LAPORAN PRAKTIKUM PROYEK SAINS TUMBUHAN 1.docx

January 26, 2018 | Author: Syaban Shadikillah | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

Download LAPORAN PRAKTIKUM PROYEK SAINS TUMBUHAN 1.docx...

Description

LAPORAN PRAKTIKUM PROYEK SAINS TUMBUHAN (BI-2204)

PENGENALAN MIKROSKOP, ALIRAN SITOPLASMA, ZAT ERGASTIK, PRINSIP LARUTAN DAN PLASMOLISIS Tanggal Praktikum: 25 Januari 2017 Tanggal Pengumpulan: 1 Februari 2017

Disusun oleh: Syaban Shadikillah 10615036 Kelompok 2 Asisten: Gina Aulia (10614028)

PROGRAM STUDI BIOLOGI SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG BANDUNG

2016 BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Sel merupakan ‘batu bata’ yang menyusun keseluruhan bagian dari tubuh suatu organisme multiseluler. Seperti halnya pada tumbuhan, setiap bagian dari tumbuhan tersusun atas sel. Sel-sel yang menyususn bagianbagian yang berbeda tersebut memiliki fungsi dan sifat fisik yang berbedabeda. Perbedaan ini juga menentukan jenis aliran plasma dalam protoplas sel tumbuhan sesuai dengan fungsi yang dimiliki oleh sel tumbuhan tersebut. Begitupun dengan perbedaan sifat fisik tumbuhan yang menimbulkan efek yang berbeda terhadap pendedahan zat terlalrut. Pada setiap sel tumbuhan terdapat kompartemen penyimpanan zat hasil metabolisme baik berupa zat yang masih fungsional maupun zat sisa atau beracun yang diendapkan. Zat-zat ini disebut zat ergastik. Sel pada tumbuhan tidak memiliki mekanisme untuk membuang zat-zat tak berguna dan racun sehingga biasanya mengendap dalam vakuola atau membentuk struktur kristal dalam sel (Bidwell, 1979) Aplikasi dari pembelajaran mengenai zat ergastik dan mekanisme regulasi zat dalam sel tumbuhan adalah untuk mengetahui dan memahami bagaimana bisa suatu tumbuhan menghasilkan berbagai macam zat dan sifat fisik dari tumbuhan tersebut. Konsep ini dapat diterapkan dalam berbagai bidang seperti pertanian dan industri material. Praktikum berjudul Pengenalan Mikroskop, Aliran Sitoplasma, Zat Ergastik, Prinsip Larutan dan Plasmolisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi aliran

sitoplasma, struktur pati dan kristal metabolit sekunder serta efek plasmolisis pada berbagai sel-sel tumbuhan yang berbeda-beda. Selain itu, praktikum ini juga bertujuan untuk memahami efek pendedahan berbagai larutan terhadap sel tumbuhan.

1.2

Tujuan Tujuan dilaksanakannya praktikum Pengenalan Mikroskop, Aliran Sitoplasma, Zat Ergastik, Prinsip Larutan dan Plasmolisis adalah: 1. Menentukan jenis-jenis aliran plasma yang teramati dari tanaman 2. Menentukan jenis-jenis zat ergastik yang teramati pada sayatan tanaman 3. Menentukan sifat reversibilitas sel terhadap peristiwa plasmolisis

1.3

Hipotesis Rumusan hipotesis yang diajukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. Aliran sitoplasma pada sel tumbuhan dapat berupa rotasi maupun sirkuler sesuai dengan tipe dari sel tersebut 2. Pemberian larutan I2KI pada sel-sel umbi kentang (Solanum tuberosum) menyebabkan pati berwarna keunguan agar strukturnya mudah terlihat 3. Sel-sel pada tumbuhan yang diamati memiliki bentuk kristal yang berbeda-beda dan komponen yang berbeda-beda pula 4. Pemberian larutan hipertonik menyebabkan sel-sel pada tumbuhan yang diamati mengalami plasmolisis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Jenis-jenis mikroskop dan fungsinya. Terdapat berbagai tipe mikroskop yang memiliki spesifikasi masing-

masing sesuai dengan objek yang akan diamati oleh mikroskop. Objek yang akan diamati dengan mikroskop harus brukuran kecil dan tipis agar bagian-bagiannya dapat diamati secara lebih spesifik (Pramesti, 2000). Macam-macam mikroskop sesuai fungsinya, yaitu : a. Mikroskop Cahaya Mikroskop cahaya dapat memperbesar hasil visualisasi pada objek sebesar 1000 kali. Mikroskop cahaya ditopang oleh kaki pegangan yang berat dan kokoh dengan tujuan agar dapat berdiri dengan stabil. Mikroskop cahaya memiliki tiga lensa, yaitu lensa objektif, lensa okuler, dan kondensor. Lensa objektif terletak diujung atas mikroskop, dari lensa tersebut kita melihat pbjek pengamatan sedangkan lensa okuler terletak dibagian bawah, didekat preparat. Lensa okuler pada mikroskop dapat berupa lensa tunggal (monokuler) atau ganda (binokuler). Pada ujung bawah mikroskop terdapat revolver yang bisa dipasangi tiga lensa atau lebih. Di bawah tabung mikroskop, diujung lensa objektif terdapat meja mikroskop yang merupakan tempat menempatkan preparat. Lensa yang ketiga adalah kondensor yang memiliki peran untuk menerangi objek dan lensa-lensa mikroskop yang lain (Koesmadji wirjosoemarto dkk, 2008). b. Mikroskop Stereo

Mikroskop stereo merupakan jenis mikroskop yang hanya bisa digunakan untuk benda yang berukuran relatif besar hal ini karena perbesaran yang terbatas. Mikroskop stereo biasa digunakan untuk mengamati struktur jaringan pada tumbuhan seperti batang, buah, daun, dan bunga atau struktur tubuh hewan-hewan kecil seperti serangga. Mikroskop stereo tidak diperuntukkan untuk pengamatan hingga tingkat sel yang spesifik karena hanya mempunyai perbesaran 7 hingga 30 kali. Objek yang diamati dengan mikroskop ini dapat terlihat secara tiga dimensi. Mikroskop stereo memiliki komponen yang hampir sama dengan mikroskop cahaya (Koesmadji wirjosoemarto dkk, 2008). c. Mikroskop Pendar Mikroskop pendar ini dapat digunakan untuk mendeteksi benda asing dan antigen seperti bakteri, virus atau pathogen lainnya dalam jaringan. Dalam teknik ini protein antibodi yang khas pada awalnya dipisahkan dari serum tempat terjadinya rangkaian atau dikonjungsi dengan pewarna pendar (dye). Karena reaksi antibodi-antigen itu besifat spesifik, maka peristiwa pemendaran akan terjadi apabila antigen yang dimaksud bereaksi dengan antibody yang telah ditandai dengan penanda pendar yang memicu reaksi kimia yang menghasilkan cahaya berwarna yang akhirnya dapat dilihat dibawah mikroskop (Pramesti, 2000). d. Mikroskop Medan Gelap Mikroskop ini digunakan untuk mengamati bakteri hidup, khususnya bakteri yang begitu tipis yang hampir tidak dapat dibedakan dengan objek lainnya (mendekati batas daya pisah) pada mikroskop majemuk (Pramesti, 2000). e. Mikroskop Fase Kontras Mikroskop ini digunakan untuk mengamati sel hidup dalam keadaan alaminya, tanpa menggunakan pewarnaan. Mikroskop ini digunakan terutama

untuk mengamati sel yang tidak berpigmen. Prinsipnya, kontras bayangan ditingkatkan dengan cara meningkatkan indeks refraksi (kapasitas untuk membengkokkan cahaya), sehingga terlihat jelas daerah terang dan gelap dalam sel. Pada bawah meja objek dan pada lensa objektif mikroskop ini dipasang perlengkapan fase kontras (Pramesti, 2000). f. Mikroskop Elektron Mikroskop elektron dapat melakukan perbesaran hingga 100 ribu kali, elektron digunakan sebagai pengganti cahaya unruk melihat objek. Mikroskop elektron memiliki dua tipe, yaitu Scanning Electron Microscope (SEM) dan Transmission Electron Microscope (TEM). SEM digunakan untuk pengamatan detil struktur permukaan sel (atau struktur renik lainnya), dan obyek diamati secara tiga dimensi. Sedangkan TEM digunakan untuk mengamati struktur detil didalam sel (Pramesti, 2000). g. Mikroskop krioelektron Mikroskop ini menggunakan sampel yang dibekukan untuk menghindari rusaknya struktur sel dan komponen-komponennya jika menggunakan bahan kimia. Sayatan tebal dapat direkonstruksi untuk mendapatkan struktur 3 dimensinya dengan menggunakan komputer. Mikroskop ini biasa digunakan dalam pengamatan sitoskeleton pada tumbuhan (Pramesti, 2000).

2.2

Teknik pembuatan sayatan preparat segar •

Bersihkan kaca objek dan kaca tutup dengan sabun dan air kemudian dibilas dengan alkohol.



Teteskan air, pewarna atau reagen reaktif lainnya di atas kaca objek.



Buat sayatan setipis mungkin lalu disimpan simpan di atas air/pewarna.



Gunakan alat bantu untuk memegang kaca penutup seperti pinset



Letakkan salah satu ujung kaca penutup pada sisi kaca objek yang tidak menyentuh air/pewarna yang mengandung specimen.



Turunkan kaca penutup perlahan-lahan sampai menyentuh specimen yang telah diberi air/pewarna.



Lepaskan pinset secara perlahan sehingga kaca penutup menyentuh spesimen dengan posisi rapat.



Hilangkan kelebihan air atau reagen lainnya dengan menggunakan kertas tissue pada salah satu ujung kaca penutup.



Jika menggunakan larutan pewarna, ketika kelebihan zat warna ditarik pada salah satu sisi ujung kaca penutup, tambahkan air pada ujung lainnya dari kaca penutup. Sayatan harus terendam dalam reagen dengan baik sehingga tidak

ada gelembung udara yang terperangkap karena gelembung udara pada kaca preparat karena akan mengganggu pengamatan. Bila spesimen yang akan dibuat sayatannya mempunyai struktur yang tipis dan lunak sehingga sulit untuk disayat misalnya batang tumbuhan air, maka spesimen dapat disisipkan ke dalam bahan pendukung seperti wortel dan lobak. Setelah posisi permukaan spesimen dan bahan pendukung sama tinggi, spesimen kemudian disayat tipis bersama dengan bahan pendukung.

2.3

Osmosis dan aliran sitoplasma Air dalam tanah dapat masuk ke dalam akar dan akan mengisi ruang-ruang intersitial sel atau masuk kedalam sel. Air dapat masuk ke dalam sel-sel akar melewati dinding dan membran sel tertentu. Pergerakan air yang menembus membran sel inilah yang disebut osmosis. Dengan

kata lain, osmosis adalah difusi air memlewati suatu membrane dari larutan dengan konsentrasi zat terlarut yang lebih rendah ke larutan dengan konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi (Campbell, 2008). Pada prinsipnya erdapat dua (2) faktor penting sesuai dengan hukum Fick pertama yang menentukan laju osmosis ke dalam jaringan (melewati membran), yaitu : 1.

Faktor perbedaan (gradien) potensial air antara cairan sel penyerapan dengan larutan tanah di luar sel atau cairan interselluler

2.

Permeabilitas membran terhadap zat-zat. Hal ini dapat dirimuskan secara matematis sebagai berikut: J = δψ. P J = Laju difusi air melewati membran Δψ = Beda poensial air P = Permeabiltas membrane (Cleon, 1970). Aliran sitoplasma adalah aliran yang terdapat pada sel tumbuhan

yang masih melakukan proses metabolisme. Pergerakan/ aliran sitoplasma dalam sel tumbuhan di atur oleh mikrofilamen. Aliran sitoplasma dalam tumbuhan yang menggerakkan plastid beserta organel lainnya melewati beberapa vakuola ke segala arah disebut dengan sirkulasi, aliran ini biasanya terdapat pada sel tumbuhan yang masih muda, karena dalam selsel

tumbuhan

muda

masih

dalam

tahapan

pertumbuhan

dan

perkembangan, sehingga masih membutuhkan bahan- bahan organik yang dibutukan untuk menyuplai sintesis komponen-komponen sel. Sedang aliran sitoplasma yang mengelilingi vakuola disebut aliran rotasi. Aliran rotasi biasanya terjadi pada sel tua karena sel tua sudah tidak terlalu

banyak membutuhkan senyawa organik lagi tidak seperti pada sel yang bersifat embrionik sehingga bahan-bahan organik hasil metabolisme dibawa ke vakuola untuk disimpan sebagai cadangan makanan. Bahanbahan organik yang didepositkan dapat digunakan kembali bila suatu waktu tumbuhan membutuhkannya, misalnya dalam kondisi kekeringan atau musim kemarau (Giese,1979).

2.4

Sklerenkim dan zat ergastik (pati dan kristal) Zat ergastik merupakan bahan non protoplasma, baik organik maupun anorganik, padat maupun cair sebagai hasil metabolisme yang berfungsi untuk pertahanan, pemeliharaan struktur sel, dan juga sebagai penyimpanan cadangan makanan. Zat ergastik dapat ditemukan di bagian sitoplasama, dinding sel, maupun di vakuola sel tumbuhan. Kebanyakan zat ergastik merupakan senyawa kimia yang terasa pahit bagi hewan sehingga tumbuhan yang mengandung zat ergastik tersebut tidak dimakan oleh hewan. Ini merupakan mekanisme pertahanan yang merupakan salah satu manfaat dari penimbunan zat ergastik. Namun, kebanyakan zat ditemukan dalam sayatan histologi belum diketaui susunan atau kegunaannya. Zat ergastik dapat berupa pati, zat ergastik yang mengandung protein seperti aleuron, badan lipid dan berbagai macam bentuk kristal (Hall, 1976). Pati adalah zat ergastik yang umum ditemukan dalam sel tumbuhan. Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang yang berfungsi sebagai sumber energi. Butir pati yang terbentuk dalam kloropas selanjutnya dapat terurai dan diangkut dalam bentuk gula ke jaringan menyimpan cadangan makanan untuk kemudian disintesis kembali dari monomernya dalam amiloplas. Pati tersusun dari dua jenis karbohidrat, yaitu amilosa dan amilopektin yang memiliki

komposisi yang berbeda-beda. Struktur endapan amilosa bersifat keras (pera) sedangkan struktur endapan amilopektin bersifat sifat lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat jika direaksikan dengan iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi. Penumpukan pati pada sel-sel penyimpan karbohidrat membentuk butiran-butiran hilum yang dapat memiliki bentuk tunggal ataupun majemuk (Hess, 1975). Terdapat berbagai bentuk kristal ditemukan dalam sel tumbuhan sebagai bentuk pengendapan zat ergastik. Kristal kalsium oksalat paling umum ditemukan pada tumbuhan tingkat tinggi. Terdapat berbagai macam bentuk kristal yaitu: 

Kristal soliter, berbentuk seperti prisma. Kristal soliter dapat ditemukan dalam sel daun Citrus.sp, Begonia.sp dan Vicia sativa. Drus merupakan agregat kristal prisma dengan ujung – ujung yang runcing dan tajam serta dilihat secara keseluruhan berbentuk bundar, biasanya berdiameter 5 – 10 µm. Dalam satu sel biasanya



hanya ditemukan satu drus (Johnson, 1985). Rafida berbentuk kristal panjang dan ramping yang kedua ujungnya runcing. Rafida biasanya saling bertumpuk membentuk semacam berkas dan ditemukan dalam daun Agave, serta dalam daun dan batang Impatiens. berkas rafida biasanya tidak mempengaruhi bentuk dari sel yang menyimpannya tetapi ada pula beberapa sel berbentuk idioblas, yaitu sel yang berbeda dari sel di sekitarnya, misalnya dalam satu sel lender yang panjang.. Sel yang mengandung rafida biasanya hanya dimiliki oleh kelompok tumbuhan tertentu sehingga dapat digunakan dalam taksonomi



(Johnson, 1985). Sistolid adalah kristal berbentuk bulat agak lonjong yang panjang dan biasanya berwarna hitam dilihat dibawah mikroskop. Dalam sel, kristal ini ditemukan secara menyindiri atau berpasangan dalam kelompok kristal kecil. Kristal sistolid terdapat pada sel tumbuhan

Iridaceae, Agavaceae, dan beberapa family lainnya (Johnson, 1985).

Sklerenkim merupakan jaringan yang berfungsi sebagai penguat/ pelindung mekanik dalam tubuh tumbuhan. Jaringan sklerenkim terdiri dari sel hidup atau yang sudah mati dan terlignifikasi. Sel-sel jaringan skleremnkim bersifat elastis, dinding sel merupakan dinding sekunder yang tersusun dari lignin yang tebal. Jaringan sklerenkim berasal dari meristem primer atau dari parenkim. Jaringan sklerenkim terdiri dari jaringan sel-sel serabut dan sklereid. Serabut berasal dari meristem primer dan memiliki bentuk sel yang panjang dengan ujung meruncing. Sel serabut yang terdapat dalam xylem disebut serabut xilar dan diluar xylem disebut serabut ekstra xilar. Sklereid berasal dari parenkim dan memiliki bentuk sel pendek dengan ujung tumpul atau runcing dan dapat ditemukan sebagai sel idioblas atau berkelompok. Berdasarkan bentuknya sel sklereid dapat dibagi menjadi brakisklereid atau sel batu, bentuk isodiametris, makrosklereid yang berbentuk seperti batang; osteosklereid yang berbentuk seperti tulang, asterosklereid yang berbentuk seperti bintang dan trikosklereid (Johnson, 1985).

BAB III METODOLOGI

3.1

Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Pengenalan Mikroskop, Aliran Sitoplasma, Zat Ergastik, Prinsip Larutan dan Plasmolisis terdapat pada tabel 3.1 Mikroskop, Zat Ergastik dan Prinsip Larutan Tabel 3.1 Alat dan bahan praktikum Alat Alat pengiris (scalpel) Mikroskop cahaya Cover glass Pinset Silet Jarum jara Kaca objek Gelas kimia

3.2

Bahan Filamen bunga Rhoeo discolor Daun hydrilla Umbi kentang (Solanum tuberosum) Larutan I2KI Daun Ficus elastica Batang suji (Pleomele angustifolia) Tangkai daun Carica Papaya Larutan cuka

Metode Kerja 3.2.1

Pengamatan aliran sitoplasma Diambil satu helai rambut filament (tangkai sari) bunga Rhoeo discolor dengan hati-hati agar sel-sel yang akan diamati tidak rusak. Diletakkan di atas kaca objek yang telah ditetesi lalu lalu tutup perlahan dengan kaca tutup. Perlakuan yang sama dilakukan pada permukaan daun Hydrilla. Amati kedua preparat dengan mikroskop

3.2.2

Pengamatan Pati Dibuat kerokan pada bagian kulit umbi kentang (solanum tuberosum) lalu diletakkan di atas kaca objek yang telah diberi satu tetes air. Ditutup preparat dengan kaca tutup. Diamati pati yang terlihat dibawah mikroskop. Diberi larutan I2KI setelah pengamatan dengan hanya menggunakan air. Dibandingkan hasil pengamatan pati pada preparat yang hanya diberi air dengan preparat yang diberi larutan I2KI.

3.2.3

Pengamatan kristal metabolit sekunder Dibuat penampang melintang daun Ficus elastic, batang suji (Pleomele angustifolia) dan tangkai daun Carica papaya. Diletakkan masing-masing di atas kaca objek yang berbeda, yang telah diberi air. Ditutup dengan kaca tutup. Dibandingkan dan gambarkan kristal yang ada tumbuhan tersebut. Diteteskan larutan cuka di tepi kaca tutup pada masing-masing preparat daun setelahnya. Bandingkan hasil pengamatan kristal antara sebelum dan sesudah diberi cuka.

3.2.4

Pengamatan plasmolisis Dibuat penampang melintang bagian bawah abaxial daun Rhoeo discolor. Diletakkan di atas kaca objek yang telah diberi air. Ditutup dengan kaca tutup. Diamati preparat tersebut dengan mikroskop. Diteteskan larutan cuka di tepi kaca tutup pada preparat daun setelah pengamatan pertama. Bandingkan hasil pengamatan dengan mikroskop antara sebelum dan sesudah diberi cuka.

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Pengamatan Berdasarkan percobaan, data yang didapat adalah sebagai berikut. Tabel 4.1.1 Pengamatan preparat

Keterangan Hasil pengamatan rambut

Foto Hasil Pengamatan

Foto Literatur

filament bunga Rhoeo discolor terlihat lebih pucat dibandingkan literature karena tidak diberi pewarna. Gambar 4.1.13 Rambut filament bunga Rhoeo discolor (plantcell.org, 2017) Gambar 4.1.1 Rambut filamen bunga Rhoeo discolor (Perbesaran 400x) (Dokumentasi pribadi, 2017)

Hasil pengamatan pada preparat lebih terang dari literatur disebabkan oleh pengaturan cahaya pada mikroskop yang lebih terang.

Gambar 4.1.2 Penampang daun Hydrilla (Perbesaran 400x) (Dokumentasi pribadi, 2017)

Gambar 4.1.14 Penampang daun Hydrilla (plantcell.org, 2017)

Pati pada umbi kentang literatur diberi pewarna tambahan yang menyebabkan terlihat lebih gelap.

Gambar 4.1.15 Pati umbi kentang Solanum Gambar 4.1.3 Pati umbi kentang Solanum

tuberosum

tuberosum (Perbesaran 100x)

(plantcell.org, 2017)

(Dokumentasi pribadi, 2017)

Pada preparat hasil pengamatan hanya didapatkan lamella tunggal sedangkan pada gambar literatur terdapat lamella majemuk.

Gambar 4.1.4 Pati umbi kentang Solanum tuberosum diberi I2KI (Perbesaran 100x) (Dokumentasi pribadi, 2017)

Gambar 4.1.16 Pati umbi kentang Solanum tuberosum diberi I2KI (plantcell.org, 2017)

Terdapat banyak bintikbintik pada foto hasil pengamatan berbeda dengan gambar literature yang jernih disebabkan oleh kotoran dan gelembung udara.

Gambar 4.1.5 Kristal pada daun Ficus

Gambar 4.1.17 Kristal pada daun Ficus

elastica (Perbesaran 400x)

elastica

(Dokumentasi pribadi, 2017)

(pinterest.com, 2017)

Hasil foto pada preparat hasil pengamatan terlihat lebih gelap karena pengaturan pencahayaan yang berbeda.

Gambar 4.1.6 Kristal pada daun Ficus

Gambar 4.1.18 Kristal pada daun Ficus

elastica diberi cuka (Perbesaran 400x)

elastica diberi cuka

(Dokumentasi pribadi, 2017)

(pinterest.com, 2017)

Kristal pada gambar literatur terlihat lebih jelas karena pembesaran yang lebih tinggi.

Gambar 4.1.7 Kristal pada batang Pleomele angustifolia (Perbesaran 400x) (Dokumentasi pribadi, 2017)

Gambar 4.1.19 Kristal pada batang Pleomele angustifolia (plantcell.org, 2017)

Hasil foto yang berbeda dengan sebelumnya disebabkan oleh pergesaran posisi preparat.

Gambar 4.1.20 Kristal pada batang Gambar 4.1.8 Kristal pada batang Pleomele

Pleomele angustifolia diberi cuka

angustifolia diberi cuka (Perbesaran 400x)

(plantcell.org, 2017)

(Dokumentasi pribadi, 2017)

Perbesaran dan pewarnaan menyebabkan perbedaan antara hasil pengamatan dan literatur.

Gambar 4.1.21 Penampang tangkai daun Gambar 4.1.9 Penampang tangkai daun

Carica papaya

Carica papaya (Perbesaran 400x)

(plantcell.org, 2017)

(Dokumentasi pribadi, 2017)

Perbesaran pada gambar literature lebih tinggi dari perbesaran foto hasil pengamatan.

Gambar 4.1.22 Penampang batang Carica Gambar 4.1.10 Penampang batang Carica papaya diberi cuka (Perbesaran 100x)

papaya diberi cuka (Fakultas farmasi Unair, 2017)

(Dokumentasi pribadi, 2017)

Konsentrasi pigmen ungu pada foto literatur lebih tinggi dari foto hasil pengamatan sehingga terlihat berwarna lebih ungu. Gambar 4.1.23 Penampang abaxial daun Gambar 4.1.11 Penampang abaxial daun

Rhoeo discolor

Rhoeo discolor (Perbesaran 100x)

(plantcell.org, 2017)

(Dokumentasi pribadi, 2017)

Perbesaran pada foto literatur lebih tinggi sehingga keadaan lepasnya membrane dari dinding sel terlihat lebih jelas. Gambar 4.1.24 Penampang abaxial daun Rhoeo discolor diberi larutan gula Gambar 4.1.12 Penampang abaxial daun

(plantcell.org, 2017)

Rhoeo discolor diberi larutan gula (Perbesaran 100x) (Dokumentasi pribadi, 2017)

4.1.2 4.2

Hasil Perhitungan Pengenceran Pembahasan Pada pengamatan aliran sitoplasma sel daun Hydrilla memiliki

pergerakan stoplasma rotasi sedangkan aliran sitoplasma pada sel-sel helai rambut filament bunga Rhoeo discolor adalah sirkuler. Pergerakan sitoplasma bertujuan untuk transportasi organel dalam sel tumbuhan. Perbedaan aliran searah (rotasi) dan dua arah (sirkuler) disebabkan oleh perbedaan antara struktur sel-sel itu sendiri (Ridge, 1991). Hasil pengamatan rambut filament bunga Rhoeo discolor terlihat lebih pucat dibandingkan literature karena tidak diberi pewarna. Hasil pengamatan pada preparat Hydrilla lebih terang dari literatur disebabkan oleh pengaturan cahaya pada mikroskop yang lebih terang. Pada pengamatan pati pada kentang (Solanum tuberosum), umbi kentang digerus terlebih dahulu kemudian hasi gerusan diamati dibawah mikroskop. Pemberian I2KI pada preparat dimaksudkan agar gugus oksalat pada karbohidrat pati bereaksi dengan ion iodine sehingga menhasilkan warna ungu. Pati pada kentang yang diamati berupa bulatan-bulatan lamela yang berbentuk tunggal, majemuk dan peralihan tunggal majemuk. Pati pada umbi kentang literatur diberi pewarna tambahan yang menyebabkan terlihat lebih gelap. Pati kentang tersusun dari

karbohidrat amilosa dan amilopektin sebagai hasil metabolit primer tumbuhan kentang (Ridge, 1991). Kristal pada batang daun papaya (Carica papaya) berbentuk drus dan kristal pada batang suji (Pleomele angustifolia) berbentuk sperti jarum (rafida). Keduanya tidak larut tidak larut dalam larutan cuka karena komponen penyususnnya berupa senyawa kalsium oksalat bukan kalsium karbonat. Kristal pada daun Ficus elastica berbentuk hitam dan bulat (sistolit) terdiri dari senyawa kalsium karbonat sehingga larut dalam pemberian cuka (Salisburg, 1978). Reaksi larutan cuka dengan kalsium karbonat adalah sebagai berikut: CH3COOH + CaCO3 → Ca(CH3COO)2 + H2O + CO2. Perbedaan yang signifikan antara foto hasil pengamatan dengan foto literature dikarenakan foto preparat pada literatur dilengkapi oleh pewarnaan. Selain itu pencahayaan yang berbeda juga berpengaruh terhadap hasil pengamatan. Sel-sel pada epidermis daun Rhoeo discolor mengalami plasmolisis setelah diberi larutan gula yang bertujuan menghasilkan lingkungan yang hipertonik bagi sel. Hal ini dapat dilihat pada perubahan warna pada cairan intra sel menjadi ungu karena semakin pekat yang diakibatkan keluarnya air dari dlam sel keluar. Keadaan dapat dikembalikan dengan menyamakan konsentrasi larutan antara cairan dalam dengan cairan luar sel dengan pemberian air (reversibilitas) (Ridge, 1991). Perbedaan pada keadaan sebelum diberi larutan hipertonik antara foto literatur dan pengamatan disebakan karena konsentrasi pigmen ungu pada foto literatur lebih tinggi dari foto hasil pengamatan sehingga terlihat berwarna lebih ungu. Sedangkan pada keadaan setelah diberi larutan hipertonik, perbedaan hasil disebabkan karena perbesaran pada foto literatur lebih tinggi sehingga keadaan lepasnya membran dari dinding sel terlihat lebih jelas. Lepasnya air dari sitoplasma juga berpengaruh terhadap turgiditas sel (turgiditas sel menurun).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan Berdasarkan

hasil

praktikum

Pengenalan

Mikroskop,

Aliran

Sitoplasma, Zat Ergastik, Prinsip Larutan dan Plasmolisis dapat disimpulkan bahwa:

1. Jenis aliran plasma yang teramati yaitu searah (rotasi) pada daun Hydrila dan aliran sirkuler pada helai rambut filamen bunga Rhoeo discolor. 2. Pada umbi kentang (Solanum tuberosum), pati didepositkan dalam bentuk lamella tunggal, majemuk dan peralihan tunggal majemuk. Amilosa dalam pati bereaksi dengan ion iodin dalam I2KI menyebabkan warna ungu. Kristal drus pada batang daun papaya (Carica papaya) dan kristal rafida pada batang suji (Pleomele angustifolia) tidak larut dalam larutan cuka karena komponen penyususnnya berupa senyawa kalsium oksalat bukan kalsium karbonat. Kristal sistolit pada daun Ficus elastica terdiri dari senyawa kalsium karbonat sehingga larut dalam pemberian cuka. 3. Sel-sel pada daun Rhoeo discolor mengalami plasmolisis setelah diberi larutan gula. Hal ini dapat dilihat pada perubahan warna pada cairan intra sel menjadi ungu karena semakin pekat yang diakibatkan keluarnya air dari dlam sel keluar. Keadaan dapat dikembalikan dengan menyamakan konsentrasi larutan antara cairan dalam dengan cairan luar sel dengan pemberian air (reversibilitas). 5.1

Saran Saran kepada praktikan dalam pembutan preparat agar lebih berhatihati dalam menempelkan cover glass dengan kaca preparat agar tidak terbentuk gelembung udara dan kontaminasi partikel pengotor.

DAFTAR PUSTAKA

Pramesti, H, T. 2000. Mikroskop dan Sel FK. Unlam. Banjarbaru. Bidwell, R.G.S. 1979. Plant Physiology, Collier MacMillan Publ. NY. Campbell, Reece, Urry, Peterson, Wasserman, Minorsky, Jackson. 2008. Biology Concept and Connection 7th. New York: Pearson International. Cleon w. Ross, 1970. Plant Physiology Laboratory Manual , Wadsworth Publ.Comp. Inc. California Giese, A. 1979. Cell Physiology, W.B. Saunders Comp. Tokyo Hall, M.A. (ed). 1976. Plant Structure, Function and Adaptation. The English Language Book Socie. and Macmillan Hess, Dieter. 1975. Plant Physiology. Toppan Comp. Pt. Ltd. Singapore Johnson. 1985. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM

Koesmadji Wirjosoemarto, dkk. 2008. Tth. Teknik Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.

Laboratorium.

Ridge, I. 1991. Plant Physiology. Hodder & Stoughton: Open Univ. Salisbury F.B & C.W. Ross. 1978. Plant Physiology, Wadsworth Publ. Comp. California.

View more...

Comments

Copyright ©2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF