Laporan Praktikum Skrining Hipokratik
May 21, 2019 | Author: erina | Category: N/A
Short Description
Skrining Hiprokatik Praktikum Farmakologi...
Description
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI “SKRINING HIPOKRATIK ”
Dibuat untuk memenuhi tugas Laporan Praktikum Farmakologi
Dosen pengampu: Dr. Delina Hasan, M.Kes., Apt. Suci Ahda Novitri, M.Si., Apt. Marvel, M. Farm., Apt. Dimas Agung Wakito W, S. Far., Apt.
Disusun Oleh: KELOMPOK 1B
Adhetria Ramadhanty 11161020000032 11161020000032 Miftahul Jannah
11161020000033 11161020000033
Rahmanita Novita Sari 11161020000034 11161020000034 Sarta Hidayat N
11161020000035 11161020000035
Erina Reggiany
11161020000036 11161020000036
Fika Nurfiyanti A.
11161020000039 11161020000039
PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA MEI/2018
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI....................................................................................................................... 1 BAB I .................................................................................................................................. 2 PENDAHULUAN .............................................................................................................. 2 1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 2 1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 2 1.3 Tujuan ....................................................................................................................... 2 BAB II................................................................................................................................. 3 LANDASAN TEORI .......................................................................................................... 3 BAB III ............................................................................................................................... 7 METODE PRAKTIKUM ................................................................................................... 7 3.1 Tempat dan Waktu Praktikum .................................................................................. 7 3.1 Alat dan Bahan.......................................................................................................... 7 3.1 Prosedur Kerja .......................................................................................................... 7 BAB IV ..............................................................................Error! Bookmark not defined. HASIL DAN PENGAMATAN .........................................Error! Bookmark not defined. 4.1 Perhitungan Dosis ....................................................Error! Bookmark not defined. 4.2 Hasil .........................................................................Error! Bookmark not defined. BAB V ...............................................................................Error! Bookmark not defined. PEMBAHASAN ................................................................Error! Bookmark not defined. BAB VI ..............................................................................Error! Bookmark not defined. PENUTUP .........................................................................Error! Bookmark not defined. DAFTAR PUSTAKA ........................................................Error! Bookmark not defined. LAMPIRAN.......................................................................Error! Bookmark not defined.
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Pencarian senyawa obat baru pada prinsipnya dapat dilakukan berdasarkan skrining atau penapisan dengan berorientasi pada efek farmakologis tertentu. Untuk menghindari pengabaian efek yang lebih potensial dibandingkan efek yang dicari atau diskrining maka pada umumnya dilakukan skrining buta. Pada aktivitas skrining ini efek yang terlihat semuanya diamati sehingga dapat melakukan penilaian terhadap suatu sediaan obat yang menghasilkan efek tertentu pada tubuh sesuai dengan dosis yang diberikan. Sehingga dapat dihasilkan profil farmakodinamik obat/bahan.
1.2.Tujuan
1. Memahami dan terampil melakukan skrining farmakodinamik obat menggunakan teknik skrining hipokratik 2. Memahami dan mampu menganalisis hasil-hasil skrining farmakologi obat
1.3.Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara melakukan skrining farmakodimik obat menggunakan teknik hipokratik? 2. Bagaimana cara menganalisis hasil-hasil skrining farmakologi obat?
2
BAB II LANDASAN TEORI Skrining hipokratik adalah salah satu cara untuk menapis aktivitas suatu obat/bahan yang belum diketahui sebelumnya, baik yang berasal dari ala m ataupun senyawa sintetis/semisintetis. Cara ini didasarkan atas bahwa, obat bila berinteraksi dengan material biologis dalam tubuh akan mengahsilkan efek tertentu, tergantung pada dosis yang diberikan. Prinsip ini diambil dari cara dokter (Hyppocrates) mendiagnosa suatu penyakit melalui gejala-gejala yang ditunjukkanya. Skrining ini dapat membedakan suatu bahan/obat yang berguna dan tidak berguna dengan cepat dan biaya yang relative murah. Darinya akan dihasilkan profil falmakodinamik obat/bahan. Penapisan atau skrining farmakologi dilakukan untuk mengetahui aktivitas farmakologi suatu zat yang belum diketahui efeknya. Hal ini dilakukan dengan melihat gejala-gejala yang timbul pada hewan coba setelah diberi zat uji. Zat atau obat yang disediakan dalam praktikum ini antara lain yang memberikan efek depresan
SSP,
perangsang
SSP,
simpatomimetik,
parasimpatomimetik,
simpatolitik, muscle relaxant, analgesik, vasokonstriktor, dan vasodilator. Pada percobaan ini akan dilakukan evaluasi dan pengelompokan efek-efek yang timbul pada hewan uji (tikus) berdasarkan efek yang dapat ditimbulkan oleh zat atau obat tersebut. Prinsip dasar penapisan atau skrining farmakologi ini ialah mencari persen aktivitas yang terjadi pada setiap kelompok efek-efek tersebut, kemudian dapat ditarik kesimpulan berdasarkan persen aktivitas yang paling besar. Semakin besar persen aktivitas pada suatu efek maka zat atau obat uji semakin mempunyai kecenderungan berasal dari kelompok efek tersebut. Uji ini merupakan tahap awal penelitian farmakologi atau zat-zat yang belum diketahui efeknya serta untuk mengetahui apakah obat tersebut memiliki efek fisiologis atau tidak sehingga disebut sebagai penapisan hipokratik (penapisan awal). Penapisan ini masih merupakan prediksi. Penelitian ini menggunakan metode penapisan hipokratik yang dipertajam dengan uji-uji spesifik diantaranya seperti uji viskositas, uji aktivitas motorik, uji perpanjangan waktu tidur, uji anti konvulsi dan uji efek hipotensi.
3
Beberapa prinsip yang mendasari penapisan hipokratik : a. Semua obat memperlihatkan profil aktivitas dosis-respon yang berarti bahwa, semakin besar dosis semakin besar jumlah sisi kerja obat sehingga responnya juga meningkat, baik intensitas maupun lama efeknya. Implikasi dari pernyataan ini adalah, bahwa suatu obat dinyatakan tidak mempunyai gejala bila dengan penambahan dosis gejala tersebut juga tidak terlihat. b. Semua obat mampu menginduksi toksisitas bila dosisnya melebihi batas keamanan c. Setiap golongan obat mempunyai profil dosis-respon yang khas yang dapat dikenal dan dibedakan. Penentuan multiplikasiaktivitas obat dapat mengarahkan pada profil aktivitas, sehingga dapat dibandingkandengan golongan-golongan obat tertentu. d. Dengan menggunakan profil dosis-respon obat-obat yang diketahui kerja farmakologinya dan dengan didukung oleh pengetahuan tentang fisiologi dan farmakologi, seseorang dapat memperkirakan kegunaan senyawa yang diuji dengan suatu derjat ketelitian yang cukup tinggi, demikian juga dengan toksisitas dan efek sampingnya. Ada atau tidaknya aktivitas farmakologi suatu obat yang diuji dapat diperhatikan dari gejala-gejala yang terjadi pada hewan percobaan setelah diberi suatu dosis obat seperti salivasi, urinasi, diare, fasikulasi, miosis, midriasis, muntah, konvulsi, dan sebagainya. Keadaan ini dibandingkan dengan hewan kontrol. Sifat-sifat farmakologi obat yang dapat ditetapkan dari hasil penapisan hipokratik antara lain depresan atau stimulan sistem saraf pusat, simpatomimetik, simpatolitik, parasimpatomimetik, parasimpatolitik, vasodilator, vasokontrikstor, analgetik, dan relaksan otot. 1. Parasimpatomimetik Parasimpatomimetika atau kolinergika adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi susunan parasimpatis, karena melepaskan neurohormon asetilkolin di ujungujung neuronnya. Efek-efek yang muncul setelah pemberian kolinergika adalah:
4
Stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung (HCl), juga sekresi air mata, dll.
Memperlambat sirkulasi, antara lain dengan mengurangi kegiatan jantung, vasodilatasi, dan penurunan tekanan darah.
Memperlambat pernapasan, antara lain dengan menciutkan bronchi, sedangkan sekresi dahak diperbesar.
Kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis) dan menurunnya tekanan intraokuler akibat lancarnya pengeluaran air mata.
Kontraksi kandung kemih dan ureter dengan efek memperlancar pengeluaran urin.
Dilatasi pembuluh dan kontraksi otot kerangka.
Menekan SSP setelah pada permulaan menstimulasinya.
2. Simpatomimetik Simpatomimetika atau adrenergika adalah zat-zat yang dapat menimbulkan (sebagian) efek yang sama dengan stimulasi susunan sipaticus dan melepaskan noradrenalin di ujung-ujung sarafnya. Efekefek yang ditimbulkan adalah:
Vasokonstriksi otot polos dan menstimulsi sel-sel kelenjar dengan bertambahnya antar lain sekresi liur dan keringat.
Menurunkan peristaltik usus.
Memperkuat daya dan frekuensi kontraksi jantung.
Bronkodilatasi dan stimulasi metabolisme glikogen dan lemak.
3. Simpatolitik Simpatolitika atau adrenolitika adalah zat-zat yang melawan sebagian atau seluruh aktivitas susunan saraf simpatis. Efeknya melawan efek yang ditimbulkan oleh simpatomimetika.
5
4. Analgetik Anlagetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
5. Vasodilator Vasodilator didefinisikan sebagai zat-zat yang berkhasiat melebarkan pembuluh darah secara langsung.
6. Vasokonstriktor Efek yang ditimbulkan berlawanan dengan vasodilator.
7. CNS Activation Zat-zat yang dapat merangsang SSP. Efek-efek yang ditimbulkan adalah:
Konvulsi.
Meningkatkan laju pernapasan. Misal pada tikus, efek yang diitmbulkan antara lain:
Aktivitas motorik meningkat
Temperatur rektum naik
Rasa ingin tahu meningkat
8. CNS Depressant Zat-zat yang dapat menekan SSP. Efek yang ditimbulkan berlawanan dengan CNS activation. Misal pada tikus, efek yang ditimbulkan antara lain:
Aktivitas motorik menurun
Laju pernapasan menurun
Hilang refleks pinal
Paralisa kaki
Hilang daya cengkeram
9. Muscle Relaxant Efek yang ditimbulkan mirip dengan CNS depressant.
6
BAB III METODE PRAKTIKUM 3.1 Tempat dan Waktu Praktikum
Tempat
: Laboratorium Farmakologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tanggal
: Kamis, 03 Mei 2018
Waktu
: 11.00 – 12.00 WIB
3.2 Alat dan Bahan
1. Hewan percobaan tikus 2. Obat alam atau sintesa (pada praktikum ini digunakan obat golongan analgetik, diuretic dan golongan sedatif 3. Alat suntik, stopwatch, hotplate, thermometer, platform, rotating road, pinset, kertas saring, alat gelantung, jaring kawat dan alat-alat gelas.
3.3 Prosedur Kerja
1)
Hewan ditimbang, ditandai dan ditentukan dosis yang akan diberikan
2)
Diamati parameter-parameter seperti yang tertera pada table 2, dan diberi skor 1 atau 0 untuk respon kualitatif dan 1,2 atau 3 untuk respon kuantitatif
3)
Respon kuantitatif dapat dilihat pada table 3.
Gunakan alat yang tersedia untuk mendeteksi gejala tertentu, seperti :
Tonus otot melalui kemampuan hewan memegang jaring atau bergelantung pada alat gelantung
Laju pernapasan dihitung persatuan waktu memakai stopwatch
Reaksi jepit ekor menggunakan pinset
Reaksi plat panas menggunakan hotplate
Temperature tubuh menggunakan thermometer
Air mata berdarah (chromodaorirea, salvitasi, lakrimasi, menggunakan kertas saring)
7
4)
Setelah semua parameter diamati (pada keadaan tak diberi obat = control) masing-masing hewan diinjeksikan obat pada dosis yang telah ditentukan
5)
Semua parameter diamati kembali pada menit ke-5, 10, 15, 30, dan 60 menit serta 2 jam setelah obat disuntikkan
6)
Hasil yang didapat di evaluasi dengan cara sebagai berikut : Nilai menurut bobot dikumpulkan untuk masing-masing parameter sesuai dengan dosis seperti contoh berikut :
Parameter yang diamati : peningkatan laju pernapasan Bobot : 1 Dosis (mg/kg)
kontrol
5’
10’
15’
30’
60’
120’
3
0
1
1
2
1
1
0
10
0
1
2
2
3
2
1
30
0
2
2
3
3
3
2
100
0
2
1
3
3
2
1
Hal yang sama dilakukan untuk semua parameter yang lain
Skor total dihitung dengan mengalikan skor dengan factor untuk masing-masing parameter pada tiap-tiap dosis dan dibandingkan dengan skor maksimum
Laju pernapasan meningkat : Dosis (mg/kg)
Skor total
Skor maksimum
3
6x1
18 x 1
10
11 x 1
18 x 1
30
15 x 1
18 x 1
100
14 x 1
18 x 1
8
Nilai parameter yang relevan untuk aktivitas tertentu dikumpulakn, misalnya untuk aktivitas penekanan system saraf pusat (PSSP) seperti pada table 4, factor skor actual dijumlahkan dan skor maksimum actual juga dihitung
Persentase respon aktivitas yang didapat di ranking menurut dosis dan kategori aktivitas
Hasil yang diperoleh dibahas dan dibuat kemungkinan kategori aktivitas senyawa yang diuji sebagai kesimpulan
Pertanyaan :
1.
Apa bedanya skrining buta dengan skrining spesifik ?
2.
Apa kelebihan metode skrining hipokratik dibandingkan dengan skrining spesifik ? apa pula kelemahannya ?
3.
Apakah toksisitas bahan dapat diramalkan menggunakan cara skrining ini ? jelaskan !
4.
Jelaskan tahap-tahap penelitian yang harus dilalui untuk suatu obat baru agar ia dapat digunakan secara klinis !
5.
Jelaskan hubungan parameter-parameter yang diamati dengan jenis aktivitas-aktivitas yang ditentukan !
9
BAB IV HASIL DAN PENGAMATAN 4.1 Perhitungan Dosis
Hewan: Tikus Bb: 178 gram = 0,178 kg Dosis obat : 2500 mg Konsentrasi obat: 500 mg/ml 6
HED = DH x 2500 60
DH
37
= DH x 0, 162 =
VAO =
41,67 0,162
= 257,22 mg/kgBB
0.178 257,22 / 500 /
= 0,09 ml 4.2 Hasil
Parameter
Nilai (1-3) atau terukur pada waktu
Nilai
5'
10'
15'
30'
Kelopak Mata Turun
0
1
2
0
3
+
Bulu berdiri
1
0
0
0
0,5
+
Tremor
0
0
0
1
1
+
Ekor Naik
0
1
0
0
0,5
+
Aktivitas Menurun
0
1
2
3
6
+
Urinasi
0
0
1
0
1
1x
Reaksi Plat Panas
0
0
0
0
0
-
Reaksi Jepit Ekor
0
0
0
0
0
-
10
BAB V PEMBAHASAN Skrining hipokratik adalah salah satu cara untuk menapis aktivitas suatu obat atau bahan obat yang belum diketahui sebelumnya, baik yang berasal dari alam maupun semisintetis. Dasar dari metode ini yaitu, bahwa bila obat berinteraksi dengan materi biologis dalam tubuh akan menghasilkan efek tertentu, tergantung pada dosis yang diberikan. Prinsip ini diambil dari cara dokter mendiagnosis suatu obat atau bahan yang berguna dan yang tidak berguna dengan cepat dan biaya yang relatif murah. Darinya dihasilkan profil farmakodinamik obat atau bahan (Hasan, 2017) Pada skrining hipokratik ini kami mengamati perbedaan tikus sebelum dan sesudah diberikan obat. Sebelum diberikan obat, tikus yang kami amati masih menunjukkan aktivitas yang normal, kelopak matanya pun normal, tidak menunjukkan kegelisahan, jika diberi rangsang berupa jepitan ekor ia memberikan reaksi penolakan. Namun, setelah diberikan obat sampel A pada 5 menit pertama ekor dan bulu tikus mulai berdiri. Lalu pada 10 menit selanjutnya kelopak mata mulai turun, tikus mulai menunjukkan efek dari obat yang diberikan. Selain itu, aktivitasnya pun mulai menurun sampai pada 15 menit setelah pemberian obat. Dan pada 10 menit setelah pemberian, kami mencoba menjepit ekornya tetapi ia masih memberikan respon penolakan. Medekati menit ke 30 aktivitas tikus semakin menurun dan kelopak matanya semakin menurun juga seperti sedang tertidur. Berdasarkan data-data yang kami peroleh dan didukung dengan data praktikum sebelumnya. Maka kami menyimpulkan bahwa sampel obat yang kami berikan merupakan golongan obat sedatif. Obat sedatif yaitu zat-zat yang dalam dosis terapi yang rendah dapat menekan aktivitas mental, menurunkan respons terhadap rangsangan emosi sehingga menenangkan. Yang ciri-cirinya sama seperti yang terjadi pada tikus uji kami yaitu penurunan aktivitas dan kelopak mata yang menurun.
11
BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan
1.
Skrining hipokratik adalah salah satu cara untuk menapis aktivitas suatu obat atau bahan obat yang belum diketahui sebelumnya, baik yang berasal dari alam maupun semisintetis.
2.
Sampel obat A yang diberikan kepada tikus merupakan golongan obat sedatif karena efek yang terjadi pada tikus menunjukkan efek sedatif .
3.
Obat sedatif yaitu zat-zat yang dalam dosis terapi yang rendah dapat menekan aktivitas mental, menurunkan respons terhadap rangsangan emosi sehingga menenangkan.
12
DAFTAR PUSTAKA Hasan, Delina dkk. 2017. Penuntun Praktikum Farmakologi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Katzung, Bertram G, (2004), Basic & clinical pharmacology, 9th Edition, Lange Medical Books/Mcgraw-Hill: New York, Hal : 6, 152(e-book version of the text). Mutschler, Ernest, 1991. Dinamika Obat edisi V. Bandung : ITB. Tan, Hoan Tjay dan Kirana Rahardja. 2003. Obat-Obat Penting . Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia Woodley, Michele. 1995. Pedoman Pengobatan. Yogyakarta. Andrajati, Retno. 2007. Penuntun Praktikum Farmakologi. Depok: Laboratorium Farmakologi
dan
Farmakokinetika
Departemen
Farmasi
FMIPA
Universitas Indonesia. Anonim. 1995. Farmakologi dan Terapi ed.4. Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
13
LAMPIRAN Pertanyaan dan Jawaban
1. Apa bedanya skrining buta dengan skrining spesifik? Skrining hipokratik adalah salah satu cara untuk menapis aktivitas suatu obat/bahan yang belum diketahui sebelumnya baik yang berasal dari bahan al ami maupun senyawa sintetis atau semisintetis. Prinsipnya adalah melihat gejalagejala yang timbul pada hewan percobaan setelah diberi suatu obat, mencari persen aktivitas yang terjadi pada setiap kelompok efek-efek tersebut, kemudian dapat ditarik kesimpulan berdasarkan persen aktivitas yang paling besar. Semakin besar persen aktivitas pada suatu efek maka zat atau obat uji semakin mempunyai kecenderungan berasal dari kelompok efek tersebut. Sedangkan skrining spesifik adalah skrining atau penapisan yang mempertajam hasil dari skrining hiprokratik (berkesinambungan) diantaranya seperti uji viskositas, uji aktivitas motorik, uji perpanjangan waktu tidur, uji anti konvulsi dan uji efek hipotensi.
2. Apa kelebihan metode skrining hipokratik dibandingkan dengan skrining spesifik ? apa pula kelemahannya ? Kelebihan skrining hipokratik dibandingkan dengan skrining spesifik adalah dapat membedakan suatu obat/bahan yang berguna dan yang tidak berguna dengan cepat dan biaya yang relatif murah, dimana akan dihasilkan profil farmakodinamik obat/bahan. Selain itu dapat diketahui efek farmakologi pada suatu obat yang belum diketahui sebelumnya, sehingga diperoleh perkiraan efek farmakologi berdasarkan pendekatan data parameter-parameter yang diketahui. Kelemahan skrining hipokratik adalah : disini kita mengujikan berbagai jenis obat tanpa diketahui golongannya dengan melihat parameter parameter dan efek yang ditimbulkan oleh hewan percobaan. Dikarenakan skrining hipokratik merupakan penapisan awal, tentu disini banyak factor yang mempengaruhi dalam menganalisis data efek yang ditimbulkan hewan coba karena alasan range efek dan parameter yang lebar sehingga sulit untuk membuat kesimpulan dan persentase efek. Yang berujung pada ketidakakuratan atau
14
validitas data yang kurang. Dibandingkat dengan skrining spesifik yang lebih khusus menapis terhadap uji-uji spesifik seperti uji viskositas (kekentalan) obat, uji perpanjangan waktu tidur hewan dan sebagainya
3. Apakah toksisitas bahan dapat diramalkan menggunakan cara skrining ini? Jelaskan! Bisa. Dengan melakukan skrining hipokratik ini kita dapat mengetahui obat apa yang diberikan terhadap hewan uji dengan melihat efek yang terjadi pada hewan uji tersebut melalui aktivitas dari berbagai kriteria yang diamati, begitu juga dengan toksisitas suatu obat. Toksisitas suatu obat yang diberikan dapat kita ketahui dengan cara melebihkan dosis yang diberikan kepada hewa uji (membuat dosis menjadi besar). Apabila obat dengan dosis te rsebut memberikan efek parah (toksik) pada hewan uji, maka obat tersebut dapat diprediksi memiliki efek toksik.
4. Jelaskan tahap-tahap penelitian yang harus dilalui untuk suatu obat baru agar ia dapat digunakan secara klinis? Sebelum suatu obat dapat digunakan secara luas perlu dilakukan pengujian melalui berbagai tahap. Tahap-tahap uji klinik yang harus dilalui oleh setiap obat adalah : a. Uji klinik Fase I Pada uji klinik fase I untuk pertama kalinya obat yang diujikan diberikan pada manusia (sukarelawan sehat), baik untuk melihat efek farmakologi amupun efek samping. Secara singkat tujuan uji klinik pada fase ini yaitu :
Melihat kemungkinan adannya efek samping dan toleransi subjek terhadap obat yang diajukan .
Menilai hubungan dosis dan efek obat.
Melihat sifat kinetika obat yang meliputi absorpsi, distribusi, metabolism, dan eksresi.
15
Dengan melakukan uji klinik fase 1 ini kita akan memperoleh informasi mengenai dosis,
frekuensi, cara dan berapa lama suatu obat harus
diberikan pada pasien agar diperoleh efek terapetik yang optimal dengan resiko efek samping yang sekecil-kecilnya. b. Uji klinik fase II Bertujuan untuk melihat kemungkinan efek terapik dari obat yang diujikan. Pada tahap ini uji klinik dilakukan secara terbuka ta npa control. Mengingat subjek yang digukan terbatas, hasil dan kesimpulan yang diperoleh belum dapat digunakan sebagai bukti adanya kemanfaatan kinik obat.
c. Uji klinik fase III Dalam tahap ini obat diuji atas dasar prinsip-prinsi p metodologi ilmiah yang ketat. Mengingat hasil yang diperoleh dari uji klinik fase III ini harus memberi kesimpulan definitive mengenai ada/tidaknya kemanfaatan klinik obat, maka diperlukan metode pembandinagn yang terkontrol. Disini obat yang di uji dibandingkan dengan obat standar yang sudah terbukti kemanfaatannya (control positif) dan/atau placebo (control negative).
d. Uji klinik fase IV (post marketing surveillance) Uji tahap ini dilakukan beberapa saat setelah obat dipasarkan/digunakna secara luas di masyarakat. Uji ini bertujuan untuk mendeteksi adanya efek samping yang jarang dan serius pada populasi serta efek samping lain yang tidak terdeteksi pada uji klinis fase I, II, dan III.
5. Jelaskan hubungan parameter-parameter yang diamati dengan jenis aktivitas aktivitas yang ditentukan? Dari aktivitas-aktivitas yang telah yang telah diamati kita dapat me li ha t at au me nget ah ui pa da sistem saraf apa obat itu bekerja atau bereaksi. Dan dari sana kita dapat menyimpulkan obat apa yang sedang kita uji.
16
View more...
Comments