Manual Handling

March 19, 2019 | Author: Debby Wijayanti | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

Makalah Ergonomi...

Description

MAKALAH ERGONOMI

MANUAL HANDLING DAN FAKTOR RISIKO MANUAL HANDLING

ANGGOTA KELOMPOK IV

BAYU DANURTIRTO

: 2017. 030. 1125

DEBBY WIJAYANTI

: 2017. 030. 1180

EKARANI NOVIANTI

: 2017. 030. 1183

KASTAULI HALOHO

: 2017. 030. 1227

TOBIT BINOTO SILALAHI

: 2017. 030. 1126

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN KESEHATAN MASYARAKAT PROGRAM STUDI KESELAMATAN KESEHATAN KERJA (KKK) KAMPUS III HARAPAN INDAH BEKASI 2017

KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim  Assalaamu’alaikum  Assalaamu’alaikum Wr.Wb

Segala puji dan syukur hanya untuk Allah SWT. Dan sholawat beserta salam semoga selalu tercurah untuk Rasullah SAW. Alhamdulillah dengan kehendak-Nya pada saat ini penulis telah dapat menyelesaikan tugas ergonomi dengan judul

“MANUAL HANDLING DAN FAKTOR RISIKO MANUAL

 dimana tugas tersebut merupakan salah satu persyaratan untuk memenuhi mata HANDLING”  dimana kuliah ergonomi. Dalam penyelesaian tugas ini tidak terlepas dari d ari bantuan berbagai pihak. Untuk semua bantuan, baik moril maupun material yang telah diberikan dengan rasa syukur kepada Allah SWT penyusun mengucapkan rasa terima kasih. Demikianlah tugas ini penyusun buat, Penyusun menyadari dalam pembuatan laporan ini jauh dari sempurna. sebelumnya penyusun ucapkan terima kasih. Wassalaamu’alaikum Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Bekasi,

Januari 2018

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Indonesia adalah negara berkembang yang banyak sekali dijumpai industriindustri yang masih menggunakan tenaga manusia dalam pemindahan material, walaupun beberapa industri yang relatif modern telah banyak menggunakan mesin sebagai alat bantu dalam pemindahan material, namun aktivitas pemindahan bahan secara manual ( Material Manual Handling) masih sangat diperlukan karena memilki kelebihan dibandingkan dengan menggunakan alat yaitu bahwa pemindahan material secara manual bisa dilakukan dalam ruang terbatas dan dimana dalam melakukan aktivitas pekerja sangat mengandalkan fisik manusia untuk mengangkat barang, tetapi pemindahan bahan secara manual (MMH) apabila tidak dilakukan secara ergonomis akan menimbulkan kecelakaan dalam industri, yang disebut juga ” Over Exertion– 

Lifting and Carying”, yaitu kerusakan jaringan tubuh yang disebabkan oleh beban angkat yang berlebihan (Nurmianto, 1996 : 147).

Tanpa disadari aktivitas pengangkatan barang yang dilakukan pekerja dapat menyebabkan penyakit ataupun cidera pada tulang belakang terlebih jika pekerjaan tersebut tidak dilakukan dengan

benar. Manuaba (2000) dalam Tarwaka (1985)

mengatakan bahwa jikalau resiko tuntutan kerja lebih be sar dari kemampuan seseorang maka akan terjadi penampilan kerja yang bisa dimulai oleh adanya ketidaknyamanan, overstress, kecelakaan kerja, cidera, rasa sakit dan tidak produktif. Penanganan material secara manual (Manual Material Handling) didefinisikan sebagai pekerjaan penanganan material yang terdiri dari mengangkat, menurunkan,

mendorong, menarik dan membawa. Manual Material Handling merupakan sumber utama keluhan karyawan di industri, sehingga jika tidak dilakukan pada beban yang sesuai, postur tubuh yang benar dan cara pengangkatan yang benar, dapat mengakibatkan cidera atau kecelakaan saat bekerja. Meskipun telah banyak mesin yang digunakan pada berbagai industri untuk mengerjakan tugas pemindahan, namun jarang terjadi otomasi sempurna di dalam industri. Disamping pula adanya pertimbangan ekonomis seperti tingginya harga mesin otomasi atau situasi praktis yang hanya memerlukan peralatan sederhana. Sebagai konsekuensinya adalah melakukan kegiatan manual di berbagai tempat kerja. Bentuk kegiatan manual yang dominan dalam industri adalah manual handling. 1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah diatas, maka yang menjadi pokok masalah untuk dirumuskan dalam makalah ini adalah bagaimana teknik-teknik yang digunakan, apa saja faktok risiko, penyebab cedera, dampak, apa saja jenisnya, dan momen gaya pada pekerja pengangkat beras untuk mengurangi atau menghindari resiko cidera tulang belakang (musculoskeletal disorder) dan nilai RWL. 1.3. Tujuan 1.3.1.Untuk mengetahui apa itu Manual Material Handling (MMH) 1.3.2.Untuk mengetahui penyebab cedera dari Manual Material Handling (MMH) 1.3.3.Untuk mengetahui teknik-teknik yang digunakan Manual Material Handling

(MMH) 1.3.4.Untuk mengetahui faktor resiko Manual Material Handling (MMH)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Manual Handling 2.1.1 Pengertian Manual handling  di definisikan sebagai suatu pekerjaan yang berkaitan

dengan mengangkat, menurunkan, mendorong, menarik, menahan, membawa atau memindahkan beban dengan satu tangan atau kedua tangan dan atau dengan pengerahan seluruh badan (tarwaka, 2004) Manual handling  di definisikan sebagai suatu pekerjaan yang berkaitan

dengan mengangkat, menurunkan, mendorong, menarik, menahan, membawa atau memindahkan beban, termasuk kegiatan yang berulang, penggunaan peralatan dan pengoperasian alat dan mesin. (code of practice manual handling, 2000) Manual handling adalah segala aktifitas yang membutuhkan pergerakan

tangan oleh seseorang untuk mengangkat, menurunkan, mendorong, membawa, menarik, memindahkan, menahan benda bergerak atau tidak bergerak. (workplace health and safety, 1999). Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan pengertian manual handling adalah adalah aktivitas pada musculoskeletal untuk angkat angkut benda baik bergerak maupun tidak bergerak. Kenyamanan dari pekerja sudah terbukti sangat menunjang tingkat produktivitas pekerja, dengan demikian para penanggung jawab keselamatan dan kesehatan kerja harus memikirkan faktor-faktor bahaya biomekanika, sebaiknya

aktivitas manual material handling  tidak membahayakan pekerja dan tidak menimbulkan rasa sakit pada pekerja. 2.1.2 Jenis Manual Handling menurut tarwaka (2004) 1)

Mengangkat/Menurunkan (Lifting/Lowering) Mengangkat adalah kegiatan memindahkan barang ke tempat yang lebih tinggi yang masih dapat dijangkau oleh tangan. Kegiatan lainnya adalah menurunkan barang yaitu memindahkan barang ketempat yang lebih rendah. Beberapa teknik/ cara yang benar dalam mengangkat/ menurunkan adalah:

a)

Batas Angkatan Batasan angkat menurut PER MEN No 1 tahun 1987 :

Aktivitas mengangkat

Laki-laki

Wanita dewasa

dewasa

Hanya

mengangkat

40 Kg

10 Kg

15-18 Kg

10 Kg

sekalikali Terus-menerus

Table 2.1 Batasan Angkat Manual Handling

b)

Teknik Angkatan 

Berdiri dengan posisi yang benar serta pijakan kaki kuat.



Letakkan tangan pada posisi di bawah beban



Bengkokkan lutut



Punggung dalam posisi lurus dan tidak membungkuk saat mengangkat ketika pergerakkan ke atas.



Saat mengangkat beban menggunakan kekuatan kaki dan dibantu dengan perut dan lengan.

Gambar 2.2 Cara mengangkat

c)

Mendorong/Menarik (push/pull) Kegiatan mendorong adalah kegiatan menekan berlawanan arah tubuh dengan usaha yang bertujuan untuk memindahkan obyek. Kegiatan menarik kebalikan dengan itu. Cara atau teknik yang benar dalam mendorong/ menarik adalah: a.

Pijakkan kaki yang kuat

b.

Punggung tetap lurus dan tidak membungkuk

c.

Gunakan kekuatan tangan untuk mendorong dan menarik

Gambar 2.3 Cara mendorong atau menarik

d)

Memutar (twisting) Kegiatan memutar merupakan kegiatan MMH yang merupakan gerakan memutar tubuh bagian atas ke satu atau dua sisi sementara tubuh bagian bawah berada pada posisi tetap. Kegiatan memutar ini dapat dilakukan dalam keadaan tubuh yang diam. Teknik yang benar saat memutar adalah :



Memutar dilakukan dalam keadaan diam atau tidak sedang bejalan.



Bagian yang bergerak memutar adalah kaki.



Saat memutar pinggang tidak ikut memutar.



Memutar dilakukan dengan perlahan.



Beban di tumpukan pada badan.

Gambar 2.4 Cara memutar

e)

Membawa (Carring) Kegiatan membawa merupakan kegiatan memegang atau mengambil barang dan memindahkannya. Berat benda menjadi berat total pekerja. Teknik yang benar dalam membawa adalah :



Pijakan kaki yang kuat.



Pegang objek sedekat mungkin dengan tubuh.



Posisi leher dalam keadaan lurus.



Posisi pinggang dalam keadaaan lurus.



Beban ditumpukan pada badan.

Gambar 2.5 cara membawa

 f)

Menahan (Holding) Memegang objek saat tubuh dalam keadaan diam (statis) Teknik menahan yang benar :



Pijakan kaki yang kuat.



Pegang objek sedekat mungkin dengan tubuh.



Posisi punggung dalam keadaan tegak/ lurus.



Posisi leher dalam keadaan lurus.

Gambar 2.7 Cara menahan 2.2. Penyebab Cedera

Pekerjaan manual handling akan dapat menyebabkan stress pada kondisi fisik (seperti pengerahan tenaga, sikap tubuh yang dipaksakan dan gerakan berulang) yang dapat mengakibatkan terjadinya cedera, energi yang terbuang secara percuma dan waktu kerja tidak efisien. Penyebab cedera secara umum adalah: a)

Kerusakan perlahan karena kegiatan manual handling dalam jangka waktu yang lama atau sering.

b)

Kerusakan tiba-tiba karena kegiatan manual handling yang berat atau kuat pengangkatan dengan posisi janggal.

c)

Trauma langsung karena kejadian yang tidak diharapkan akibat manual handling seperti terjatuh saat mengangkat beban karena lantai tidak datar.

Beberapa hal yang dominan yang menyebabkan terjadinya cedera saat manual handling menurut tarwaka (2004) adalah:

a)

Sikap tubuh yang tidak alamiah dan dipaksakan seperti, badan membungkuk, dan memutir ke samping, jongkok, berlutut.

b)

Gerakan berulang seperti, membawa atau mengangkat obyek kerja yang terlaluu berat.

c)

Sikap kerja statis , harus mempertahankan sikap diam untuk waktu yang lama pada suatu jenis aktivitas.

2.3. Dampak Manual Handling

Menurut code of practice for manual handling   (2000) dampak dari manual handling yang tidak aman dari segi bahaya ergonomi adalah a)

Straindan spain pada otot.

b)

Luka pada otot, tali sendi, cakram intervebrata dan struktur yang lain pada tulang punggung.

c)

Hernia dan sakit kronis.

d)

Luka pada jaringan lunak seperti saraf, tali sendi, dan pada pergelangan tangan, bahu dan leher

2.4.

Teknik Manual Handling

Pada pekerjaan memindahkan barang atau beban, bentuk, volume, berat dan sifat beban yang akan dipindahkan sangat menentukan cara-cara pelaksanaan pemindahan tersebut baik mengangkat maupun meletakan kembali beban. Kegiatan mengangkat dan mengangkut ini banyak melibatkan kerja otot dan tumpuan pada kerja tulang belakang oleh karena itulah dibutuhkan teknik yang benar :

a)

Membuat perencanaan dengan menilai beban, menentukan bagaimana menanganinya, sebagai suatu cara untuk menghindari cedera akibat pengerahan tenaga yang berlebihan.

b)

Menentukan teknik terbaik dengan menghindari postur membungkuk, memutir, dan menjangkau yang tidak diperlukan.

c)

Menggenggam objek dengan pegangan yang kuat dan menggunakan seluruh jemari dari kedua tangan dalam mengngkat barang.

d)

Dorong beban sedekat mungkin dengan badan untuk mencegah stress yang berlebihan di punggung.

e)

Verifikasi  penanganan tugas berat dengan yang ringan.

f)

Periksakan material dari permukaan yang bergerigi, sudut yang runcing dan tajam atau licin.

g)

Menghilangkan minyak, air atau objek yang kotor sebelum mencoba untuk menanganinya.

2.5. Faktor Resiko Manual Handling

Terdapat empat faktor resiko dari manual handling diantaranya : a

Task Faktors Faktor task  dapat menjadi faktor resiko dalam 3 hal yaitu:



Layout, layout  yang dapat menjadi fator resiko yaitu layout  yang dapat

menyebabkan pekerjaan meraih atau menahan benda yang jauh dari tubuh, memutar tubuh (twisting) , menahan dari bawah, mengangkat dari lantai, mengangkat setinggi bahu, layout  tempat kerja yang buruk (terlalu sempit), jarak angkut yang jauh serta postur statis. 

Apabila pekerjaan manual handling dilakukan sering atau dalam janga waktu yang membuthkan usaha fisik, berulang-ulang pada saat duduk atau berlutut, langsung setelah terjadi  fleksi   dalam waktu lama, kurangnya waktu istirahat, beberapa gerakan handling sekaligus (membawa, mengangkat dan meletakan) serta dipaksa mengiuti irama kerja mesin. Tim yang menangani pekerjaan mencangkup penanganan barang dengan 2 orang atau lebih dan berkoordinasi dengan sekelompok orang.

b

Faktor Beban

Aspek beban yang dapat menjadi fator resiko antara lain, berat, ukuran, bentuk, permukaan licin atau rusak, pe gangan tidak ada atau tidak memadai serta tidak stabil.

c

Faktor Lingkungan

Aspek lingkungan yang dapat menjadi faktor resiko antara lain: suhu (diluar batas 19-26 C), kelembaban (diluar batas 35-50%) pencahayaan, kebisingan, angin kencang, serta lingkungan fisik (adanya penghalang dan permukaan lantai). d

Faktor Personal

Aspek personal dapat menjadi faktor resiko antara lain: kesehatan yang meliputi faktor fisik (tinggi badan, jangauan, faleksibilitas, keuatan, berat badan, daya tahan nafas dan cacat), usia, jenis kelamin, hamil atau baru melahirkan, pernah terluka sebelumnya dan faktor psikologi. 2.6. Momen Gaya

Dengan mendefinisikan jenis pekerjaan dan postur tubuh didalam melakukan pekerjaan tersebut, dapat dihitung besarnya gaya dan momen yang terjadi setiap link dan sendi melalui analisa mekanik. Baik pada saat tubuh dalam posisi diam maupun pada saat bergerak.

Hukum keseimbangan momen menyatakan bahwa penjumlahan aljabar momenmomen dari semua gaya yang bekerja pada suatu benda dalam keadaan kesetimbangan status adalah sama dengan nol. Modul sederhana garis punggung bawah ( low-back ) yang diteliti oleh Chaffin (1973) untuk analisis terhadap angkat koplanar statis ditunjukkan oleh gambar model sederhana dari punggung bawah (low-back ) yang diteliti oleh Chaffin.

Selanjutnya dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip dasar mekanika diatas dapat dilakukan analisa biomekanika pada berbagai segmen tubuh manusia dengan

memandang tubuh sebagai sistem multilink, maka hasil perhitungan gaya dan momen suatu link akan dipengaruhi link sebelumnya dan akan mempengaruhi link selanjutnya. Oleh sebab itu link terakhir (link kaki) akan menahan beban yang berasal dari berat seluruh link.

2.7. Beban Kerja

Tubuh manusia dirancang untuk dapat melakukan aktifitas pekerjaan sehari hari. Adanya massa otot yang beratnya hampir lebih dari separuh beban tubuh, memungkinkan kita untuk dapat menggerakkan dan melakukan pekerjaan, disatu pihak mempunyai arti penting bagi kemajuan dan peningkatan prestasi, sehingga mencapai kehidupan yang produktif sebagai tujuan hidup. Dipihak lain bekerja berarti tubuh akan menerima beban dari luar tubuhnya. Dengan kata lain bahwa setiap pekerjaan merupakan beban bagi yang bersangkutan. Beban tersebut dapat berupa beban fisik maupun beban mental. Dari sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja yang diterima oleh seseorang harus sesuai atau seimbang baik dala kemampuan fisik, kognitif, maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut. Kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari satu dengan yang lainnya dan sangat tergantung dari tingkat ketrampilan, kesegaran jasmani, usia dan ukuran tubuh dari pekerja itu sendiri. 2.8. Nilai RWL (Recommended Weight Limit)

Pengukuran terhadap tekanan fisik dengan resiko keluhan otot skeletal   sangat sulit karena mengakibatkan berbagai faktor subjektif seperti kinerja, motivasi, harapan

dan toleransi kelelahan. Waters Anderson (1996) dalam Tarwaka 1985 melakukan pengukuran dengan metode analitik dan metode lain adalah menggunakan nordic body map. a.

Metode Analitik

Metode analitik dilakukan berdasarkan rekomendasi NIOSH tentang estimasi kemungkinan terjadinya peregangan otot yang berlebihan ( over axertion) atas dasar karakteristik pekerjaan. Hal ini dilakukan dengan

melakukan perhitungan Recomended Weight Limit  (RWL) dan Lifting Index  (LI). [Waters Anderson (1996) dalam Tarwaka 1984]. RWL merupakan rekomendasi batas beban yang dapat diangkat oleh manusia tanpa menimbulkan cedera meskipun pekerjaan tersebut dilakukan secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. RWL ini ditetapkan oleh NIOSH pada tahun 1991 oleh Amerika Serikat. Sedangkan NIOSH mempunyai standart pada pengangkatan beban untuk meminimasi cedara pada saat melakukan pekerjaan, persamaan NIOSH yang dipakai adalah :

Lifting Index  adalah estimasi sederhana terhadap resiko cedera tulang

belakang yang diakibatkan oleh over exertion. Berdasarkan berat beban dan nilai recommended weight limit (RWL), dapat ditentukan besarnya

b.

Nordic Body Map Nordic body map merupakan metode yang dilakukan dengan menganalisa

peta tubuh yang ditujukan pada tiap bagian tubuh seperti pada gambar 2.3. Melalui nordic body map  dapat diketahui bagianbagian otot yang mengalami keluhan dengan tingkat keluhan mulai dari rasa tidak ny aman (agak sakit) sampai tingkat yang sangat sakit. (Tarwaka, 1985). Dengan melihat dan menganalisa peta tubuh ( nordic body map) akan dapat diestimasi jenis dan tingkat keluhan otot skeletal   yang dirasakan oleh pekerja. Metode ini dilakukan dengan memberikan penilaian subjektif pada pekerja.

c. REBA (Rapid Entire Body Assessment) Rapid Entire Body Assessment (REBA)  adalah sebuah metode dalam bidang

ergonomi yang digunakan secara cepat untuk menilai postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan, dan kaki seorang pekerja. REBA memiliki kesamaan yang mendekati metode RULA (Rapid Upper Limb Assessment), tetapi metode REBA tidak sebaik metode RULA yang menunjukkan pada analisis pada keunggulan yang sangat dibutuhkan dan untuk pergerakan pada pekerjaan berulang yang diciptakan, REBA lebih umum, dalam penjumlahan salah satu sistem baru dalam analisis yang didalamnya termasuk faktor-faktor dinamis dan statis bentuk pembebanan interaksi pembebanan perorangan, dan konsep baru berhubungan dengan pertimbangan dengan sebutan “The Gravity Attended”

untuk mengutamakan posisi dari yang paling unggul.

Metode REBA telah mengikuti karakteristik, yang telah dikembangkan untuk memberikan jawaban untuk keperluan mendapatkan peralatan yang bisa digunakan untuk mengukur pada aspek pembebanan fisik para pekerja. Analisa dapat

dibuat

sebelum

atau

setelah

sebuah

interferensi

untuk

mendemonstrasikan resiko yang telah dihentikan dari sebuah cedera yang timbul. Hal ini memberikan sebuah kecepatan pada penilaian sistematis dari resiko sikap tubuh dari seluruh tubuh yang bisa pekerja dapatkan dari Pengembangan dari percobaan metode REBA adalah: 1)

Untuk mengembangkan sebuah sistem dari analisa bentuk tubuh yang pantas untuk resiko musculoskeletal pada berbagai macam tugas

2)

Untuk membagi tubuh kedalam bagian-bagian untuk p emberian kode individual, menerangkan rencana perpindahan

3)

Untuk mendukung sistem penilaian aktivitas otot pada posisi statis (kelompok bagian, atau bagian dari tubuh), dinamis (aksi berulang, contohnya pengulangan yang unggul pada veces/minute, kecuali berjalan kaki), tidak cocok dengan perubahan posisi yang cepat.

4)

Untuk menggapai interaksi atau hubungan antara seorang dan beban adalah penting dalam manipulasi manual, tetapi itu tidak selalu bisa dilakukan dengan tangan.

5)

Termasuk sebuah faktor yang tidak tetap dari pengambilan untuk manipulasi beban manual

6)

Untuk memberikan sebuah tingkatan dari aksi melalui nilai akhir dengan indikasi dalam keadaan terpaksa pekerjaannya.

BAB III PENUTUP 3.1

KESIMPULAN

Berdasarkan teori dan tabel di atas dapat disimpulkan sebagai berikut : 3.1.1 Identifikasi Resiko dalam Manual Handling dapat dilakukan dengan cara

wawancara dengan pekerja, survei terhadap tempat kerja, maupun pengecekan terhadap cedera yang terjadi di tempat kerja tersebut. 3.1.2 Resiko yang tinggi maupun yang rendah sama-sama harus dikendalikan agar tidak

terjadi kecelakaan akibat kerja maupun penyakit akibat kerja. 3.1.3 Resiko seseorang pekerja yang mengangkat akan lebih mudah terkena MSDs,

maupun Low Back Pain dibanding orang yang pekerjaannya tidak mengangkatangkat. 3.1.4 Penilaian resiko dilihat dari kapasitas kerja pekerja, beban kerja dari oby ek, tugas

kerjam dan lingkungan tempat kerja. 3.1.5 Pengendalian resiko dapat secara teknik seperti penggunaan alat mekanik

pengangkat, secara administrasi yaitu rotasi pekerja, maupun secara perbaikan rekayasa dengan reposisi sikap kerja . 3.2 SARAN

1.

Perlu mempertimbangkan pengadaan alat dorong untuk memimumkan resiko cidera tulang belakang ( musculoskeletal disorder ).

2.

Perlu dilakukan analisa postur tubuh dalam bekerja menggunakan Metode NORDIC, RULA dll

3.

Perlu adanya cek kesehatan dan pembekalan pengetahuan tentang kesehatan tubuh para pekerja secara teratur.

DAFTAR PUSTAKA

Chaffin, D.B. and Park, K.S., A lonitudinal Study of low back pain as associated with Occupational lifting factors, American Industrial Hygiene Association Journal, 1973, v 34, p.513. Corlett, E.N., Eklund, J.A.E., Reilly T. and Troup, J.D.G. (1987). Assesment of workload from measurement of stature, Applied Ergonomics, v18, pp. 65-71. Health and Safety Commision (1982) (U.K), Proposal for Health and Safety (Manual Handling of Loads). Regulation and guidance, HMSO, London. Manuaba, A. 2000. Research and Application Of Ergonomics in Developing Countries, with Special Refrence to Indonesia. Jurnal Ergonomi Indonesia 1 (1 -6), 24-30. M. Apple, James; 1986. Tata Letak pabrik dan Pemindahan Bahan, Edisi ketiga, Departemen Teknik Industri Institut Teknologi Bandung, Bandung. Nurmianto, Eko; 2004. Ergonomi, Konsep Dasar dan Aplikasinya, Edisi Kedua, PT. Guna Widya, Surabaya. Sulistyani; 2003. Analisa Manual Material Handling Dengan Konsep NIOSH, Fakultas Teknik, UMS: Surakarta Tarwaka; Hadi; Solichul dan Sudiajeng, Lilik; 1985. Ergonomi Untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan Produktivitas, UNIBA Press, Surakarta. Tarwaka. Bakri, S. Sudiajeng, L. 2004. Ergonomi untuk Keselamatan Kesehatan Kerja dan Produktivitas. Surakarta: Uniba Press. Tarwaka. 2008. Manajemen dan Implementasi K3 ditempat kerja. Surakarta:Harapan Press. Waters, T.S. and Putz-Anderson, V. 1996. Manual Material Handling, Edited by Battacharya,  A. & McGlothlin, J.D., 1996. Occupational Ergonomics Theory and Application. Marcel Dekker Inc, New York. Wignjo Soebroto, Sritomo; 1995. Studi Gerak dan Waktu, Edisi pertama, PT. Guna Widya,  Jakarta.

View more...

Comments

Copyright ©2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF