Laporan Resmi Spektrofotometri Organik

November 21, 2017 | Author: Listy Ciki Caka | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

Download Laporan Resmi Spektrofotometri Organik...

Description

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA 1

Materi SPEKTROFOTOMETRI ORGANIK

Oleh : Kelompok

: VII/ Senin Siang

Listy Aziza Kurnianingrum

NIM 21030113120064

Roby Abdurrahman

NIM 21030113120034

Ruth Febrina Sondang Aritonang

NIM

21030113120009

Laboratarium Dasar Teknik Kimia 1 Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2013

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA 1

Materi SPEKTROFOTOMETRI ORGANIK

Oleh : Kelompok

: VII/ Senin Siang

Listy Aziza Kurnianingrum

NIM 21030113120064

Roby Abdurrahman

NIM 21030113120034

Ruth Febrina Sondang Aritonang

NIM 21030113120009

Laboratarium Dasar Teknik Kimia 1 Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2013

HALAMAN PENGESAHAN

1. Materi Praktikum

: Spektrofotometri Organik

1. Kelompok Nama Lengkap

: Listy Aziza Kurnianingrum

NIM

: 21030113120064

Jurusan

: Teknik Kimia

Universitas / Institut / Politeknik : Universitas Diponegoro 2. Nama Lengkap

: Roby Abdurrahman

NIM

: 21030113120034

Jurusan

: Teknik Kimia

Universitas / Institut / Politeknik : Universitas Diponegoro 3. Nama Lengkap

: Ruth Febrina Sondang Aritonang

NIM

: 21030113120009

Jurusan

: Teknik Kimia

Universitas / Institut / Politeknik : Universitas Diponegoro

Telah disahkan pada Hari

:

Tanggal Semarang, 9 Desember 2013 Asisten Laboratarium PDTK 1

Bagus Mulia Luthfi

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik, dan Hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan laporan resmi Praktikum Dasar Teknik Kimia 1 ini dengan lancar dan sesuai dengan harapan. Penyusunan Laporan Resmi Praktikum Dasar Teknik Kimia 1 ditujukan sebagai syarat untuk menyelesaiakan tugas Praktikum Dasar Teknik Kimia 1 di semester 1. Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada 1. Bapak Widayat selalu penanggung jawab Laboratarium Dasar Teknik kimia. 2. Segenap asisten Laboratarium Dasar Teknik Kimia yang telah membantu dan membimbing saya dalam setiap praktikum 3. Laboran, serta 4. Teman-temandan rekan kerja

yang telah membantu, baik dalam segi waktu

maupun motivasi. Tak ada gading yang tak retak, untuk itu apabila ada kesalahan dalam laporan resmi Praktikum Dasar Teknik Kimia 1 ini, saya minta maaf dan mengharapkan saran dan kritiknya yang bersifat membangun untuk kesempurnaan laporan resmi ini.

Semarang, 9 Desember 2013

Penyusun

INTISARI Spektrofotometri adalah metode analisa untuk menentukan identitas suatu komponen atau konsentrasi di dalam larutan yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis larutan berwarna. Metode spektrofotometri membutuhkan larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya. Keuntungan metode ini adalah metode yang sangat sedehana utnuk menetapkan kuantitas yang sangat kecil. Spektrofotometri diaplikasikan untuk mengetahui biomassa plankton laut dengan menentukan kadar klorofil fitoplankton. Persen transmitansi adalah pembanding antara intensitas cahaya keluar dari sampel terhadap intensitas yang masuk. Banyaknya cahaya yang diadsorbsi tergantung opada jenis larutan, panjang cuvet, dan konsentrasi Larutan yang dijelaskan dalam Hukum Beer. Bahan yang dibutuhkan dalam praktikum ini yaitu air demin, KCl 20 ml, NaC 20 ml, dan ekstrak semangka 100 ml. Alat yang digunakan adalah spektrofotometer OPTIMA SP-300, 4 buah beaker glass 250 ml, 6 tabung reaksi, 1 buah pipet ukur10 cc, pH indikator, dan 4 buah beaker glass 50 cc. Cara kerjanya diawali dengan menentukan panjang gelombang optimum, mengalibrasi spektrofotometer, membuat kurva absorbansi vs konsentrasi dan menentukan kadar antosianin dalam larutan. Dari percobaan ini kami mendapatkan panjang gelombang optimum untuk antosianin adalah 520 nm. Semakin tinggi pH larutan maka terjadi degradasi warna dalam larutan sehingga menjadi tidak pekat warnanya. Didapatkan juga ketidaksesuain hukum Lambert Beer yang menyatakn bahwa semakin besar konsentrasi semakin besar pula nilai absorbansinya. Antosianin juga diketahui cara ekstraksinya dan aplikasi produk pada barang industri. Dari data yang diperoleh, didapatlah kesimpulan bahwa semangka mengandung antosianin dengan konsentrasinya sebesar 2,167 mg/L .Sebagai saran, pengukuran pH terhadap sampel harus dilakukan lebih teliti dan harus lebih cermat membaca transmitan pada spektrofotometer.

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Spektrofotometri dapat digunakn untuk menganalisa konsentrasi suatu zat di dalam larutan berdasarkan absorbansi terhadap warna larutan pada panjang gelombang tertentu. Metode spektrofotometri memerlukan larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya. Larutan standar terdiri dari beberapa tingkat rendah sampai konsentrasi tinggi. Keuntungan utama dalam pemilihan metode ini adalah metode ini merupakan metode yang sangat sedehana utnuk menetapkan kuantitas yang sangat kecil. Spektrofotometri diaplikasikan dalam menentukan beberapa parameter ekologi laut. Tingkat kesuburan suatu perairan ditunjukan oleh besarnya produksi zat organik yang dihasilkan atau juga disebut produktivitas primer.salah satu cara yang sudah umum dan luas dipakai adalah mengetahui banyaknya biomassa plankton di laut dengan menentukan kadar klorofil fitoplankton dengan metode spektrofotometri.

1.2.

Tujuan Percobaan

a. Menentukan konsentrasi antosianin pada sampel dengan spektrofotometer metode spektrofotometri b. Menentukan kurva hubungan konsentrasi antosianin vs absorbansi pada panjang gelombang optimumnya dengan spektrofotometer metode spektrofotometri.

1.3.

Manfaat Percobaan

a. Mampu menentukan konsentrasi antosianin pada sampel dengan spektrofotometer metode spektrofotometri b. Mampu menentukan kurva hubungan konsentrasi antosianin vs absorbansi pada panjang gelombang optimumnya dengan spektrofotometer metode spektrofotometri.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1.

Pengertian Spektrofotometri adalah kata yang digunakan untuk ilmu yang mengacu pada absorbsi, emisi, scatering, dan cahaya, dari molekul, ion, dan atom. Spektofotometri ( teknik spektroscopy ) merupakan metode analisa untuk menentukan identitas suatu komponen atau konsentrasi di dalam larutan yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis larutan berwarna.

Gerakan Molekul

Cahaya yang diabsorbsi

Energi

Rotasi

Microwave, infrared

Rendah

Vibrasi

Infrared

Sedang

Transit Elektron

Tampak, Ultraviolet

Tinggi

Tabel 2.1.1. Hubungan antara energi teradsobsi dengan gerakan molekul Persen transmitansi adalah pembanding antara intensitas cahaya keluar dari sampel terhadap intensitas yang masuk : %T = I / x 100% sedang absorbansi dinyatakan sebagai : A = log 1/T = - log ( I / = 2 – log ( %T ). Panjang Gelombang (nm)

Warna ( terabsorbsi )

Warna Komplementer ( terlihat )

400 – 435

Violet

Kuning - Hijau

435 – 480

Biru

Kuning

480 – 490

Hijau – Biru

Orange

490 – 500

Biru – Hijau

Merah

500 – 560

Hijau

Ungu

560 – 580

Kuning Hijau

Violet

580 – 595

Kuning

Biru

595 – 610

Orange

Hijau - Biru

610 - 750

Merah

Biru - Hijau

Tabel 2.2.2 Spektrum sinar tampak dan warna komplementer ( Vogel 1989 )

Banyaknya cahaya / sinar yang diadsorbsi tergantung pada jenis larutannya, panjang sel / kuvet, konsentrasi larutan. Parameter 2 tersebut dinyatakan secara matematis, Hukum Beer ; A = log ( I /

= abc. Dimana :

= Intensitas Sinar Datang = Intensitas Sinar yang diteruskan A

= Absorbansi

a

= Absortivitas

b

= Panjang Cuvet

c

= Konsentrasi ( mg/L )

Pada praktikum ini, nilai a dan b tidak berubah, sehingga ab dianggap sebagai konstan baru ( k ), sehingga persamaan = A = kc atau bisa dinyatakan dengan persamaan garis lurus. Dari Hukum Beer dapat dinyatakn bahwa hubungan antara absorbansi vs konsentrasi akan memberikan garis lurus.

BAB III METODE PERCOBAAN

III. 1.

Bahan dan Alat yang Digunakan

III. 1. 1.

Bahan

1. Air demin secukupnya 2. KCl 20 ml 3. Natrium Asetat 20 ml 4. Ekstrak semangka 100 ml

III. 1. 2.

Alat

1. Spektrofotometri Optima SP-300 2. 1 buah Beaker glass 250 ml 3. 6 tabung reaksi beserta 1 rak tabung reaksi 4. 1 pipet ukur 10 cc 5. pH meter 6. 4 buah beaker glass 50 cc

III. 2.

Gambar Alat

a)

b) 1

9

2

8 4 3

5 6 7

(c)

(d)

(e)

(f)

III. 3.

(g)

III. 3.

Keterangan Alat

III. 2. a. Spektrofotometri Optima SP-300 1. Tempat sampel 2. Pengontrol panjang gelombang 3. Indikator power ON/OFF 4. Pembacaan LCD Digital 5. Tombol Pengganti MODE 6. Tombol kontrol 100% T 7. Tombol kontrol 0% T 8. Tombol print 9. Jendela pembacaan panjang gelombang III. 2. b. Beaker glass 250 ml III. 2. c. Tabung reaksi dan raknya III. 2. d. Pipet ukur III. 2. e. pH meter III. 2. f. Beaker glass 50 cc III. 2. g. Cuvet

III. 4.

Cara Kerja 1. 3. 1.

Menentukan Panjang Gelombang Optimum untuk antosianin

1. Menghidupkan Spektrofotometer Optima SP-300 dengan memutar tombol power ( 3 ) sampai bunyi klik, dan indikator lampu menyala. Dibiarkan dalam kondisi ini selama 20 menit untuk pemanasan sebelum, digunakan. 2. Mengatur panjang gelombang yang diinginkan dengan menggunakan tombol ( 2 ) ( dalam hal ini 490 nm ) III. 4. 2.

Cara kalibrasi alat Spektrofotometri

1. Mengosongkan tempat sampel (1) pada spektrofotometer, kemudian tutup. Skala pembacaan transmitan diatur 0% menggunakan tombol (7). 2. Mengambil cuvet ( seperti barang yang sederhana tetapi dari bahan gelas dengan super kualitas, berharga 3 juta ) dan membersihkan kemudian

mengisi cuvet dengan air demin sampai

nya ( disebut dengan blangko ).

Bagian luar cuvet dibersihkan dengan hati-hati. 3. Membuka tutup sampel pada spektrofotometer (1), masukan cuvet dan tuup kembali ( tinggi larutan disesuaikan dengan tanda yang ada ). 4. Mengatur pembacaan transmitan 100% (A = 0) untuk larutan blangko menggunakan tombol (6). 5. Mengambil cuvet dari tempat sampel kemudian ditutup. Pembacaan skala transmitan dapat dilihat pada layar (4). Dalam tahap ini pembacaan transmitan harus 0 %. Jika tidak, ulangi langkah (3) hingga pembacaan diperoleh pembacaan transmitan yang konsisten. 6. Jika sudah diperoleh pembacaan untuk 0 dan 100 % konsisten, simpan cuvet dengan larutan blangko tersebut sampai praktikum selesai. 7. Mengisi cuvet lainnya dengan larutan sampel, bersihkan bagian luar cuvet, masukan ke dalam tempat sampel, dan tutup kembali, baca skala transmitan dan hitung absorbansinya. ( A = 2 – log % T ). 8. Menaikan panjang gelombang 10 nm dengan menggunakan tombol (2). Ulangi langkah 1-7. 9. Membuat kurva hubungan antara absorbansi vs panjang gelombang, kemudian tentukan nilai panjang gelombang optimum untuk jenis larutan target.

III. 4. 3.

Membuat Kurva kalibrasi antara absorbansi vs konsentrasi

antosianin

1. Membuat larutan warna pada berbagai variasi sampel. 2. Mengatur panjang gelombang sesuai dengan hasil yang diperoleh pada tujuan (a) menggunakan tombol (2). 3. Melakukan kalibrasi alat spektrofotometri ( langkah 1-6 ). 4. Mengisi cuvet lainnya dengan larutan sampel no.2,dibersihkan luar cuvet, masukan ke dalam tempat sampel, tutup kembali, baca skala transmitan dan hitung absorbansinya. ( A = 2 – log %T ). Ulangi untuk sampel no 3 , 4, 5, dan 6 .

III. 4. 4. Menentukan kadar antosianin total dalam larutan

1.

Membuat larutan KCl 0,025 M sebagai larutan buffer pH 1 . Kemudian diukur pHnya dan diatur pH supaya sama dengan 1 dengan larutan HCl.

2.

Membuat larutan Natrium Asetat ( C

C

Na . 3

O ) 0,4 M.

Kemudian diukur pH nya dan diatur pH nya supaya larutan mempunyai pH 4,5 dengan menggunakan larutan HCl. 3.

Mengambil 1 buah beaker glass 50 cc dan mengisi dengan larutan no.2 sebangyak 5 ml dengan pipet ukur. pH larutan dibuat sama dengan 1 dengan menambahkan larutan buffer KCl dengan pipet ukur, hitung berapa jumlah volume yang telah ditambahkan dengan pH = 1. Hal serupa dilakukan untuk sampel no 3, 4, 5, dan 6.

4.

Mengatur panjang gelombang pada 520 nm, kemudian dilakukan kalibrasi alat langkah 1-6 ( dilakukan untuk setiap pergantian panjang gelombang ) . Setelah itu masukan larutan no.2 dengan pH = 1 ke dalam cuvet hingga

bagian. Catat % transmitan dan hitung

absorbansinya, begitu juga untuk sampel no 3, 4, 5, dan 6. 5.

Mengatur panjang gelombang pada 700 nm. Kemudian dilakukan kalibrasi alat langkah 1-6 (dilakukan untuk setiap pergantian panjang gelombang ). Setelah itu masukan larutan no.2 dengan pH = 1 ke dalam cuvet hingga

bagian. Catat % transmitan dan hitung absorbansinya,

begitu juga untuk sampel no 3, 4, 5, dan 6. 6.

Ulangi langkah 1-5 dengan membuat pH larutan sama dengan 4,5 dengan menambah larutan buffer Natrium Asetat.

7.

Menghitung konsentrasi antosianin totalsesuai dengan rumus pigmen antosianin ( Ekivalen dengan cyanidin-3-gluciside,mg/L) 𝐶=

A x MW x DF x 1000 𝐸𝑥𝑏

Dengan : C

= Konsentrasi antosianin ( mg/L )

A

= (A520 – A700) pH 1 – (A520 – A700) pH 4,5

MW

= Bobot Molekul ( 449,2 gram/mol )

8.

DF

= Faktor Pengenceran

E

= 26.900 L/mol cm

1000

= Konversi dari gram ke mgr

B

= Panjang sel atau cuvet ( cm )

Buatlah persamaan Beer untuk konsentrasi antosianin, dengan persamaan A = kc.

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN IV. 1.

Hasil Percobaan

No

λ (nm)

%T

λ

A

Optimum

berada

pada

Absorbansi terbesar yaitu pada

1 490 3,6 0,443 2 500 3,5 0,445 3 510 3,2 0,494 4 520 3 0,522 5 530 3,1 0,508 6 540 3,3 0,481 7 550 3,2 0,497 8 560 4,7 0,327 Tabel IV. 1. Panjang Gelombang vs Absorbansi

panjang

gelombang

No

Semangka (ml)

Air Demin (ml)

%T

A

1

1,5

8,5

54,1

0,266

2

3

7

20,6

0,665

3

4,5

5,5

12,7

0,896

4

6

4

7,1

1,148

5

7,5

2,5

4,9

1,309

520

nm

6 9 1 3,6 1,408 Tabel IV. 2. Panjang Gelombang vs Absorbansi pada larutan semangka

No

Volume (ml)

Δ V pH 1 (ml)

Δ V pH 4,5 (ml)

df pH 1

df pH 4,5

df ratarata

1

5

7

8,1

1,4

1,62

1,51

2

5

6,9

7,7

1,38

1,54

1,46

3

5

6,9

7,5

1,38

1,5

1,44

4

5

7,3

7,6

1,46

1,52

1,49

5

5

7,1

8,2

1,42

1,64

1,53

6

5

6,7 7,9 1,34 Tabel IV. 3. Faktor Pengenceran ( df )

1,58

1,46

%T ( λ 520 nm )

A ( λ 520 nm )

% T ( λ 700 nm )

A ( λ 700 nm )

pH 1

pH 4,5

pH 1

pH 4,5

pH 1

pH 4,5

pH 1

pH 4,5

Konsentrasi (mg/L)

1

51,2

67,3

0,291

0,171

68,2

69,2

0,166

0,159

1,425

2

28,7

38,9

0,542

0,41

1,54

40,2

0,409

0,396

1,451

3

18,4

21,8

0,735

0,661

1,5

36,3

0,439

0,44

0,902

4

8,1

18,6

1,0915

0,73

1,52

23,2

0,657

0,634

4,211

5

7,1

11,6

1,149

0,958

1,64

18,3

0,806

0,738

1,571

6

5,6 8,2 1,252 0,086 1,58 12,3 0,91 0,903 Tabel IV. 4. Konsentrasi Antosianin ( mg/L ) pada larutan semangka

1,938

No

IV. 2.

Pembahasan

IV. 2. 1. Fenomena Antosianin pada pH 1 dan pH 4,5 Penetapan antosianin dilakukan dengan metode perbedaan pH yaitu pH 1 dan pH 4,5. Pada pH 1, antosianin berbentuk senyawa oxonium. Keadaan yang semakin asam apalagi mendekati pH 1 akan menyebabkan banyaknya pigmen antosianin berada dalam bentuk kation flavilium atau oxinium yang berwarna dan pengukuran absorbansi akan menunjukan jumlah antosianin yang lebih besar. Pada pH 4,5 yakni pada asam lemah, kation flavilium berubah ke bentuk yang lebih stabil hemiketal yang tak berwarna dan berbentuk kalkon. Pada percobaan, pH 4,5 membuat larutan berwarna tidak sepekat pH 1 karena telah terjadi degradasi warna, sebab antosianin lebih stabil dalam asam daripada alkali atau netral. (ejournal.undip.ac.id/index.php/sm/article/download/3116/27967)

IV. 2. 2. Cara Ekstraksi Antosianin Salah satu sumber antosianin adalah bunga rosela. Isolasi pigmen antosianin dari bunga rosela dilakukan dengan tiga (3) metode antara lain : 1. Maserasi Maserasi dilakukan dengan cara merendam 100 gram serbuk kelopak bunga rosela dengan 300 ml pelarut etanol pada suhu 5 C selama 24 jam. Lalu disaring dan diambil filtratnya.

2. Maserasi 25 C Dilakukan dengan merendam 100 gram serbuk kelopak bunga rosela dengan 300 ml etanol pada suhu kamar 25 C selama 24 jam. Lalu disaring dan diambil filtratnya.

3. Sokshietasi 100 gram serbuk kelopak bunga rosela diekstrasi dengan shoket dalam pelarut etanol C selama 8 jam, kemudian diambil filtratnya.

(ejournal.undip.ac.id/index.php/sm/article/download/3116/27967)

IV. 2. 3. Kesesuaian Hukum Lamber Beer dengan Persamaan Absorbansi dan Konsentrasi Hukum Lamber Beer menyatakan bahwa semakin besar konsentrasi suatu larutan, maka nilai absorbansinya semakin besar. Namun hal ini tidak sesuai dengan hasil percobaan yang didapatkan. Ini disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya akibat campuran yang tidak homogen. Larutan homogen adalah larutan yang tiap bagiannya tersebar merata, komponennya sama dan tidak ada batas antar komponen yang lainnya. Salah satu sebabnya yaitu setiap sampel terjadi akibat pengenceran yang beragam, dan di dalam sampel semangka ada zat-zat lain yang mengumpul membentuk padatan, sehingga antosianin tidak tersebar merata dalam sampel. Hal ini menyebabkan pada saat pengukuran konsentrasi antosianin yang tidak maximum, sehingga pada percobaan tidak sesuai dengan hukum Lamber Beer. Begitu juga pada pembuatan sampel di berbagai kondisi, didapatkan sampel yang mol masing-masingnya berbeda karena konsentrasi nya berbeda pula. ( kimia.upi.edu/kimia.old/mumun_kumpulan_homogen )

IV. 2. 4. Hubungan Absorbansi dan Panjang Gelombang Optimum Dari tabel hasil percobaan ( tabel IV. 1 ), jika digambarkan dengan grafik hubungan panjang gelombang pada sumbu x dan absorbansinya pada sumbu y, maka diperoleh kurva sebagai berikut :

PANJANG GELOMBANG vs ABSORBANSI 0.6 Absorbansi

0.5 0.4 0.3 0.2

Data Hasil Percobaan

0.1 0 480

500

520

540

560

580

Panjang Gelombang

Dari kurva diatas, dapat dilihat

absorbansinya tergantung pada panjang

gelombangnya. Pada tabel sebelumnya terlihat bahwa hubungan absorbansi (A) dengan % transmitannya yaitu : A = 2 – log ( % T )

Panjang gelombang optimum adalah panjang gelombang yang menghasilkan nilai absorbansi terbesar. Dari percobaan didapat panjang gelombang optimum sebesar 520 nm. Panjang gelombang ini sesuai dengan referensi yang menyatakan bahwa panjang gelombang maximum untuk antosianin adalah 520 nm. (cellbiologyim.selevegarlik.org/antocyanin/page17)

IV. 2. 5. Aplikasi Antosianin pada produk industri Pigmen antosianin pada kubis merah biasa digunakan sebagai pewarna dalam minuman ringan karena stabil terhadap panas dan cahaya. Proses pembuatannya sebagai berikut : 1. Ekstraksi Antosianin kubis merah Kubis merah ditambahkan dengan asam tartarat dengan perbandingan (1:6), lalu dihancurkan dengan blender selama 5 menit. Lalu ditambahkan lagi 300 ml asama tartarat dan dilakukan ekstraksi secara maserasi, pada suhu kamar selama 24 jam. Larutan disaring sehingga diperoleh supernatan yang disentrifugasi 10.000 rpm

selama 5 menit dan diperoleh filtratnya. Filtrat itu lalu dipisahkan dengan pelarutnya dengan rotavaper sehin dan diperoleh ekstrak kubis merah. 2. Pembuatan bubuk pigmen antosianin kubis merah Ekstrak kubis merah tadi dicampur dengan dekstrin 50%. Lalu dicampur aquadest dengan perbandingan ( 1:7,5 ). Campuran itu lalu dikeringkan dengan spray dryer di suhu 1100 C hingga didapat bubuk pigmen antosianin. 3. Pembuatan Minuman Ringan dengan penambahan Bubuk Pigmen Antosianin Mula-mula timbang bahan baku, yaitu aquadest 100 ml, asam sitrat 0,3 %,sukrosa 24 % dan natrium benzoat 0,1 % dari berat bahan. Lalu ditambahkan 0,5 gram bubuk pigmen antosian kubis merah sampai merata. Campuran ini dimasukan ke botol yang telah disterilisasi lalu di pasteurisasi pada suhu 4 C selama 17 menit. Penyimpanan minuman ringan yang telah di pasteurisasi dilakukan pada suhu ruang 25 C ± 30

) dan suhu refrigerasi 50 C. (pustaka.unpad.ac.id/archives/77337)

IV. 2. 6. Perbandingan Kadar antosianin pada percobaan dan referensi Penetapan kadar dilakukan dengan metode spektrofotometri cahaya tampak pada panjang gelombang 502,5 nm. Hasil penelitian menunjukan kadar rata-rata likopen terhadap bobot basah semangka lokal dan hibrida yaitu 79,1 mg/kg. 79,1 mg/kg

= 79,1 x 10

%M

= 79,1 x 10 = 7,91 x 10

x 100% %

(scribd.com/doc/712060880/abstraksi_skripsi_likopen_dalam_semangka) Dalam percobaan, didapatkadar antosianin rata-rata adalah 2,167 mg/L untuk tebal cuvet 2 cm. Artinya, untuk tebal cuvet 1 cm adalah 2 x 2,167 mg/L = 4,534 mg/L. Hal ini didapat pada panjang gelombang 520 nm. 4,534 mg/L

= 4,534 ppm = 4,534 x 10

%M

= 4,534 x 10

x 100%

= 4,534 x 10

%

Dari perbandingan tersebut didapat kadar yang ditemukan lebih kecil, hal ini disebabkan karena : 1. ... 2. Larutan yang tidak homogen, mengakibatkan absorbansi cahay tidak tersebar merata dan berubahnya nilai konsentrasi 3. Larutan sampel terlalu sedikit sehingga pada saat pengaturan pH mengakibatkan kadar pengenceran yang berbeda untuk masing-masing sampel, sehingga larutan memiliki konsentrasi yang berbeda-beda.

BAB V PENUTUP

V. 1. KESIMPULAN 

Panjang gelombang optimum yang ditemukan sebesar 520 nm



Konsentrasi pada semangka yang ditemukan lebih kecil dibandingkan dengan journal



Hubungan absorbansi vs konsentrasi antosianin pada panjang gelombang maksimum, semakin tinggi konsentrasi maka semakin tinggi absorbansi suatu zat.  Pada sampel 1 dengan A = 0,266 , C = 1,425 mg/L  Pada sampel 2 dengan A = 0,665 , C = 1,451 mg/L  Pada sampel 3 dengan A = 0,896 , C = 0,902 mg/L  Pada sampel 4 dengan A = 1,148 , C = 4,211 mg/L  Pada sampel 5 dengan A = 1,309 , C = 1,571 mg/L  Pada sampel 6 dengan A = 1,408 , C = 1,938 mg/L



Salah satu aplikasi antosianin dibidang industri adalah sebagai pewarna dalam minuman.



Untuk mengekstraksi antosianin digunakan metode yang berbeda-beda. Contohnya adalah maserasi dan sokhetasi.

V. 2. SARAN 

Sampel yang digunakan jangan terlalu kental, jika terlalu kental maka lakukan pengenceran.



Pengaturan pH pada sampel harus teliti.



Harus cermat dalam pembacaan transmitan.



Larutan blangkodiambil dari sumber yang sama.

DAFTAR PUSTAKA Barners, kw, dkk, 2005. Determination of otal morometric antosianin pigmen content of fruit juice, beverage, natural colorants, and louise by the ph differential Groggins, pH. 1950. “unit proses in organik syntesis”. 5 ed.PP.700-783 Mc.Graw Hill Book Company . Inc, New York. J.Pharm.2006. solubilization and quantification of lycopene in aqueous media in the form of cyclodextrin Binari System. Diakses tanggal 4 Mei 2013. Keer,R.W.1950. Chemistry and industri of starch”,2 & d, PP375-403. Academic press, Inc, New York. Method Collaboration study, Journal of AOAC international, Vol 85,rb.5.PP 12691278. Munkramin.baso.2012.Spektrofotometri Absorbansi dan konsentrasi ( hukum Lamber Beer ) diakses tanggal 27 April 2013. Penelope, Perkins Veanic.2002. Composition of orange, yellow, and Red fleshes watermelon. Vogel, 1989. Textbooks quantitatif Chemical analysis. Longman scientific and technical.PP 645-676 great britain. Woodman, A.1941. “Food analysis”.4 ed.PP 264-261, Mc Graw Hill Book Company Inc. New York.

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA 1

Materi SPEKTROFOTOMETRI ORGANIK

NAMA

:

Listy A. Kurnianingrum NIM : 21030113120064

GROUP

:

VII/ Senin Siang

REKAN KERJA :

Roby Abdurrahman Ruth F. Sondang Aritonang

Laboratarium Dasar Teknik Kimia Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2013

1. TUJUAN PERCOBAAN a. Menentukan konsentrasi antosianin pada sampel dengan spektrofotometer metode spektrofotometri. b. Menentukan kurva hubungan konsentrasi antosianin vs absorbansi pada panjang

gelombang

optimumnya

dengan

spektrofotometer

metode

spektrofotometri. 2. PERCOBAAN 2. 1.

Bahan Yang Digunakan 1. Air demin secukupnya 2. KCl 20 ml 3. Natrium Asetat 20 ml 4. Ekstrak semangka 100 ml

2. 2.

Alat Yang Dipakai 1.

Spektrofotometri Optima SP-300

2.

1 buah Beaker glass 250 ml

3.

6 tabung reaksi beserta 1 rak tabung reaksi

4.

1 pipet ukur 10 cc

5.

pH meter

6.

4 buah beaker glass 50 cc

2. 3.

Cara Kerja 2. 3. 1. Menentukan Panjang Gelombang Optimum untuk antosianin 1.

Menghidupkan Spektrofotometer Optima SP-300 dengan memutar tombol power ( 3 ) sampai bunyi klik, dan indikator lampu menyala. Dibiarkan dalam kondisi ini selama 20 menit untuk pemanasan sebelum, digunakan.

2.

Mengatur

panjang

gelombang

yang

diinginkan

menggunakan tombol ( 2 ) ( dalam hal ini 490 nm )

dengan

2. 3. 2. Cara kalibrasi alat Spektrofotometri 1.

Mengosongkan kemudian

tempat

tutup.

Skala

sampel

(1)

pembacaan

pada

spektrofotometer,

transmitan

diatur

0%

menggunakan tombol (7). 2.

Mengambil cuvet ( seperti barang yang sederhana tetapi dari bahan gelas dengan super kualitas, berharga 3 juta ) dan membersihkan kemudian mengisi cuvet dengan air demin sampai

nya ( disebut

dengan blangko ). Bagian luar cuvet dibersihkan dengan hati-hati. 3.

Membuka tutup sampel pada spektrofotometer (1), masukan cuvet dan tuup kembali ( tinggi larutan disesuaikan dengan tanda yang ada ).

4.

Mengatur pembacaan transmitan 100% (A = 0) untuk larutan blangko menggunakan tombol (6).

5.

Mengambil

cuvet

dari

tempat

sampel

kemudian

ditutup.

Pembacaan skala transmitan dapat dilihat pada layar (4). Dalam tahap ini pembacaan transmitan harus 0 %. Jika tidak, ulangi langkah (3) hingga pembacaan diperoleh pembacaan transmitan yang konsisten. 6.

Jika sudah diperoleh pembacaan untuk 0 dan 100 % konsisten, simpan cuvet dengan larutan blangko tersebut sampai praktikum selesai.

7.

Mengisi cuvet lainnya dengan larutan sampel, bersihkan bagian luar cuvet, masukan ke dalam tempat sampel, dan tutup kembali, baca skala transmitan dan hitung absorbansinya. (A = 2 – log % T).

8.

Menaikan panjang gelombang 10 nm dengan menggunakan tombol (2). Ulangi langkah 1-7.

9.

Membuat

kurva

hubungan

antara

absorbansi

vs

panjang

gelombang, kemudian tentukan nilai panjang gelombang optimum untuk jenis larutan target.

2.3. 3.Membuat Kurva kalibrasi antara absorbansi vs konsentrasi antosianin 1. Membuat larutan warna pada berbagai variasi sampel. 2. Mengatur panjang gelombang sesuai dengan hasil yang diperoleh pada tujuan (a) menggunakan tombol (2). 3. Melakukan kalibrasi alat spektrofotometri ( langkah 1-6 ). 4. Mengisi cuvet lainnya dengan larutan sampel no.2,dibersihkan luar cuvet, masukan ke dalam tempat sampel, tutup kembali, baca skala transmitan dan hitung absorbansinya. ( A = 2 – log %T ). Ulangi untuk sampel no 3 , 4, 5, dan 6 .

2.3. 4. Menentukan kadar antosianin total dalam larutan 1. Membuat larutan KCl 0,025 M sebagai larutan buffer pH 1 . 2. Kemudian diukur pHnya dan diatur pH supaya sama dengan 1 dengan larutan HCl. 3. Membuat larutan Natrium Asetat ( C

C

Na . 3

O ) 0,4 M.

Kemudian diukur pH nya dan diatur pH nya supaya larutan mempunyai pH 4,5 dengan menggunakan larutan HCl. 4. Mengambil 1 buah beaker glass 50 cc dan mengisi dengan larutan no.2 sebangyak 5 ml dengan pipet ukur. pH larutan dibuat sama dengan 1 dengan menambahkan larutan buffer KCl dengan pipet ukur, hitung berapa jumlah volume yang telah ditambahkan dengan pH = 1. Hal serupa dilakukan untuk sampel no 3, 4, 5, dan 6. 5. Mengatur panjang gelombang pada 520 nm, kemudian dilakukan kalibrasi alat langkah 1-6 ( dilakukan untuk setiap pergantian panjang gelombang ) . Setelah itu masukan larutan no.2 dengan pH = 1 ke dalam cuvet hingga bagian. Catat % transmitan dan hitung absorbansinya, begitu juga untuk sampel no 3, 4, 5, dan 6. 6. Mengatur panjang gelombang pada 700 nm. Kemudian dilakukan kalibrasi alat langkah 1-6 (dilakukan untuk setiap pergantian panjang gelombang ). Setelah itu masukan larutan no.2 dengan pH

= 1 ke dalam cuvet hingga bagian. Catat % transmitan dan hitung absorbansinya, begitu juga untuk sampel no 3, 4, 5, dan 6. 7. Ulangi langkah 1-5 dengan membuat pH larutan sama dengan 4,5 dengan menambah larutan buffer Natrium Asetat. 8. Menghitung konsentrasi antosianin totalsesuai dengan rumus pigmen antosianin ( Ekivalen dengan cyanidin-3-gluciside,mg/L) 𝐶=

A x MW x DF x 1000 𝐸𝑥𝑏

Dengan : C

= Konsentrasi antosianin ( mg/L )

A

= (A520 – A700) pH 1 – (A520 – A700) pH 4,5

MW

= Bobot Molekul ( 449,2 gram/mol )

DF

= Faktor Pengenceran

E

= 26.900 L/mol cm

1000

= Konversi dari gram ke mgr

B

= Panjang sel atau cuvet ( cm )

9.

Buatlah persamaan Beer untuk konsentrasi antosianin, dengan

persamaan A = kc. 2. 4 . Hasil Percobaan

No

λ (nm)

%T

A

1 490 3,6 0,443 2 500 3,5 0,445 3 510 3,2 0,494 4 520 3 0,522 5 530 3,1 0,508 6 540 3,3 0,481 7 550 3,2 0,497 8 560 4,7 0,327 Tabel 2.4. 1. Panjang Gelombang vs Absorbansi

λ

Optimum

berada

pada

Absorbansi terbesar yaitu pada panjang

gelombang

520

nm

No

Semangka (ml)

Air Demin (ml)

%T

A

1

1,5

8,5

54,1

0,266

2

3

7

20,6

0,665

3

4,5

5,5

12,7

0,896

4

6

4

7,1

1,148

5

7,5

2,5

4,9

1,309

6 9 1 3,6 1,408 Tabel 2. 4. 2. Panjang Gelombang vs Absorbansi pada larutan semangka

No

Volume (ml)

Δ V pH 1 (ml)

Δ V pH 4,5 (ml)

df pH 1

df pH 4,5

df ratarata

1

5

7

8,1

1,4

1,62

1,51

2

5

6,9

7,7

1,38

1,54

1,46

3

5

6,9

7,5

1,38

1,5

1,44

4

5

7,3

7,6

1,46

1,52

1,49

5

5

7,1

8,2

1,42

1,64

1,53

6

5

6,7 7,9 1,34 Tabel 2. 4. 3. Faktor Pengenceran ( df )

1,58

1,46

%T ( λ 520 nm )

A ( λ 520 nm )

% T ( λ 700 nm )

A ( λ 700 nm )

pH 1

pH 4,5

pH 1

pH 4,5

pH 1

pH 4,5

pH 1

pH 4,5

Konsentrasi (mg/L)

1

51,2

67,3

0,291

0,171

68,2

69,2

0,166

0,159

1,425

2

28,7

38,9

0,542

0,41

1,54

40,2

0,409

0,396

1,451

3

18,4

21,8

0,735

0,661

1,5

36,3

0,439

0,44

0,902

4

8,1

18,6

1,0915

0,73

1,52

23,2

0,657

0,634

4,211

5

7,1

11,6

1,149

0,958

1,64

18,3

0,806

0,738

1,571

6

5,6 8,2 1,252 0,086 1,58 12,3 0,91 0,903 Tabel 2. 4. 4. Konsentrasi Antosianin ( mg/L ) pada larutan semangka

1,938

No

PRAKTIKAN

MENGETAHUI ASISTEN

LISTY A. KURNIANINGRUM

BAGUS MULIAJAYA LUTHFI

View more...

Comments

Copyright ©2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF