Makalah FS Hiperbarik A2
October 10, 2022 | Author: Anonymous | Category: N/A
Short Description
Download Makalah FS Hiperbarik A2...
Description
MAKALAH FIELD STUDY MATRA LAUT
Tutorial A2
Disusun oleh:
1. Annisa Aulia Widyanti
1310211045
2. Vivi Anisa Putri
1310211057
3. Desti Pratiwi
1310211062
4. Yuliawitri
1310211063
5. Insyirah Prabawati
1310211100
6. R.St Farahnur Syaiful R
1310211106
7. Antania Isyatira Kartika
1310211113
8. Aulia Khairunnissa
1310211114
9. Randy Musashi
1310211135
10. Yoseph Alam Naibaho
1310211144
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
TAHUN AJARAN 2016/2017
KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan bimbingan-Nya lah kami dapat menyelesaikan
makalah ini. Terima kasih kami ucapkan
kepada pihak-pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini. Makalah ini kami susun dengan tujuan untuk membantu mempermudah mempermudah pembaca dalam memahami ilmu kesehatan matra udara. Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh sebab itu, kami mohon maaf atas segala kesalahan maupun kekurangan tersebut. Atas pengertian serta sarannya kami mengucapkan terima kasih.
Jakarta,
Desember 2016
BAB I PENDAHULUAN
I.1
Latar Belakang
Indonesia adalah Negara kepulauan dengan jumlah pulau sebanyak 17.508 pulau. Luas Negara Indonesia 87.764 km2 dengan 2/3 luasnya merupakan lautan. Potensi kekayaan alam perairan laut Indonesia melimpah, sehingga untuk mengelolanya diperlukan sumber daya manusia yang handal. Laut selain sebagai jalur transportasi, obyek wisata juga merupakan sumber mata pencaharian bagi masyarakat terutama nelayan. Dalam mengelola kekayaan alam tersebut masyarakat nelayan kita masih menggunakan cara-cara tradisional, antara lain menyelam dengan menggunakan peralatan yang sederhana dan tanpa pelatihan penyelaman yang benar. Karena di Indonesia sendiri aspek kelautan merupakan hal yang relatif baru berkembang dan memerlukan penanganan multi sektor serta beberapa disiplin ilmu dengan didukung ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang memadai. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah bidang kesehatan, terutama perhatian terhadap sumber daya manusianya. Sebagai Negara Maritim Indonesia memiliki wilayah yang sebagian besar adalah lautan,
dengan
demikian
banyak
aktivitas masyarakat yang
berhubungan
dengan
perairan/laut, baik untuk kebutuhan ekonomi, pelayaran sampai olahraga dan penelitian. Dewasa ini banyak kegiatan yang dilakukan masyarakat maupun para kelompok profesional untuk memanfaatkan dan mengetahui keadaan dasar laut serta yang ada didalamnya. Dari banyak kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan laut kegiatan penyelaman merupakan kegiatan yang sering dilakukan, kegiatan penyelaman ini di kalangan masyarakat awam atau nelayan sering mereka lakukan untuk untuk mencari ikan, atau mencari h hasil asil laut lainnya. Kegiatan yang mereka lakukan ini kadang tidak mereka sadari sering menimbulkan masalah pada kesehatannya, mereka kurang memperhatikan akibat-akibat yang di timbulkan terutama yang menyangkut kesehatannya. Menyelam merupakan olahraga yang meningkat popularitasnya beberapa tahun terakhir ini sejak Jacques-Yves dan Emile Gagnon mengembangkan katup regulator dan tabung portable pada tahun 1943. Professional 1943. Professional Association of Diving Instructor (PADI) (PADI) telah memberikan sertifikasi terhadap lebih dari 5 juta penyelam diseluruh dunia. Menyelam juga mempunyai peranan penting pada beberapa bidang lainnya seperti dalam bidang militer,
industri dan penelitian. Banyak Banyak para nelayan atau penyelam mengeluh perasaan tidak enak, keram-keram pada kaki bahkan sampai kelumpuhan dan kematian yang mereka alami. Mereka tidak menyadari bahwa semua keluhan itu adalah sebagai komplikasi penyelaman yang mereka lakukan yang di sebut Penyakit Decompresi atau Caisson Disease Disease (CD). Penyakit Decompresi atau Caisson Disease Disease merupakan suatu penyakit yang yang disebabkan oleh pelepasan dan pengembangan gelembung-gelembung gas dari fase larut dalam dal am darah/jaringan akibat penurunan tekanan sekitar. (Eric & Mowat, 2012) Caisson disease disease (CD) atau decompression sickness adalah suatu penyakit atau kelainan-kelainan yang yang diakibatkan oleh
penurunan tekanan dengan cepat cepat disekitarnya
sehingga memicu pelepasan dan pengembangan gelembung-gelembung gas dari fase larut dalam darah atau jaringan. Ekspansi gas dari paru-paru dapat mengakibatkan ruptur alveolus yang biasa disebut dengan “ Pulmonary Overinflation Syndrome”. Syndrome”. Penurunan tekanan yang tiba-tiba tadi dapat mengakibatkan adanya emboli udara di arteri. Caisson disease disease diklasifikasikan menjadi dua tipe. Tipe I yang lebih ringan, tidak mengancam nyawa, dan ditandai dengan rasa nyeri pada persendian dan otot-otot serta pembengkakan pada limfonodus. Caisson disease disease tipe II merupakan masalah serius dan dapat menyebabkan kematian. Manifestasinya bisa berupa gangguan respirasi, sirkulasi, dan biasanya gangguan nervus perifer dan / atau gangguan susunan saraf pusat. (Noltkamper & Daniel, 2012) Data dari berbagai sumber melaporkan kematian akibat penyelaman pada wisata penyelam sebanyak 1 kematian per 6.250 penyelam tiap tahun, olah raga menyelam 1 kematian per 5.000 penyelam tiap tahun. Sedangkan yang mengalami penyakit dekompresi di Amerika untuk penyelam militer 1 kasus per 3.770 penyelam, wisata menyelam 1 kasus per 2.900 penyelam dan penyelam komersial 1 kasus per 280 penyelam tiap tahunnya. The Divers Alert Network (DAN) melaporkan sejak tahun 1980 ratarata setiap tahun terjadi kematian 90 penyelam dan antara 900 sampai 1.000 penyelam melakukan terapi rekompresi. Sedangkan menurut Perhimpunan Kesehatan Hiperbarik Indonesia (PKHI, 2000) didunia 5-6 orang dari tiap 100.000 orang mati akibat tenggelam setiap tahunnya. Penelitian yang dilakukan oleh Hagberg & Ornhagen (2003) tentang insiden dan faktor risiko gejala penyakit dekompresi pada penyelam dan instruktur pria dan wanita menunjukkan bahwa: penyelam dan instruktur laki-laki mempunyai faktor risiko terkena penyakit dekompresi 1,48 kali dibanding dengan penyelam dan instruktur perempuan, penyelam dan instruktur berusia 18-24 tahun mempunyai faktor risiko terkena penyakit dekompresi sebesar 1,34 kali dibanding penyelam dan instruktur yang berusia lebih dari 24 tahun, penyelam dan istruktur yang mengkonsumsi alkohol mempunyai faktor risiko terkena
penyakit dekompresi sebesar 1,56 kali dibanding dengan penyelam dan instruktur yang tidak mengkonsumsi alkohol, penyelam dan instruktur yang kelebihan berat badan (BMI ≥ 25) mempunyai faktor risiko terkena penyakit dekompresi sebesar 0,74 kali dibanding dengan penyelam dan instruktur dengan berat berat badan normal (BMI < 25). (Eric & Mowat, 2012 2012)) Kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang kedokteran menghasilkan sejumlah metode-metode baru dalam upaya penyembuhan penyakit-penyakit akibat penyelaman seperti decompression sickness, salah satu diantaranya adalah terapi hiperbarik. Sejarah awal terapi hiperbarik berkaitan dengan dunia penyelaman (diving ( diving ), ), seperti diketahui bahwa manusia telah mengenal aktivitas menyelam sejak jaman dahulu, oleh karena itu konsep pemikiran terapi hiperbarik oksigen oksigen dapat dikatakan sudah sudah memiliki usia yang yang tua. Terapi hiperbarik mempunyai riwayat yang tidak tetap. ruangan di Eropa pada abad sembilan belas lebih digunakan sebagai spa oleh orang-orang kaya dan modis daripada sebagai modalitas pengobatan medis untuk mendiagnosa mendiagnosa penyakit tertentu. (Binta, 2012) Hiperbarik berasal dari kata hyper berarti berarti tinggi, bar berarti berarti tekanan. Dengan kata lain terapi hiperbarik adalah terapi dengan menggunakan tekanan yang tinggi. Pada awalnya terapi hiperbarik hanya digunakan untuk mengobati decompression sickness, sickness, yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh penurunan tekanan lingkungan secara mendadak sehingga menimbulkan sejumlah gelembung nitrogen dalam cairan tubuh baik dalam sel maupun di luar sel, dan hal ini dapat menimbulkan kerusakan di setiap organ dalam tubuh, dari derajat ringan sampai berat bergantung pada jumlah dan ukuran gelembung yang terbentuk. Seiring dengan berjalannya waktu, terapi hiperbarik berkembang fungsinya untuk terapi bermacammacam penyakit, beberapa diantaranya: stroke, multiple sclerosis, cereb cerebral ral edema, keracunan karbon monoksida dan sianida, trauma kepala tertutup, gas ganggrene, peripheral neuropathy, osteomyelitis, sindroma kompartemen, kompartemen, diabetic neuropathy, migraine, myocardial infarction. (Jain, 1990; Guyton dan Hall, 1997). Di Indonesia terapi hiperbarik pertama kali dimanfaatkan pada tahun 1960 oleh Lakesla yang bekerjasama dengan RSAL Dr. Ramelan, Surabaya.
Sekarang ini banyak
rumah sakit yang mempunyai fasilitas terapi hiperbarik yaitu RSAL Mintohardjo Jakarta, RS Pertamina Arun Aceh, RS Pertamina Cilacap, RSU Sanglah Denpasar, RS POLRI Raden Said Sukanto dan masih banyak lagi rumah sakit swasta yang memiliki fasilitas fasili tas tersebut. Mengetahui besarnya manfaat pengetahuan mengenai penyakit decompression sickness serta terapi hiperbarik dalam penyembuhan pen yembuhan penyakit penyakit di tersebut mengingat Indonesia sendiri merupakan negara maritime dan kepulauan, dimana 65% nya adalah kepulauan dan sudah tidak dipungkiri lagi kejadian masalah kesehatan yang berhubungan dengan
penyelaman yang merupakan salah satu manfaat terapi hiperbarik. Ironisnya, masih banyak tenaga kesehatan khususnya di bidang kedokteran belum mengenal dan mengerti manfaat terapi hiperbarik, sehingga hal hal ini menggugah hati penulis untuk mengetahui mengetahui lebih lanjut dan memberi informasi tentang penyakit decompression sickness serta cara kerja dan manfaat dari terapi hiperbarik.
I.2
Rumusan Masalah
Uraian ringkas dalam latar belakang masalah di atas memberikan dasar bagi peneliti untuk merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : Perkembangan
dan
kemajuan
ilmu
pengetahuan
dalam
bidang
kedokteran
menghasilkan metode baru salah satunya terapi hiperbarik. Berkaitan dengan penyelaman dan kelautan, selain itu mempunyai banyak manfaat dalam terapi penyakit-penyakit akibat penyelaman seperti decompression sickness. sickness. Mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan 65% adalah pulau, sehingga pengetahuan tentang penyakit decompression sickness dan terapi hiperbarik sangat penting serta penggunaan dalam kesehatan terkait dengan kesehatan kesehatan penyelaman ataupun masalah kesehatan yang lain. Ironisnya, masih banyak tenaga kesehatan khususnya di bidang kedokteran belum mengenal dan mengerti manfaat terapi hiperbarik, Sehingga hal ini yang menggugah penulis untuk mengetahui lebih lanjut dan memberi informasi tentang cara kerja dan manfaat terapi hiperbarik.
I.3
Tujuan
a.
Tujuan Umum Mengetahui dan mengenal terapi oksigen hiperbarik di RS POLRI Raden Said Sukanto serta penyakit decompression sickness.
b.
Tujuan Khusus 1. Mengetahui penyakit decompression sickness 2. Mengetahui mekanisme kerja dari terapi oksigen hiperbarik di RS POLRI Raden Said Sukanto 3. Mengetahui alat yang diperlukan pada terapi oksigen hiperbarik di RS POLRI Raden Said Sukanto 4. Mengetahui indikasi yang tepat untuk dilakukan terapi oksigen hiperbarik di RS POLRI Raden Said Sukanto
5. Mengetahui kontraindikasi dilakukannya terapi oksigen hiperbarik di RS POLRI Raden Said Sukanto 6. mengetahui protokol penggunaan terapi oksigen hiperbarik yang tepat di RS POLRI Raden Said Sukanto I.4
Manfaat
a.
Manfaat Teoritis Secara akademis kegiatan field study study ini bermanfaat sebagai bahan kajian dalam menambah ilmu pengetahuan terutama mengenai penyakit decompression sickness, sickness, penggunaan alat hyperbaric chamber serta dapat mengetahui sejauh mana manfaat hyperbaric chamber sebagai sebagai terapi.
b.
Manfaat Praktis 1. Bagi masyarakat umum Sebagai sumber informasi dan bahan ilmu pengetahuan seputar penggunaan alat hyperbaric chamber dan dan penyakit decompression sickness 2. Bagi peneliti Menambah wawasan mengenai penggunaan hypercaric chamber dan penyakit decompression sickness di RS POLRI Raden Said Sukanto 3. Bagi Institusi Fakultas Kedokteran UPN “Veteran” Jakarta Jakarta Menambah data dan referensi bagi kegiatan field study selanjutnya dan sebagai bahan bacaan atau sumber kepustakaan mengenai penyakit decompression sickness dan penggunaan hyperbaric chamber
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Definisi Decompression Decompression Sickness
Penyakit dekompressi adalah penyakit yang terjadi pada penyelam dan penambang saat kembali dari lingkungan bertekanan udara tinggi ke tekanan udara normal dimana disebabkan terbentuknya formasi gelembung gas pada darah dan cairan tubuh (Gribble, 1960). Penyakit Decompressi adalah skumpulan gejala yang timbul sebagai hasil dari gas yang terlarut dalam jaringan tubuh mulai keluar dari larutn dan membentuk gelembunggelembung. Keadaan ini terjadi karena decompressi (penurunan tekanan barometric lingkungan) yang mempengaruhi kelarutan nitrogen dalam tubuh (Wikipedia, 2011) 2011) II.2 Epidemiologi
Insidensi dekompressi sangatlah jarang. Insidensi penyakit dekompresi adalah 0,50% (689) kasus dalam 122000 kompresi dan hanya 35 yang
dianggap serius).
Pada
orang
dengan gangguan PFO (Patent Foramen Ovale) maka risiko untuk mengalami dekompresi adalah 4,5 kali
lebih
besar
dibanding
orang
normal. Sedangkan
sumber
lain
menyebutkan bahwa insidensinya adalah 2,8 kasus per 10.000 penyelam. Jenis kelamin kelamin lakilaki memiliki risiko 2,6 kali lebih besar daripada wanita. Aktivitas penyelaman saat ini mulai meningkat dan peran serta tim kesehatan dalam penyelaman tersebut masih kurang, sehingga diperkirakan di masa-masa datang akan terjadi peningkatan jumlah penyelam baik dengan gangguan keeshatan ringan maupun berat, termasuk dekompresi. II.3
Faktor Predisposisi dan Etiologi
- Aktivitas fisik (yang sampai membuat fatigue) - Cedera - Suhu yang rendah - Obesitas - Naiknya konsentrasi CO2 yang terhisap - Usia (yang lebih tua)
- Konsums alkohol - Dehidrasi - Fatigue II.4 Gejala Klinis dan Klasifikasi
Berdasarkan gejala klinisnya, penyakit dekompresi dibagi menjadi dua yaitu : 1. DCS Type I Disebut juga “pain only bends" karena gejala utamanya adalah nyeri, terutama didaerah persendian dan otot-otot di sekitarnya. Bisa timbul mendadak atau berangsur-angsur. Nyeri periartikuler ini mulanya hanya berupa rasa kaku atau tidak enak yang sukar dilukiskan. Gerakan-gerakan anggota tubuh mungkin dapat meringankan sakitnya pada fase permulaan. Namun pada beberapa jam berikutnya, rasa sakit sering bertambah setelah 24 jam, tanpa terapi, biasanya akan reda dalam waktu 3-7 hari, dan berubah jadi rasa nyeri yang tumpul. Dapat tampak hiperemi dan pembengkakan disekitar sendi, yang bisa dikelirukan dengan radang sendi. Bagian sendi yang paling sering terkena adalah sendi bahu (l/3 dari kasus-kasus bends). Bisa terserang dua sendi atau lebih, tetapi jarang simetris. Tipe I dapat memberikan gejala-gejala lain seperti : 1) Kelelahan yang berlebihan setelah menyelam. 2) Mengantuk atau pusing ringan. 3) Gatal-gatal pada kulit. ( Skin bends )
2. DCS Type II Gejala neurologis
Berbagai bagian dari susunan syaraf dapat terserang. umumnya gejala-gejala ini merupakan
manifestasi yang berat dari penyakit dekompresi. Gejala neurologis tergantung pada bagian mana yang tersering. a. Lesi pada otak Biasanya karena emboli arterial atau timbul gelembung gas langsung dalam jaringan otak. Efeknya sama s ama dengan gejala “Stroke”, tergantung pada pembuluh darah mana yang tersumbat. Contoh :
- Penglihatan kabur - Titik-titik buta - Hemiplegia/ hemipaex - Apaxia motorik / sensorik - Kehilangan kesadaran b. Lesi pada cerebellum Gejala yang timbul dapat berupa jalan terhuyung-huyung, kesulitan bicara, atau tremor.
c. Lesi pada medulla spinalis Yang sering terserang adalah daerah lumbal. Gangguan bisa berupa gangguan sensorik dan atau motorik yang menyerang bagian bawah tubuh dan kedua extremitas inferior. Segera setelah tiba dipermukaan, mungkin gejala pertama adalah transient backpain yang menjalar ke perut, ada rasa paraesthesi dan hypesthasi pada tungkai, selanjutnya tungkai jadi lemah dan terlihat ataxia. Akhirnya terjadi paralise dibawah pinggang. Gejala lain bisa berupa gangguan BAK, nyeri di columna vertebralis, gangguan buang air besar. Timbulnya penyakit dekompresi bentuk ini i ni dikarenakan lambatnya lambatn ya aliran alir an dalam dal am vena-vena epidural. Makin lambat aliran vena, makin menghambat eliminasi gas nitrogen dari jaringan medulla. Konsekuensinya seandainya terjadi stasis dalam venavena tersebut karena gelembung gas atau bekuan darah, vena-vena bisa berdilatasi dan menekan jaringan sumsum tulang, atau bahkan bukan tidak mungkin terjadi pembentukan gelembung nitrogen langsung dalam jaringan surnsum tulang.
d. Lesi pada organ vestibuler Gejala-gejala klinis dapat berupa vertigo, tinnitus, gangguan pendengaran, ata staggering. Mual atau muntah juga dapat terjadi.
Gejala-gejala dari paru dan jantung
Sumbatan gelembung-gelembung gas dalam jumlah besar pada sirkulasi pulmoner akan memberikan gejala gangguan pernafasan bempa sesak napas, batuk non produktif, dan nyeri dada. Ini dikenal dengan istilah “Chokes". (hanya 2% dari tipe
II). Sumbatan pada sirkulasi pulmoner bisa juga menimbulkan gejala payah jantung kanan. Gejala iskemia otot jantung bisa timbul bilamana ada emboli arterial yang masuk pembuluh darah koroner.
Gejala-gejala gastrointestinal
Usus dapat dirusak oleh gelembung-gelembung gas dalam dinding usus atau pembuluh darah, menyebabkan rasa mual, kehilangan nafsu naf su makan, muntah, kejang usus dan diarhea. Kasus yang lebih berat dapat menimbulkan muntah darah atau berak darah.
Bends shock
Shock karena penyakit dekompresi dikatakan jarang terjadi. Mekanisme terjadinya
shock dalam penyakit dekompresi belum jelas. Faktor-faktor yang berperan antara lain : - Kehilangan plasma volume
- Kegagalan jantung kanan akut - Deompensasi cordis - Hilangnya tonus vasomotor peripher karena lesi di medulla spinalis. - Skin Bends
II.5 Mekanisme
Menurut hukum Henry, Jumlah gas yang larut dalam suatu cairan (Sgas) berbanding lurus dengan dengan
tekanan
parsial
gas
(Pgas).
Pada
ketinggian ket inggian
permukaan
air
laut
tekanan barometris (PB) (PB) 1 atm atau 760 760 mmHg, nitrogen merupakan gas inert.
Artinya nitrogen tidak terlarut dalam darah. Namun pada penyelaman dalam terjadi perubahan tekanan barometric di lingkungan luar. Setiap turun kedalaman 33 meter (100 kaki), terjadi peningkatan tekanan udara 1 atm. Lingkungan dengan tekanan udara ini disebut lingkungan hiperbarik. Sesuai dengan hukum diikuti
dengan peningkatan
Henry, peningkatan tekanan udara udara akan
kelarutan gas. Artinya nitrogen yang tadinya bersifat inert
berubah menjadi gas yang terlarut dalam darah.
Pada penyelaman yang dalam, akan terjadi akumulasi nitrogen dalam tubuh. Namun pada saat penyelam naik kembali ke permukaan secara tiba-tiba, maka terjadi penurunan tekanan
udara luar (depresurisasi), yang pada akhirnya akan mempengaruhi kelarutan nitrogen dalam darah. Penurunan tekanan udara akan mengubah nitrogen menjadi inert sehingga terbentuklah gelembung-gelembung nitrogen dalam darah. Hal ini akan dapat mengakibatkan kerusakan ringan dan berat di dalam tubuh, dan ini sangat tergantung pada jumlah gelembung yang terbentuk dalam cairan tubuhnya. Peningkatan nitrogen dalam jaringan dengan system sirkulasi yang diakibatkan oleh faktor kembali kepermukaan secara tiba-tiba, tidak dapat disalurkan atau dibuang keluar dari tubuh dengan baik dan cepat, hal ini mengakibatkan terjadinya dekompresi (the bends; penyakit Caisson). Selain itu penumpang penerbangan juga berisiko untuk mengalami dekompresi apabila dalam waktu 24 jam sebelumnya melakukan penyelaman scuba. Hal ini disebabkan karena lingkungan penerbangan adalah lingkungan yang tinggi. Pesawat terbang komersial terbang pada ketinggia rata-rata 24000 kaki (7315 meter) hingga 40000 kaki (12192 meter) tergantung jenis pesawat dan tujuan terbangnya. Pada ketinggian itu, maka tekanan udara akan semakin rendah dibandingkan tekanan di permukaan laut atau dikenal dengan istilah hipobarik. Kondisi hipobarik paska penyelaman dalam akan memicu munculnya penyakit dekompresi. Sebagai hasilnya, FAA (Federal Aviation Administration) merekomendasikan rentang minimal 24 jam di permukaan antara penyelaman dan penerbangan (Ruskin et.al., 2008). Pembentukan
gelembung-gelembung
gas
di
dalam
otot
skeletal
dan
persendian menimbulkan keadaan dekompresi (bends) yang nyeri. Dalam paru-paru, edema, perdarahan dan gas
dapat
emfisema lokal menimbulkan gawat napas atau tersedak. Emboli
pula menyebabkan iskemia fokal dalam sejumlah jaringan yang meliputi otak
dan jantung. Bentuk Bentuk penyakit dekompresi yang lebih kronik adalah penyakit penyakit caisson, emboli gas persisten pada pada bagian rangka dengan vaskularisasi buruk (kaput femoris, tibia dan humerus) yang menimbulkan nekrosis iskemik (Robins & Cotrans, 2009). Gejala penyakit dekompresi ini biasanya muncul dengan adanya resa nyeri lokal di tungkai atau lengan, sakit pada siku, bahu dan lutut, rasa tidak enak, kejang, pusing, nafas pendek, kolaps yang disertai dengan tidak ti dak sadar s adar dan akhirnya akhirn ya berlanjut menjadi edema paru yang akan memperburuk keadaan serta dapat menyebabkan kematian. Disamping itu bila badan semakin banyak digerakkan, maka jumlah gelembung yang terjadi selama dekompresi semakin banyak karena mengaktifkan jaringan dan cairan. Dengan demikian bila terjadi emboli di dalam darah, akan mengganggu sirkulasi darah yang normal menjadi fatal. Bila gelembung terjadi pada saraf perifer, maka dapat menimbulkan rasa nyeri yang sangat berat (Wilmore dan Costill, 1994).
II. 6 Patofisiologi Menyelam Semakin dalam tekanan N2 yang dihirup
Tekanan
, gas terlarut
dalam darah dan jaringan (Hukum Henry)
Pe Pen n elam lam naik aik den den an ce at Tek
gas terlarut
(dekompresi)
Supersaturasi gas lewat batas kritis
Gas lebih cepat lepas dari darah / jaringan dalam bentuk tidak larut
Timbul gelembung gas (bubble)
Ekstravasasi (jaringan)
Intravascular (PD)
Tulang rawan dan sendi (vaskularisasi sedikit)
Ikut sirkulasi darah
Jumlah sedikit Penurunan kecepatan eleminasi gas dari jaringan
Nyeri sendi (bends)
Difiltrasi paru
Jumlah banyak
Sumbatan di sirkulasi pulmoner
Masuk ke sis arterial
Exhalasi keluar tubuh
Silent bubble
Gangguan difusi alveolus
AGE
Ggn mikrovaskular organ
chokes
iskemia
medspin
Nyeri pinggang
Otak
Sulit BAK
Penglihatan kabur, penurunan kesadaran, kejang
jantung
Sesak +nyeri dada
Sal cerna
Mual-muntah, diare
II.7 Tatalaksana
Tujuan pengobatan penyakit dekompresi adalah melawan efek hipoksia pada jaringan. Pengobatan terdiri dari 3 tindakan gabungan yang saling melengkapi :
Oksigenasi (Hiperbarik atau normobarik)
o
Rekompresi
o
Pengobatan dengan medikamentosa (terhadap perubahan-perubalun biohumoral yang
o
terjadi dalam penyakit dekompresi). Oksigenasi dan Rekompresi
Oksigenasi mempunyai keuntungan : 1.
Melawan hipoksia jaringan
2.
Mengurangi tekanan nitrogen yang terlarut daram plasma atau jaringan (Mempercepat larutnya kembali gelembung-gelembung gas nitrogen).
Rekompresi merupakan tindakan darurat dan harus dilakukan secepatnya. Tujuan pengobatan dengan rekompresi rekompresi adalah : 1.
Mernperkecil besarnya gelembung gas
2.
Melarutkan lagi gelembung-gelembung gas nitrogen kedalam darah atau jaringan.
Menggabungkan oksigenasi dan rekompresi (terapi oksigen hiperbarik) adalah cara yang paling baik karena menggabungkan keuntungan-keuntungan dari masing-masing terapi. Oksigen tekanan tinggi bisa berdifusi dalam jaringan tanpa lewat darah sehingga dapat langsung masuk ke jaringan. jaringan. Dapat dipilih tabel 5 atau tabel 6 US NAVY. Tabel Tabel 5 dipakai untuk mengobati penyakit dekompresi tipe I dimana gejala-gejala menghilang seluruhnya dalam
waktu 10 menit. Tabel 6 dipakai untuk mengobati mengobati penyakit dekompresi dengan
gejala lebih serius namun tidak memburuk dan tak memerlukan rekompresi lebih dalam. Kadang - kadang bisa dipakai terapi darurat oksigenasi dan rekompresi lebih dalam air sedalam 9 meter. Teknik ini mungkin dapat digunakan pada tempat penyelaman yang jauh dari fasilitas pengobatan hiperbarik. oksigen 100% diberikan dari permukaan ke kedalamman 9 meter melalui full face mask penderita selama 30 sampai 120 menit. Kecepatan naik ke permukaan 1 meter tiap 12 menit. Proses naik boleh dihentikan bilamana perbaikan klinis kurang sesudah timbul dipermukaan oksigen tetap diberikan secara intermitten.
Terapi Medikamentosa Medikamentosa 1.
Cairan dan elektrolit Tujuan terapi cairan disini adalah untuk mengganti volume yang hilang menormalkan kembali mengganti hemokonsentrasi, mencegah, stasis aliran darah dan memperbaiki perfusi jaringan. Bisa dipergunakan normal saline, ringer laktat, atau dextrose. Bilamana rehydrasi tidak memuaskan bisa ditambah plasma atau expander rendah Dextron dengan berat molekul rendah (Dextran 40 atau Dextran 70).
2.
Anti Platelet Agretion Teoritis aspirasi tentunya akan sangat berguna sebab aspirin mencegah proses agregasi thombosit. Namun hendaknya diingat, sekali terjadi proses agregasi thrombosit secara lengkap, dan sudah menimbulkan sumbatan vaskuler, maka tidak ada lagi gunanya aspirin. Karena sebab diatas, agar aspirin bisa bermanfaat, mestinya harus diberikan segera setelah ada gejala yang paling dini dari penyakit dekompresi. Tidak ada data-data eksperimental yang jelas tentang kegunaan aspirin sebagai prophylaxis seandainya diberikan sebelum proses dekompresi.
3.
Steroid Steroid tetap diberikan dalam praktek, khususnya pada penyakit dekompresi yang serius menyerang otak dan medulla spinalis karena mempunyai efek menstabilisir endothelium vaskuler dan anti edema. Dosis yang dianjurkan : 1 gram hydrocortison suctinate (i.v) secara bolus, disertai 4 mg dexamethason 2l-phosphate (i.m). Dexamethason dilanjutkan 8 mg (i.m) tiap 6 jarn,2-3 hari.
4.
Glycerol Untuk mengobati cerebral edema. Diberikan per oral 0.8 ml per kg.BB, dalam bentuk larulan dalarn air 50% yang diberi rasa (flavour) agar a gar bisa diterima. Glycerol dianggap lebih superior dari obat-obat anti edema yang lain. Maksimal Efek yang dicapai dalarn I jam, dengan duration of efek sampai 6 jam. Glycerol juga tidak menimbulkan peristiwa rebould edema. Bisa diberikan oleh orang non-medis. Kerugiannya hanya rasanya tidak enak, sehingga bisa memberi neusea dan muntah. Ini bisa diatasi dengan pemberian lewat nasogastric tube.
5.
Digitalis Diazepam dianggap sebagai drug of choice untuk konvulsi karena kerusakan CNS. Diazepam bisa diberikan intravenous (10 mg) tiap kali dibutuhkan. Diazepam juga berguna sebagai sedatif untuk pasien-pasien pasien-pasi en yang gelisah sekali, sehingga membuiuhkan sedasi untuk trasportasinya dosis sama dengan dosis antikonvulsan.
BAB III LAPORAN KUNJUNGAN FIELD STUDY
CHAMBER HIPERBARIK DI RS BHAYANGKARA TK. I R. SAID SUKANTO III.1 Pelayan Medik Hiperbarik
Pelayanan
medik
hiperbarik
adalah
pengobatan
oksigenasi
hiperbarik
yang
dilaksanakan di sarana pelayanan kesehatan dengan menggunakan ruang udara bertekanan tinggi / RUBT (hiperbarik chamber) dan pemberi pernapasan oksigen murni 100% pada tekanan lebih dari 1 atmosfer dalam jangka waktu tertentu (Depkes ,2008 hlm 5). Prinsip dasar dari hiperbarik ini ada teori Toricelli yang mendasari terapi, digunakan untuk menentukan tekanan udara 1 atm = 760 mmHg. Dalam tekanan udara tersebut komposisi unsur-unsur udara yang terkandung di dalamnya mengandung Nitrogen (N2) 78 % dan Oksigen (O2) 21%. Dalam pernafasan kita pun demikian. Pada terapi hiperbarik oksigen ruangan yang disediakan mengandung Oksigen (O2) ( O2) 100%. Pelayanan Hiperbarik di RS Bhayangkara Sukanto Jakarta Timur atau yang biasa dikenal adalah RS Polri ini
telah memiliki standar pelayanan medik hiperbarik sesuai
keputusan mentri kesehatan republik kesehatan No.120/menkes/SK/II/2008. Pelaksanaan kegiatan fieldstudy pada tanggal 16 November 2016 di RS. Polri Jakarta Timur. Pengenalan rumah sakit dan pelayanan medik hiperbarik diawakili oleh AKBP Dra.Lilywati Djaya, APT ,karena ketidakhadiran kepala rumah sakit saat itu yaitu, BRIGJEN POL dr. Didi Agus Mintadi, Sp.JP, DFM. Kemudian kita diarahkan ke ruangan hiperbarikdan diminta voluntir untuk ikut merasakan bagaimana proses terapi hiperbarik. Sesuai standar pelayanan RUBT kapasitas 5 orang dan 1 pendamping bisa dokter atau perawat dengan status pendidikan hiperbarik.
III.2 Hiperbarik Oxygen Therapy (HBOT) III.2.1 Definisi
Penggunaan medis oksigen di tingkat yang lebih tinggi daripada tekanan atmosfer
III.2.2 Tujuan
Meningkatkan konsentrasi O2 pada darah arteri sehingga masuk ke jaringan untuk memfasilitasi metabolisme aerob, dan mempertahankan PaO2 > 60 mmHg atau SaO2 > 90 %. III.2.3 Manfaat
Pada umumnya RUBT digunakan untuk menunjang kegiatan dibawah air, antara lain untuk penelitian, dan pengobatan penyakit klinis tertentu maupun yang berhubungan dengan kegiatan di bawah permukaan air. a.
Dukungan kesehatan 1. Uji pemeriksaan kesehatan matra laut terhadap tes kompresi dan kerentakan terhadap oksigen tekanan tinggi 2. Pengobatan penderita akibat kegiatan operasi di bawah air
b.
Pelayanan kesehatan 1. Pengobatan beberapa kasus klinis: gas gangrene, combustion, replantasi, dll; sebagai penunjang pengobatan pasca bedah 2. Pusat rujukan kesehatan hiperbarik
c.
Bidang pendidikan 1. Pendidikn fungsional kesehatan anggota tni angkatan laut 2. Pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan dari instansi lain
d.
Bidang penelitian Bersama dengan para ahli displin ilmu kesehatan yang lain untuk meneliti penyakit-penyakit klinis atau fisiologi pekerja bawah air.
III.2.4 Cara Kerja
Mekanisme perawatan sesuai prosedur awalnya anamnesis kemudian melakukan
pemeriksaan fisik (THT dan Tekanan darah) untuk melihat apakah ada kontraindikasi atau tidak. Selanjutnya ,mendatangani surat persetujuan tindakan (informed consent). Kemudian jika hasil pemeriksaan sesuai syarat voluntir diizinkan masuk kemudian memakai alas kaki, melepaskan jaket dan diminta untuk melepaskan barang-barang yang sekiranya dapat mencetuskan timbul percikana api seperti Handpone, arloji dll.
Didalam chamber di ketinggian 4000 feet ,ada satu perawat yang mendampingi
kita ia menyarankan untuk melakukan ekualisasi yaitu yaitu upaya untuk menyamakan menyamakan tekanan antara telinga bagian tengah dengan tekanan udara diluar. Caranya bisa dengan maneuver valsava yaitu dengan menutup hidung dan mulut saat ekspirasi, atau dengan menelan airliur dan mengobrol. Apabila diketinggian tersebut ada gangguan seperti disalah satu bagian telinga sakit. Perawat segera memberitau tener/attendant yang mengawasi mengawasi di monitor dengan dengan speaker di dalam chamber, hal ini sebagai alat komunikasi sehingga jikalau terjadi sesuatu tekanan dapat ditahan atau diturunkan. Didalam chamber disediakan air minum(aqua), permen yang tujuannya untuk ekualisasi selain itu didalam chamber pasien juga dapat dihibur dengan fasilitas menonton film supaya pasien rilex dan menghindari agar pasien tidak tertidur didalam chamber.
Tekanan didalam RUBT diatur dimana setiap tekanan dinaikan perlahan 1 s/d 2,8
atm dikedalaman 0 s/d 60 feet. Di ketinggian 14 meter mulai mengenakan facemusk untuk menyalurkan oksigen murni 100% ke dalam tubuh 15-20 menit dengan jedah waktu melepaskan facemask untuk menghirup udara biasa 5-10 menit
kemudian
menghirup
oksigen
murni
100%
dengan
face
mask.
Mekanismenya tekanan udara yang dihasilkan pada chamber hiperbarik ini berasal dari kompresor medical untuk menghasilkan udara. Menghirup udara bebas melalui filter catrid udara disaring lalu dikumpulkan pada airbank, kemudian melalui filter catrid ini lagi udara bertekanan yang bersih dialirkan ke hiperbarik chamber. Sehingga dapat menhirup udara bersih atau oksigen murni 100% melalui face mask.
Diakhir perawatan hiperbarik akan didapatkan keluhan seperti mengantuk, merasa
lapar, mual, berkeringat.
III.2.4 Perasaan OP
Saat masuk kedalam chamber ada sedikit perasaan kekhawatiran dan ada terasa rasa kurang nyaman pada saat ketinggian mulai perlahan-lahan di tinggikan. Seperti rasa telinga terasa penuh.
View more...
Comments