Laporan PKL Farmakognosi.docx

August 9, 2018 | Author: YatyIbrahim | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

Download Laporan PKL Farmakognosi.docx...

Description

BAB I PENDAHULUAN I.1

Latar Belakang

Farmasi adalah ilmu atau seni yang mempelajari tentang peracikan dan pembuatan obat. Dalam dunia farmasi ada beberapa ilmu yang digunakan untuk mendukung pembuatan pembuatan dan peracikan obat tersebut, salah satunya adalah farmakognosi. Farmakognosi merupakan salah satu ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian tanaman atau hewan yang dapat digunakan sebagai obat alami yang telah melewati berbagai macam uji seperti uji farmakodinamik, uji toksikologi dan uji biofarmasetika. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan modern yang semakin  pesat dan canggih di zaman sekarang ini, ternyata tidak mampu menggeser atau mengesampingkan begitu saja obat tradisional, tetapi justru hidup  berdampingan dan saling melengkapi. Hal ini terbukti dari banyaknya  peminat pengobatan tradisional. Namun yang menjadi masalah dan kesulitan

bagi

para

peminat

 pengetahuan dan informasi

obat

tradisional

adalah

kurangnya

yang memadai mengenai berbagai jenis

tumbuhan yang dipakai sebagai obat tradisional untuk pengobatan  penyakit tertentu ( Dalimartha, 2000). Prospek pengembangan produksi tanaman obat semakin pesat saja mengingat perkembangan indunstri obat modern dan obat tardisional terus meningkat.kondisi ini terus dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat yang semakin meningkat tentang manfaat tanaman sebagai obat.masyarakat semakin sadar akan pentingnya kembali ke alam (back ( back to nature) nature) dengan memanfaatkan obat-obat alami. Banyak masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan dengan mengonsumsi produk alami ( djauhariya dan hernani, 2004). Memang obat modern berkembang cukup pesat, namun potensi obat tradisional terutama yang berasal dari tumbuhan tetap tinggi. Hal ini disebabkan obat tradisional dapat diperoleh tanpa resep dokter,dapat

1

diramu sendiri, bahan baku tidak perlu diimpor, dan tanaman obat dapat ditanam sendiri oleh pemakainya ( Djauhariya dan Hernani, 2004). Tumbuhan merupakan gudang berbagai jenis senyawa kimia serta  beragam jenis sifat atau ciri-ciri yang dimilikinya yang dimanfaatkan sebagai suatu tumbuhan obat. Hal semacam ini mempunyai hubungan yang baikdengan objek yang dituju dalam hal ini manusia yang kemudian dimanfaatkan untuk dikembangbiakkan atau dibudidayakan sebagai suatu usaha atau bisnis tumbuhan obat yang dapat mendatangkan banyak keuntungan serta memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat khususnya sebagai konsumen. Beragam upaya pun dilakukan dalam pencarian tumbuhan  berkhasiat obat dimulai dari mengidentifikasi kandungan zat kimia apa di dalamnya

serta

bentuk

morfologi

dari

tumbuhan

tersebut

yang

memberikan ciri khas. Namun, tidak semua pula tumbuhan berkhasiat yang memberikan ciri khas itu dapat dikategorikan sebagai tumbuhan  berkhasiat obat. Oleh karena itu diadakannya praktek kerja lapangan ini untuk mengetahui berbagai macam tumbuhan berkhasiat. I.2

Tujuan Percobaan

1. Memahami dan mengetahui tekhnik pembuatan simplisia sebagai bahan obat 2. Memahami dan mengetahui tanaman yang dapat dijadikan simplisia. I.3

Manfaat

1. Mahasiswa mampu mengetahui tekhnik pembuatan simplisia sebagai  bahan obat. 2. Mahasiswa mampu mengetahui tanaman yang dapat dijadikan simplisia.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1

Uraian Lokasi PKL

Pelaksanaan PKL kali ini diikuti oleh angkatan 2013 baik S1 maupun D3 jurusan Farmasi. Seluruh peserta menempati rumah warga yang dibagi dalam 12 posko. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 17-20 Juni 2014 di desa Taludaa, kecamatan Bone Pantai, kabupaten Bone Bolango, provinsi Gorontalo. Desa itu masih terlihat asri dan sejuk serta dikelilingi oleh gunung, dan pesisir pantai, bahkan lokasi posko kami tepat  berhadapan dengan pantai. Oleh karena itu suhu disana terasa dingin. Karena di Taludaa dikelilingi oleh gunung-gunung, maka tidak heran apabila di desa ini terdapat banyak tanaman obat, baik itu terdapat di  pekarangan rumah warga maupun yang terdapat di gunung. Beberapa jenis tanaman yang terdapat di daerah ini memiliki fungsi dan khasiat yang sangat baik untuk dijadikan bahan obat yang dibuat dalam bentuk simplisia. Suasana di desa Taludaa sangat nyaman, masyarakat di desa tersebut sangat ramah dan mereka menerima kedatangan kami dengan  baik. II.2

Uraian Tentang Simplisia

II.2.1 Pengertian Simplisia Simpisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai obat yang  belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain berupa  bahan yang telah dikeringkan (Dirjen POM,1979). II.2.2 Penggolongan Simplisia Simplisia terbagi 3 golongan yaitu (Team teaching, 2014): 1.

Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman dan eksudat tanaman. Eskudat tanaman ialah isi yang spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang dikeluarkan dari selnya, dengan cara tertentu atau zat yang dipisahkan dari tanamannya dengan cara tertentu yang masih belum berupa zat kimia murni.

3

2.

Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.

3.

Simplisia mineral adalah simplisia yang berupa bahan pelican (mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni. Selain ketiga jenis simplisia diatas juga terdapat hal lain, yaitu  benda organik asing yang disingkat benda asing, adalah satu atau keseluruhan dari apa-apa yang disebut dibawah ini (Amin, 2010): 1.

Fragmen, merupakan bagian tanaman asal simplisia selain bagian tanaman yang disebut dalam paparan makroskopik, atau bagian sedemikian nilai batasnya disebut monografi.

2.

Hewan hewan asing, merupakan zat yang dikeluarkan oleh hewan, kotoran hewan, batu tanah atau pengotor lainnya. Kecuali yang dinyatakan lain, yang dimaksudkan dengan benda

asing pada simplisia nabati adalah benda asing yang berasal dari tanaman. Simplisia nabati harus bebas serangga, fragme hewan, atau kotoran hewan tidak boleh menyimpang bau dan warnanya, tidak  boleh mengandung lendir, atau cendawan, atau menunjukkan adanya zat pengotor lainnya.Pada perhitunganpenetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam, kadar abu yang larut dalam air , sari yang larut dalam air, atau sari yang larut dalam etanol didasarkan pada simplisia yang belum ditetapkan susut pengeringannya.Sedangkan susut  pengering sendiri adalah banyaknya bagian zat yang mudah menguap termasuk air, tetapkan dengan cara pengeringan, kecuali dinyatakan lain, dilakukan pada suhu 150 oC hingga bobot tetap. II.2.3 Cara Pembuatan Simplisia Pembuatan simplisia merupakan proses memperoleh simplisia dari alam yang baik dan memenuhi syarat-syarat mutu yang dikehendaki, dengan langkah langkah sebagi berikut (Team teaching, 2014):

4

1.

Teknik pengumpulan Pengumpulan atau panen dapat dilakukan dengan tangan atau menggunakan alat (mesin).Apabila pengambilan dilakukan secara langsung (pemetikan) maka harus memperhatikan keterampilan si  pemetik, agar diperoleh tanaman/bagian tanaman yang dikehendaki, misalnya dikehendaki daun yang muda, maka daun yang tua jangan dipetik dan jangan merusak bagian tanaman lainnya.misalnya jangan menggunakan alat yang terbuat dari logam untuk simplisia yang mengandung senyawa fenol dan glikosa. a. Waktu pengumpulan atau panen Kadar kandungan zat aktif suatu simplisia ditentukan oleh waktu panen, umur tanaman, bagian tanaman yang diambil dan lingkungan

tempat

tumbuhnya,

pada

umumnya

waktu

 pengumpulan sebagai berikut : 1)

Daun dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga dan sebelum  buah menjadi masak, contohnya, daun Athropa belladonna mencapai kadar alkaloid tertinggi pada pucuk tanaman saat mulai berbunga. Tanaman yang berfotosintesis diambil daunnya saat reaksi fotosintesis sempurna yaitu pukul 09.0012.00.

2)

Bunga dikumpulkan sebelum atau segera setelah mekar.

3)

Buah dipetik dalam keadaan tua, kecuali buah mengkudu dipetik sebelum buah masak.

4)

Biji dikumpulkan dari buah yang masak sempurna.

5)

Akar, rimpang (rhizome), umbi (tuber) dan umbi lapis (bulbus),

dikumpulkan

sewaktu

proses

pertumbuhannya

 berhenti.  b. Bagian Tanaman 1)

Klika batang/klika/korteks Klika diambil dari batang utama dan cabang, dikelupas dengan ukuran panjang dan lebar tertentu, sebaliknya dengan

5

cara berselang-seling dan sebelum jaringan kambiumnya, untuk klika yang mengandung minyak atsiri atau senyawa fenol gunakan alat pengelupas yang bukan terbuat dari logam. 2)

Batang (Caulis) Batang diambil dari cabang utama sampai leher akar, dipotong-potong dengan panjang dan diameter tertentu.

3)

Kayu (Lignum) Kayu diambil dari batang atau cabang, kelupas kuliltnya dan potong-potong kecil.

4)

Daun (Folium) Daun tua atau muda (daun kelima dari pucuk) dipetik satu persatu secara manual.

5)

Bunga (Flos) Tergantung yang dimaksud, dapat berupa kuncup atau  bunga mekar atau mahkota bunga atau daun bunga, dapat dipetik langsung dengan tangan.

6)

Akar (Radix) Bagian yang digunakan adalah bagian yang berada di  bawah permukaan tanah, dipotong-potong dengan ukuran tertentu.

7)

Rimpang (Rhizoma) Tanaman dicabut, rimpang diambil dan dibersihkan dari akar, dipotong melintang dengan ketebalan tertentu.

8)

Buah (Fructus) Dapat berupa buah yang masak, matang atau buah muda, dipetik dengan tangan.

9)

Biji (Semen) Buah yang dikupas kulit buahnya menggunakan tangan atau alat, biji dikumpulkan dan dicuci.

6

10) Bulbus Tanaman dicabut, bulbus dipisahkan dari daun dan akar dengan memotongnya. 2.

Pencucian dan Sortasi Basah Pencucian dan sortasi basah dimaksudkan untuk membersihkan simplisia dari benda-benda asing dari luar (tanah, batu dan sebagainya),

dan

memisahkan

bagian

tanaman

yang

tidak

dikehendaki.Pencucian dilakukan bagi simplisia utamanya bagian tanaman yang berada di bawah tanah (akar, rimpang,), untuk membersihkan simplisia dari sisa-sisa tanah yang melekat. 3.

Perajangan Perajangan dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan dan pewadahan setelah dicuci dan dibersihkan dari kotoran atau benda asing, materi/sampel dijemur dulu ±1 hari kemudian dipotong-potong kecil dengan ukuran antara 0,25-0,06 cm yang setara dengan ayakan 4/18 (tergantung jenis simplisia). Pembuatan serbuk simplisia kecuali dinyatakan lain, seluruh simplisia harus dihaluskan menjadi serbuk (4/18). Semakin tipis perajangan maka semakin cepat proses  pengeringan kecuali tanaman yang mengandung minyak menguap  perajangan tidak boleh terlalu tipis karena menyebabkan berkurangnya atau hilangnya zat aktif. Sebaliknya bila perajangan terlalu tebal  pengeringannya lama dan mudah berjamur.

4.

Pengeringan Tujuan pengeringan pada tanaman atau bagian tanaman adalah : 1. Untuk mendapatkan simplisia yang awet, tidak rusak dan dapat digunakan dalam jangka relatif lama. 2. Mengurangi kadar air, sehingga mencegah terjadinya pembusukan oleh jamur atau bakteri karena terhentinya proses enzimatik dalam  jaringan tumbuhan yang selnya telah mati. Agar reaksi enzimatik tidak dapat berlangsung, kadar air yang dainjurkan adalah kurang dari 10 %.

7

3. Mudah dalam penyimpanan dan mudah dihaluskan bila ingin dibuat serbuk. a. Pengeringan alamiah Tergantung

dari

kandungan

zat

aktif

simplisia,

 pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: 1. Sinar matahari langsung, terutama pada bagian tanaman yang keras (kayu, kulit biji, biji dan sebagainya) dan mengandung zat aktif yang relatif stabil oleh panas) 2. Diangin-anginkan dan tidak terkena sinar matahari secara langsung, umumnya untuk simplisia bertekstur lunak (bunga, daun dan lain-lain) dan zat aktif yang dikandungnya tidak stabil oleh panas (minyak atsiri).  b. Pengeringan buatan Cara pengeringan dengan ,menggunakan alat yang dapat diatur suhu, kelembaban, tekanan atau sirkulasi udaranya. 5.

Pewadahan dan penyimpanan simplisia Sortasi

kering

dilakukan

sebelum

pewadahan

simplisia

 bertujuan memisahkan sisa-sisa benda asing atau bagian tanaman yang tidak

dikehendaki

yang

tidak

tersortir

pada

saat

sortasi

 basah.Simplisia yang diperoleh diberi wadah yang baik dan disimpan  pada tempat

yang dapat menjamin terpeliharanya mutu dari

simplisia.Wadah terbuat dari plastik tebal atau gelas yang berwarna gelap dan tertutup kedap memberikan suatu jaminan yang memadai terhadap isinya, wadah dari logam tidak dianjurkan agar tidak  berpengaruh terhadap simplisia. Ruangan penyimpanan simplisia harus diperhatikan suhu, kelembaban udara dan sirkulasi udara ruangannya.

8

II.3

Uraian Tanaman

II.3.1 Keji beling (Dalimartha, 2006) a.

 b.

Klasifikasi Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Scrophulariales

Famili

: Acanthaceae

Genus

: Hemigraphis

Spesies

: Hemigraphis alternata

Kandungan Kimia Keji beling (Strobilanthes cripus) mengandung zat kimia yang  baik bagi kesehatan antar lain kalium, narium, kalsium, asam silikat, alkaloida, saponin, flavonoida dan polilenoi.

c.

Manfaat Manfaat keji beling antara lain mengobati kencing batu, obat sembelit, mengobati kencing manis, mengobati diabetes mellitus.

II.3.2 Daun coklat (Dalimartha, 2006) a.

Klasifikasi Tanaman coklat

 b.

Divisi

: Spermatophyta

Anak Divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Anak Kelas

: Dialypetalae

Bangsa

: Malvales

Suku

: Sterculiaceae

Marga

: Theobroma

Jenis

: Theobroma cacao L.

Kandungan Kimia Cokelat terbuat dari biji cocoa yang kaya akan senyawa  beraroma bernama  falovonoids, yang juga terdapat di daun teh,

9

kebanyakan buah-buahan dan sayur-sayuran. Sampai saat ini, lebih dari 4000 macam flavonoid yang telah diidentifikasikan. Tumbuhtumbuhan mensintesis senyawa yang dapat larut dalam air ini dari asam amino phenylalanine  dan asetat . Flavonoids berperan sebagai antioksida, menetralkan efek-efek buruk dari radikal bebas  yang dapat menghancurkan sel-sel dan jaringan-jaringan tubuh. Satu setengah ons batang cokelat hitam kira-kira memiliki 800 miligram antioksida, kira-kira sama jumlahnya seperti yang terdapat di dalam secangkir teh hitam. Karbohidrat yang dibentuk oleh senyawa kimia dalam coklat menghasilkan serotonin, yang membantu stimulasi otak sehingga kita merasa santai dan tenang. Dengan mengonsumsi coklat, tubuh akan menghasilkan antioksidan  yang   membantu mencegah serangan  jantung dan mempertahankan daya tahan tubuh. Peneliti dari Univeristy California menemukan kandungan senyawa  flavan-3-ols  dalam coklat yang terbukti dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. c. Manfaat Beberapa manfaat cokelat dunia pengobatan masih menjadi  bahan penelitian di dunia saat ini. Di antaranya adalah: 1. Mengobati Batuk Theobromine

dalam

cokelat

disinyalir

berfungsi

menyembuhkan batuk secara lebih baik dibandingkan obat batuk. 2. Mengurangi Resiko Stroke Penelitian dari Universitas California mengungkapkan  bahwa cokelat memiliki pengaruh yang sama dengan aspirin sebagai anti pembekuan darah. Cokelat membantu mencegah  pembekuan darah, sehingga mengurangi resiko terjadinya stroke. 3. Mencegah tekanan darah tinggi Senyawa

flavanol

(antioksidan)

dalam

cokelat

diindikasikan dapat membantu mencegah tekanan darah tinggi.

10

II.3.3 Temulawak (Dalimartha, 2006) a.

 b.

Klasifikasi Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Monocotyledonae

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberaceae

Genus

: Curcuma

Spesies

: Curcuma xanthorrhiza

Kandungan kimia Dari hasil tes uji yang dilakukan oleh Balai penelitian tanaman dan obat, diperoleh sejumlah zat / senyawa dalam rimpang temulawak antara lain : Air 19,98%, pati 41,45%, serat 12,62%, abu 4,62%, abu tak larut asam 0,56%, sari air 10,96%, sari alkohol 9,48%, dan kurkumin 2,29%.Dari hasil pengujian tersebut, ditemukan juga kandungan alkaloid, flavonoid, fenolik, triterpennoid, glikosida tannin, saponin dan steroid Selain itu, terdapat juga kandungan minyak atsiri sebesar 3,81%, meliputi : d-kamfer, sikloisoren, mirsen,p-toluil metikarbinol,  pati, d-kamfer, siklo isoren, mirsen, p-toluil metilkarbinol, falandren,  borneol,

tumerol,

xanthorrhizol,

sineol,

isofuranogermakren,

zingiberen, zingeberol, turmeron, artmeron, sabinen, germakron, dan atlantone. c. Manfaat 1. Penambah Nafsu Makan Kandungan minyak atsiri dalam temulawak ternyata memberikan

efek

karminativum,

sehingga

mengkonsumsi

temulawak dapat berguna untuk meningkatkan nafsu makan. Inilah alasan mengapa temulawak sangat dianjurkan untuk dikonsumsi anak-anak. 2. Mengobati Sakit Maag

11

Kandungan serbuk rimpang ternyata mempunyai khasiat untuk memperbaiki dan menetralkan produksi asam lambung. Bahkan maag akut sekalipun akan berangsur-angsur sembuh jika kita telaten meminum air sari temulawak. 3. Menjaga Kesehatan Organ Hati Rimpang temulawak memiliki efek hepatoprotektor yaitu sebagai detoksin (anti racun) pada organ hati manusia. 4. Memperbanyak Produksi ASI 5. Menghilangkan Jerawat 6. Mengatasi Gangguan Ginjal II.3.4 Kumis kucing (Dalimartha, 2006) a.

Klasifikasi Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Lamiales

Famili

: Lamiaceae

Genus

: Orthosiphon

Spesies

: Orthosiphon aristatus

 b. Manfaat Kumis

kucing

dapat

digunakan

untuk

memperlancar

 pengeluaran air kemih (diuretik), rematik, batuk, masuk angin, sembelit, sakit pinggang, anti radang, radang ginjal, batu ginjal, kencing manis, albumiria, syphilis, hipertensi, infeksi ginjal akut dan kronis, kencing manis, kencing batu, menghilangkan panas dan lembab, infeksi kandung kemih (Cystitis), encok (Gout arthritis), nyeri sendi, kencing berdarah, dan asam urat.

12

II.3.5 Sambung nyawa (Dalimartha, 2006) a.

 b.

Klasifikasi Divisio

: Spermatophyta

Subdivisio

: Angiospermae

Class

: Dicotyledoneae

Ordo

: Asterales (Campanulatae)

Familia

: Asteraceae

Genus

: Gynura

Species

: Gynura procumbens (Lour) Merr

Kandungan kimia Tanaman sambung nyawa mengandung flavonoid, sterol tak  jenuh, triterpenoid, polifenol, tanin, saponin, steroid, asam klorogenat, asam kafeat, asam vanilat, asam para kumarat, asam para hidroksi  benzoat, dan minyak atsiri. Lebih spesifik lagi, dari hasil uji isolasi flavonoid dilaporkan keberadaan 2 macam senyawa flavonoid, yaitu kaemferol (suatu flavonol), flavonol, dan auron. Diduga juga keberadaan isoflavon dengan gugus hidroksil pada posisi 6 atau 7, 8 (cincin A) tanpa gugus hidroksil pada cincin B.

c.

Manfaat Secara tradisional, sambung nyawa digunakan sebagai obat  penyakit ginjal, infeksi kerongkongan, menghentikan pendarahan, dan  penawar racun akibat gigitan binatang berbisa. Skrining fitokimia daun sambung nyawa diduga berkhasiat sebagai anti kanker, antara lain kanker kandungan, kanker payudara, dan kanker darah.

II.3.6 Sirih (Dalimartha, 2006) a.

Klasifikasi Kingdom

: Plantae.

Division

: Magnoliophyta.

Class

: Magnoliopsida.

Ordo

: Piperales.

Family

: Piperaceae.

13

 b.

Genus

: Piper.

Species

: P. Betle

Kandungan kimia Tanaman sirih, terutama pada bagian daunnya, mengandung sejumlah zat yang dapat memberikan beberapa manfaat bagi manusia. Daun sirih memiliki rasa dan aroma khas, yaitu rasa pedas dan bau yang tajam. Rasa dan aroma ini disebabkan dari kavikol dan  bethelphenol dalam minyak asitri yg terkandung didalam daun sirih. Selain itu juga, rasa dan aroma ini juga dipengaruhi oleh jenis sirih itu sendiri, umur tanaman, jumlah intensitas sinar matahari yang sampai kebagian daun, serta kondisi dari daun. Secara umum, daun sirih mengandung minyak asitri yang berisikan senyawa kimia seperti  fenol  serta senyawa turunannya antara lain kavikol, kavibetol, eugenol, karvacol, dan allipyrocatechol . Kandungan daun sirih lainnya yaitu karoren, asam nikotinat, riboflavin, tiamin, vitamin C, gula, tannin,  patin dan asam amino.

c.

Manfaat 1. Air rebusan daun sirih dapat digunakan untuk membersihkan mata. 2. Daun sirih juga dapat menghilangkan bau ketiak. 3. Bisa untuk mengobati gigi dan gusi bengkak. Daun sirih hijau, dipercaya bisa untuk mengobati keputihan. 4. Mampu mengobati luka bakar. 5. Menghilangkan gatal-gatal di kulit. 6. Daun Sirih Hijau juga bisa untuk mengobati eksim, atau penyakit kulit lainnya. 7. Cairan daun Sirih hijau, bisa untuk obat semprot hama dan tidak mematikan tanaman. Penyakit dan kutu yang menyerang tanaman  bisa sirna. 8. Sirih Hhijau, daunnya juga dipercaya bisa untuk mengobati demam berdarah.

14

9. Daun sirih mampu untuk mengobati Asma 10. Daun sirih mampu mengobati radang tenggorokan II.3.7 Jambu biji (Dalimartha, 2006) a.

 b.

Klasifikasi Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Myrtales

Famili

: Myrtaceae

Genus

: Psidium

Spesies

: Psidium guajava L

Kandungan kimia Buah, daun, dan kulit batang pohon jambu biji mengandung tanin, sedang pada bunganya tidak banyak mengandung tanin. Daun  jambu biji juga mengandung zat lain kecuali tannin, seperti minyak atsiri, asam ursolat, asam psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam guajaverin dan vitamin. Kandungan buah jambu biji (dalam 100 gr), yaitu Kalori 49 kal; Vitamin A 25 SI; Vitamin B1 0,02 mg; Vitamin C 87 mg; Kalsium 14 mg; Hidrat Arang 12,2 gram; Fosfor 28 mg; Besi 1,1 mg; Protein 0,9 mg; Lemak 0,3 gram; dan Air 86 gram.

c.

Manfaat Pada jambu biji mengandung tannin, yang menimbulkan rasa sepat pada buah yang berfungsi untuk memperlancar sistem  pencernaan, sirkulasi darah, dan berguna untuk menyerang virus. Jambu biji juga mengandung kalium yang berfungsi meningkatkan keteraturan denyut jantung, mengaktifkan kontraksi otot, mengatur  pengiriman zat-zat gizi lainnya ke sel-sel tubuh, mengendalikan keseimbangan cairan pada jaringan dan sel tubuh serta menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida darah, serta menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi). Menurut Dr. James Cerda dengan memakan  jambu biji 0,5  –   1 kg /hari selama 4 minggu resiko terkena penyakit

15

 jantung dapat berkurang sebesar 16 %. Dalam jambu biji juga ditemukan likopen yaitu zat nirgizi potensial lain selain serat. Likopen adalah karatenoid (pigmen penting dalam tanaman) yang terdapat dalam darah (0,5 mol per liter darah) serta memiliki aktivitas anti oksidan. Riset-riset epidemologis likopen pada studi yang dilakukan  peneliti Itali, mencakup 2.706 kasus kanker rongga mulut, tekek, kerongkongan, lambung, usus besar dan dubur, jika mengkonsumsi likopen yang meningkat, khususnya pada jambu biji yang daging  buahnya berwarna

merah,

berbiji

banyak

dan berasa

manis

mempunyai efek memberikan perlindungan pada tubuh dari beberapa  jenis kanker. II.4

Uraian Kegiatan PKL

Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) farmakognosi angkatan 2013 dilaksanakan di desa Taludaa, kecamatan Bone Pantai, pada tanggal 17-20 Juni 2014. Kegiatan ini diawali dengan persiapan keberangkatan  pada pukul 07.00 WITA di kampus 3 FIKK. Setelah itu menuju ke lokasi menggunakan mobil angkutan yang perjalananya menyita waktu 5 jam. Tiba di lokasi Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) tepat pukul 12.00 WITA. Saat tiba di lokasi, kami diguyur hujan sehingga acara penyambutan oleh jajaran pemerintah desa Taludaa ditiadakan. Seluruh peserta segera dikerahkan

ke

posko

masing-masing.

Selama

di

posko

peserta

diperintahkan untuk menyiapkan dan mengatur barang-barang serta alat yang akan dipakai untuk mencari sampel simplisia keesokan harinya. Rabu, 18 Juni 2014 pukul 07.00 WITA, para peserta PKL berkumpul di lapangan desa Taludaa untuk persiapan pengambilan sampel. Peserta PKL berangkat ke lokasi pengambilan sampel yang diarahkan oleh asisten masing-masing pada pukul 07.30. Setelah semua sampel diperoleh yaitu daun papaya, daun sirsak, daun pisang, dan daun alvokad, para peserta PKL kembali ke posko masing-masing tepat pada pukul 12:00 WITA, yang dilanjutkan dengan pengolahan sampel sampai pukul 16.30 WITA.

16

Kemudian pukul 19.00 WITA seluruh peserta berkumpul di posko utama untuk diresponsi umum. Pada pukul 22.00 WITA peserta kembali ke posko masing-masing untuk istrahat dan mempersiapkan diri untuk kegiatan  besok. Kamis, 19 Juni 2014 pukul 06.00 WITA, para peserta PKL melaksanakan senam pagi di lapangan desa Taludaa. Setelah senam pagi,  pada pukul 09.00-12.00 WITA para peserta mengikuti kegiatan penanaman apotik hidup dan tanaman obat keluarga di kebun yang telah disiapkan. Kegiatan selanjutnya pada pukul 13.00 WITA

adalah lomba menu

masakan sederhana sampai pada pukul 17.00 WITA. Setelah itu para  peserta melakukan persiapan untuk kegiatan malam inagurasi. Tepat pukul 19.00 WITA acara malam inagurasi dilangsungkan dengan berbagai  penampilan dari tiap-tiap kelompok PKL yang berlangsung sampai pukul 23.00 WITA. Jumat, 20 Juni 2014 pukul 07.00 WITA seluruh peserta mengepak dan mengatur barang-barang untuk kembali ke lingkungan FIKK. Tetapi sebelum itu para peserta

berfoto bersama dengan pemilik rumah atau

 posko yang ditempati serta memberikan bingkisan sebagai cendra mata dan tanda terima kasih. Setelah itu, pada pukul 08.00 WITA seluruh  peserta dikumpulkan di lapangan desa Taludaaa dan kembali ke lingkungan FIKK.

17

BAB III METODE PEMBUATAN SIMPLISIA III.1

Alat dan Bahan

1. Alat

Gambar 1. Gunting

Gambar 2. Cutter

Gambar 3. Linggis

Gambar 4. Parang

Gambar 5. Wadah

18

2. Bahan

Gambar 1. Air

Gambar 2. Alkohol

Gambar 3. Kapas

Gambar 4. Kardus

Gambar 5. Koran

Gambar 6. Sasak Bambu

Gambar 7. Selotip

19

III.2

Cara Kerja

1)

Disiapkan sampel yang akan dibuat simplisia

2)

Disortasi basah sampel tersebut

3)

Dicuci sampel pada air yang mengalir

4)

Dilakukan perajangan pada sampel

5)

Dikeringkan sampel dengan bantuan matahari

6)

Disortasi kering

7)

Dipotong-potong sampel dan dibagi menjadi dua yaitu haksel dan serbuk

8)

Diblender sampel sampai menjadi serbuk

9)

Diayak serbuk sampai mendapatkan serbuk yang paling halus

10) Dimasukkan serbuk ke dalam pot salep dan haksel dimasukkan dalam toples kaca 11) Diberi etiket

20

BAB IV PEMBAHASAN

Obat tradisional adalah obat yang berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan, hewan,mineral, atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang belum mempunyai data klinis dan dipergunakan dalam usaha pengobatan. Obat tradisional juga dikatakan campuran kompleks dari ekstrak tanaman dan insekta berbentuk amorf atau padat yang dibentuk dalam ruang-ruang zkizogen dan zlikozigen (Team teaching, 2014) Obat tradisional dalam masyarakat selain memiliki keuntungan juga memiliki kerugian. Adapun keuntungan dari obat tradisional yaitu diperoleh atau didapatkan, harganya terjangkau, efek samping yang ditimbulkan tidak terlalu  berbahaya bahkan tidak menimbulkan efek samping sama sekali (Team teaching, 2014) Kerugian obat tradisional yaitu tidak praktis dalam penggunaannya,  penggunaan obat tradisional dalam tubuh menimbulkan reaksi yang lambat. Survey mengenai inventarisasi tanaman obat bertujuan agar kita mendapatkan informasi keanekaragaman obat yang ada pada suatu wilayah, mendapatkan informasi teknik dan cara penggunaan tanaman obat untuk  pengobatan tradisional dan masyarakat terhadap obat tradisional. Survey ini diadakan guna mengetahui bagaimana cara membudidayakan tanaman obat tradisional dan mengetahui penggolongan –   penggolongan dari tanaman obat tersebut beserta khasiat yang terkandung di dalam tanaman obat tradisional. Adapun hasil dari praktik kerja lapangan farmakognosi tentang obat tradisional di desa taluda’a, didapatkan berbagai jenis tanaman obat yang dipercaya khasiatnya oleh masyrakat sekitar. Tujuan utama praktik kerja lapangan ini yaitu untuk mendapatkan tanaman obat untuk dijadikan simplisia, dimana simplisia tersebut akan diuji dalam praktikum farmakognosi nantinya. Adapun  jenis-jenis tanaman obat yang diperoleh adalah daun pepaya, daun sirsak, daun  pisang, daun alvokat.

21

Cara pembuatan simplisia dari tanaman tersebut memiliki kemiripan secara umum yakni, hal pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan atau memanen bagian tanaman obat. Pemanenan pada beberapa bagian tanaman, pada  bagian daun dilakukan pada pagi hari dari pukul 09.00-12.00, bertujuan untuk menjaga kesegarannya karena pada waktu itulah terjadi proses fotosintetis terjadi dengan sempurna. Untuk bagian bunga dikumpulkan sebelum atau segera setelah mekar, buah dipanen dalam keadaan tua, kecuali buah mengkudu dipetik sebelum masak, biji dikumpulkan dari buah yang masak sempurna, dan bagian akar, rimpang, umbi, umbi lapis dikumpul sewaktu proses pertumbuhannya berhenti (Team teaching, 2014). Cara pengambilan tanaman berbeda pada setiap bagian, bagian kulit  batang atau kika diambil dari batang utama dan cabang, dikelupas dengan ukuran  panjang dan lebar tertentu, untuk bagian batang diambil dari cabang utama sampai leher akar, dipotong-potong dengan panjang dan diameter berbeda. Bagian Kayu diambil dari batang atau cabang, kelupas kulitnya dan potong-potong kecil. Bagian daun diambil daun tua (bukan daun kuning) daun kelima dari pucuk. Daun muda dipetik satu persatu secara manual. Bagian bunga dapat berupa kuncup atau  bunga mekar atau mahkota bunga, dapat dipetik langsung dengan tangan. Bagian akar diambil bagaian yang berada dibawah permukaan tanah, dipotong-potong dengan ukuran tertentu. Bagian rimpang dicabut dan dibersihkan dari akar, dipotong melintang dengan ketebalan tertentu. Buah dapat berupa buah yang masak, matang atau buah muda, dipetik dengan tangan. Biji diambil dari buah yang masak sempurna, dikupas kulitnya menggunakan tangan atau alat, biji dikumpulkan dan dicuci (Team teaching, 2014). Tahap berikutnya yaitu pencucian atau sortasi basah. Pencucian dan sortasi  basah dimaksudkan untuk membersihkan tanaman atau simplisia dari benda benda asing dari luar. Dan memisahkan bagian tanaman yang tidak dikehendaki. Tahap

berikutnya

yaitu

perajangan.

Perajangan

dilakukan

untuk

mempermudah proses pengeringan dan pewadahan. Setelah di cuci dan dibersihkan dari kotoran dan benda asing. Sampel di jemur dulu kurang lebih 1 hari kemudian di potong-potong kecil dengan ukuran antara 0,25-0,06 cm yang

22

setara dengan ayakan 4/18 (tergantung jemis simplisia). Semakin tipis perajangan maka semakin cepat proses pengeringan kecuali tanaman yang mengandung minyak menguap. Perajangan tidak boleh terlalu tipis karena menyebabkan  berkurangnya atau hilangnya zat aktif. Sebaliknya bila perajangan terlalu tebal  pengeringannya lama dan mudah berjamur (Team teaching, 2014). Setelah dirajang, kemudian simplisia dikeringkan, tujuan pengeringan ini yaitu untuk mendapatkan simplisia yang awet dan tahan lama, mengurangi kadar air, sehingga mencegah pertumbuhan mikroorganisme, mudah disimpan dan dihaluskan. Ada 2 cara pengeringan yaitu alami dan buatan. Cara alami berupa  pengeringan dengan sinar matahari langsung terutama bagian yang keras (kayu, kulit biji, biji) dan zat aktif relatif panas. Cara alami yang kedua yaitu dianginanginkan tanpa terkena matahari langsung. Pengeringan buatan menggunakan alat yang diatur suhu dan kelembapan (Team teaching, 2014). Untuk pengawetan simplisia dilakukan untuk memperpanjang masa simplisia sehingga tidak ada mikroorganisme tumbuh, dengan merendam simplisia ke dalam alkohol 70% atau dialiri uap panas sebelum kering (Dirjen POM, 1979). Setelah semua perlakuan selesai, tahap terakhir yaitu pewadahan atau  penyimpanan simplisia, diberi wadah yang baik dan disimpan ci tempat menjamin terpeliharanya mutu dari simplisia. Wadah terbuat dari plastik tebal atau gelas yang berwarna gelap dan tertutup kedap. Harus memperhatikan suhu, kelembapan udara dan sirkulasi udara.

23

BAB V PENUTUP V.1

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa: 1.

Tekhnik pembuatan simplisia adalah: a. Pengumpulan bahan/ pemanenan  b. Sortasi basah c. Pencucian d. Perajangan e. Pengeringan f. Sortasi kering g. Pengemasan atau penyimpanan

2.

Beberapa tanaman yang dapat dijadikan bahan obat adalah Keji  beling, Daun coklat, Temulawak, Kumis Kucing, Sirih, Sambung nyawa, dan Jambu biji.

V.2

Saran

Kami sebagai praktikan mengharapkan, PKL kedepannya dapat diisi dengan

kegiatan

positif

lainnya

sehingga

kegiatan

PKL

dalam

kesehariannya akan lebih bermanfaat. Agar praktikan tidak hanya berdiam diri di posko melainkan lebih aktif beraktivitas di lingkungan PKL.

24

DAFTAR PUSTAKA

Amin, dkk. 2009. Penuntun Praktikum Farmakognosi I. Makassar: UMI Pres s Dalimartha, S. 2006.  Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 4. Jakarta: Puspa Swara Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Team teaching. 2014. Buku Praktek Kerja Lapangan. Gorontalo: UNG Press

25

View more...

Comments

Copyright © 2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF