Laporan Pendahuluan Fracture Acetabulum

June 8, 2019 | Author: Agus P'u | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

laporan pendahuluan...

Description

Laporan Pendahuluan Fraktur Acetabulum

 A. Pengertian Pengertian Fraktur Acetabulum disebabkan gerakan cepat femur ke pelvis, misal pada dashboard injury.. Fraktur pelvis termasuk fraktur tulang proksimal femur dan acetabulum. Fraktur injury pelvis dapat mengenai orang muda dan tua. Biasanya, pasien yang lebih muda dapatmengalami fraktur pelvis sebagai akibat dari trauma yang signifikan, sedangkan pasien lansiadapat mengalami fraktur pelvis akibat trauma ringan. 1. High-Energy Fractures Fraktur

pelvis

dengan

cederamuskuloskeletal multisistem.(19)

pada

taruma lain,dan 75%

berat lebih

kasus

jarang dari

1/2

disertai

terjadi,2/3

pasien

pasien

memiliki

dengan

juga

memiliki

cedera

perdarahan,12%

pada cedera

urogenital,dan 8% cedera pleksus lumbosakral.Dalam sebuah penelitian didapatkan 55% merupakan kasus fraktur cincin pelvis stabil, 25% fraktur pelvis tidak stabil di rotasi, 21% tidak stabil pada tranlasi,16% merupakan fraktur pelvis yang disertai fraktur acetabulum. 2. Low-Energy Fractures Fraktur

pelvis

dan

acetabulum

dengan

trauma

ringan

lebih

sering

terjadi

daripadadengan trauma berat.Wanita lebih sering terkena,dan kebanyakan pasien tidak mengalami cedera lainnya.Dalam sebuah penelitian pada pasien usia 60 tahun dan lebih,didapatkan cedera cincin pelvis stabil pada 45 dari 48 pasien; 87% pasien adalah wanita.Dalam 3/4 kasus disebabkan oleh jatuh dengan kekuatan ringan. Fraktur pelvis disertaidengan fraktur acetabulum terjadi pada 25% kasus.

B. Tipe cedera 1. Fraktur Yang Terisolasi Dengan Cincin Pelvis Yang UtuhFraktur UtuhFraktur avulse. Sepotong tulang tertarik oleh kontraksi otot yang hebat, fraktur ini biasanyaditemukan pada para olahragawan dan atlet. Sartorius dapat menarik spina iliaka anterior superior, rektus femoris menarik spina iliaka anterior inferior, adduktor longus menarik sepotong pubis, dan urat-urat lutut menarik bagian-bagian iskium. Semua pada pokoknyamerupakan cedera otot, hanya memerlukan istirahat selama beberapa hari dan penentraman. Nyeri dapat memerlukan waktu beberapa bulan agar hilang dan karena sering tak adariwayat cedera, biopsi pada kalus dapat mengakibatkan kekeliruan diagnosis dan

disangkatumor. Avulsi pada apofisis iskium oleh otot-otot lutut jarang mengakibatkan gejala menetap,dan dalam hal ini reduksi terbuka dan fiksasi internal diindikasikan. 2. Fraktur Langsung Pukulan

langsung

pada

pelvis,

biasanya

setelah

jatuh

dari

tempat

tinggi,

dapatmenyebabkan fraktur iskium atau ala osis ilii. Biasanya diperlukan istirahat di tempat tidur hingga nyeri mereda. 3. Fraktur tekanan Fraktur pada rami pubis cukup sering ditemukan (dan sering tidak nyeri) pada pasienosteoporosis atau osteomalasia yang berat. Yang lebih sulit didiagnosis adalah fraktur-tekanan di sekitar sendi sakro- iliaka; ini adalah penyebab nyeri “sakro -iliaka” yang tak lazim pada orang tua yang menderita osteoporosis. Fraktur tekanan yang tak  jelas terbaik diperlihatkan dengan Scan radioisotop. 4. Fraktur Pada Cincin Pelvis Telah lama diperdebatka bahwa, karena kakunya pelvis, patah di suatu tempat padacincin pasti disertai kerusakan pada tempat kedua; kecuali fraktur akibat pukulan langsung(termasuk fraktur pada lantai asetabulum), atau fraktur cincin pada anakanak, yang simfisisdan sendi sakro-iliakanya masih elastis. Tetapi, patahan kedua sering tidak kelihatan-baik karena patah ini tereduksi dengan segera atau karena sendi-sendi sakro-iliaka hanya rusak sebagian; dalam keadaan ini fraktur yang kelihatan tidak mengalami pergeseran dan cincin bersifat stabil. Fraktur atau kerusakan sendi yang jelas bergeser, dan semua fraktur cincinganda yang jelas, bersifat tak stabil. Perbedaan ini lebih bernilai praktis daripada klasifikasike dalam fraktur cincin tunggal dan ganda

C. Mekanisme Trauma Trauma biasanya terjadi secara langsung pada panggul karena tekanan yang besar ataukarena jatuh dari ketinggian. Pada orang tua dengan osteoporosis atau osteomalasia dapatterjadi fraktur stress pada ramus pubis. Oleh karena rigiditas panggul maka keretakan pada Fraktur Pelvis Emelia Wijayanti (406107080)salah satu bagian cincin akan disertai robekan pada titik lain, kecuali pada trauma langsung.Sering titik kedua tidak terlihat dengan jelas atau mungkin terjadi robekan sebagian atauterjadi reduksi spontan pada sendi sakro-iliaka.Mekanisme trauma pada cincin panggul terdiri atas : 1. Kompresi anteroposterior

Hal ini biasanya terjadi akibat tabrakan antara seorang pejalan kaki dengan kendaraan.Ramus pubis mengalami fraktur, tulang inominata terbelah, dan mengalami rotasieksterna disertai robekan simfisis. Keadaan ini disebut sebagaiopen book injury. Bagian posterior ligamen sakro-iliaka mengalami robekan parsial atau dapat disertai fraktur bagian belakang ilium. 2. Kompresi lateral Kompresi dari samping akan menyebabkan cincin mengalami keretakan. Hal initerjadi apabila ada trauma samping karena kecelakaan lalu lintas atau jatuh dariketinggian. Pada keadaan ini ramus pubis bagian depan pada kedua sisinya mengalamifraktur dan bagian belakang terdapat strain dari sendi sakri-iliaka atau fraktur ilium ataudapat pula fraktur ramus pubis pada sisi yang sama. 3. Trauma vertikal Tulang inominata pada satu sisi mengalami pergerakan secara vertikal disertai fraktur ramus pubis dan disrupsi sendi sakro-iliaka pada sisi yang sama. Hal ini terjadi apabilaseseorang jatuh dari ketinggian pada satu tungkai. 4. Trauma kombinasi Pada trauma yang lebih hebat dapat terjadi kombinasi kelainan di atas

D. Etiologi 1. Trauma langsung: benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat tersebut. 2. Trauma tidak langsung: bilamana titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan. 3. Proses penyakit: kanker dan riketsia. 4. Compresion force: klien yang melompat dari tempat ketinggian dapat mengakibatkan fraktur kompresi tulang belakang. 5. Muscle (otot): akibat injuri/sakit terjadi regangan otot yang kuat sehingga dapat menyebabkan fraktur (misal; elektrik shock dan tetani).

E. Patofisiologi Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya

kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya Trauma biasanya terjadi secara langsung pada panggul karena tekanan yang besar atau karena jatuh dari ketinggian. Pada orang tua dengan osteoporosis dan osteomalasia dapat terjadi fraktur stress pada ramus pubis.

F. Klasifikasi 1. Menurut Tile (1988) a. Tipe A: stabil  A1: fraktur panggul tidak mengenai cincin  A2;:stabil,

terdapat

pergeseran

cincin

yang

minimal

dari

fraktur

Tipe A termasuk fraktur avulsi atau fraktur yang mengenai cincin panggul tetapi tanpaatau sedikit sekali pergeseran cincin. b. Tipe B tidak stabil secara rotasional, stabil secara vertikal : - B1 : open book - B2: kompresi lateral : ipsilateral - B3: kompresi lateral : kontralateral (bucket handle )Tipe B mengalami rotasi eksterna yang mengenai satu sisi panggul (open book ) ataurotasi interna atau kompresi lateral yang dapat menyebabkan fraktur pada ramus isio- pubis pada satu atau kedua sisi disertai trauma pada bagian posterior tetapi simfisistidak terbuka (closed book ). c. Tipe C; tidak stabil secara rotasi dan vertikal : - C1: unilateral - C2: bilateral - C3: disertai fraktur asetabulumTerdapat disrupsi ligamen posterior pada satu atau kedua sisi disertai pergeseran darisalah satu sisi panggul secara vertikal, mungkin juga disertai fraktur asetabulum.

G. Gambaran Klinik Fraktur panggul sering merupakan bagian dari salah satu trauma multipel yang dapatmengenai organ-organ lain dalam panggul. Keluhan berupa gejala pembengkakan, deformitasserta perdarahan subkutan sekitar panggul. Penderita datang dalam keadaan anemi dan syok karena perdarahan yang hebat. Terdapat gangguan fungsi anggota gerak bawah. Pada cedera tipe A pasien tidak mengalami syok berat tetapi merasa nyeri bila berusaha berjalan. Terdapat nyeri tekan lokal tetapi jarang terdapat kerusakan pada visera pelvis. Sinar-X polos dapat memperlihatkan fraktur. Pada tipe cedera B dan C pasien mengalami syok berat, sangat nyeri dan tak dapat berdiri; dia mungkin juga tidak dapat kencing. Mungkin terdapat darah di meatus eksternus. Nyeri tekan dapat bersifat lokal tetapi sering meluas, dan usaha menggerakkan satu atau kedua ala osis ilii akan sangat nyeri. Salah satu kaki mungkin mengalami anestetik sebagiankarena

cedera

saraf

skiatika

dan

penarikan

atau

pendorongan

dapat

mengungkapkanketidakstabilan vertikal (meskipun ini mungkin terlalu nyeri). Cedera ini sangat hebat,sehingga membawa risiko tinggi terjadinya kerusakan viseral, perdarahan di dalam perut dan retroperitoneal, syok, sepsis, dan ARDS, angka kematiannya cukup tinggi

H. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan radiologis: a. Setiap penderita trauma panggul harus dilakukan pemeriksaan radiologis dengan prioritas pemeriksaan rongent posisi AP. b. Pemeriksaan rongent posisi lain yaitu oblik, rotasi interna dan eksterna bila keadaan umum memungkinkan. 2. Pemeriksaan urologis dan lainnya: a. Kateterisasi b. Ureterogram c. Sistogram retrograd dan postvoiding d. Pielogram intravena e. Aspirasi diagnostik dengan lavase peritoneal

I. Penatalaksanaan 1. Tindakan operatif bila ditemukan kerusakan alat  – alat dalam rongga panggul 2. Stabilisasi fraktur panggul, misalnya:

a. Fraktur avulsi atau stabil diatasi dengan pengobatan konservatif seperti istirahat, traksi, pelvic sling b. Fraktur tidak stabil diatasi dengan fiksasi eksterna atau dengan operasi yang dikembangkan oleh grup ASIF Berdasarkan klasifikasi Tile: 1. Fraktur Tipe A: hanya membutuhkan istirahat ditempat tidur yang dikombinasikan dengan traksi tungkai bawah. Dalam 4-6 minggu pasien akan lebih nyaman dan bisa menggunakan penopang. 2. Fraktur Tipe B: a. Fraktur tipe open book Jika celah kurang dari 2.5cm, diterapi dengan cara beristirahat ditempat tidur, kain gendongan posterior atau korset elastis. Jika celah lebih dari 2.5cm dapat ditutup dengan membaringkan pasien dengan cara miring dan menekan ala ossis ilii menggunakan fiksasi luar dengan pen pada kedua ala ossis ilii. b. Fraktur tipe close book Beristirahat ditempat tidur selama sekitar 6 minggu tanpa fiksasi apapun bisa dilakukan, akan tetapi bila ada perbedaan panjang kaki melebihi 1.5cm atau terdapat deformitas pelvis yang nyata maka perlu dilakukan reduksi dengan menggunakan pen pada krista iliaka. 3. Fraktur Tipe C Sangat berbahaya dan sulit diterapi. Dapat dilakukan reduksi dengan traksi kerangka yang dikombinasikan fiksator luar dan perlu istirahat ditempat tidur sekurang  – kurangnya 10 minggu. Kalau reduksi belum tercapai, maka dilakukan reduksi secara terbuka dan mengikatnya dengan satu atau lebih plat kompresi dinamis.

J. Komplikasi 1. Komplikasi segera a. Trombosis vena ilio femoral : sering ditemukan dan sangat berbahaya. Berikan antikoagulan secara rutin untuk profilaktik. b. Robekan kandung kemih : terjadi apabila ada disrupsi simfisis pubis atau tusukan dari bagian tulang panggul yang tajam. c. Robekan uretra : terjadi karena adanya disrupsi simfisis pubis pada daerah uretra pars membranosa. d. Trauma rektum dan vagina

e. Trauma pembuluh darah besar yang akan menyebabkan perdarahan masif sampai syok. f. Trauma pada saraf : 1) Lesi saraf skiatik : dapat terjadi pada saat trauma atau pada saat operasi. Apabila dalam jangka waktu 6 minggu tidak ada perbaikan, maka sebaiknya dilakukan eksplorasi. 2) Lesi pleksus lumbosakralis : biasanya terjadi pada fraktur sakrum yang bersifat vertikal disertai pergeseran. Dapat pula terjadi gangguan fungsi seksual apabila mengenai pusat saraf. 2. Komplikasi lanjut a. Pembentukan tulang heterotrofik : biasanya terjadi setelah suatu trauma jaringan lunak yang hebat atau setelah suatu diseksi operasi. Berikan Indometacin sebagai profilaksis. b. Nekrosis avaskuler : dapat terjadi pada kaput femur beberapa waktu setelah trauma. c. Gangguan pergerakan sendi serta osteoartritis sekunder : apabila terjadi fraktur pada daerah asetabulum dan tidak dilakukan reduksi yang akurat, sedangkan sendi ini menopang berat badan, maka akan terjadi ketidaksesuaian sendi yang akan memberikan gangguan pergerakan serta osteoartritis dikemudian hari. d. Skoliosis kompensator

K. Fokus Pengkajian Menurut Doengoes, ME (2000) pengkajian fraktur meliputi :

1.  Aktivitas/istirahat Tanda : Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau trjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri)

2. Sirkulasi Gejala : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas), atau hipotensi (kehingan darah)

3. Neurosensori Gejala : Hilang gerak/sensasi,spasme otot, Kebas/kesemutan (parestesis) Tanda : Demormitas local; angulasi abnormal, pemendakan, ratotasi, krepitasi (bunyi berderit, spasme otot, terlihat kelemahan atau hilang fungsi).

4. Nyeri/kenyamanan

Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cidera (mungkin terlokalisasi pada ara  jaringan/kerusakan tulang; dapat berkurang pada imobilisasi) tak ada nyeri akibat kerusakan saraf.

5. Penyuluhan/Pembelajaran Gejala : Lingkungan cidera Pertimbangan : DRG menunjukkan rerata lama dirawat : femur 7-8 hari, panggul/pelvis 6-7 hari, lain-lainya 4 hari bila memerlukan perawatan dirumah sakit

6. Rencana pemulangan : Membutuhkan dengan transportasi, aktivitas perawatan diri, dan tugas/pemeliharaan rumah.

L. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis), kerusakan  jaringan 2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kehilangan integritas struktur tulang, gangguan metabolisme sel, kerusakan muskuloskletal dan neuromuskuler, nyeri. 3. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan, prosedur infasif, pertahanan primer yang tidak adekuat (kerusakan kulit, trauma jaringan)

M. Intervensi Keperawatan 1. Nyeri akut Definisi : sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang timbul dari kerusakan

jaringan

aktual

atau

potensial

atau

penggambaran

dari

kerusakan

(International association for the study of pain); yang terjadi tiba-tiba atau secara pelanpelan dari intensitas ringan hingga berat dengan diantisipasi atau dapat diprediksi dan dalam waktu kurang dari 6 bulan. Defining characteristics : a. Perubahan respirasi (normalnya 12-20x/menit) b. Laporan secara verbal dari pasien NOC (Nursing Outcome Classifications) : a. Comfort level (tingkat kenyamanan) Definisi : Perasaan fisik dan psikologi yang tenang Indikator :

1) Melaporkan kesejahteraan fisik 2) Melaporkan kepuasan dengan kontrol gejala 3) Melaporkan kesejahteraan psikologis 4) Mengekspresikan kepuasan dengan kontrol nyeri

b. Pain Control (kontrol nyeri) Definisi : Tindakan seseorang untuk mengatasi nyeri Indikator : 1)

Mengenal penyebab nyeri

2)

Mengenal onset nyeri

3)

Menggunakan tindakan pencegahan

4)

Menggunakan pertolongan non-analgetik

5)

Menggunakan analgetik dengan tepat

6)

Mengenal tanda-tanda pencetus nyeri untuk mencari pertolongan

7)

Menggunakan sumber-sumber yang ada

8)

Mengenal gejala nyeri

9)

Melaporkan gejala-gejala kepada tenaga kesehatan profesional

10) Melaporkan kontrol nyeri

c. Pain Level (Tingkat nyeri) Definisi : Gambaran nyeri atau nyeri yang ditunjukkan Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam pada pasien dengan gangguannyeri akut dapat teratasi dengan kriteria : 1) Melaporkan nyeri berkurang 2) Tidak menununjukkan ekspersi wajah menahan nyeri 3) Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan) 4) Tidak mual 5) Tanda vital dalam rentang normal

Nursing Intervention Classification (NIC) Pain Acute Intervensi a. Kaji secara komphrehensif tentang nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik dan onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor presipitasi

b. Observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan, khususnya dalam ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif c. Gunakan komunikasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan nyeri d. Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap kualitas hidup: pola tidur, nafsu makan, aktifitas kognisi, mood, relationship, pekerjaan, tanggungjawab peran e. Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa lama terjadi, dan tindakan pencegahan f. Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (ex: temperatur ruangan, penyinaran, dll) g. Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi (ex: relaksasi, guided imagery, terapi musik, distraksi, aplikasi panas-dingin, massase, TENS, hipnotis, terapi bermain, terapi aktivitas, akupresusure) h. Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup i. Modifikasi kontrol nyeri sesuai respon pasien  j. Kolaborasi : Beri analgetik sesuai dengan indikasi

2. Gangguan mobilitas fisik Definisi : keterbatasan pada kemandirian, pergerakan fisik dari tubuh dengan maksud tertentu atau dari salah satu atau lebih dari ekstremitas. Defining characteristics : a. Keterbatasan pergerakan b. Keterbatasan kemampuan untuk melakukan gerak yang benar Faktor yang berhubungan : a. Intoleransi aktivitas b. Kehilangan integritas dari struktur tulang c. Gangguan musculoskeletal d. Nyeri e. Pembatasan bergerak sesuai medikasi dari medis

NOC (Nursing Outcome Classifications): a. Joint Movement : Active, Range of Motion pada sendi b. Mobility Level : Kemampuan untuk bergerak dengan tujuan tertentu c. Transfer performance

Setelah dilakukan tindakan keperawatan gangguan mobilitas fisik teratasi dengan kriteria hasil : 1) Klien meningkat dalam aktivitas fisik 2) Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas 3) Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan berpindah 4) Memperagakan penggunaan alat Bantu untuk mobilisasi (walker)

Nursing Intervention Classification (NIC) Gangguan Mobilitas Fisik a. Perawatan Bed Rest Definisi: dukungan kenyamanan dan keamanan dan pencegahan komplikasi pada pasien yang tidak mampu untuk turun dari tempat tidur  Aktivitas 1)

Jelaskan alasan mengapa pasien perlu bed rest

2)

Jaga linen kasur tetap bersih, kering dan bebas dari kerutan

3)

Gunakan perlengkapan pelindung bagi pasien pada bed

4)

Monitor kondisi kulit

5)

Melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif

6)

Tingkatkan kebersihan

7)

Bantu aktivitas sehari-hari pasien

8)

Monitor fungsi perkemihan

9)

Monitor terhadap konstipasi

10) Monitor status pernafasan

b. Pengaturan posisi Definisi: penentuan penempatan pasien atau bagian tubuh pasien untuk mendukung fisik dan psikologis yang baik  Aktivitas 1)

Membantu pasien dalam perubahan posisi

2)

Monitor status oksigen/pernafasan sebelum dan setelah perubahan posisi dilakukan

3)

Pemberian dukungan pada bagian tubuh yang perlu diimobilisasikan

4)

Fasilitasi posisi yang mendukung ventilasi/perfusi

5)

Lakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif

6)

Cegah penempatan pasien pada posisi yang dapat meningkatkan nyeri

7)

Minimalkan gesekan ketika positioning

8)

Posisikan pasien pada posisi yang mendukung drainase perkemihan

9)

Posisikan pada posisi yang dapat mencegah penekanan pada luka

10) Instruksikan pasien terkait bagaimana postur yang baik 11) Atur jadwal perubahan posisi pada pasien

3. Resiko infeksi Definisi : terjadi peningkatan resiko terhadap terjangkitnya organisme patogenik Faktor resiko : a. Pertahanan primer yang inadekuat (kerusakan kulit, jaringan traumatis) b. Prosedur invasif c. Trauma

NOC (Nursing Outcome Classifications): a. Immune Status : ketahanan (natural dan didapat) yang adekuat terhadap antigen eksternal dan internal. b. Knowledge : Infection control, Peningkatan pemahaman mengenai pencegahan dan kontrol infeksi c. Risk control : Tindakan untuk menghilangkan dan mengurangi ancaman kesehatan yang aktual, personal, dan modifikasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil: a. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi b. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi c. Jumlah leukosit dalam batas normal d. Menunjukkan perilaku hidup sehat e. Status imun, gastrointestinal, genitourinaria dalam batas normal

Nursing Intervention Classification (NIC) Resiko Infeksi a. Kontrol Infeksi Definisi: Meminimalkan paparan dan transmisi agen infeksi  Aktivitas 1)

Bersikan lingkungan secara tepat setelah digunakan oleh pasien

2)

Ganti peralatan pasien setiap selesai tindakan

3)

Gunakan sarung tangan steril

4)

Lakukan perawatan aseptic pada semua jalur IV

5)

Lakukan teknik perawatan luka yang tepat

6)

Anjurkan istirahat

7)

Berikan terapi antibiotik

b. Infection Protection (proteksi terhadap infeksi) Definisi: Pencegahan dan deteksi dini infeksi pada pasien yang beresiko  Aktivitas 1)

Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal

2)

Monitor angka granulosit, WBC dan hasil yang berbeda

3)

Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko

4)

Berikan perawatan kulit yang tepat pada area edematous

5)

Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, atau drainase

6)

Ispeksi kondisi luka

7)

Dukungan masukkan nutrisi yang cukup

8)

Dukungan masukan cairan

9)

Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep

c. Skin surveillance/pengawasan terhadap kulit Definisi: Mengkoleksi dan menganalisis data pasien untuk mempertahankan integritas kulit dan membran mukosa  Aktivitas 1)

Mengamati ekstremitas terhadap kemerahan, panas, bengkak, tekanan, tekstur, edema dan ulserasi

2)

Mengamati kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas yang ekstrim, atau drainase

3)

Monitor terhadap sumber penekanan dan friksi/gesekan

4)

Monitor terhadap infeksi

d. Perawatan luka Definisi: Mencegah komplikasi luka dan meningkatkan kesembuhan  Aktivitas

1)

Monitor karakteristik luka meliputi drainase, warna, ukuran dan bau

2)

Pertahankan teknik steril dalam perawatan luka

3)

Inspeksi luka setiap melakukan pergantian dreesing

4)

Atur posisi untuk mencegah tekanan pada daerah luka

5)

Tingkatkan intake cairan

6)

Ajarkan pada pasien/anggota keluarga tentang prosedur perawatan luka

7)

Ajarkan pada pasien/anggota keluarga tentang tanda dan gejala infeksi

8)

Dokumentasikan lokasi luka, ukuran, dan penampakannya.

DAFTAR PUSTAKA

Herdman, T. Heather.2009. Nursing Diagnoses : Definitions and Classification 2009-2011 . USA : Wiley-Blackwell.

Johnson, M., Mass, M., Moorhead, S., 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) second Edition. Missouri : Mosby Dochterman, Joanne M., Bulecheck, Gloria N.2003. Nursing Intervention classification (NIC) 4 th Edition. Missouri : Mosby.

Marylin E. Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3 . Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta.

View more...

Comments

Copyright ©2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF