MANAGEMEN PASIEN ANESTESI
September 8, 2017 | Author: ahmad_pratama_6 | Category: N/A
Short Description
petunjuk visit, alat-alat, obat2 anestesi...
Description
MANAGEMEN PASIEN ANESTESI
AHMAD PANDU PRATAMA 04053100064 / 04094705117
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2010
Ahmad Pandu Pratama S.Ked
EVALUASI PREO PERATIF Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik: Anamnesis: R/ asthma: R/ penyakit jantung: R/ penyakit paru: R/ penyakit hati: R/ penyakit ginjal: R/ hipertensi: R/ DM: R/ operasi sebelumnya: R/ alergi obat dan makanan: R/ gigi [alsu, alkohol, merokok: Pemeriksaan fisik: Kepala: konjungtiva palpebra pucat (anemia), sklera ikterik (gangguan sistem bilier) Leher: JVP () cmH2O Thorax: Cor: HR: , murmur (), gallop () Pulmo: ronkhi (), wheezing () Abdomen: Ekstremitas: Pemeriksaan penunjang: Lab, EKG, Ro thorax, CT scan, USG, dll. Kesan
Klasifikasi Status Fisik (ASA) Untuk menilai status fisik seseoang (dinilai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang) ASA 1 : pasien sehat organik, fisiologis, psikiatris, biokimia. ASA 2 : pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang (asthma terkontrol, hipertensi terkontrol, obesitas). ASA 3 : pasien dengan penyakit sistemik berat sehingga aktivitas rutin terganggu (COPD, asthma berat, miokard infark). ASA 4 : pasien dengan penyakit sistemik berat, tidak dapat melakukan aktifitas rutin, penyakitnya merupakan ancaman setiap saat (CHF, dekom, gagal ginjal, gawat janin). ASA 5 : pasien sekarat yang diperkirakan dengan atatu tanpa pembedahan hidupnya tidak lebih dari 24 jam (aneurysm). ASA 6 : pasien mati batang otak yang digunakan untuk keperluan donor organ. E : huruf E ditambahkan di belakang pada operasi emergeny. Saran Pasien puasa (bayi 2-4 jam, anak-anak 4-6 jam, dewasa 6-8 jam). Persiapan darah.
Ahmad Pandu Pratama S.Ked
MANAGEMEN INTRAOPERATIF Managemen Terapi Cairan Maintenance (M) Rumus: (contoh berat badan 60 kg) 10 kg pertama x 4 cc/kg 10 x 4 = 40 cc 10 kg kedua x 2 cc/kg 10 x 2 = 20 cc kg selanjutnya x 1 cc/kg 40 x 1 = 40 cc jadi M = 100 cc Puasa (P) Lama puasa (jam) x M (cc) 8 x 100 cc/kg = 800 cc Puasa: bayi 2-4 jam, anak-anak 4-6 jam, dewasa 6-8 jam. IWL Jenis operasi x berat badan (kg) 4 x 60 = 240 cc Operasi ringan 0-2 cc/kg, sedang 2-4 cc/kg, berat 4-8 cc/kg Prosedur penggantian cairan selama operasi Jam 1 : ½ P + M + IWL 740 cc Jam 2 dan 3 : ¼ P + M + IWL 540 cc Jam 4 :¼P+M 300 cc Cara pemberian dengan drip infus Pada jam pertama operasi dengan infus jenis transfusi harus dihabiskan cairan sebanyak 740 cc, kecepatan gtt.dt adalah: 740 cc x 15 gtt / 1 jam x 3600 dt = 3 gtt/dt dengan kecepatan 3 gtt/dt pada infus transgusi selama 1 jam, maka terapi cairan pada jam pertama operasi akan terpenuhi. Estimate Blood Volume (EBV) Neonatus: prematur (95 cc/kg), aterm (85 cc/kg). Anak: (80 cc/kg). Dewsa: pria (75 cc/kg), wanita (65 cc/kg). Estimate Blood Loss (EBL) Batas jumlah darah hilang yang harus digantikan (pada dewasa dengan pemberian cairan kristaloid, koloid, baru kemudian darah. Pada anak-anak kehilangan darah digantikan dengan darah). Dewasa (20% EBV), anak-anak (10% EBV)
Pemilihan Jenis Cairan Isotonis: 240-349 mOsm, tekanan osmotik plasma: 285 ± 5 mOsm/l Kristaloid Cairan kristaloid mengandung ion dengan berat molekul rendah (garam) dengan atau tanpa glukosa, bertahan dalam vaskuler selama 20-30 menit. 1/3 cairan tinggal di vaskuler, 2/3 pindah ke interstisiel karena sifat cairan koloid yang mirip dengan cairan ekstraseluler. Perbandingan 1:3. Ringer Laktat (500 cc), isotonis, agak hipotonis, osmolaritas: 273 mOsm/l. Komposisi RL mirip dengan cairan ekstraseluler. Normal Saline (500 cc) osmolaritas: 308 mOsm/l. Digunakan untuk mengencerkan PRC dan baik untuk alkalosis metabolik hiperkloremik. Dalam jumlah besar dapat menyebabkan dilutional asidosis hiperkloremik. D 5% (500 cc) osmolaritas: 253 mOsm/l, hipotonis, digunakan untuk terapi kehilangan air (meintenace type solution).
Ahmad Pandu Pratama S.Ked
Daftar Cairan Kristaloid Tonisitas (mosml/L) Hipotonis (253) Isotonis (308) Isotonis (330) Hipertonis (407) Hipertonis (561) Isotonis (273) Hipertonis (525)
Na+ (mEq/L) -
Cl(mEq/L) -
K+ (mEq/L) -
Ca2+ (mEq/L) -
Glukosa (mEq/L) 50
Laktat (mEq/L) -
154
154
-
-
-
-
38,5
38,5
-
-
50
-
77
77
-
-
50
-
154
154
-
-
50
-
130
109
4
3
-
28
130
109
4
3
50
28
½ NS
Hipotonis (154)
77
77
-
-
-
-
3% Saline 5% Saline
Hipertonis (1026) Hipertonis (1710)
513
513
-
-
-
-
855
855
-
-
-
-
Larutan D5 Normal Saline D5 ¼ NS D5 ½ NS D5 NS Ringer Laktat D5 RL
Koloid Cairan koloid mengandung ion dengan berat molekul besar seperti protein dan glukosa, bertahan dalam intravaskuler selama 3-6 jam, dapat menjaga tekanan onkotik plasma, dan lebih efektif menjaga volume intravaskuler dan curah jantung. Daftar Cairan Koloid Jenis Produksi Koloid
Tipe
BM rata- Waktu Indikasi rata paruh
Plasma protein
Human plasma
Serum consered human albumin
50.000
Dextran
Leuconostoc mesenteroid B 512
D 60/70
60.000 70.000
Gelatin
Hidrolisis dari kolagen binatang
35.000
2-3 jam
Starch
Hidrolisis asam dan ethylen oxyde treatment dari kedelai dan jagung Sintetik polimer vinyl pyrrolidone
- Modifien gelatin - Urea linked - Oxylopigelatin hydroxy ethyl Hydroxy ethyl
450.000
6 jam
-
50.000 25.000
Polyvinyl pyrrolidone
Subtosan Periston
4-5 hari –
6 jam
a. Pengganti volume b. Hiponatremia c. Hemodilusi a. Hemodilusi b. Gangguan mikrosirkulasi (stroke) Substitusi volume
a. Substitusi volume b. Hemodilusi
Substitusi volume
Ahmad Pandu Pratama S.Ked
Klasifikasi Syok
Premedikasi Pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anestesi untuk memperlancar induksi. Rumatan dan bangun dari anestesi, seperti: 1. meredakan kecemasan dan ketakutan. 2. memperlancar induksi. 3. mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus. 4. meminimalkan dosis obat-obat anestesi. 5. mengurangi efek mual muntah pasca bedah. 6. menciptakan amnesia. 7. mengurangi isi cairan lambung. 8. mencegah refleks yang membahayakan. Obat-obat premedikasi Opioid (narkotik analgetik) Morfin 0,1-0,2 mg/kg IM, menurunkan kecemasan dan ketegangan, mengurangi perpanjangan waktu pemulihan. Petidin 0,5 – 1 mg/kg IV, menurunkan tekanan darah dan pernafasan. Barbiturat (fenobarbital, pentobarbital, sekobarbital) Menimbulkan efek sedasi, mengurangi ambang nyeri, ,asa pemuliha tidak memanjang. Antikolinergik (antimuskarinik): sulfas atropin (0,01-0,02 mg/kg) Menimbulkan efek sedasi, amnesia, vagolitik, mengurangi hipersekresi kelenjar ludah dan bronkus. Sering diberikan pada anak karena sistem parasimpatis anak lebi cepat berkembang dari sistem simpatis. Benzodiazepine Menimbulkan efek sedasi, amnesia, anxiolisis, berikatan dengan reseptor spesifik di daerah cortex dan memudahkan ikatan dengan reseptor GABA, digunakan pagi hari sebelum operasi. Diazepam (0,2 mg/kg) midazolam (0,05 – 0,1 mg/kg)
Ahmad Pandu Pratama S.Ked
Butyrophenon (halloperidol, droperidol) Efek sedasi dan anti emetik. H2 antagonis (ranitidin, cimetidin, nizatidin, famotidin) Menurunkan outpit asam lambung sehingga meningkatkan pH lambung. Diberikan sebelum operasi atau malam sebelumnya. Ranitidin (PO 50-150 mg, IV 50 mg) 5 HT3 Receptor Antagonis (anti emetik/muntah) memblok reseptor serotonin 5 HT3 di perifer (abdominal vagal afferent) dan sentral (kemoreseptor zona pencetus di area poetrema dan nukleus traktis solitarius) yang berperan penting pada inisiasi refleks muntah. Ondansentron (0,05 – 0,1 mg/kg) Pasien kontraindikasi obat-obat premedikasi: sakit paru, hipovolemi, obstruksi jalan nafas, tekanan intrakranial meningkat, status mental menurun. Pasien-pasien kontraindikasi obat-obat premedikasi: 1. sakit paru-paru 2. hipovolemi 3. obstruksi jalan nafas 4. tekanan intrakranial meningkat 5. status mental menurun
Alat-alat Anestesi
Ahmad Pandu Pratama S.Ked
Monitoring Tujuan monitoring: 1. diagnosis adanya permasalahan. 2. perkiraan kemungkinan terjadinya kegawatan. 3. evaluasi hasil suatu tindakan, termasuk efektifitas dan adanya efek tambahan. Pada saat monitoring: Oksigensi (saturasi O2), ventilasi, kardiovaskuler (EKG, tekanan darah, heart rate, MAP), temperatur tubuh, urine output. Monitoring dilakukan dengan memasang ambulator TD dan sensor pulse oxymetri. Kemudian lakukan persiapan mesin anasthesi: check N2O-O2, ukuran face mask, flowmeter, vaporizer, CO2 absorber, ventilator (atur TV), ukuran ambu bag, suction, spuit, kapas alkohol, plester, laringoskop.
General Anesthesi Induksi Anesthesi Induksi: tindakan membuat pasien sadar menjadi tidak sadar sehingga memungkinkan dimulainya anesthesi dan pembedahan. Sebelum melakukan induksi, lakukan persiapan alat: Stetoskop, Tube (ETT), Airway (OPA), Tape (plester), Introducer (mandrin), Connector, Suction (STATICS)
Induksi Intravena Tiopental (dosis 3-7 mg/kg), Propofol (2-3 mg/kg), Ketamin (1-2 mg/kg), ketamin sering menyebabkan halusinasi sehingga sebelumnya dianjurkan menggunakan sodativa seperti midazolam. Kontraindikasi pada pasien dengan TD tinggi (>160mmHg). Induksi Intramuskular Ketamin (3-10 mg/kg) Induksi Inhalasi Halotan dan Sevofluran, diberikan pada anak-anak atau dewasa yang takut disuntik.
Managemen Airway Manuver triple airway 1. Kepala ekstensi pada sendi atlanto-oksipital 2. Mandibula didorong ke depan pada kedua angulus mandibula 3. Mulut dibuka Jalan Nafas Laring
Ahmad Pandu Pratama S.Ked
NPA, ukuran OPA kecil (no. 3 80 mm), sedang (no. 4 90 mm), besar (no. 5 100 mm) ukuran dewasa pria no. 4 (90 mm), wanita (no.3 80 mm) Face Mask Bayi baru lahir (03) anak kecil (02,01,1) anak besar (2,3) dewasa (4,5) Face mask dewasa terdiri dari atas mulut sungkup, pengait, badan sungkup, dan lingkar tepi. Face mask bayi tidak memiliki pengait. Bila memegang face mask dengan satu tangan, jari kelingking diletakkan di sudut rahang untuk melakukan manuver jaw trust ke arah anterior untuk memudahkan ventilasi. Laringeal Mask Airway (LMA) LMA digunakan pada pasien yang sulit diintubasi dan pada kasus operasi yang tidak lama. Ukuran LMA Size 1 2 21/2 3 4 5
Patient size Infant Child Child Small adult Normal adult Larger adult
Weight (kg) 30 (30-50) >70 (50-70) >70
Cuff Volume (mL) 2-4 Up to 10 Up to 15 Up to 20 Up to 30 Up to 30
Endotracheal Tube (ETT) ETT pada anak-anak dibawah 5 tahun tidak memakai cuff karena penampang trakea hampir bulat, sedangkan pada anak > 5 tahun dan dewasa, penampang trakea seperti huruf D sehingga memerlukan cuff agar tidak terjadi kebocoran. Ukuran ETT Age Full-term infant Child Female
Internal Diameter (mm) 3.5 4+ ¼ age 7.0-7.5 7.5-9.0 Ukuran panjang pipa: 12 + ½ umur (cm)
Cut Length (cm) 12 4+ ¼ age 24 24
Laryngoscope Digunakan untuk memeriksa laring dan memasukkan ETT dengan baik dan benar. Terdapat 2 jenis blade laryngoscope: lurus (Macintosh) digunakan pada bayi, anak, dewasa, dan bilah lengkung (Miller) digunakan pada anak besar, dewasa. Perhatikan juga gradasi Mallampati pada pasien.
Intubasi Indikasi: 1. menjaga patensi jalan nafas oleh sebab apapun. 2. Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi. 3. Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi. Kesulitan intubasi: 1.leher pendek berotot. 2.mandibula menonjol. 3.maksila/gigi depan menonjol. 4.uvula tidak terlihat (mallapati 3 dan 4) 5.gerak sendi temporo mandibular terbatas. 6.gerak vertabra servikalis terbatas.
Ahmad Pandu Pratama S.Ked
Tahap intubasi: 1.siapkan alat STATICS 2.pasang face mask, pompa 2-3 menit untuk menciptakan keadaan hiperventilasi. 3.buka mulut dengan cross finger. 4.pegang handle laryngoscope dengan tangan kanan, masukkan blade dari sudut kanan mulut, geser lidah, masukkan sampai terlihat plica vocalis. 5.masukkan ETT sampai bats 22/20. 6.hubungkan ke pompa, bagging, dengarkan bunyi nafas di apex paru, bawah papila mammae dan abdomen. 7.suntikkan udara pada cuff. 8.pasang plester, pasang OPA, plester kembali. 9.hubungkan ETT ke mesin pompa
Obat-obat anasthesi Anasthesi Intravena Tiopental (dosis indukasi 3-7 mg/kg), alkalis (pH 10-11), menyebabkan keadaan sedasi, hipnotik, anesthesia atau depresi nafas, menurunkan tekanan darah, meningkatkan heart rate, menurunkan aliran darah otak, tekanan intrakranial, dan tekanan liquor, diduga dapat melindungi otak akibat kekurangan O2. Propofol (dosis induksi 2-3 mg/kg, rumatan 4-12 mg/kg), dikemas dalam cairan emulsi lemak isotonis dengan konsentrasi 1%, hanya boleh diencerkan dengan D5. Propofol menyebabkan hipotensi, depresi nafasm menurunkan aliran darah otak dan tekanan intrakranial. Dosis dikurangi pada manula, tidak dianjurkan pada wanita hamil dan anak 160mmHg) Opioid seperti fentanil (dosis induksi 50-150 mg/kg)
Anethesi Inhalasi MAC (Minimum Alveolar Concentration) adalah koksentrasi minimum zat anasthesi inhalasi dalam alveolus pada tekanan 1 atm untuk mencegah gerakan pada 50% pasien yang dilakukan insisi standar. N2O bersifat analgetik dan hipnotik lemah,pemberian harus disertai O2 minimal 25% Cara menghitung jumlah pemberian N2O dan O2: TV: (7-10 cc/kg) x kgBB = 420 -600 cc (ambil 500 cc) Volume 1 menit: 500 x 12 (RR normal) = 6000 cc (6 L) Perbandingan N2O : O2 = 4:2 atau 3:3 Setiap kali bagging dengan volume 2 L tekan kira-kira ¼ bag (500 cc) sesuai TV Halotan berbau enak dan tidak merangsang jalan nafas. Menyebabkan vasodilatas, serebral dan meningkatkan aliran darah otak. Kelebihan dosis menyebabkan depresi nafas, vasomotor dan miokard, menurunkan tonud simpatis, hipotensi, bradikardi, vasodilatasi, perifer. Enfluran dihindari pada pasien epilepsi, efek depresi nafas, depresi sirkulasi, efek relaksasi otot lurik lebih kuat dari halotan, dan ebih iritatif dari halotan. Isofluran menurunkan laju metabolisme otak terhadap O2, meningkatkan aliran darah ota dan tekanan intrakranial. Efek terhadap depresi jantung dan curah jantung minimal.
Ahmad Pandu Pratama S.Ked
Desfluran efek klinis mirip isofluran, lebih mudah menguap dari volatile lain. Bersifat simpatomimetik menyebabkan takikardi dan hipertensi. Merangsang jalan nafas atas sehingga tidak dipakai untuk induksi. Sevofluran bau tidak menyengat dan tidak merangsang jalan nafas atas. Efek terhadap kardiovaskular stabil, jarang menyebabkan aritmia. Induksi dan pulih dari anasthesi lebih cepat dari isofluran, tidak toksik hepar.
Muscle Relaxant Mekanisme kontraksi otot: Rangsang → depolarisasi terminal saraf → influx Ca → asetilkolin → melekat pada reseptor nikotinik-kolinergik otot → depolarisasi → Na-K pump terbuka → ion Na + Ca masuk dan K keluar → kontraksi otot.
Golongan Depolarisasi Bekerja dengan asetilkolin tetapi tidak di rusak oleh asetilkolinesterase sehingga lebih ama terikat pada reseptor asetilkolin, ditandai dengan fasikulasi kemudian reelaksasi otot. Di dalam vena dimetabolisme oleh kolinesterase dan pseudokolinesterase menjadi suksinilmonokolin. Contoh obat: suksinilkolin dan dekametonium. Suksinilkolin (1-2 mg/kg) onset cepat (30-60 s), kerja singkat (kurang dari 10 menit). Efek samping: nyeri otot, peningkatan tekanan intraokular, intrakranial, intragastrik, peningkatan kadar kalium plasma, aritmia jantung, salivasi, dan alergi. Golongan Non-depolarisasi Berikatan dengan reseptor nikotinik-kolinergik sehingga menghalangi menempatinya. Golongan obat non-depolarisasi: 1.bensiliso-kuinolinum: antrakurium, doksakurium, mivakurium. 2.steroid: pankuronium, vekuronium, pipekuronium, rokuronium, ropakuronium. 3.eter-fenolik: gallamun. 4.non-toksiferin: alkuronium.
asetilkolin
Atrakurium (0,5-0,6 mg/kg) onset kerja 3-5 menit, masa kerja 20-45 menit. Pada penggunaan golongan non-depolarisasi perlu digunakan reverse: nonstigmin (prostigmin) (0,04-0,08 mg/kg), karena bersifat muskarinik maka disertai obat vagolitik seperti Sulfas Atropin (0,01-0,02 mg/kg). Durasi Kerja Muscle Relaxant Depolarizing Short-acting Succinylcholine (10 menit)
Nondepolarizing Short-acting Mivacurium (10-15 mnt) Intermediate-acting Atracurium (20-45 mnt) Cisatracurium (30-45 mnt) Vecuronium (25-45 mnt) Recuronium ( 30-60 mnt) Long-acting Doxcurium (45-60 mnt) Pancuronium (30-60 mnt) Pipecuronium (40-60 mnt)
Ahmad Pandu Pratama S.Ked
Metacuronium (40-60 mnt) Inhibitor Cholinesterase Kolinergik mengacu pada efek neurotransmiter acetylcholine, sebagai lawan dari efek adrenergik dari noradrenaline (norepinephrine). Acetylcholine adalah neurotransmiter saraf parasimpatis (ganglion parasimpatis dan sel efektor), sebagian saraf simpatis (ganglion parasimpatis, medulla adrenal, dan kelenjar keringat, beberapa neuron pada SSP dan saraf somatic otot skeletal. Sistem Saraf Parasimpatis Reseptor kolinergik dibagi menjadi menjadi dua kelompok berdasarkan reaksi terhadap alkaloid mukarinik dan nikotinik. Nikotinik menstimulasi ganglion otonomik dan reseptor otot skeletal (reseptor nikotinik), smentara muskarinik menaktivasi sel afektor organ pada otot polos bronkial, kelenjar ludah, dan nodus sinoatrial. Inhibitor kolinesterase bekerja menghambat asetilkolinesterase dengan berikatan reversibel pada enzim tersebut. Peningkatan asetilkolin akibat inhibitor kolinesterase tidak mempengaruhi reseptor nikotinik otot skeletal. Efek samping muskarinik inhibitor kolinesterase Organ System Muscarinic Side Effects Cardiovascular Decreased heart rate, bradyarrhythmias Pulmonary Bronchopasm, bronchial secretions Cerebral Diffuse excitation Gastrointestinal Intensial spasm, increased salivation Genitourinary Increased bladder tone Ophthalmological Pupillary consrtiction Contoh obat: Neostigmin (prostigmin) (0,04-0,08 mg/kg) Obat Antikolinergik (antimuskarinik) Obat-obat antikolinergik yang dibahas disini hanya memblok reseptor muskarinik. Contoh obat: antropin (0,01-0,02 mg/kg) (efisasi paling tinggi untuk menangani bradikardi), skopolamin, glikopirolate. Karakteristik farmakologi Atropine Tachycardia +++ Brochodilatation ++ Sedation + Antisialagogue effect ++
Scopolamine + + +++ +++
Glycopyrrolate ++ ++ 0 +++
Agonis dan Antagonis Adrenergik Reseptor adrenergik adalah adrenoseptor, adrenoseptor terbagi menjadi α (α 1, α 2) dan β dan (β 1, β 2, β 3). Sistem Saraf Simpatis α 1: pada otot polos tubuh, mata, paru-paru, pembuluh darah, uterus, usus, dan traktus genitourinari. Menyebabkan midriasis. Bronkokonstriksi, vasokontriksi, uterine contracturre, dan kontraksi sfingterpada traktus gastrointestinal and genitourinari. Menghambat sekresi insulin dan lipolisis. Efek stimulasi kardiovaskular adalah vasokonstriksi, yang meningkatkan resistensi vaskular perifer, left ventricular afterload, dan TD. α 2: terutama pada terminal presinaptik saraf. Menyebabkan sedasi dan menurunkan sympathetic outflow, yang menyebabkan vasodilatasi dan TD rendah. Petidine (2cc, 50 mg/cc) Fentanyl (10cc, 50 mg/cc) → 1-3 mg/kg V 60-120 mg (1-2 cc)
Ahmad Pandu Pratama S.Ked
Prostigmin (1cc, 0,5mg/cc) → 0,04-0,08 mg/kg → 2,4-4,8 mg Dexamethason (1 cc, 5 mg/cc) Ephedrin (1 cc, 50 =mg/cc) → 2,5-10 mg (diencerkan dulu) Ondansentron (4 cc, 2mg/cc) Tradmol (1cc, 50mg/cc) Ketorolac (1cc, 30mg/cc) Normal Salin Ringer Laktat Spuit 3,5,10 cc ETT dewasa pria 7,5-10 mm OPA pria no. 4 90 mm (wanita no. 3 80 mm) Suction (no. 14) Ekstubasi 1.ekstubasi dikerjakan setelah anasthesi sudah ringam dengan catatan tidak terjadi spasme laring. 2.sebelum ekstubasi bersihkan rongga mulut, faring, laring dari sektret dan cairan lain. 3.ekstubasi ditunda setelah pasien sadar bila: i. intubadi kembali akan menyebabkan kesulitan. ii. pasca ekstubasi ada resiko regurgitasi.
MANAGEMEN POST OPERATIF Skala Pulih Dari Anesthesia (core) Nilai 2 Kesadaran sadar, orienrasi baik Warna
1 dapat dibangunkan
0 tidak dapat dibangunkan sianosis dengan O2 SaO2 tetap> 90%
merah muda (pink) tanpa O2 Sa02 > 92% 4 ekstrimitas bergerak
Pucat atau kehitaman perlu O2 agar SaO2 > 92% 2 ekstrimitas bergerak
Respirasi
dapat nafas dalam batuk
nafas dangkal sesak nafas
apnu atau obstruksi
Kardiovaskular
tekanan darah berubah 50%
Aktivitas
tak ada ekstrimitas bergerak
Boleh kembali ke bangsal setelah score 9 atau 10 Slala Bromage Melipat lutut Blok tak ada (0) ++ Blok parsial (1) + Blok hampir lengkap (2) Blok lengkap (3) Boleh kembali ke bangsal setelah score 0
Melipat jari ++ + + -
Ahmad Pandu Pratama S.Ked
View more...
Comments