Majalah Marista Yunis Ardhani 0910723032

July 16, 2016 | Author: Aiiq Nto Andri | Category: Types, Magazines/Newspapers
Share Embed Donate


Short Description

z z z...

Description

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper Betle L) TERHADAP JUMLAH MAKROFAG PADA FASE PROLIFERASI PERAWATAN LUKA BAKAR DERAJAT II A PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) GALUR WISTAR Marista Yunis Ardhani, Sudiarto*, Heri Kristianto ABSTRAK Luka bakar derajat II A merupakan suatu masalah yang sering terjadi di masyarakat. Daun sirih yang sudah terbukti khasiatnya sebagai antimikrobial dan antiseptik diduga dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan luka bakar derajat II A. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun sirih (Piper bettle L) terhadap jumlah makrofag pada fase proliferasi perawatan luka bakar derajat II A pada tikus putih (Rattus norvegicus) Galur Wistar. Desain penelitian ini menggunakan true-experiment pasca tes yang digunakan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, dengan sampel yang terdiri dari 24 ekor tikus putih jantan, dipilih dengan menggunakan simple random sampling terbagi dalam 4 kelompok dengan 3 kelompok diberi perlakuan ekstrak daun sirih konsentrasi 15%, 30%, 45%, dengan normal salin 0,9% sebagai kelompok kontrol. Variabel yang diukur adalah jumlah makrofag pada fase proliferasi hari ke 15 setelah perawatan luka, tikus dibuat preparat histologi kemudian dianalisis dengan OlyVIA. Analisa data menggunakan One Way ANOVA menunjukkan jumlah makrofag antar kelompok perlakuan berbeda signifikan (p = 0,001). Pada uji Post Hoc dapat dilihat bahwa semua kelompok perlakuan ekstrak daun sirih berbeda secara nyata dengan kelompok normal salin 0,9%. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa perawatan luka bakar derajat II A pada tikus putih (Rattus norvegicus) Galur Wistar menggunakan ekstrak daun sirih (Piper betle L) mampu menurunkan jumlah makrofag pada fase proliferasi luka bakar derajat II A. Kata kunci: Luka Bakar Derajat II A, Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L), Jumlah Makrofag ABSTRACT Second degree burn is the most often occured trauma in citizen. Sirih leaves have been proved its advantages as antimicrobial and antiseptic, considered being able to heal burn wound. This study is conducted to determine the effect of Piper betle Linn extract toward macrophage amount at proliferative phase in white rat (Rattus norvegicus) second degree burn. True experiment after test design is used during the experiment and control group, with samples consist of 24 male white rats, chosen by simple random sampling divided to 4 group which 3 of them were treated using Piper betle Linn extract with variety of concentrations 15%, 30%, 45%, with normal saline 0,9% served as control. Macrophage amount decrement was measured after second burn treatment for 15 days, rats were made as a hystologycal slide then analyzed by OlyVIA. One Way ANOVA test shows that there is a significant difference of macrophage amount between each group (p = 0,001). The result of Post Hoc test show that there are significant differences between all of treatment groups sirih leaves extract with normal saline 0,9% group. It is concluded that sirih leaves (Piper betle L) extract can decrement macrophage amount at poliferative phase in white rat (Rattus norvegicus) on second degree burn wound. Keyword: Second degree burn wound, Sirih extract (Piper betle L), Macrophage amount

PENDAHULUAN Luka bakar adalah kerusakan jaringan pada kulit akibat terpajan panas tinggi, bahan kimiawi maupun arus listrik (Nurdiana et all, 2008). Luka bakar diklasifikasikan dalam 3 bagian yaitu luka bakar derajat satu, luka bakar derajat dua, dan luka bakar derajat tiga. Luka bakar derajat satu (superficial) adalah luka bakar yang mengenai epidermis superfisial, misalnya tersengat matahari. Luka bakar derajat dua (sebagian lapis kulit) meliputi dermal superficial sampai dalam, misalnya tersiram air panas, sedangkan luka bakar derajat tiga epidermis dan dermis rusak misalnya terbakar api (Cecily Lynn Betz & Linda A, 2009). Luka bakar merupakan suatu masalah yang kompleks karena luka bakar dapat menyebabkan discomfort (ketidaknyamanan), disability (kecacatan), dan death (kematian). Di rumah sakit anak di Inggris, selama satu tahun, terdapat sekitar 50.000 pasien luka bakar dimana 6400 diantaranya masuk ke perawatan khusus luka bakar. Antara 19972002 terdapat 17.237 anak di bawah 5 tahun mendapat perawatan di gawat darurat di 100 rumah sakit di Amerika. Jumlah kasus pada anak sering berhubungan dengan kekerasan pada anak terutama anak laki-laki dan sangat muda. Ini sering terjadi pada orang tua tunggal dan tinggal di rumah yang sangat sederhana. Insiden beragam antara 1,7 – 8 % dari kejadian luka bakar di Amerika Serikat. Daun sirih telah secara sudah tradisional digunakan, ini berarti telah sejak dahulu diketahui khasiatnya sebagai terapi komplementer dalam keperawatan (Kartasapoetra, 2004). Tanaman sirih juga diketahui bisa mengatasi batuk, menghilangkan bau badan, mengobati luka bakar, mimisan dan gatal-gatal. Untuk mengobati luka bakar, daun segar diperas airnya dan dibubuhkan di tempat luka bakar (Rizki, 2009). Kemampuan daun sirih untuk menyembuhkan luka bakar karena salah satu kandungan dari tanaman ini adalah saponin (Widayat dkk, 2008). Menurut Priosoeryanto et al (2006), saponin berguna sebagai antimikrobial dan perangsang pertumbuhan sel-sel baru pada luka. Saponin memicu makrofag bermigrasi ke daerah luka untuk membunuh organisme yang menyerang dan menghasilkan sitokin untuk

mencegah terjadinya inflamasi (Kimura et al, 2006).

Makrofag merupakan sel yang berperan pada inflamasi kronik. Makrofag berasal dari monosit dalam sirkulasi yang diinduksi untuk bermigrasi menembus endotel oleh kemokin atau kemotraktan lain. Makrofag merupakan gambaran utama pada inflamasi kronik karena setelah diaktifkan, makrofag menyekresi sejumlah produk yang aktif secara biologik. Pada inflamasi kronik, akumulasi makrofag berlangsung terus karena pergerakanmonosit yang tidak berhenti akibat molekul adhesi ekspresif faktor kemotaktik dan yang terus-menerus. Penelitian ini dilaksanakan untuk membuktikan apakah pemberian ekstrak daun sirih secara topikal akan mempengaruhi optimalisasi pertumbuhan makrofag pada perawatan luka bakar derajat II A. Berdasarkan hal tersebut diatas maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan judul “Pengaruh pemberian ekstrak daun sirih (Piper betle L) terhadap jumlah makrofag pada fase proliferasi perawatan luka bakar derajat II A pada tikus putih (Rattus norvegicus) Galur Wistar”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun sirih (Piper betle L) terhadap jumlah makrofag pada fase proliferasi perawatan luka bakar derajat II A pada tikus putih (Rattus norvegicus) galur wistar. METODE PENELITIAN Desain Penelitian. Desain penelitian ini adalah true-experiment pascates dengan kriteria adanya kelompok eksperimen dan kontrol. Pada rancangan ini kelompok eksperimental diberi perlakuan sedangkan kelompok kontrol tidak diberi perlakuan. Seluruh kelompok tidak diawali dengan pra-tes. Pengukuran hanya dilakukan setelah pemberian perlakuan selesai (Nursalam, 2008). Pada rancangan ini terdapat 3 kelompok eksperimen dan 1 kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakuan yaitu dengan terapi ekstrak daun sirih. Dosis yang diberikan adalah 15%, 30% dan 45%. Dosis ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 30% mempunyai kemampuan antibakteri yang optimal (Poeloengan dkk., 2005). Dosis 15% dan 45% diberikan sebagai eksplorasi dosis. Kelompok kontrol adalah kelompok yang diberikan NaCl (Normal Salin 0,9%) sebagai kontrol negatif. Pembuatan Luka Bakar Derajat II

A. Menempelkan balok sterofoam berukuran

2x2 cm dilapisi dan dibungkus kassa yang 0 dicelup air panas 98 C selama 3 menit dan ditempelkan pada punggung tikus selama 30 detik di Laboratorium Farmakologi FKUB. Perawatan Luka Bakar Derajat II A. Pada kelompok perlakuan luka dibersihkan dengan NS 0,9% lalu diberikan ekstrak daun sirih dosis 15%, 30% dan 45% pada area luka setiap tikus. Pemberian ekstrak daun sirih menggunakan lidi wotten yang diolesi dengan ekstrak daun sirih dosis 15%, 30% dan 45% kemudian dibagi pada 6 ekor tikus (perawatan dilakukan 1x/hari yaitu jam 13.00 WIB untuk mengoptimalkan proses penyembuhan dan meminimalkan terjadinya infeksi). Sedangkan kelompok kontrol dibersihkan dengan NS 0,9% kemudian dikompres dengan NS 0,9% sebanyak 0,5 cc. Pembuatan Ekstrak Daun Sirih. Daun sirih sudah dipesan untuk dilakukan pengeringan dan penghalusan. Proses pengeringan dan penghalusan yang dilakukan disesuaikan dengan standar pembuatan ekstrak dari peneliti. Prosedur pengeringan dan penghalusan dilakukan dengan cara daun sirih yang diambil adalah daun berwarna hijau muda sampai hijau tua. Daun sirih dicuci secara terpisah dengan air mengalir sampai bersih. Kemudian daun sirih dikeringkan pada suhu kamar dan menggunakan kipas angin untuk mempercepat proses pengeringan pada permukaan daun bekas bilasan. Setelah permukaan daun kering dilakukan penimbangan secara terpisah. Kemudian daun sirih dipotong-potong menggunakan pisau stainlessteel dengan ukuran 1-3 mm dan dikeringkan. Proses pengeringan dilakukan di bawah sinar matahari dengan cara daun sirih ditutup dengan kain hitam saat dijemur. Setelah daun sirih kering dilakukan proses penghalusan menggunakan blender secara terpisah sehingga menjadi bentuk serbuk (Patmawati, 2010). Proses ekstraksi mengikuti standar pembuatan ekstrak di Laboratorium Farmakologi Universitas Brawijaya Malang. • Setelah daun sirih kering dihaluskan kemudian timbang sebanyak 100 gram • Masukkan 100 gram sampel kering ke dalam gelas erlenmeyer ukuran 1 liter • Kemudian rendam dengan etanol sampai volume 1000 ml • Kocok sampai benar-benar tercampur (± 30 detik) • Diamkan 1 malam sampai mengendap

Proses Evaporasi • Ambil lapisan atas campuran etanol yang mengandung zat aktif • Masukkan dalam labu evaporasi 1 liter (isi 2/3 labu) • Pasang labu evaporasi pada evaporator • Isi water bath dengan air sampai penuh • Pasang semua rangkaian alat, termasuk rotary evaporator, pemanas water bath (atur sampai 70°-800C), sambungan dengan aliran listrik • Biarkan larutan etanol mendidih lalu memisah kedalam labu penampung dengan zat aktif yang sudah ada dalam labu • Tunggu sampai larutan etanol berhenti menetes pada labu penampung (± 1,5 sampai 2 jam untuk satu labu) • Hasil yang diperoleh sepertiga dari bahan alam kering • Masukkan hasil ekstraksi dalam botol plastik • Simpan dalam freezer Stok ekstrak daun sirih (Piper betle Linn.) yang ada kemudian diencerkan dengan menggunakan rumus : L = a/b x 100 % Keterangan : L : Konsentrasi larutan (%) a : Massa zat terlarut (mg) b : Massa zat pelarut (mg) Identifikasi Makrofag. Proses identifikasi makrofag dilakukan pada hari ke15 setelah luka dibersihkan. Makrofag adalah sel yang berbentuk gelendong, memiliki inti satu atau lebih berukuran 10-30 μm, inti lonjong atau bentuk ginjal, mengandung granula azurofilik, dan tercat ungu pada pewarnaan Hematoxylin Eosin pada saat dilakukan pengamatan. Analisa Data. Dalam penelitian ini digunakan teknik observasi eksperimen dimana sampel dibagi menjadi 4 kelompok yaitu 3 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol negatif yang dilakukan perawatan setiap hari sampai hari ke-14. Pengamatan dan pengukuran jumlah makrofag dilakukan sesudah pemberian perlakuan pada hari ke15 baik pada kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol. Metode pengumpulan data dengan menghitung jumlah makrofag

menggunakan mikroskop OLYMPUS seri CX 21 dengan perbesaran 1000 kali, kemudian dipotret menggunakan kamera digital Canon Ixus 105 dan dianalisa menggunakan software OlyVIA dimana setiap sediaan diperiksa pada luas pandang 5 area kemudian dirata-rata. Dari hasil analisa terhadap jumlah makrofag luka bakar derajat II A pada masing-masing sampel pada setiap perlakuan kemudian dilakukan uji asumsi statistik SPSS version 17 for windows dengan cara uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas menggunakan statistik uji Kolmogorov-Smirnov dengan α = 0,05. Jika data menunjukkan p value > 0,05, maka data terdistribusi normal. Kemudian pada uji homogenitas / keragaman data menggunakan uji test of homogeneity of variances, jika nilai F hasil < nilai F tabel, maka data adalah homogen, sehingga dapat dilakukan uji parametrik lebih lanjut menggunakan One way ANOVA. Data hasil penelitian kemudian dianalisa dengan One way ANOVA SPSS version 17 for windows untuk mengetahui perbedaan antar kelompok uji coba. Jika signifikansi < α (0,05), maka terdapat perbedaan yang signifikan terhadap jumlah makrofag pada luka bakar derajat II A antar kelompok. Uji perbandingan berganda digunakan untuk mengetahui kelompok perlakuan mana yang paling signifikan di antara kelompok-kelompok uji coba. Nilai signifikansi antar kelompok yang paling bermakna adalah yang memiliki nilai signifikansi paling kecil. HASIL PENELITIAN Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 27 Januari sampai 12 Februari 2013 di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Penelitian dilakukan mulai dari pemeliharaan tikus, pembuatan ekstrak daun sirih dengan dosis 15%, 30%, dan 45%, pembuatan dan perawatan luka bakar derajat II A dengan ekstrak daun sirih, sampai eksisi jaringan kulit yang dilakukan di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Pada penelitian ini dilakukan pengujian efek perlakuan ekstrak daun sirih dosis 15%, 30%, dan 45% terhadap pertumbuhan makrofag pada hari ke-15 setelah perawatan luka bakar. Hasilnya adalah sebagai berikut (tabel 1 dan gambar 1):

Tabel 1 Hasil rerata jumlah makrofag pada masing-masing perlakuan secara kuantitatif Jumlah Makrofag No.Sa mpel 1. 2. 3. 4. 5. 6. Ratarata ± SD

NS 0,9% 29,8 23,2 23,6 34 36 38 30,76 67 ± 6,320 02

EDS 15 % 22,8 19,6 18 11 17,4 20,2 18,16 67 ± 3,990 82

40

EDS 30 % 9,6 27,8 21,2 23,8 19,4 18,2 20±

EDS 45 % 26,6 14,6 17 10,8 16,6 15,2 16,8 ±

6,139 71

5,2824 2

C = Ekstrak Daun Sirih 45%

30 20

B = Ekstrak Daun Sirih 30%

10 0 D

A

B

Jenis Perlakuan

C

A = Ekstrak Daun Sirih 15% D = Normal Salin 0,9%

Gambar 1 Pengaruh Jenis Perlakuan terhadap Jumlah Makrofag Tabel 1 dan gambar 1 memperlihatkan adanya perbedaan jumlah makrofag antara masing-masing kelompok perlakuan dengan ekstrak daun sirih dosis 15%, dosis 30%, dan dosis 45% serta kontrol dengan normal salin 0,9%. Pada kelompok perawatan luka dengan ekstrak daun sirih dosis 15% didapatkan rata-rata jumlah makrofag sebesar 18,1667. Kelompok perawatan luka dengan ekstrak daun sirih dosis 30% didapatkan rata-rata jumlah makrofag sebesar 20,0. Kelompok perawatan luka dengan ekstrak daun sirih dosis 45% didapatkan rata-rata jumlah makrofag sebesar 16,8. Kelompok perawatan luka dengan normal salin 0,9% didapatkan rata- rata jumlah makrofag sebesar 30,7667. Analisa Data. Hasil penelitian yang telah didapat dianalisis menggunakan software SPSS version 17 for windows untuk kemudian dilakukan pembahasan. Jenis analisis data tersebut digunakan karena

skala ukurnya berupa rasio. Data yang didapat dari penghitungan dilakukan analisis menggunakan uji One Way ANOVA untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan (jelas) antara rata-rata hitung 4 kelompok data yaitu kelompok perlakuan dengan ekstrak daun sirih 15%, 30%, dan 45%, serta kelompok kontrol dengan normal salin 0,9%. Uji one way ANOVA bisa dilakukan jika data yang ada memenuhi beberapa asumsi diantaranya populasi- populasi yang akan diuji berdistribusi normal, varians dari populasi-populasi tersebut adalah sama, dan sampel tidak berhubungan satu dengan yang lain. Uji statistik yang pertama yang harus dilakukan adalah uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov Smirnov, kemudian dilanjutkan dengan uji homogenitas data menggunakan uji Test of Homogenity of Variance. Setelah asumsi normalitas dan homogenitas data terpenuhi maka dapat dilanjutkan dengan uji statistik One Way ANOVA untuk mengetahui rata-rata jumlah makrofag pada masing-masing kelompok perlakuan, serta uji Post Hoc untuk menentukan kelompok mana yang memiliki rata-rata jumlah makrofag yang paling signifikan. Uji statistik yang terakhir dilakukan adalah uji Regresi Linear untuk mengetahui korelasi antara pemberian ekstrak daun sirih terhadap penurunan jumlah makrofag dan seberapa kuat hubungannya. Uji Normalitas dan Homogenitas. Uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Hasil uji normalitas data setelah dilakukan test Kolmogorov Smirnov didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,826, dimana nilai ini lebih besar daripada 0,05 sehingga H0 diterima dan berarti jumlah makrofag baik pada kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol berdistribusi normal. Karena data sudah terdistribusi normal, maka pengujian dapat dilanjutkan dengan uji homogenitas atau keragaman data untuk mengetahui apakah data jumlah makrofag pada kelompok yang diberikan ekstrak daun sirih (Piper betle Linn.) dan kelompok kontrol normal salin 0,9% memiliki variansiyang sama atau homogen menggunakan Test of Homogenity of Variance. Pada Test of Homogenity of Variance didapat nilai signifikansi 0,748. Oleh karena signifikansi > 0,05 maka Ho diterima atau berarti jumlah makrofag

pada semua kelompok perlakuan memiliki variansi yang

sama atau homogen. Dengan demikian, asumsi kesamaan varians untuk uji ANOVA sudah terpenuhi. Uji One Way ANOVA. Untuk menguji perbedaan antar kelompok perlakuan dengan menggunakan perbandingan rata-rata antar kelompok yaitu kelompok yang diberikan ekstrak daun sirih (Piper betle Linn.) dan kelompok kontrol normal salin 0,9% digunakanlah uji One Way ANOVA. Pada uji ANOVA terlihat bahwa F hitung adalah 7,989 dengan signifikansi 0,001. Oleh karena signifikansi < 0,05 maka H0 ditolak, atau rata-rata jumlah makrofag antara empat kelompok tersebut memang berbeda. Uji Perbandingan Berganda (Post Hoc Test). Uji Post Hoc dilakukan untuk mengetahui kelompok sampel mana yang berbeda signifikan diantara kelompokkelompok sampel lainnya. Nilai signifikansi antar kelompok dilihat dari tabel Multiple Comparison dan nilai signifikansi < 0,05 adalah kelompok yang memiliki perbedaan paling signifikan. Pada tabel Multiple Comparison dapat dilihat bahwa kelompok yang memiliki perbedaan yang signifikan adalah kelompok perlakuan ekstrak daun sirih 15%, 30% dan 45% dengan nilai signifikasi 0,004; 0,14 dan 0,001 terhadap kelompok kontrol normal salin 0,9%. Kolom Mean Difference menunjukkan bahwa mean dari kelompok perawatan luka bakar dengan ekstrak daun sirih berbeda secara nyata dengan normal salin 0,9%. Pada kolom Homogeneous Subsets juga dapat diamati bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara semua kelompok perlakuan ekstrak daun sirih dengan kelompok kontrol normal salin 0,9%. Pada uji Pos Hoc tidak ada perbedaan yang nyata antar kelompok perlakuan ekstrak daun sirih konsentrasi 15%; 30% dan 45%, sehingga dengan pemberian dosis 15% sudah bisa digunakan sebagai topical dressing perawatan luka bakar derajat II A. Tabel 2 Nilai Signifikansi Hasil Uji Post Hoc

Jenis Perlakuan I Normal Salin 0,9%

Ekstrak

Jenis Perlakuan II Ekstrak Daun Sirih 15% Ekstrak Daun Sirih 30% Ekstrak Daun Sirih 45% Ekstrak Daun

Nilai Signifikansi 0,004 0,014 0,001 0,938

Daun 15%

Sirih

Ekstrak Daun Sirih 30%

Sirih 30% Ekstrak Daun 0,973 Sirih 45% Ekstrak Daun 0,748 Sirih 45%

Uji Regresi Linear. Setelah melihat kelompok perlakuan mana yang memiliki perbedaan jumlah makrofag yang paling signifikan, maka uji dilanjutkan dengan uji Regresi Linear untuk menentukan bentuk hubungan antara kedua variabel sekaligus besar pengaruh pemberian ekstrak daun sirih. Pada tabel Pearson Correlation yaitu – 0,594 dimana tanda negatif (-) menunjukkan bahwa hubungan bersifat tidak searah yang berarti semakin tinggi konsentrasi daun sirih yang diberikan, maka jumlah makrofag akan semakin kecil. Nilai korelasi sebesar - 0,594 menunjukkan terdapat korelasi yang substansial yang berarti ada pengaruh sedang antara pemberian ekstrak daun sirih terhadap penurunan jumlah makrofag pada fase proliferasi luka bakar derajat II A. Pada tabel Model Summary menunjukkan nilai r square sebesar 0,353 sehingga dapat disimpulkan bahwa pem- berian ekstrak daun sirih memberi pengaruh sebesar 35,3% terhadap jumlah makrofag pada fase proliferasi luka bakar derajat II A. PEMBAHASAN Penelitian untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun sirih terhadap jumlah makrofag pada fase proliferasi luka bakar derajat II A telah dilakukan dengan melakukan perawatan menggunakan 3 dosis ekstrak daun sirih berbeda yang dipilih berdasarkan studi pendahuluan. Eksplorasi tersebut dilakukan dengan menggunakan 3 konsentrasi ekstrak daun sirih hijau yaitu dengan konsentrasi 15%, 30%, dan 45%. Hasil studi eksplorasi didapatkan bahwa penyembuhan luka paling cepat dengan konsentrasi dosis paling optimal dalam penyembuhan luka bakar derajat II A yaitu dosis 30% ditandai dengan luas luka yang paling kecil. Hasil studi eksplorasi menjadi acuan peneliti untuk menentukan konsentrasi ekstrak daun sirih pada saat penelitian. Konsentrasi yang dipilih sebagai konsentrasi perlakuan adalah konsentrasi dengan rentang 15% dibawah dan diatas 30% yaitu dosis 15% dan dosis 45%. Hasil analisis data tentang jumlah makrofag yang didapatkan dari kelompok A

(kelompok perawatan luka bakar derajat II A dengan ekstrak daun sirih dosis 15%), kelompok B (kelompok perawatan luka bakar derajat II A dengan ekstrak daun sirih dosis 30%), kelompok C (kelompok perawatan luka bakar derajat II A dengan ekstrak daun sirih dosis 45%), dan kelompok kontrol (kelompok perawatan luka bakar derajat II A dengan normal salin 0,9%) menghasilkan perbedaan yang signifikan. Penurunan jumlah makrofag yang signifikan ditunjukkan pada rerata jumlah makrofag yang terkecil yaitu pada perlakuan ekstrak daun sirih dosis 45% dimana ratarata jumlah makrofagnya mencapai 16,8. Rata-rata jumlah makrofag semakin meningkat pada perlakuan dengan ekstrak daun sirih dosis 15% dilanjutkan dengan perlakuan ekstrak daun sirih dosis 30%. Rata-rata jumlah makrofag paling tinggi didapatkan pada kelompok kontrol yaitu perlakuan dengan normal salin 0,9%. Analisis data dari penelitian ini menggunakan software SPSS version 17 for windows. Uji One Way ANOVA menunjukkan nilai signifikasi 0,001 (P < 0, 05) yang berarti terdapat perbedaan rata-rata jumlah makrofag antara masing-masing kelompok perlakuan baik dengan ekstrak daun sirih dosis 15%, 30%, dan 45% maupun kelompok kontrol dengan normal salin 0,9%. Perbedaan signifikan jelas terlihat pada kelompok perlakuan ekstrak daun sirih dengan dosis 15%, 30% dan 45% dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan normal salin 0,9%. Pada uji Post Hoc dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan rata-rata jumlah makrofag yang signifikan antara pemberian ekstrak daun sirih hijau (Piper bettle Linn) konsentrasi 15% dengan kelompok kontrol normal salin 0,9% dan juga pada pemberian ekstrak daun sirih hijau (Piper betle Linn) konsentrasi 30% dengan kelompok kontrol normal salin 0,9% serta pada pemberian ekstrak daun sirih hijau (Piper betle Linn) konsentrasi 45% menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dengan kelompok kontrol dengan normal salin 0,9%. Pemberian ekstrak daun sirih 15% berbeda signifikan dengan kelompok kontrol normal salin 0,9% membuktikan bahwa dengan pemberian ekstrak daun sirih 15% mampu membantu makrofag untuk memfagositosis bakteri dan mencegah infeksi. Ekstrak daun sirih memiliki kandungan zat aktif seperti tannin, saponin

dan minyak atsiri yang digunakan sebagai antimikroba. Pada penapisan fitokimia didapatkan sampel 2 gram daun sirih mengandung 1 – 4,2% minyak atsiri serta tannin dan saponin sebagai antibakteri. Pada ekstrak daun sirih konsentrasi 0,5%; 0,5%; 0,9%; 1,4%; 1,9%; 2,3%; 2,8%; 3,3%; 3,7%; 4,2%; 4,6%; 5,1%; 5,6%; 6%; 6,5%; 6,9%; 7,4%; 7,8%; 8,3%; 8,8%; 9,3%; 9,7%; 10,2%; 10,7%; 11,1%; 11,6%; 12%; 12,5%; 13%; 13,5%; 13,9% mengandung antibakteri yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan luka (Pratiwi, 2010). Pada hasil tersebut dapat disimpulkan ekstrak daun sirih konsentrasi 15% sudah bisa dipakai sebagai antibakteri dan membantu makrofag dalam proses penyembuhan luka. Ekstrak daun sirih konsentrasi 15%, 30% dan 45% terbukti mampu mengefektifkan fase inflamasi, mencegah infeksi dan mengoptimalisasi proses penyembuhan luka karena mengandung zat-zat aktif saponin dan tannin. Uji korelasi yang telah dilakukan menghasilkan nilai signifikan 0,002 (p < 0,05) yang berarti adanya hubungan antara pemberian ekstrak daun sirih terhadap penurunan jumlah makrofag. Hasil uji regresi linear pada tabel Model summary menunjukkan pemberian ekstrak daun sirih memberi pengaruh sebesar 35,3% terhadap jumlah makrofag pada fase proliferasi luka bakar derajat II A. Penurunan jumlah makrofag dalam penelitian ini diduga karena adanya efek dari senyawa-senyawa kimia aktif yang berasal dari ekstrak daun sirih hijau. Hasil ekstraksi daun sirih hijau mengandung beberapa senyawa-senyawa kimia aktif seperti minyak atsiri, flavonoid, tanin, dan saponin. Senyawa-senyawa tersebut mampu membantu proses penyembuhanluka dengan mekanisme yang berbeda-beda. Tannin berpotensi membantu proses penyembuhan luka melalui beberapa mekanisme seluler, diantaranya menangkal radikal bebas dan meningkatkan oksigenasi, meningkatkan pembentukan pembuluh darah dan fibroblas, deposisi kolagen, pembentukan jaringan granulasi, epitelisasi, dan meningkatkan kontraksi luka (Li et al., 2011; Lai et al., 2011). Perawatan luka bakar menggunakan normal salin 0,9% telah dilakukan sejak lama. Penggunaan normalsalin 0,9% untuk perawatan luka menggunakan metode balutan kasa wet dry. Cairan normal salin 0,9% bersifat fisiologis, non toksik, dan

ekonomis. Ketika kasa lembab menjadi kering akan menekan permukaan jaringan yang berarti segeradiganti balutannya. Proses penggantian balutan sendiri dilakukan dengan membersihkan terlebih dahulu area luka dengan kasa kemudian dikeringkan, selanjutnya luka dibalut dengan menggunakan kasa lembab yang sudah dibasahi dengan normal salin 0,9% dan diplester untuk mencegah balutan terlepas. Kasa kering yang menekan permukaan jaringan mengakibatkan terganggunya pertumbuhan jaringan sehat dan menimbulkan rasa nyeri yang berlebihan (Tarigan, 2007). Penggantian kasa akan merusak pertumbuhan jaringan yang dalam masa perbaikan sehingga akan menambah fase inflamasi. KETERBATASAN PENELITIAN Penelitian ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut karena masih dapat beberapa kekurangan dalam proses pelaksanaannya. Kekurangan dalam penelitian ini diantaranya terdapat beberapa hasil scan preparat histologi yang buram sehingga menghambat proses identifikasi dan penghitungan makrofag. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan scan ulang untuk beberapa preparat histologi yang buram sehingga mendapatkan hasil scan yang jelas. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan bisa mengantisipasi kekurangan ini dengan memaksimalkan proses scan histologi. Teori Keperawatan. Hasil penelitian bisa digunakan sebagai dasar pengetahuan untuk memahami efek penggunaan ekstrak daun sirih (Piper betle Linn) terhadap proses penyembuhan luka bakar derajat II A. Penelitian ini didasarkan pada teori dari Callista Roy yang merupakan teori adaptasi manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosial yang harus dilihat sebagai suatu kesatuan yang utuh. Luka bakar derajat II A yang diberi ekstrak daun sirih akan beradaptasi dengan mengeluarkan makrofag. Makrofag sebagai sel yang berperan dalam proses penyembuhan luka akan dikeluarkan sebagai bentuk adaptasi untuk memperbaiki kulit. Ekstrak daun sirih sendiri akan membantu makrofag dalam proses penyembuhan luka dengan zat antibakteri, saponin dan tanin. Praktik Keperawatan. Penanganan luka bakar derajat II A dikomunitas saat ini masih menggunakan normal salin 0,9%. Daun sirih yang mudah didapatkan di Indonesia menjadi pertimbangan untuk

digunakan sebagai alternatif untuk perawatan luka bakar derajat II A. Hasil penelitian pemberian ekstrak daun sirih (Piper betle Linn) terbukti secara efektif menurunkan jumlah makrofag pada fase proliferasi luka bakar derajat II A sehingga diharapkan dapat menjadi alternatif untuk perawatan luka bakar derajat II A pada masyarakat dan komunitas karena akan memudahkan dalam mendapatkan dan tidak membutuhkan biaya yang besar. KESIMPULAN a. Perawatan luka bakar derajat II A pada tikus putih (Rattus norvegicus) Galur Wistar menggunakan ekstrak daun sirih (Piper betle Linn) dapat menurunkan jumlah makrofag pada fase proliferasi. b. Terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ekstrak daun Sirih Hijau (Piper bettle Linn) terhadap penurunan jumlah makrofag. c. Jumlah rata-rata makrofag dimulai dari yang terendah sampai tertinggi berturutturut yaitu ekstrak daun sirih konsentrasi 45% dengan jumlah 16,8; 15% dengan jumlah 18,1667; 30% dengan jumlah 20 dan kelompok kontrol normal saline 0,9% dengan jumlah 30,7667. d. Perawatan luka bakar derajat II A pada tikus putih (Rattus norvegicus) Galur Wistar menggunakan ekstrak daun sirih (Piper betle Linn) konsentrasi 15%, 30% dan 45% terbukti secara efektif mampu menurunkan jumlah makrofag pada fase proliferasi dibandingkan dengan perawatan luka dengan normal saline 0,9%. SARAN a. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai perbedaan jumlah makrofag jaringan normal dengan jaringan yang mengalami proses penyembuhan luka setelah dirawat menggunakan ekstrak daun sirih. b. Preparat histologi yang digunakan sebaiknya dipersiapkan dengan lebih baik, agar mendapatkan hasil scan yang maksimal untuk mempermudah identifikasi dan penghitungan. c. Penggantian balutan pada perawatan luka bakar derajat II A pada fase proliferasi dapat dilakukan 2-3 hari sekali untuk mengurangi luka mengalami infeksi dan

trauma ulang pada saat penggantian balutan. d. Aplikasi klinis dari penelitian ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dosis yang aman dan tepat untuk ekstrak daun Sirih Hijau (Piper betle Linn) agar dapat berfungsi untuk menurunkan jumlah makrofag pasca penyembuhan luka, sehingga dapat digunakan sebagai topical dressing alternatif untuk berbagai kalangan masyarakat di Indonesia. e. Penelitian lebih lanjut terkait dengan perawatan ekstrak daun Sirih Hijau (Piper betle Linn) sebagai pencuci luka perlu dilakukan pada jenis luka bakar derajat II A. DAFTAR PUSTAKA 1. Abdullah, Nur Farhana Binti Nik. 2010. Hubungan Pemberian Beras Angkak Merah (monascus purpureus) Terhadap Hitung Limfosit Pada Mencit Balb/C Model Sepsis. Tugas Akhir. Tidak diterbitkan, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta. 2. Behrman, Richaed E. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol. 1. Jakarta : EGC 3. Betz, Cecily Lynn. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri Ed. 5. Jakarta : EGC 4. Chakraborty, D. dan Shah, B. Antimicrobial, Anti-oxidative, and Antihemolytic Activity of Piper Betel Leaf Extracts. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutial Sciences, 2011; 3 (3). 5. Corwin, Elizabeth J. 2009. Patofisiologi : Buku Saku Ed. 3. Jakarta : EGC 6. Damhoeri, A., Eriani, K., dan Syarfati. The Potential Of Jarak Cina (Jatropha multifida L.) Secretion In Healing New- Wounded Mice. Jurnal Natural, 2011, Vol. 11, No. 1: 16-19 7. Efendi, Zukesti. 2003. Daya Fagositosis Makrofag Pada Jaringan Longgar Tubuh. USU digital library. 8. Eroschenko, Victor P. 2000. Atlas of Histology with Functional Correlations. 9th ed. Canada: Lippincott Williams & Wilkins 9. Fauzi, Arif. 2009. Aneka Tanaman Obat dan Khasiatnya. Yogyakarta: Media Pressindo 10. Fawcett, Don W. 2002. Buku Ajar Histologi. Ed. 12. Jakarta : EGC

11. Graber, Mark A. 2006. Buku Saku Dokter Keluarga. Ed. 3. Jakarta: EGC. 12. Grace, Pierce A., Borly, Neil R. 2006. At rd a Glance Ilmu Bedah 3 . Jakarta : Erlangga 13. Gruendemann, Barbara J. 2005. Buku Ajar Keperawatan Perioperatif, Vol. 1. Jakarta : EGC 14. Hidayaningtias, Prima. 2008. Perbandingan Efek Antibakteri Air Seduhan Daun Sirih (Piper bettle Linn) Terhadap Stretococcus mutans Pada Waktu Kontak Dan Konsentrasi Yang Berbeda. Tugas Akhir. Tidak diterbitkan, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang 15. Khan, Mohammed Safwan A., Jais, Abdul M. M., Zakaria, Zainul A., Mohtarruddin, N., Ranjbar, M., Khan, M., et al. Wound healing potential of Leathery Murdah, Terminalia coriacea (Roxb.) Wight & Arn. Phytopharmacology, 2012; 3(1) 158-168. 16. Kimura, Yoshiyuki.,et all. Effect of Ginseng Saponins Isolated From Red Ginseng Roots On Burn Wound Healing In Mice. British Journal of Pharmacology, 2006, 148: 860-870 17. Kozier, B. 2009. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Kozier & Erb. Jakarta: EGC 18. Kristianto, H. 2005. Perbedaan Efektivitas Perawatan Luka Bakar Derajat II dengan Lendir Lidah Buaya (Aloe vera) Dibandingkan dengan Cairan Fisiologis (Normal Saline 0,9%) dalam Mempercepat Proses Penyembuhan. Skripsi. Malang: Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya 19. Kusmardi., Kumala, Shirly., dan Wulandari, Dwitia. Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Daun Johar (Cassia siamea Lamk.) Terhadap Peningkatan Aktivitas Dan Kapasitas Fagositosis Sel Makrofag. Makara, Desember 2006, Vol. 10, No. 2: 89-93 20. Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan PraktikKeperawatan Profesional. Jakarta: EGC 21. Li, K., Diao, Y., Zhang, H., Wang, S., Zhang, Z., Yu, B., Huang, S., Yang, H. Tannin extract from immature fruits of Terminalia chebula Fructuz Retz. promote cutaneous wound healing in rats. BMC Complementary & Alternative Medicine, 2011, 11: 86.

22. Manjas, Menkher,. Hengky, Jefri,. Agus, Salmiah. Penggunaan Krim Amnion Pada Penyembuhan Luka Sayatan Tikus Wistar. Majalah Kedokteran Indonesia, Juni 2010, Vol: 60, No. 6: 268-272 23. Moeljanto, Rini Damayanti. 2005. Khasiat dan Manfaat Daun Sirih: Obat Mujarab Dari Masa Ke Masa. Jakarta: AgroMedia 24. Moenadjat, Yefta. 2003. Luka Bakar: Pengetahuan Klinik Praktis. Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FKUI 25. Muscari, Mary E. 2005. Panduan Belajar : Keperawatan Pediatrik, Ed. 3. Jakarta : EGC 26. Nurdiana dkk., 2008. Perbedaan Kecepatan Penyembuhan Luka Bakar Derajat II Antara Perawatan Luka Menggunakan Virgin Coconut Oil (Cocos nucifera) dan Normal Salin pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Strain Wistar. Malang: Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya 27. Patmawati. 2010. Pengaruh Ekstrak Daun dan Buah Piper bettle Linn. dalam Menghambat Pertumbuhan Candida albicans. Tugas Akhir. Tidak Diterbitkan. Manokwari: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Papua Manokwari 28. Poeloengan, Masniari dkk., 2005. Efektivitas Ekstrak Daun Sirih (Piper bettle Linn) terhadap Mastitis Subklinis. Bogor: Balai Penelitian Veteriner 29. Potter dan Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik. Vol 1. Jakarta: EGC 30. Prabakti, Yudhi. 2005. Perbedaan Jumlah Fibroblas Di Sekitar Luka Insisi Pada Tikus Yang Diberi Infiltrasi Penghilang Nyeri Levobupivakain dan Yang Tidak Diberi Levobupivakain. Tesis. Tidak diterbitkan, Magister Ilmu Biomedik dan PPDS I Anastesiologi Universitas Diponegoro, Semarang. 31. Prasetyo, Bayu Febram. 2008. Aktivitas Dan Uji Stabilitas Sediaan Gel Ekstrak Batang Pisang Ambon (Musa paradisiaca var sapientum) Dalam Proses Persembuhan Luka Pada Mencit (Mus musculus albinus). Tesis. Tidak diterbitkan, Magister Sains Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Bogor. 32. Pratiwi, Lidya. 2010. Perbandingan Uji Aktivitas dan Mekanisme Penghambatan

Antara Minyak Atsiri Daun Sirih (Piper

betle Linn) dengan Ekstrak Etanol Daun Sirih terhadap Beberapa Bakteri Gram Positif. Skripsi. Tidak diterbitkan, Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. 33. Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Ed. 6. Jakarta: EGC 34. Priosoeryanto, Bambang Pontjo., Wientarsih, Ietje., Prasetyo, Bayu Febram. Aktivitas Sediaan Gel Ekstrak Batang Pohon Pisang Ambon Dalam Proses Penyembuhan Luka Pada Mencit. Jurnal Veteriner, Juni 2010, Vol. 11 No. 2: 70-73. 35. Putra, Kuswatoro R. 2010. Wound Burn Care. Presentasi dilakukan dalam perkuliahan jurusan Ilmu Keperawatan Universitas Brawijaya, Malang, 22 Juni 36. Santoso, Singgih. 2006. Menguasai Statistik di Era Informasi dengan SPSS 14. Jakarta: Elex Media Komputindo. 37. Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta : EGC 38. Smeltzer, CS & Bare Brenda. 2003. Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical Surgical Nursing. 10th Edition. Philadelphia: Lippincolt 39. Suriadi. 2004. Perawatan Luka. Jakarta : Sagung Seto 40. Suryana, Ido., dan Achmad. Pengujian Aktivitas Ekstrak Daun Sirih (Piper bettle Linn.) Terhadap Rhizoctonia sp. Secara In Vitro. Buletin Littro, 2009, Vol. 20 No. 1 : 92-98 41. Suwiti, Ni Ketut. 2010. Deteksi Histologik Kesembuhan Luka pada Kulit Pasca Pemberian Daun Mengkudu (Morinda citrofilia linn). Buletin Veteriner Udayana, Pebruari, Vol. 2 No. 1 : 1-9 42. Triyono, Bambang. 2005. Perbedaan Tampilan Kolagen Di Sekitar Luka Insisi Pada Tikus Wistar Yang Diberi Infiltrasi Penghilang Nyeri Levobupivakain Dan Yang Tidak Diberi Levobupivakain. Tesis. Tidak diterbitkan, Program Magister Biomedik Dan PPDS I Universitas Diponegoro, Semarang. 43. Wahyuningsih, Sri Puji Astuti. Pemanfaatan Ekstrak Jamur Coriolus versicolor Untuk Meningkatkan Jumlah Total Leukosit Dan Makrofag Pada Tikus Wistar Setelah Pemaparan 2Methoxyethanol. Berk Penel Hayati,

2008, 13 : 173-177

44. Williams, Linda S., and Hopper, Paula D. 2007. Understanding Medicalrd Surgical Nursing, 3 Edition. Philadelphia : F. A. Davis Company 45. Williams, Lippincott., and Wilkins. 2010. Lippincott Manual of Nursing th Practice, 9 Edition. Wolters Kluwer Health 46. Winarto, Dedi. 2009. Pengaruh Pemberian Ketamin Dosis Induksi Dan Analgesi Terhadap Kapasitas Fagositosis Makrofag Intra Peritoneal Mencit Balb/C Yang Terpapar Lipopolisakarida. Tugas Akhir. Tidak diterbitkan, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang. 47. Wong, Donna L. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Ed. 6. Jakarta : EGC.

Telah disetujui oleh, Pembimbing I

dr. Sudiarto, MS NIK. 13809096

View more...

Comments

Copyright ©2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF