rutin untuk mendeteksi adanya PMS asimtomatik, dan terapi harus dimulai untuk mencegah PID serta semua komplikasi yang menyertainya. Cara terbaik untuk

menghindari penyakit radang panggul adalah melindungi diri dari penyakit menular seksual. Penggunaan kontrasepsi seperti kondom dapat mengurangi kejadian penyakit radang panggul. Apabila mengalami infeksi saluran genital bagian bawah maka sebaiknya segera diobati karena dapat menyebar hingga ke saluran reproduksi bagian atas (Wong, et al, 2008).  CDC merekomendasikan pengujian klamidia tahunan dari semua wanita usia aktif secara seksual 25 atau lebih muda, wanita yang lebih tua dengan faktor risiko untuk infeksi klamidia (mereka yang memiliki pasangan seks baru), dan semua wanita hamil.  Setiap gejala genital seperti area vagina yang sakit dengan bau, rasa sakit atau terbakar saat buang air kecil, atau perdarahan antara siklus menstruasi bisa berarti infeksi sexually transmitted disease (STD). Jika seorang wanita memiliki gejala-gejala tersebut, dia harus berhenti berhubungan seks dan berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan dengan segera. Mengobati PMS dini dapat mencegah PID.  Wanita yang mengatakan mereka memiliki PMS dan diharapkan untuk memberitahu semua mitra seks mereka baru-baru ini sehingga mereka dapat memeriksakan diri ke penyedia layanan kesehatan dan dievaluasi untuk PMS. Aktivitas seksual sebaiknya tidak dilanjutkan sampai semua pasangan seks telah diperiksa dan, jika perlu, diobati.

H. WOC dan Asuhan Keperawatan (Terlampir)

ASUHAN KEPERAWATAN NONA RANI DENGAN PID (Pelvic Inflammatory Disease)

1.

PENGKAJIAN . Pengumpulan Data  Identitas pasien  Nama

: Nona Rani

 Umur

: 25 tahun

 Jenis kelamin

: Perempuan

 Pendidikan

:

 Pekerjaan

:

 Status perkawinan

: belum menikah

 Agama

:

 Suku

:

 Alamat

:

 Keluhan utama Klien mengalami nyeri pada perut dan panggul yang bersifat tumpul dan terus menerus diperparah dengan gerakan dan aktivitas.  Riwayat penyakit sekarang Gejala yang dirasakan pasien diawali dengan adanya nyeri pada perut dan panggul. Keluhan lain yang menyertai adalah nyeri berkemih dan adanya bercak pada vagin.  Riwayat kesehatan dahulu Perlu ditanyakan apakah klien memiliki riwayat penyakit radang panggul ataukah pernah terinfeksi oleh kuman penyebab PMS sebelumnya. Kemudian apakah klien menggunakan douche (cairan pembersih vagina) beberapa kali dalam sebulan. Selain itu, perlu ditanyakan pula apakah klien pernah atau sedang menggunakan IUD (spiral), karena resiko tertinggi terjadinya PID adalah saat pemasangan terutama apabila sudah terdapat infeksi dalam saluran reproduksi sebelumnya.  Riwayat psikososial Meliputi perasaan pasien klien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya.

 Pengkajian pola-pola fungsi kesehatan a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan, tapi kadang juga memunculkan persepsi yang salah terhadap pemeliharaan kesehatan. Adanya riwayat perilaku seksual yang berganti pasangan. Dalam kasus, klien bekerja di sebuah diskotik dengan gaya hidup bebas, merokok dan minum minuman beralkohol. b. Pola nutrisi dan metabolisme Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme, kita perlu melakukan pengukuran berat badan untuk mengetahui status nutrisi pasien karena salah satu tanda dari PID adalah mual muntah dan nafsu makan berkurang. c. Pola eliminasi Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan eliminasi urin sebelum dan sesudah MRS mengalami gangguan seperti sering berkemih dan mengalami nyeri saat berkemih. Dalam kasus, klien mengatakan mengalami nyeri saat berkemih. d. Pola aktivitas dan latihan Akibat PID aktivitas klien terganggu karena mengalami nyeri pada perut dan panggul serta kelelahan yang sangat akibat dari kurangnya nafsu makan dan perdarahan hebat saat menstruasi serta pasca melakukan hubungan seksual. e. Pola tidur dan istirahat Adanya nyeri menyebabkan pola tidur klien terganggu. f.

Pola persepsi dan konsep diri Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. Pasien yang tadinya sehat tiba-tiba mengalami sakit. Sebagai seorang awam, klien mungkin akan beranggapan bahwa penyakitnya adalah penyakit berbahaya dan mematikan. Dalam hal ini pasien mungkin akan kehilangan gambaran positif terhadap dirinya karena akibat penyakit ini klien bisa mengalami infertilitas, kehamilan ektopik dan bahkan anak yang dilahirkan cacat atau meninggal.

g. Pola perilaku seksual Perlu ditanyakan apakah klien selama ini suka berganti-ganti pasangan seksual, atau lebih dari 2 pasangan dalam waktu 30 hari. Selain itu, apakah

aktivitas seksual yang dilakukan pada usia yang terlalu muda, yaitu di bawah 16 tahun karena dapat meningkatkan resiko PID. Dalam kasus, klien diketahui bekerja di diskotik dengan gaya hidup bebas h. Pola penanggulangan stress Bagi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya akan mengalami stress dan mungkin pasien akan banyak bertanya pada perawat dan dokter yang merawatnya atau orang yang mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya. B. Pemeriksaan Fisik a. Inspeksi Adanya pembengkakan di daerah sekitar panggul karena terjadi infeksi yang menyebabkan penyumbatan pada tuba falopii. b. Palpasi Daerah panggul dan perut untuk mengetahui letak nyeri. C. Pemeriksaan Diagnostik  Pemeriksaan darah lengkap : peningkatan laju endap darah dan C-protein menunjukkan adanya infeksi  Pemeriksaan cairan dari serviks/ swabs serviks untuk mengetahui penyebab (+) untuk Klamidia dan Gonorea, hasil (-) masih bisa menunjukkan PID akibat penyebab lain.  Laparoskopi : untuk melihat langsung gambaran tuba fallopi. Pemeriksaan ini invasive sehingga bukan merupakan pemeriksaan rutin. Untuk mendiagnosis penyakit infeksi pelvis, bila antibiotik yang diberikan selama 48 jam tak memberi respon, maka dapat digunakan sebagai tindakan operatif.  USG panggul.  Tes kehamilan : untuk menyingkirkan kelahiran ektopik terganggu.  Biopsi endometrium -

Pemeriksaan USG per vaginam dan per pelvis : untuk menyingkirkan kehamilan ektopik terganggu usia lebih 6 minggu.

-

Kuldosintesis : untuk mengetahui bahwa peradarahan yang terjadi diakibatkan oleh hemoperitoneum (berasal dari kehamilan ektopik terganggu yang rupture atau kista hemoragik) yang dapat menyebabkan sepsis pelvis (salpingitis, abses pelvis rupture, atau apendiks yang rupture).

 Urinalisis dan kultur urin untuk meng-ekslusi infeksi saluran.

ANALISA DATA No. 1.

Data

Analisa Data

DS:

Hubungan seksual,

 Klien

mengatakan

nyeri pada perut dan

Diagnosa NYERI AKUT

apendectomy/ laparatomy, penggunaan IUD, pasca aborsi

panggul, serta nyeri saat berkemih

Adanya jalur masuk bagi bakteri

 Nyeri yang dirasakan terus-menerus

dan

bertambah parah bila beraktifitas

(staphylococus, streptococus), jamur (micoplasma), klamidia, gonorea Masuk ke vagina melalui kanalis servikalis menuju

DO:

uterus  Klien terlihat gelisah dan meringis  Terdapat peningkatan suhu tubuh. (S: 380C)

Memungkinkan masuk ke tuba fallopi dan pelvis Terjadinya proses inflamasi Pengeluaran prostaglandin Pengaktifan saraf-saraf nyeri Kontraksi meningkat pada abdomen dan plevis NYERI AKUT

2.

DS:

klien

mengeluh

Terjadinya proses inflamasi

demam.

Pembentukan asam arakidonat Merusak pengaturan suhu di DO: terjadi peningkatan suhu tubuh pada klien (S:380C)

hipotalamus Peningkatan suhu HIPERTERMI

HIPERTERMI

DS:-

3.

Terjadinya proses inflamasi

RISIKO INFEKSI

DO: Hilangnya batasan endometrium memungkinkan dan

Adanya perlukaan

yang masuk

Hilangnya lapisan

berkembangnya

bakteri

mukosa servikal Hilangnya batasan endometrium Bakteri dapat berkembang RISIKO INFEKSI

2.

Diagnosa yang mungkin muncul a) Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik ditandai dengan klien melaporkan nyeri secara verbal dan wajah tampak meringis menahan nyeri. b) Hipertermi berhubungan dengan penyakit ditandai dengan peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal c) Risiko Infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat d) Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit ditandai dengan melaporkan perasaan tidak nyaman dan gelisah. e) Ketidakefektifan pola seksual berhubungan dengan defisit pengetahuan tentang respon alternatif terhadap transisi terkait kesehatan dan penyakit ditandai dengan menyatakan perubahan pada aktivitas seksual. f)

Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan infeksi saluran kemih ditandai dengan disuria

g) Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status kesehatan ditandai dengan gelisah, bingung dan khawatir h) PK Infeksi

DAFTAR PUSTAKA Brunner&suddarth.2002.buku ajar keperawatan medikal bedah edisi 8 volume 2. Jakarta: EGC

Wong, Donna L., et al. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong. Jakarta: EGC

Herdman, T. Heather. 2011. NANDA Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 20092011. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC

McCloskey, joanne.2004. Nursing interventions Classification (NIC) Fourth Edition St. Louis Missouri: Westline Industrial Line

Moorhead, Sue. 2008. Nursing Outcome Classification (NOC) Fourth Edition St. Louis Missouri: Westline Industrial Line

Price & wilson. 1995. Patofisiologi konsep klinis proses penyakit. Edisi 4. Jakarta:egc

http://www. Scribd. com/doc/51950400/Pelvic-Inflammatory-Disease diakses tanggal 20 februari 2013

http://www. Scribd.com/doc/53420488/Pelvic-Inflammatory-Disease diakses tanggal 20 februari 2013

http://www.scribd.com/doc/30381581/Askep-Infeksi-Pelvis

di akses pada tanggal 20

februari 2013

http://www.scribd.com/doc/68490266/Pelvic-Inflammatory-Disease-e di akses pada tanggal 20 februari 2013

View more...

Comments

Copyright ©2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF