My Antalogi Rasa

February 15, 2018 | Author: Putu Novi Kurniawati | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

beberapa scene di novel Antologi Rasa by Ika Natassa...

Description

My Antalogi Rasa 30 August 2013 by sarilangit

WHICH MEANS THERE’S ALWAYS BESIDE YOU Keara “Key, gue mau lu jadi istri gue.” Kalimat Ruli beberapa jam lalu saat kami dalam perjalanan pulang dari mengunjungi rumah baru Denise dan Kemal, membuat otak gue kram hingga tengah malam. Gue melirik ikan kuning yang betah menghuni fishbowl di dalam kamar gue sejak setahun yang lalu. “Gue gak minat ngebahas yang gak penting Rul. Capek banget, nih. Pesawat gue baru siang tadi mendarat dari Balikpapan.” Gue memijit pelipis sambil mengingat tumpukan berkas dimeja kantor gue yang menggunung minta untuk segera diperiksa satu persatu. “Gue serius Key.” Ruli melambatkan mobilnya dan menggenggam erat jemari tangan gue. Tak ada yang gue rasain saat itu selain rasa hangat yang perlahan mengaliri tubuh gue seolah jutaan gelombang elektromaknetik sedang merayapi tubuh gue. Seandainya kalimat itu muncul dari mulut lu setahun yang lalu Rul, saat ini kita pasti sedang berbahagia menikmati rumah baru kita. Dan mungkin gue sudah hamil seorang anak dari Ruli Walantaga. Gue nyengir menanggapi khayalan gue. Apa yang membuat lu tiba-tiba muncul di airport untuk menjemput gue, mengajak gue mampir di restoran Nelayan Taman Anggrek untuk makan dimsum dan pancake durian kesukaan gue, sampai kemudian kita menghabiskan waktu bersama di rumah baru Denise dan Kemal. Setan mana yang bisa bikin lu kesambet lagi Rul? Pukul tiga dini hari. Gue beranjak menuju lemari es untuk mencari sesuatu. Beberapa cup es krim bertengger dengan acak di dalam freezer. Mungkin es krim rasa vanilla ini akan membuat kram otak gue bisa segera hilang. Gue memang belum bisa mengusir lu dari dalam hati gue Rul. Dan gue belum berani membuka peluang untuk pria lain sejak kita putus setahun yang lalu. Bukan karena gue naif dan berniat menunggu lu sampai rambut gue beruban. Tapi karena bosan jatuh cinta seorang diri! Untuk menerima lu menjadi suami gue, itu terlalu berat Rul. Bahkan saat lu berusaha meyakinkan gue bahwa selama ini yang lu rasain ke Denise telah banyak berubah, bahwa lu mulai bisa menerima kenyataan bahwa Denise bukan tercipta buat lu, gue masih merasa butuh alat pendeteksi hati yang akurat untuk tahu apa yang sebenarnya lu rasain ke gue. Satu cup es krim vanilla dilanjutkan dengan dua iris puding buah dan segelas sari kacang hijau dingin tak mampu membuat gue lebih baik. Tak ada lagi yang bisa lakukan sekarang selain menekan tombol SOS dari phonebook blackberry gue. “Ris, bangun dong. Gue mau curhat nih.” Satu orang disana yang pernah sangat gue benci sekaligus selalu gue syukuri keberadaannya. Harris Kunyuk tengil! Siapa sih bangunin gue pagi buta kek gini. Semalam gue sampai rumah sudah hampir tengah malam sepulang dari rumah Denise. Dan beberapa jam yang gue nikmati dengan memeluk guling di antara kamar tidur gue yang mirip kapal tubrukan saking berantakannya – bukan salah gue! Salahin aja bibi yang biasanya bersih-bersih apartemen gue belum juga balik dari kampung – harus terganggu dengan suara blackberry yang lupa gue silent. Keara! Gue langsung melompat bangun saat melihat satu nama berkedip di layar ponsel gue. “Key! Lu kenapa? Lu lagi dimana sekarang? Gue kesitu ya!” Dengan panik gue nyerocos sebelum mendengarkan penjelasan dari Keara. Bidaddari gue nelepon pagi-pagi buta kek gini pasti ada sesuatu yang terjadi.

“Gue lagi di apartemen Ris. Gue cuman pengen curhat sama Lu.” Samar gue denger Keara seperti habis nangis. Shit! Setelah beberapa bulan ini gue tak pernah lagi melihat Keara nangis, kali ini setelah diantar Ruli pulang ke apartemennya, Keara nangis lagi! Pasti bandit tak tahu diri itu yang bikin Keara gue nangis. “Gue perlu kesana sekarang Key?” Gue berharap Keara menjawab ‘Ya’. “Gak perlu Ris. Sebentar lagi Lu kan harus siap-siap ke kantor. Sorry ya Ris, gue gak tau lagi musti ngapain. He asked me to be his wife. I was shock to hear that, Ris.” Keara nampak tertekan saat cerita ke gue. Demi angin udara tanah air api, gue lebih syok dengernya. Gue gak perlu nanya siapa dia maksud dengan ‘He’. Ruli minta Keara jadi bininya?! Kenapa gue selalu keduluan Ruli ya? Segera gue merutuki diri gue sendiri, emang siapa gue? “Lu sendiri gimana Key?” Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut pengecut macam gue. “Gue…gue belum bisa mikir apa-apa Ris. Setahun ini gue coba buat nerima kenyataan kalo Ruli hanya mencintai Denise. Ruli bilang dia serius Ris. Is possible that his feelings have changed?” Suara Keara terdengar serak. Tanpa sadar gue memijit kepala gue yang rasanya seperti ditimpukin puluhan godam. Demi apapun, gue lebih baik ngeliat lu menikah sama Ruli daripada dengerin lu nangis kayak gini Keara. “Gue gak bisa kasih advise apa-apa tentang kalian. Karena hanya Lu yang tahu apa yang terbaik buat Lu, Key. Just follow your heart, Key.” Gue menggigit bibir menahan perasaan tercabik di hati gue. Karena gue tahu yang terbaik buat Keara bukan gue, Harris Risjad, yang sudah dicap sebagai Don Juan. “Iya Ris, gue rasa Lu benar. Gue terlalu panik nanggepinnya. Will give my self more time to think about this. Sekarang gue mau berendam dulu ya Ris, semalaman gue gak tidur.” Ajakin gue berendam dong Key! Otak ngeres gue entah kapan bisa pulih. “Lu istirahat aja Key, gak usah ngantor dulu hari ini.” Gue berjalan menuju kotak obat buat mencari sebutir Aspirin. “Gue harus ke kantor Ris. Banyak berkas yang harus gue periksa. Gue malas bawa mobil, jemput gue ya Ris.” Suara Keara terdengar seperti guyuran air hangat di seluruh tubuh gue. Dengan sangat senang hati Key. Bahkan jadi sopir lu ke ujung duniapun gak bakal gue tolak!

GOING TO BE ACCEPTED Ruli Gue sudah mulai memeriksa agenda untuk bulan depan. Beberapa undangan meeting di luar kota sengaja gue alihkan ke manajer yang lain. Yah, tidak sampai sebulan lagi, gue akan mengadakan pesta pertunangan dengan Keara. Dan bila semua berjalan lancar sesuai dengan rencana, tiga bulan dari sekarang, gue akan menjadi seorang suami dari gadis cantik bernama Keara Tedjakusuma. Sekilas gue melirik laci meja gue yang terbuka. Disana masih ada foto kami berempat. Denise dan Keara berpelukan erat, sedangkan gue dan Harris berdiri di belakang mereka dengan membawa belasan kantong belanjaan seolah kami adalah para suami baik hati yang rela menjadi kacung dari para istri tidak tahu diri. Sejak awal gue menyimpan foto ini, gue berharap suatu hari segala sesuatunya akan menjadi lebih mudah. Harris menikah dengan Keara, dan gue menikahi Denise. Tapi gue tahu, Denise tak pernah sekalipun berhenti mencintai Kemal, pria yang sudah terlalu sering melukai perasaannya. Dan sepulang dari rumah baru mereka, gue mengambil sebuah keputusan yang mendadak. Keara adalah satu-satunya wanita yang layak buat membantu gue melupakan Denise. Dan gue yakin akan sangat mudah untuk benar-benar jatuh cinta pada wanita seperti Keara. Sosoknya yang apa adanya, pintar, humoris dan tak bisa ditebak, akan membuat hidup gue lebih berwarna. Walaupun gue tahu. Keara ibarat hati angsa. Yang harganya mahal selangit, tapi bila cara memasaknya salah atau yang masak gak pinter, maka rasanya bisa bikin mual. Suara ponsel di ujung meja membuyarkan lamunan gue. Nama Keara muncul di layar ponsel gue.

“Hei Key, emang kita jago telepati ya. Gue lagi mikirin Lu, tiba-tiba Lu nelepon.” Gue segera menutup laci agar tidak perlu melihat wajah Denise. “Sejak kapan Lu jadi raja gombal ya Rul. Norak tau!” Keara tergelak. “Rul, ada referensi dari temen gue buat pesen cincin kawin yang gak pasaran modelnya. Kapan Lu bisa temani gue kesana buat ngukur lingkar jari?” Keara melanjutkan. Gue tersenyum tipis mendengar kalimat Keara. Berurusan dengan Keara memang semua harus mendekati sempurna. Dan gue cukup tahu selera Keara, apalagi sehubungan dengan cincin pernikahan yang akan dia pakai selamanya. Perlahan bayangan itu membuat gue bergidik. Selamanya pula Denise akan menjadi milik Kemal? “Rul? Kalo Lu masih banyak kerjaan, ntar gue telepon lagi aja ya.” Suara Keara membuat gue gelagapan. “Ekh, nggak kok Key. Gue cuman lagi nyari agenda gue aja buat liat jadwal. Oke, besok pulang kantor kita langsung kesana ya Key.” Gue segera memberi jawaban pada Keara. Ingat Ruli Walantaga, seorang Keara Tedjakusuma terlalu berharga buat Lu sia-siakan. Lu harus berusaha mencintai Keara dengan seluruh hati Lu. Atau Lu akan kehilangan kesempatan selama-lamanya untuk hidup berbahagia seperti Denise dengan Kemal. Dan bahkan saat hati gue sedang menceramahi diri gue, nama Denise belum bisa gue singkirkan dari otak gue. Keara Kalau kalian nanya ke gue apa rasanya diajak menikah oleh seseorang yang kita cintai setengah mati, rasanya biasa saja. Ya, itu yang gue rasain sekarang. Gue sendiri heran dengan perasaan gue. Sejak gue memutuskan untuk menerima ajakan Ruli untuk menikah, gue merasa segala sesuatunya tak se-istimewa dulu. Tepatnya setahun lalu saat gue dan Ruli masih pacaran sebelum akhirnya kita putus karena gue menyadari sampai kapanpun gue takkan bisa memenangkan hati Ruli. Emang benar kata orang-orang, whatever it is; the price isn’t as expensive as we haven’t got it. Sekarang ini, gue melihat Ruli sudah jauh berbeda. Ruli terlihat serius dengan ajakannya untuk menikah. Dia menghabiskan banyak waktu dengan gue, terlihat sekali Ruli berusaha membahagiakan gue. Dan bahkan saat kami makan bareng Denise, Kemal dan Harrris di restoran seafood kesukaan gue, Ruli sama sekali tidak menampakkan gejala aneh saat menatap Denise. Ruli dengan ringannya memeluk gue dan memperlakukan gue layaknya seorang pacar di depan Denise. Itu membuat gue sedikit lega. Ya, sedikit. Kenapa hanya sedikit? Sebaiknya kalian bertamu ke dalam hati gue dan tanyakan sendiri. Karena kesibukan gue dikantor semakin menumpuk diselingi dengan berbagai macam urusan pernikahan. “Mbak Keara dipanggil Bu Silvi di ruangannya.” Suara Renata sekretaris Bu Silvia, atasan gue, membuyarkan lamunan gue tentang Ruli. Gue segera meraih agenda, pulpen, serta blackberry dan melangkah menuju ruangan Bu Silvia yang ada di ujung lorong divisi gue. “Keara, malam ini kita berangkat ke Denpasar. Besok pagi kita harus menghadiri seminar perbankan. Siang ini kamu boleh pulang dulu untuk membereskan barang bawaanmu , karena kita akan berada disana hingga hari Kamis.” Bu Silvia bahkan tidak bertanya sama gue apakah gue sedang banyak kerjaan atau tidak. Menurut gue, kerja jadi pegawai bank hampir mirip dengan kerja di militer. Tak ada jawaban lain atas perintah atasan terkecuali, siap! “Baik Bu.” Hanya itu yang keluar dari mulut gue, disertai dengan rentetan sumpah serapah yang gue ucapin di dalam hati. Hari Rabu berarti Lusa, dan rencana gue buat berburu cincin kawin bareng Ruli terancam batal! Salah gue sendiri yang tak memberi tahu siapapun perihal rencana pernikahan gue dengan Ruli. Sehingga semua orang di kantor ini merasa kalau gue masih punya banyak waktu luang. Seminar di Bali bisa gue pastiin hanya akan berjalan beberapa jam. Selebihnya adalah acara jalan-jalan dan makan-makan. Shopping lebih

tepatnya. Sekeluarnya dari ruangan Bu Silvia, gue menuju pantry untuk minta dibuatkan secangkir cappuccino. Mendadak gue merasa bersalah pada Ruli, karena gue selalu tak punya waktu untuk mempersiapkan hari istimewa kami. Bahkan gue belum menentukan Wedding Organizer mana yang akan kami pakai untuk membantu penyelenggaraan pesta pernikahan kami. “Rul, Lu lagi sibuk gak? Gue mau ngomong nih.” Gue segera menelepon Ruli untuk ngasi tahu perihal keberangkatan gue ke Denpasar. “Gue ada meeting sepuluh menit lagi. Kenapa Key? Lu udah ketemu model cincin yang Lu sukai ya?” Suara riang Ruli diseberang sana membuat gue semakin tak enak hati. “Justru itu yang mau gue bicarain Rul. Gimana kalau kita reschedule hari Jumat aja buat nyari cincinnya?” Gue bicara hati-hati. “Terlalu mepet dengan tanggal pertunangan kita kalau hari Jumat. Emang kenapa Key?” “Emmm…barusan gue dipanggil Bu Silvia. Malam ini gue harus berangkat ke Denpasar buat seminar perbankan, sampai hari Kamis. Sorry Rul…” Gue menelan ludah gue yang terasa pahit. “Emang Lu nggak bilang ke Bu Silvia kalau kita lagi siapin pernikahan ya Key? Emangnya harus Lu ya yang berangkat kesana?” Ruli menyerang gue dengan pertanyaan yang gue rasa tak perlu gue jawab. “Sorry Rul…” Hanya itu yang bisa gue bilang. Gue cukup waras untuk tidak membela diri. Dari mulai pertemuan dengan keluarga besarnya Ruli yang tidak bisa gue hadiri karena gue terjebak macet saat pulang OTS dari Bandung, hari ulang tahun Ruli yang gue lupakan karena gue sibuk dengan lemburan di atas meja gue, serta serentet hal lain yang selalu gue cancel ataupun reschedule. Terkadang gue bertanya sama diri gue sendiri. Apakah gue benar-benar menginginkan pernikahan ini, ataukah hanya karena obsesi gue untuk mendapatkan Ruli sepenuhnya menjadi milik gue? “Rul, gue ada cincin yang pas banget sama jari manis gue. Gimana kalo cincin itu Lu bawa dulu kesana buat dijadikan ukuran. Soal model gue ikut aja, gue suka cincin dengan model sederhana. Hari Jumat kita kesana lagi buat ngepas cincinnya. Gimana?” Gue antusias karena menemukan ide yang menurut gue akan memudahkan gue juga Ruli. Ruli terdiam tak menanggapi ide konyol gue. “Rul…sorry…” Sekali lagi gue meminta maaf atas kesalahan gue. “Key, sudah saatnya Lu belajar membagi waktu Lu. Gue tahu Lu banyak kerjaan, gue bisa ngerti. Gue gak nuntut Lu harus selalu ada buat gue. Tapi setidaknya buat ngurus pernikahan kita ini Lu luangin waktu dong Key. Lu harusnya banyak belajar dari Denise…” Kalimat Ruli menggantung di udara. Sejenak keheningan menyergap kami berdua. Gue belum sepenuhnya sadar dengan kalimat Ruli barusan. Gue hanya mendengar nama Denise disebut, dan itu cukup membuat oksigen di sekitar gue meredup, hingga gue harus bernafas berat beberapa kali untuk membuat paru-paru gue tetap berfungsi. Samar gue mencerna kalimat Ruli barusan, belajar banyak dari…Denise. “Keara…maksud gue…” Ruli kembali bersuara, dan langsung gue potong. “Sorry gue sering kecewain Lu ya Rul. Bukan gue sengaja. Sekarang gue harus segera balik ke apartemen buat prepare perlengkapan gue di Denpasar. Ntar gue telepon lagi ya.” Klik! Gue tidak menunggu Ruli memberikan jawaban. Dan walaupun kantor Ruli hanya berjarak beberapa lantai dari ruang kerja gue, gue berharap Ruli cukup pintar untuk tidak menemui gue. Karena gue sedang tidak ingin bicara dengan siapapun! Kecuali satu orang, tempat sampah gue. Harris

Kebetulan siang ini gue baru kelar lunch meeting sama klien. Barusan Keara nelepon gue minta ditemenin balik sebentar ke apartemennya buat packing. Tanpa banyak nanya, gue segera ngacir ke kantor buat menjemput cinta gue yang sudah berdiri di pinggir jalan buat nungguin mobil gue. Yang mengherankan pertama adalah, biasanya setiap kali mau keluar kota, Keara selalu diantar sopir dengan mobil kantor untuk packing barang. Yang mengherankan kedua adalah, seorang Keara mau berpanaspanasan nungguin mobil gue dipinggir jalan. Biasanya, Keara akan duduk manis di dalam lobi kantor sampai gue meneleponnya dan memberi tahu kalau gue sudah sampai di lobi. Dan yang lebih mengherankan lagi, kali ini Keara duduk menggelosor di dalam mobil gue tanpa memprotes penyiar radio El Shinta yang asik menyiarkan kemacetan lalu lintas di beberapa ruas jalan ibukota. Tak ada celetukan, ‘Kalau gak mau macet pindah aja ke Timbuktu sana, jangan hidup di Jakarta!’. “Lu mau OTS kemana Key? Mendadak amat.” Gue mencoba ngajak ngomong wanita paling cantik, calon bini orang, yang masih gue puja setengah mati ini. “Ke Denpasar, ada seminar perbankan.” Jawaban singkat Keara menandakan seperti sebuah sinyal kalau sesuatu sedang terjadi. Gue memilih untuk diam dan menjadi sopir yang baik buat pujaan hati gue. Sesampainya di apartemen, gue nungguin Keara packing sambil membaca majalah travel. Belum lama packing, tiba-tiba Keara duduk di samping gue dan merebut majalah yang sedang gue baca. “Ris! Lu nyebelin banget sih. Tau gue lagi kesel gini, Lu malah tenang-tenang aja baca majalah. Gak setia kawan banget sih Lu!” Keara memberengut. Sumpah mati kalo bibirnya lagi memberengut begitu, Keara makin seksi di mata gue. Inget Ris, dia calon bini sahabat lu! Gue tertawa menanggapi kekesalan Keara. Dengan segera gue duduk tegak berlagak seperti seorang pengacara yang mendengarkan keluhan kliennya. Dan cara itu berhasil membuat Keara terkikik geli. “Gak lucu tau!” Keara menggelosor di karpet, dan gue pun ikut duduk dibawah. “Menurut Lu, gue ini wanita yang kayak gimana sih Ris?” Keara memberi gue pertanyaan yang jawabannya selalu gue lafal tiap kali melihatnya. Lu itu wanita yang paling mempesona diseluruh belahan bumi manapun Key. Tentu saja kalimat itu tak mampu diucapkan oleh seorang pengecut macam gue. “Maksud pertanyaan Lu apaan sih Key? Bingung gue jawabnya.” Gue meraih kaleng coke dari atas meja dan membiarkan tenggorokan gue merasakan sensasi dingin yang menyegarkan. “Ruli marah karena gue harus berangkat ke Denpasar malam ini. Gue masih menganggap wajar kemarahannya, karena emang gue keseringan membatalkan janji sama dia buat ngurusin kawinan ini. Tapi…” Keara memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di bahu gue. Celingukan gue mencari remote control, berharap siapa tahu dengan menekan tombol pause, adegan ini dapat berlangsung lebih lama. Lama kami terdiam. Gue sengaja membiarkan momen ini berlangsung dengan sempurna tanpa seorangpun menginterupsi. Shit! Kenapa cewek disamping gue ini mulai terisak ya? Gue segera merangkul tubuh wanita paling seksi sejagat yang selalu membuat hati gue porak poranda setiap kali dia menangis. “Tapi kenapa Key? Lu kok jadi cengeng gini sih sejak pacaran sama Ruli.” Makanya jadi pacar gue aja Key! Teriak setan pengecut dari dalam diri gue. “Tapi gak harus segitunya juga Ruli membandingkan gue dengan Denise kan Ris?” Tangis Rea pecah menjadi sebuah isakan panjang. Ini sebenarnya gue yang gila karena terlalu mencintai Keara atau justru Ruli sang pangeran pemenang yang gak ngerti gimana cara memperlakukan cewek sih? Dibandingkan dengan Kim Kadarsian juga tetep milih Keara Tedjakusuma. Karena hampir bisa dipastikan si Kim langsung muntah darah begitu gue bilang cinta sama dia. Tak ada yang gue katakan selain diam dan membiarkan Keara bercerita perihal pertengkarannya dengan Ruli. Jadi ini yang membuatnya rela berdiri di pinggir jalan sambil kepanasan untuk menunggu mobil gue.

“Menurut Lu, gue harus melanjutkan pernikahan ini atau sebaiknya gue batalin aja ya Ris? Gue gak yakin sama hubungan gue dengan Ruli.” Keara menatap gue seolah meminta perlindungan. Sungguh kali ini gue pengen sekali bilang, ‘Menikahlah dengan orang yang mencintai Lu setengah mati Key, dan orang itu gue’. “Jangan buru-buru ambil keputusan Key. Beri waktu buat diri Lu sendiri menentukan apa yang terbaik.” Gue berdiri kearah lemari es untuk mengambil lagi sekaleng coke dingin, seolah apa yang diceritakan Keara bukan masalah besar buat gue. Kucing juga tahu kalau gue gak tahan ngeliat mata Keara sembab habis nangis kayak gitu. “Bener kata Lu Ris, gue butuh waktu buat diri gue sendiri. Thanks ya Ris. Gue ambil travel bag dulu ya, kita balik ke kantor segera.” Keara menyentuh bahu gue ringan dan berlalu ke dalam kamar. I would gladly be anything for you, Key…

LIKE A PAIR OF TRAIN TRACKS Ruli Denise melahirkan seorang bayi perempuan yang kecantikannya menurut gue belum mampu menandingi kecantikan ibunya. Bayi mungil yang sedang berada dalam dekapan gue itu bernama Kinara. Denise yang memberinya nama, katanya nama itu selalu mengingatkan Denise pada sosok Keara yang ceria. Keara, terrakhir gue bertemu dengannya sebulan yang lalu saat tak sengaja kami berpapasan di XXI Senayan City. Entah apa yang membuat pertemuan kami seperti sudah diatur sebelumnya. Gue yang iseng melihat jadwal film yang sedang diputar, sedangkan Keara nampak asyik dengan sekotak popcorn manis kesukaannya. Hingga akhirnya kami berada dalam deretan kursi yang bersebelahan sambil menonton Hansel & Gretel dalam diam. Keara seolah tak ingin terganggu dengan konsentrasinya pada film yang sedang diputar, begitupun dengan gue yang sengaja diam agar tidak ada percakapan yang membuat kami canggung. Keara masih sangat menarik untuk pria normal seperti gue. Tawanya yang khas serta aroma rambutnya yang menurut gue dicuci menggunakan jus apel saking wanginya, masih membuat gue ingin sekali menjadikan dia istri gue. Tapi gue harus menerima kenyataan bahwa jauh di dalam hati gue, hanya ada satu wanita yang bisa membuat gue nyaman dan merasa menemukan ‘rumah’. “Rul, minum dulu tehnya keburu dingin.” Denise membuyarkan lamunan gue tentang Keara. Kinara menggeliat kaget mendengar suara ibunya di deket gue. “Iya Nis, biarin dimeja dulu. Gue masih pengen gendong Kinara.” Gue pandangi bayi perempuan yang nampak cantik mengenakan pakaian berwarna pink dengan hiasan bandana kecil di kepalanya. Denise kembali sibuk di dapur entah sedang menyiapkan apa. Aroma kue yang keluar dari oven membuat hidung gue kembang kempis mengira-ngira apa yang sedang Denise buat. “Lu bikin apa sih Nis, wangi banget baunya.” Gue penasaran. “Gue lagi bikin cheese cream cake tabur kacang almon Rul. Tunggu lima belas menit lagi sudah matang.” Denise mengintip dari dapur sambil mengibaskan rambut panjangnya. Gue rasa Denise bukan manusia. Mungkin dia jelmaan bidadari yang tersesat dan masih mencari selendangnya di bumi. Bayangkan betapa manisnya hidup gue sambil memandangi bayi cantik yang terlelap dalam dekapan gue, sedangkan ibunya sibuk membuatkan kue dengan hanya memakai pakaian rumah yang sederhana namun justru membuatnya terlihat menawan. Sampai akhirnya, “Ekh Rul, udah lama ya? Gue kejebak macet di Kuningan.” Sang Jaka Tarub yang menyembunyikan selendang bidadari gue datang. “Baru setengah jam yang lalu. Gue kangen sama anak Lu, sekalian bawain titipan Denise, sambel goreng

kentang bikinan nyokap.” Gue nyengir sambil melirik kearah Kinara yang masih cuek dengan mimpinya. “Wah, sampai ketiduran kayak gitu ya. Kinara udah kenal banget sama Lu, Rul. Kemarin aja digendong om gue bawaannya nangis melulu.” Kemal duduk di sofa seberang gue. “Sayang, bantuin aku angkat kue dong.” Denise melongok saat mendengar suaminya datang. Adegan yang gak pernah bikin gue gak mual. “Kamu kok masih sempat bikin kue sih Hon.” Kemal bergegas ke dapur meninggalkan gue berdua dengan Kirana. “Iya, ini kan kue kesukaan kamu.” Samar gue mendengar suara Denise dari dapur. Bisa gue bayangkan adegan yang sedang berlangsung disana, Kemal memeluk Denise dari belakang dan mencium pipi Denise dengan mesra. Gue menelan ludah, dan dengan sangat hati-hati melangkah masuk ke dalam kamar Kinara yang terletak di dekat kolam ikan. Perlahan gue baringkan Kirana di atas ranjangnya yang hangat. Gue ngeliat lu pada Kinara, Key. Dan gue ngeliat Denise juga ada padanya. Kalian berdua entah sampai kapan membuat hidup gue serumit ini. Dan gue masih memilih untuk menjadi Ruli yang selalu ada untuk…Denise. Harris Gue datang tepat waktu saat Karin sudah selesai mengisi acara konser amal di Balai Kartini. Gaun merah menyala yang menampakkan kedua kakinya yang jenjang, membuat gue harus menelan ludah beberapa kali. Ya, rekor yang tak terkalahkan. Gue jalan dengan Karin sudah hampir dua tahun, tanpa pernah berhasil membawanya ke atas ranjang. Dan parahnya itu membuat gue justru merasa harus bertahan jalan bareng Karin. Dan walaupun prosentase kehadiran Karin belum mampu menandingi sang ratu hati gue, Keara, setidaknya Karin membuat gue tak berminat lagi mengejar perempuan lain. “Hei Ris, temani gue makan yuk. Laper nih daritadi belum makan.” Karin masuk ke dalam mobil gue dan mencium kedua pipi gue. Ya, hanya kedua pipi gue! “Okey, Lu mau makan apa?” Gue mengarahkan mobil kearah Kuningan. “Kita ke Kembang Goela aja yuk.” Setelah makan, Karin mengajak gue mampir ke apartemennya di Sudirman. IMac-nya ngadat. Begitulah wanita, hanya membutuhkan pria untuk urusan menjemput, mengantar, membetulkan barangbarang elektroniknya yang ngadat. Kecuali Keara. Keara selalu mampu melakukan semuanya sendiri. Bahkan gue pernah memergokinya sedang memasang lukisan abstrak – yang baru dibelinya dari sebuah pameran – seorang diri hanya dengan menggunakan kursi serta perkakas seperti palu dan paku. Keara yang nampak selalu ‘mahal’ memang wanita paling mandiri yang pernah gue kenal. Kecuali bila berurusan dengan Ruli. Keara bisa menjelma jadi daun kering keinjek truk seolah buat bernafas pun butuh bantuan gue. Urusan IMac sudah kelar. Gue maunya segera pulang tapi hujan deras di luar bikin gue berpikir buat nekat jalan. Bukannya kenapa, suasana Jakarta kalau hujan begini lebih mirip pasar daripada sebuah ibukota negara. Dimana-mana jalanan banjir, dan so pasti macet bakalan jadi menu utama. Sambil nungguin hujan reda, gue nemenin Karin yang lagi sibuk membuat omelet buat gue. “Sorry Ris, gue cuma bisa bikin omelet sama mie instan nih. Keseringan makan di luar.” Karin duduk disamping gue sambil menyerahkan sepiring omelet. “Thanks Rin. Masih mending Lu bisa bikin ginian. Keara masak air aja kagak becus.” Gue tertawa. “Keara siapa ya Ris?” Dahi Karin nampak berkerut. Gue hampir tersedak sendok saat mendengar pertanyaan Karin barusan. Keara? Loh, emang gue nyebut nama Keara ya? Harris Risjad! Bego banget sih lu bisa keceplosan gitu! “Keara temen kantor gue Rin.” Gue berusaha memberikan jawaban dengan muka lempeng, “Owh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Karin, seolah mengerti bahwa gue sudah cukup terpojok dengan

kalimat gue sendiri. “Ris, gue mau pulang ke Medan minggu depan. Lu mau ikut gue gak? Sekalian kenalan sama orang tua gue.” Karin menyentuh ringan bahu gue. “Ketemu orang tua Lu? Kayaknya gue belum siap deh Rin.” Sekali lagi gue hampir tersedak. Ini cewek kenapa sih, ngasi gue makan tapi ngomonginnya bikin napsu makan gue ilang aja. “Yeee…jangan besar kepala dulu Ris. Maksud gue, Lu ikut gue pulang sekalian jalan-jalan ke Samosir. Nah, kalau ada waktu Lu kenalan sama orang tua gue ya syukur. Kalau nggak ya no problem Ris. That’s not a big deal Babe.” Karin mencium pipi kanan gue. Beneran gue males nanggepin cewek kalau kayak gini. Aktingnya doang mau ngajakin gue jalan-jalan. Lalu gue dikenalin ke ortunya, dan selanjutnya gue harus siap dengan pertanyaan, ‘Jadi kapan nih mau diresmikan hubungannya?’ “Lain kali aja ya Rin, gue belum ada rencana apa-apa nih.” Seluruh isi piring sudah berpindah ke dalam perut gue. Sensor tubuh gue memberi sinyal agar gue segera menghabiskan makanan itu dan segera pulang! Persetan dengan kamacetan Jakarta. Shit! Padahal rencananya malam ini gue mau menginap di apartemen Karin. Lumayan kan bisa ngeliatin wajah cantiknya sampai pagi. “Emmm… Karena Keara ya Ris?” Karin tersenyum dan memandang gue dengan tatapan seolah bilang ‘Gue ngerti perasaan Lu Ris’. Ampun, ini cewek kenapa ya? “Hahaha…Keara temen kantor gue yang barusan gue bilang kagak becus masak itu? Ada-ada aja sih Lu, Rin.” Terpaksa gue mengurungkan niat untuk segera pamit pulang. Karena pasti Karin akan curiga kalo gue sengaja menghindar. “Keara atau siapapun yang membuat Lu sampe bertahan dengan gue selama dua tahun ini Ris, sudah saatnya Lu jujur sama diri Lu sendiri.” Karin masih tersenyum dan merebahkan kepalanya di pangkuan gue. Gila ini cewek cantik telentang di depan gue dan gue gak apa-apain hanya karena Keara? “Maksud Lu apaan sih Rin, kok jadi ngebahas Keara.” Gue pura-pura kesal sama omongan Karin. “Yaudah, kalau gitu kita bahas soal apa dong. Gimana kalau kita bahas soal film apa saja yang mau kita tonton semalaman ini sambil nunggu hujan reda?” Karin memainkan ujung kemeja gue. Bener kata Karin, Key. Gue seharusnya jujur sama diri gue sendiri. Gue udah pernah jujur sama lu tentang perasaan gue, dan malah membuat lu memusuhi gue. Seharusnya gue bisa jatuh cinta sama Karin dan menyingkirkan lu dari dalam otak gue. Tapi bahkan disaat kek gini, yang gue ingat cuma lu, Key. Lu lagi ngapain ya Key hujan-hujan begini? Keara Terminal 2F bandara Soekarno-Hatta rame banget weekend kayak gini. Gue mesen Frappucino di Starbuck tak jauh dari pintu gate keberangkatan pesawat gue ke Denpasar. Masih satu setengah jam lagi sebelum pesawat gue take off. Gue memilih tempat duduk di sudut luar cafe. Perjalanan kali ini gue sengaja tidak memilih buku, ataupun Ipod untuk mengisi waktu gue. Gue memilih duduk di tempat yang nyaman, menikmati segelas minuman favorit gue, sambil mengamati. Ya, gue punya hobi baru sejak tiga bulan terakhir ini, mengamati. Gue merasa puluhan bahkan ratusan cermin yang gue lihat saat mengamati sekitar gue. Cermin dimana gue bisa melihat diri gue sendiri. Dimana gue sadar bahwa gue gak pernah sendirian di bumi ini. Jutaan orang hilir mudik di depan gue dengan berbagai masalahnya masing-masing. Nampak seorang ibu dengan usia kepala lima yang tergopoh-gopoh menuju gate sambil menyeret koper mungil dan handbag dengan merk Gucci nampak tergantung manis di lengan kirinya. Mungkin ibu itu sedang berusaha mengejar jam keberangkatannya yang sudah dekat. Atau bisa jadi seperti itulah tipe kebanyakan ibu-ibu seusianya, suka tergopoh-gopoh alias panik dengan segala sesuatu.

Lain lagi dengan pemandangan tak jauh dari tempat gue duduk. Antrian panjang pembeli Bread Papa’s. Gue udah beli sebiji tadi dan langsung tandas gue makan sambil ngantri di Starbuck. Menurut gue, Bread Papa’s itu enak banget kalau langsung dimakan setelah dibeli. Tapi gue yakin dari antrian panjang itu hanya segelintir orang yang membeli untuk dimakan dirinya sendiri. Dari box yang mereka tenteng, memperlihatkan bahwa mereka membelinya untuk oleh-oleh. Gue sendiri gak pernah suka membawakan oleh-oleh berupa makanan. Selain karena malas membawanya, gue lebih senang mengajak orang-orang yang gue kunjungi untuk makan bersama di tempat kuliner daripada membawakan mereka oleh-oleh. Sekali lagi, tipe orang berbeda-beda. Kali ini gue mengamati seorang perempuan yang duduk di seberang gue. Sekali lagi gue tidak sedang menilai orang disekitar gue, karena itu sama sekali bukan hak gue untuk menilai orang lain, terlebih orang yang tidak gue kenal sama sekali. Gue hanya menyerap pelajaran berharga dari setiap pengamatan yang gue lakukan. Wanita itu memakai jaket dengan wajah pucat, nampak sedang tidak enak badan. Wanita itu seperti sedang melamun. Pandangannya kosong, dan bekali-kali gue dapati matanya mengerjap seolah mengusir air mata yang berdesakan ingin menyapa pipinya. Gue merasa sedang melihat diri gue, tiga bulan yang lalu. Saat gue memutuskan untuk ‘benar-benar’ mengakhiri rencana pernikahan gue dengan Ruli. Bagian yang paling menyakitkan bukan karena gue tidak berhasil mendapatkan Ruli seutuhnya. Justru karena gue merasa tidak adil sama diri gue sendiri. Gue memuja seseorang yang memuja orang lain. Gue mengambil cuti tiga hari penuh yang gue habiskan hanya dengan bengong di beranda apartemen gue sambil menikmati kopi. Gue merasa kehilangan diri gue, Keara, hanya karena gue terlalu sibuk membuat kondisi berpihak pada gue, dengan menganggap bahwa Ruli benar-benar jatuh cinta sama gue. Gue tersenyum geli mengingat diri gue saat itu. Ya, ‘saat itu’. Saat dimana kita tak pernah bisa berada kemali. Saat dimana semua hanya ‘pernah’ terjadi. Dan justru dari saat itu gue belajar banyak. Gue belajar menerima dan mengamati. Sampai beberapa teman gue, bahkan termasuk Ruli, protes karena gue terlalu banyak berubah, menurut mereka. Padahal menurut gue, tak ada yang berubah. Gue masih tetap seorang Keara Tedjaskusuma, hati angsa dengan harga super mahal yang butuh koki handal untuk memasaknya. Dan koki handal itu sepertinya tidak akan datang dalam waktu dekat. Kali ini pengamatan gue jatuh pada pria yang sedang berdiri mengantre di kasir Starbuck. Pria itu memakai celana pendek dengan banyak kantong di bagian sampingnya. Rambutnya lurus, tebal dan melewati lehernya. Jujur gue ngiri liat rambut tuh cowok. Kenapa gue yang cewek kalah bagus dari rambutnya ya? Di bahunya nampak tergantung ransel kamera dengan ukuran sedang. Gue bayangkan kerjaan pria itu mungkin sebagai wartawan, atau fotografer untuk majalah travel, seperti impian gue. Pria itu bisa dibilang…tampan. Gue menertawai diri gue sendiri. Bertahun-tahun gue terpasung dalam ketampanan seorang Ruli Wantalaga. Setelah merasa cukup dengan pengamatan gue, dan isi gelas minuman gue sudah hampir tandas, gue berencana untuk menuju gate dan melanjutkan pengamatan gue disana. “Mau terbang kemana?” Sebuah suara mengagetkan gue. Mata gue melotot mendapati seseorang yang duduk tepat di depan gue sambil meletakkan minumannya di atas meja. Ransel kameranya diletakkan disampingnya begitu saja. “Gue?” Gue masih bingung gimana bisa pria yang masuk daftar pengamatan gue barusan, tiba-tiba muncul di depan gue. “Iya, Lu. Mau terbang kemana?” Pria itu seolah tak peduli dengan kebingungan gue. “Denpasar.” Hanya itu yang keluar dari mulut gue. Entahlah, gue tidak begitu suka dengan caranya yang tanpa permisi duduk di depan gue. “Sorry gue duduk disini, habis kursi lain pada penuh.” Pria itu seolah mampu membaca isi kepala gue. Gue mengitarkan pandangan ke sekeliling. Dan memang hampir semua kursi sudah terisi. Bahkan wanita dengan muka pucat yang tadi duduk di seberang gue, sekarang sudah tak nampak lagi. Kursi yang tadinya dia

duduki sudah diisi oleh dua orang pria asing. “Take off jam berapa Lu?” Pria itu melanjutkan suaranya. Sementara gue buru-buru menyedot habis isi gelas gue. “Jam sepuluh.” “Yaudah bareng aja sekalian. Pesawat kita sama kok.” Pria itu dengan sok akrabnya ngajakin gue barengan. Jadi pria gondrong ini juga akan berangkat ke Denpasar ya. Dan entah kenapa gue megurungkan niat untuk segera beranjak dari tempat gue duduk. “Buruan kalo gitu. Gate close dua puluh menit lagi.” Gue berusaha memasang wajah seolah merasa risih harus menunggu pria tak dikenal di depan gue. “Ke Bali dalam rangka apa?” pria itu baru sekarang ngomong dalam ngeliat gue. “Bukan urusan Lu.” Gue mengedikkan bahu tanda tak suka dengan pertanyaannya seolah kami teman lama yang lama gak ketemu. “Gue mau hunting foto. Disana kebetulan lagi ada festival Ogoh-Ogoh. Lumayan buat nambah koleksi wallpaper gue.” Cowok itu nyengir seolah tak peduli dengan kekesalan gue atas pertanyaannya barusan. Entah kenapa, gue merasa liburan singkat gue ke Bali ini bakalan lebih seru dari biasanya. Begitulah hidup, terkadang kita hanya perlu menjadi pengamat yang baik untuk kemudian menerima setiap kejadian sebagai sebuah proses. Hanya di tempat seperti bandara inilah tujuan perjalanan kita sudah tertera dan ada dalam genggaman kita. Namun apakah kita akan benar-benar sampai di tujuan itu, atau justru kita akan menemukan tujuan baru, itu semua diluar kendali kita. Dan gue juga tahu, disana, disebuah tempat, seseorang atau bahkan beberapa orang juga sedang mengamati gue. Seperti juga gue sedang mengamati banyak orang. 8b

My Antologi Rasa (cerpen lanjutan novel Antologi Rasa) I love photography because I can choose the moment that I want to capture, to erase, and to keep. And I want to erase you soon Ruly. Cukup dua tahun ini. Cukup. But my photographic memory doesn’t allow me to do that. You are still there Ruly, you are still there. Sekeras apapun aku berusaha melupakanmu. Tidak juga dengan si sableng yang dari tadi sibuk nyampah di TL. Twitteran lagi dia sama groupiesnya.

@harrisrisjad Nyet..Tunangan? kerjaan lo boongin anak orang. Ntr fans2 lo ngacir lagi..! @KTedjakusuma No worries Bin. yang ptng lo masi ad ma gw ini, kagak masalah :P @harrisrisjad PD bgt lo Nyet.. @KTedjakusuma bodo..! ntr lagi juga jadi beneran ini J @KTedjakusuma HARRIS!!! @harrisrisjad buset saking kangennya nama gw dipanggil kenceng gt ckck..sabar ya sayang ntr lg gw nyampe koq..*ngacir

Keara Off from twitter. Dasar sableng. Tapi entah kenapa baca tweetnya si Harris ini aku jadi senyum-senyum sendiri. Do I start to feel something for him? Yes, he’s handsome, I’m totally agree about that (engg…Oh my gosh c’mon Keara..did I say he’s handsome???!!) but HELLOOOWWW! I don’t want to be one of his groupies. Keara Tedjakusumaa you have to wake up now…! Aku pun menyubit pipiku sendiri…ow..sakit juga ternyataa..haduh kayaknya ada yang salah neh di otakku sekarang.. Tapi cuma dia yang selalu ada buat aku dan bukan Ruly. Mulai dari waktu aku pingin bubur buat sarapan sampai pembalut. Waktu itu kami berempat Aku, Harris, Denise, Ruly lagi di Padang. Aku minta dia muter-muter nemenin cari pembalut. Setelah keliling-keliling apotik dan toko akhirnya dapat juga pembalut yang biasa aku pake. Besoknya pas mobil mau dipake kita berempat bensinnya abis terpaksa deh kita ngedorong mobil, Harris disalah-salahin anak-anak karena make bensin seenaknya, padahal itu kan bukan salah dia sepenuhnya. Bahkan rahasia itu masih dia yang pegang dan sepertinya akan terus begitu, buktinya waktu Ruli masih ngungkit-ngungkit kejadian itu, dia diam aja. Oh I need some music to kill this demon inside my head. Keara – Harris? Impossible. Ah dengerin lagu pacar aku aja deh..who knows he can help me to forget this demon, I wish. Hmm mana nih playlistnya…Aku pun mencari folder lagu John Mayer..Yup ketemu..

“When you're dreaming with a broken heart The waking up is the hardest part You roll outta bed and down on your knees And for a moment you can hardly breathe” (Dreaming with A Broken Heart)

Eh..kenapa lagunya gini yaa..Next song..

“Now that we are over As the loving kind We'll be dreaming ways To keep the good alive” (Friends, Lovers Or Nothing) Shit….next “It's really over, you made your stand You got me crying, as was your plan But when my loneliness is through, I'm gonna find another you” (I’m Gonna Find Another You) Oh No! Kenapa semua lagu malah ngingetin aku sama si Ruly sih…! Mending nonton TV aja deh… Hmm malam-malam gini nonton acara kuliner, bikin lapar aja padahal ini udah jam 11 malam..bahaya! next channel.. Bentar-bentar udah lama aku gak sarapan bubur sama Harris, masih ada gak ya abang itu jualan?

Semoga tu anak masih on deh twitternya.. @harrisrisjad cek DM deh

Tweet sent @Ktedjakusuma disini aja kenapa sih sayang pake rahasia2n J @harrisrisjad hadooh mulaai deeehh =_= @KTedjakusuma mulai apa? mulai kangen?:P @harrisrisjad *lempar guci @KTedjakusuma *lempar cinta :* @harrisrisjad auk aahhhh.. @KTedjakusuma yah ngambek dia.. hahha.iye Key, knp lu? #tampangberubahserius @harrisrisjad..eh bsk kita sarapan bubur lagi kangeen gw.. @KTedjakusuma kangen sarapan buburnya apa kangen sarapan sambil liatin gw? @harrisrisjad Ya buburnyalah, ngapain kangen ama lu ..ngareep bgt sih.. @KTedjakusuma ooooooo gt..ya udah deh..sarapan sendiri aja ya…udah tau kan tmptnya? @harrisrisjad idih ngancem.. @KTedjakusuma bye. @harrisrisjad RISJADD!! SERIUSAN GW…!! @KTedjakusuma ampuunn Bin! Iyeee..iyee.gw temenin!..buseet deh..sensi amat sih lu.. drtd ngambek mulu, sia2 nanti perawatan lo selama ini.. @harrisrisjad Maksudnya? @KTedjakusuma Maksudnya……iya bsk kita sarapan brg ya sayang :D #peluk @harrisrisjad Idih pk meluk2 segala @KTedjakusuma oo..maunya dipeluk beneran yaa…hahhaha..

Harris Malam-malam gini lo keingat sarapan bubur, kesambet apa sih lo Key? Apa ini pertanda lo udah nyadar keberadan gw? Ah..mimpi aja lo ris! But its ok dear Key, jadi tukang bubur pun gue rela asal lo nggak marah lagi sama gue, asal lo nggak nyebut-nyebut nama Ruly lagi. Itu dah cukup bagi gw. Asal lo ta tau aja Key hubungan lo ma gw membaik lagi aja gw sampe sujud syukur segala.. yah gw tahu sih sholat gw

sering bolong-blong eh ..eh..kapan ya terakhir gw sholat??! Ah auk ah..yang penting sejak lo ama Ruly putus, lo nelpon gw dan gw bisa nemenin lo nangis sampe pagi, gw udah ngerasa feel back to heavenaja. Dasar Ruly sialan! Tega bener bikin Keara gw (wuihh bahasa nya..Keara gw..kayak udah jadi beneran aja ma Keara, kalo dia sampe denger ini bisa digampar gw hahhaa) Tapi gw seneng juga sih si Key akhirnya lo nyadar juga kalo mata dan hati si Ruly Walantaga tuh emang dari dulu buat Denise seorang.

Keara Ris, if only I can feel the same. May be everything will be easier for us. For all of us.. Eits..tunggu..tunggu…tadi aku kan niatnya ngehapus ingatanku supaya gak mikirin si manusia sableng ini??? Koq malah dari tadi tanganku asik bener ngebalas tweet-tweetnya dia..Keara?!! its not u..! Wake up dear…! Oo..i don’t know..its out my control. HELP ME!!!

Harris Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo Key. Gue bisa dapetin cewek manapun yang gue mau kecuali lo. Dan gue nggak ngerti kenapa. Apa sih kurangnya gue dibanding si Ruly-Ruly lo itu.

Keara Kalo ditanya kenapa gue sementok ini sama Ruly, gue nggak tau. Mungkin karena dia baik, bisa diandalkan? he always be there for us, waktu kami nggak bisa pulang sendiri gara-gara wine-wine solution. Or simply because he reminds me to my father. He will be a good father for sure. Ruly…Ruly…why do I so fixate with you? This is insane. Insane. Or…may be I just need one to two glass of Wine. Message Sent. To Harris: Ris, lo dimana? Temenin wine-wine solution yuk? No respond. Ya udahlah sendiri aja juga bisa.

Harris Akhirnya hari ini gw bisa sarapan bareng lagi ma cinta gw..(lebay ya?? Biarinnnn! Dilarang sirik! :P)

Gw masih bisa inget mata Key yang berbinar-binar senang makan bubur tadi pagi, dia sampe makan 2 porsi lagi ckckck..segitu ngidamnya ya lo Key pengen sarapan bubur itu, ah gw jadi ngiri ma lo bur….andai aja Key tuh ngidamnya gw.. Dinda called “Ris” “Iya Din, kenapa?” “Keara lagi ma lo gak?” “Enggak tuh, eh tapi kayaknya ni ada message deh” “Mungkin itu dari Keara Ris, cepetan buka messagenya, gw khawatir banget Ris” “Mungkin, mang kenapa sih?” “Keara dari tadi hpnya gak diangkat, gw khawatir ma dia Ris, kalo udah baca kasih tau gw ya Ris, asap!” “OK, Ntar ya Din” From : Keara Ris, lo dimana? Temenin wine-wine solution yuk? Hah! Dia pergi sendiri?? To : Keara Lo dimana Key? Sorry gw baru abis mandi, gw nyusul ya!

Keara Ini sudah gelas wine yang ke 5 aku habiskan, dan sepertinya aku sudah mulai panas untuk nge-floor..i think its good idea to delete Ruly scene in my brain. Tunggu..tunggu kayaknya hpku getar deh.. From: HarrisRisjad Lo dimana Key? Sorry gw baru abis mandi, gw nyusul ya! To: HarrisRisjad Gw di Kemang Ris, tempat biasa, gw nge-floor dulu neh..lo langsung kesini aja ya..!c u

Harris Hah! Lo nge-floor sendirian? Gila lo Key..! Calling Dinda “gimana Ris?” “Key lagi di Kemang, udah mo nge-floor dia, gw buru-buru nih mau nyusul kesana.”

“ok Ris, thanx udah ngasi tahu gw, jagain dia ya Ris, gak tahu kenapa gw punya firasat buruk Key kenapakenapa, gw takut Ris” “tenang Din, gak usah lo peringatin, gw pasti jagain Key, gw tutup telpon dulu ya” “Sip”

Keara

“If you go hard you gotta get on the floor If you're a party freak then step on the floor If you're an animal then tear up the floor Break a sweat on the floor Yeah we work on the floor Don’t stop keep it moving Put your drinks up”

Udara disini makin panas aja, dan tubuhku tak hentinya bergerak mengikuti lagu On The Floor yang dimainkan DJ Alex malam ini membuat hampir sebagian besar orang di club ini tak bisa menahan diri untuk nge-floor, termasuk aku. “oopss..sorry..sorry” karena semangatnya bergerak ditambah kepalaku yang sepertinya pusing serta nafasku yang mulai sesak, aku pun tak sengaja menabrak orang. “liat-liat dong..emang lo aja yang ada disini” cowok itu nyolot banget ngebalas permintaan maafku. “iya sorry, gw juga tahu kali gw gak sendirian disini, nyolot amat sih! Nadaku suaraku pun ikut meninggi “Eh..bentar..bentar..gw kayaknya kenal lo deh..lo Key kan? Yang kerja di BorderBank??” “oo..lo tau..baguslahh…gak usah gangguin gw” “hahaha..eh guys..kita punya ”makanan” malam ni!” “siapa bos?!” “Keara Tedjakusuma si cantik ini hahhaa” “eehh..eh mau apa lo..megang-megang gw” “Diem aja lo, lo dulu ngerjain gw kan sama temen lo si brengsek itu..emangnya gw gak tahu..baguslah lo sendirian hahaha” “Oiii..bawa cewek ini keluar” “beres bos!” “Eh apaan si ni..lepasin gw..lepasinnn…! Ris..lo dimana??tolongin gw…

Harris “Key, bangun Key, gw udah disini..” “thanx Ris, gw takut Ris..gw takut” “sst gw disini, Iqbal ma anak buahnya udah dibawa polisi”

Ruly Harris calling “Iya Ris” “hah?? Key kenapa” “Iya..iya gw datang sekarang”

Harris Kalau Ruly bisa bikin lo bahagia, gw rela Key, asal lo senyum lagi, hidup baik-baik ya Key, gw pasti tetap jagain lo meskipun dari jauh.

Keara Sudah 3 minggu ini, Dinda, Denise dam Ruly jagain dan ngebantuin aku untuk hilangin traumaku. 3 minggu lalu aku hampir aja diperkosa di tempat parkir sama si Iqbal dan teman-temannya, dan untungnya Harris datang nolongin aku, kalo dia terlambat sedikit saja, aku tidak tahu, apakah aku masih sanggup hidup hari ini. 3 minggu yang lalu terakhir kali aku melihat Harris, aku melihat matanya yang benar-benar tulus mengkhawatirkanku. 3 minggu lalu, sebelum aku tak sadarkan diri, aku sayup mendengar dia menelpon Ruly untuk menjagaku. 3 minggu pula, aku tak bisa menghubunginya, kalaupun aku BBM dia cuma di-read aja, apalagi tweet. Terakhir dia ngetweet ya waktu kita janjian buat sarapan bareng.

Ruly Udah 2 jam gw dan Denise nemenin Keara hunting foto di kota Tua. Keara tampak tenggelam di dunianya untuk motret di museum-museum yang kami kunjungi. Gw seneng Keara udah mulai kembali ceria lagi. Jujur gw turut merasa bersalah dengan kejadian Keara hampir diperkosa 3 minggu lalu. Harris cerita karena ingin lupain gw, dia sampe pergi minum dan clubbing sendirian.

Keara

“Rul, gw haus..beliin minum buat gw ama Denise dong.” “Hmm iya deh tungguin ya” Ruly pun segera membeli minuman untukku dan Denise. “Key…” Denise memanggilku ketika aku sedang asik motret di museum yang ke 3 ini. “Iya Ris, eh Nis kenapa, sorry..sorry” haduh kenapa jadi salah manggil nama gini sih.. “hehe..iya gak apa-apa koq..hemm..kangen ya lo ma Harris?” “ihh apaan si Nis..gak koq” “Jujur aja kenapa si Key? Gak dosa kali lo kangen ma dia” “Iya, gw kangen ma dia Nis, tapi gak tahu dia gak bisa dihubungin” “Mungkin dia pengen lo balik lagi ama Ruly, jadinya dia ngilang gitu” “Kalau dia mikir gitu, dia salah besar Nis, jujur gw sekarang kayaknya bisa nerima kalo Ruly sukanya ma lo” Duh kenapa jadi keceplosan gini sih? “Ruly suka ma gw?” “Iya Nis, masak lo gak tau?” “Gw udah tau lama kali Key, Ruly suka sama gw, tapi gw sengaja nunjukin kalo gw gak tahu dia suka ma gw, gw udah punya suami Key, hubungan kami udah membaik dan sebentar lagi gw bakal jadi mommy.” “hah!maksudnya lo lagi hamil Nis?” “Iya Key, gw baru tahu seminggu lalu” “congratz dear, koq gak ngomong-ngomong sih, gw jadi merasa bersalah ngajak lo kesini, kita pulang sekarang aja ya” “hahaa…gak usah lebay deh Key, baru sebulan koq ini, gw gak apa-apa, itung-itung olahraga buat gw..asik juga ya bisa jalan bareng ma lo lagi hmm coba ada Haris, pasti rame deh..kayak dulu kita berempat sering jalan di Padang dulu, kangen banget ma moment itu Key” “gw juga Nis”

Ruly “Lo yakin mau pindah ke Aussie Ris?” “Yakin gw Rul, gw udah resign dari kerjaan gw dan sodara gw yang disana udah janji mau bantuin nyari kerja disana, kenapa?” “Terus Key gimana Ris? Lo gak bilang dia?” “Mungkin kalo gw udah disana Rul, gw gak mau lihat dia sedih lagi, lo bahagiain dia ya Rul, kalo sampe dia nangis lagi, gw gak akan segan-segan bunuh lo, inget itu!” “Buseeet dah…Ya gaklah, gw udah merasa bersalah sejak kejadian itu, tapi Ris sebenarnya yang dia butuhin sekarang bukan gw tapi elo” “Gw?? Hahhaa..ngaco lo Rul..udah gak usah hibur gw..”

“Keara yang ngomong sendiri koq bukan gw” “Serius lo Rul? Awas lo yaa kalo lo bohong” “Ngapain juga gw bohong Ris, tolong deh..lo pikir lagi keputusan lo pindah itu” “I wish Rul..i wish I can do that, tapi please Rull, keep the secret, gw bakal kasih tahu Keara kalo waktunya udah tepat.” “Ok, gw harap lo gak nyesel Ris, Keara terlalu berharga untuk lo tinggal gitu aja” “Gw tahu Rul”

Keara Sialan! Aku baru tahu Harris resign dan mau pindah kerja ke Aussie. Thanx to Ruly yang baru sempat kasih tahu gw sekarang. Dan sekarang gw di bandara, nyariin manusia sableng itu, Ruly bilang keberangkatannya sejam lagi.

Harris Keara disini? Ngapain? Jangan bilang nyariin gw? Damn!! Pasti si Ruly sialan itu yang bilang, haduuhh kenapa sih manusia kampret itu gak bisa jaga rahasia, banci banget sih!”

Keara “Key? ngapain lo disini?” “Eh dodol, harusnya gw yang tanya ngapain lo pergi gak bilang-bilang gw, tega bener sih lo Ris” “lho kan udah ada Ruly, Key, itu kan yang lo harapin?” “Enggak! Gw maunya lo Ris, lo gak tahu apa gw kehilangan lo banget, jahat lo ya ngilang gitu aja” Air mataku pun mengalir juga” “Gw kangen lo ris, kangen banget”

Harris Kuping gw gak salah denger kan, si Key ngomong kangen ma gw?mimpi apa ya gw semalam? “lo ngomong apa Key? Bisa lo ulangin lagi gak? “ “Ogaah, gak ada ulangan” Duh keluar deh juteknya, bisa mampus gw kalo dia gak ngulangin kalimat itu, kalimat yang udah gw tunggu selama bertahun-tahun. “Oo..ya udah..gw pegi nihh…bye Key, take care ya” “Harrrissss….!!” Duh sumpah deh malu gw Key neriakin nama gw, beberapa orang di sekitar kami, mulai memperhatikan kami.

“Aw..aw..aw sakit Key, nyubitnya gak usah pake nepsong gitu kenapa sih..sakit tahu” “lo sihh..” “kan gw cuma minta lo ngulangin lagi kata-kata lo tadi bukannya minta dicubit, masak gak boleh si Key?” “iya..iya gw ulangin, denger baik-baik..Harris Risjad,gw Keara kangeeeeeen banget ma lo dan gw juga baru sadar gw sebenarnya sayang ma lo” “gw gak mimpi kan Key lo ngomong gitu?” “mau gw cubitin lagi?” “Eh..nggak..nggak..makasih..koq bisa sih Key, sejak kapan lo nyadar lo sayang ma gw? Gw boleh tahu?” “Gw sadar Ris, selama ini elo yang selalu ada buat gw, lo rela gw suruh-suruh beliin sarapan pagi-pagi, lo rela nemenin gw muter-muter kota nyari pembalut waktu kita di Padang dulu, lo rela datang buat bikin drama kalo kita suami istri waktu gw kencan gw gagal dengan cowok-cowok brengsek itu, lo rela nemenin gw ke Bali secara mendadak hanya untuk memuaskan ngidam gw makan nasi Wardani, lo rela nemenin datang malam-malam untuk ngasi pelukan lo waktu gw putus dari Ruly. Dengan lo gw gak perlu jaim mo’ ngobrol apa aja yang gw suka. Dan semua hal itu gak bisa gw lakuin dengan Ruly Walantaga.”

Keara Aku sadar sudah banyak mata melihat kami berdua berdiri di depan café ini. Aku bener-bener gak peduli . Aku gak mau kehilangan lagi. Aku sudah kehilangan ayahku, aku sudah kehilangan Ruly dan sekarang aku gak mau kehilangan sahabatku ini yang baru aku sadari kalau aku sudah mulai sayang sama dia.

Harris Ketika Keara mengingatkan tentang kenangan-kenangan kami yang telah gw lakuin untuk dia. Gw yakin sekarang, ini bukan mimpi. Akhirnya hari ini datang juga. Seorang Harris Risjad bakal tobat jadi PK. Selamat tinggal Nia, Kinanti, Dian, Bianca, Linda,….

Keara “Jadi Ris, lo gak akan ninggalin gw kan?”

Harris “Enggak Key, gw gak akan ninggalin lo lagi, gw janji”

Keara Entah karena terbawa suasana, aku pun mencium bibir Harris dan dia membalas ciumanku juga. Ciumannya terasa hangat dan lembut. Aku bisa merasakan tubuhku seketika menghangat, perutku

terasa aneh tapi aku merasa lega, aku bisa membuka hatiku untuk seorang Harris Risjad, sahabatku yang selama ini rela melakukan apa saja untukku.

Haris Hey, kejutan apa lagi ini??! Key nyium gw duluan? Gw bener-bener masih gak percaya. Bibirnya yang lembut dan gw merasakan rasa strobery dari bibirnya itu. Ciuman yang berbeda, dari yang gw dan dia pe. uirnah gw lakuin di Singapore dulu. I love u Key.

Keara I love u Ris “maa..mamaaa…ada orang ciuman hiihihihih …” Aku mendengar ada suara anak kecil yang sepertinya melihat kami berciuman. Aku pun langsung menghentikan ciuman itu. “hush..jangan diliatin, ayo sini..” ibu dari anak kecil itu pun otomatis membawa anaknya itu menjauh.

Harris ARRRHH! Momen itu berhenti seketika karena anak kecil sialan itu.

Keara “Balik yuk Ris, laperr gw..gara-gara ngejar lo ini, gak sempat sarapan gw” “Tapi ntar dilanjutin ya Key” “Apanya?” Aku pura-pura gak tahu apa yang dimaksud ‘lanjutin yang tadi’ “pura-pura gak ngerti deh, gw pegi ah..” “ancaman lo gak berlaku, udah ah laper gw apa mau gw cubitin lagi nih” ancamku balik “Eh nggak..nggak…ampun..ampun..tapi Key kalo gw gak jadi ke Aussie, gw kerja dimana dong? Gw udah jadi pengangguran ni…” “hahahaha..itu mah derita lo yaa…” tawaku sambil menarik tangannya untuk secepatnya meninggalkan bandara ini.

Harris Gw seneng Key, tawa lo kembali lagi. Gak ada yang hal yang membahagiakan gw saat ini ketika gw bisa bikin lo tertawa lepas kayak gini. Dan tawa lo itu untuk gw, hanya untuk gw.

Keara

I felt so sure, so positive, So utterly, unchangingly certain. But I never was aware of love and you, And suddenly I realized There was love and you, And I, and i…………

Lagu I’m Glad There is You dari Jamie Cullum mengiringi aku dan Harris di mobilku ini untuk pergi sarapan bubur lagi. I’m glad there is u Harris, someone who always beside me forever an ever.

View more...

Comments

Copyright ©2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF