Laporan kasus elbow joint
July 5, 2019 | Author: Alfin MT16 | Category: N/A
Short Description
Kasus post orif ap axial...
Description
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan ilmu radiologi sejalan dengan kemajuan ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu pada umumnya dan juga diiringi dengan perkembangan peralatan radiologi yang semakin mutakhir, hal ini menuntut manusia untuk meningkatkan kualitas, keterampilan dan kinerja radiografer untuk menghasilkan gambaran radiograf yang informatif. Seiring
berkembangnya
aplikasi
pemanfaatan
sinar-X
dalam
rangka
penegakkan diagnosa suatu penyakit, maka teknik pemeriksaan suatu organ menjadi lebih bervariasi dengan didukung berbagai spesifikasi pesawat diagnostik yang lebih modern. Dalam hal ini salah satu pemeriksaan yang dilaksanakan adalah pemeriksaan elbow joint dengan indikasi post orif. Pemeriksaan secara radiografi elbow joint menurut (Bontrager, 2014) menggunakan proyeksi Anteroposterior, Obliq Medial, Obliq Lateral, Lateral (lateromedial),
AP
Partial
flexion,
Axial
acute
flexion,
Caput
Radius
Lateral(laterpmedial). Lateral(laterpmedial). Dimana masing-masing masing-masing proyeksi mempunyai kriteria radiograf yang berbeda dan dapat menampilkan struktur anatomi fisiologi dan patologi dari Elbow joint Menurut teori untuk menampilkan gambaran yang baik dari elbow untuk menampakan hasil pemasangan pen pada pada pasien post orif elbow joint adalah dengan menggunakan proyeksi AP dan lateral, akan tetapi pada pelaksanaanya di Instalasi Instala si Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta pemeriksaan
adalah dengan
menggunakan proyeksi sama namun pada proyeksi AP arah sinar disudutkan kearah Caudad. Sehingga penulis mencoba memaparkan bagaimana teknik radiografi elbow joint yang biasa dilakukan, dalam hal ini penulis mengambil kasus post orif di Instalasi Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta
1
Berdasarkan hal-hal di atas, maka penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut masalah tersebut di dalam Laporan Studi Kasus yang hendak penulis susun dengan judul “TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOLOGI ELBOW JOINT DENGAN PROYEKSI AP AXIAL PADA KASUS PASIEN POST ORIF
DI INSTALASI
RADIOLOGI RS PANTI RAPIH YOGYAKARTA”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut: 1.2.1. Bagaimana teknik pemeriksaan Elbow joint pada kasus pasien post orif di Instalasi Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta 1.2.2. Apa prosedur pemeriksaan Elbow Joint di RS Panti Rapih Yogyakarta Yogyakart a sudah dapat menegakkan diagnosa pasien Post orif
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah sebagai berikut : 1.3.1. untuk mengetahui teknik pemeriksaan elbow joint yang digunakan pada kasus pasien post orif di Instalasi Radiology RS Panti Rapih Yogyakarta. 1.3.2. Untuk mengetahu mengetahuii kelebihan pemeriksaan elbow joint dengan menggunakan proyeksi AP 1.4. Manfaat penulisan
Manfaat dari penulisan laporan kasus ini adalah sebagai berikut: 1.4.1. Untuk menambah wawasan mengenai pemeriksaan radiologi terutama pemeriksaan elbow joint joint pada kasus pasien post orif 1.4.2. Sebagai bahan referensi dan informasi bagi mahasiswa radiologi. Khususnya mahasiswa DIII Teknik Rontgen STIKES Widya Husada Semarang dalam melakukan pemeriksaan dengan kasus pasien post orif
2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. ANATOMI
Elbow adalah sendi intermediate extremitas superior, yang membantu mekanikal pada mata rantai antara segment pertama yaitu lengan atas dan segment kedua lengan bawah dari extremitas superior. Elbow memungkinkan lengan bawah berada pada beberapa posisi dalam keadaan tertentu, contoh seseorang yang membawa makanan ke mulut dengan fleksi elbow. Sendi siku terjadi di persimpangan tiga tulang, humerus (tulang lengan atas), ulna (lebih besar dari dua tulang lengan bawah) dan Radius. Humerus membentuk bagian atas dari sendi dan melebar mendekati akhir untuk membentuk Epicondyles Medial dan yang merupakan tulang dua proses Anda dapat merasakan kedua sisi dari sendi siku. The ulna terletak di bagian dalam sendi dan membentuk bentuk cangkir yang memungkinkan artikulasi dengan humerus. The Radius adalah lebih kecil dari dua tulang lengan bawah dan duduk di luar sendi. Kepala radial itu bulat dan lagi berbentuk cangkir untuk memungkinkan untuk bergerak di sekitar dasar lebar (kapitulum) dari humerus 2.2.
FISIOLOGI
ada tiga sendi pada siku.Yang membentuk Elbow Joint pertama adalah engsel patungan dibentuk antara humerus dan ulna (bersama humeroulnar), yang memungkinkan kita untuk menekuk dan meluruskan siku kami. Yang kedua adalah sendi humeroradial antara Radius dan humerus yang lagi memungkinkan fleksi dan ekstensi tetapi juga terlibat dalam gerak yang lebih kompleks untuk mengubah tangan
3
di atas sehingga telapak tangan menghadap ke atas / bawah (supinasi / Pronasi). Yang ketiga adalah joint poros yang dibentuk oleh radius dan ulna (bersama radioulna proksimal).
Elbow joint terdiri dari 3 potong tulang yaitu os humerus, os ulna dan os radius yang saling berhubungan dan ketiga tulang tersebut sama-sama berada dalam satu ruang sendi. Elbow joint dibentuk oleh tiga buah persendian yaitu : 1) Ulnohumeral joint atau trochlear joint termasuk uni axial hinge joint, dengan pola gerakan fleksi ekstensi. MLPP atau posisi istirahat untuk sendi ini adalah fleksi elbow 70 derajat dan lengan bawah supinasi 10 derajat, sedangkan posisi netral 0 derajat, mid posisi antara supinasi dan pronasi. CPP ekstensi dan lengan bawah supinasi 2) Radiohumeral joint juga termasuk uni axial hinge joint, dengan pola gerakan supinasi dan pronasi. MLPP untuk sendi tersebut adalah elbow fleksi 70 derajat dan supinasi lengan bawah 10 derajat, sementara CPP-nya yaitu fleksi elbow 90 derajat dan supinasi lengan bawah 5 derajat. 3) Proksimal radioulnar joint, termasuk uni axial pivot joint, pola gerakannya sama yaitu supinasi dan pronasi. Posisi istirahat/MLPP adalah supinasi 35 derajat dan fleksi elbow 70 derajat, sedangkan CPP adalah supinasi 5 derajat. Assesment Anamnesis Selain melakukan anamnesis umum juga penting sekali melakukan anamnesis khusus berkaitan dengan sendi siku, hal-hal yang perlu dipertanyakan adalah: 1. Jenis keluhan 2. Ketepatan waktu dan durasi keluhan 3. Lokasi dan distribusi keluhan 4. Provokasi oleh sikap dan gerak yang menimbulkan keluhan 5. Dan lain-lain menyangkut organ tubuh lain yang terkait, tindaka operasi maupun terapi medis lainnya. Ligamen Siku Bersama
4
Ada tiga ligamen utama mendukung sendi siku: Ø Jaminan medial Ligamen: Kadang-kadang dikenal sebagai ulnaris Jaminan Ligamen dan terdiri dari dua band segitiga, anterior dan posterior. Kedua bagian timbul dari epikondilus medialis dan melewati bagian dalam sendi siku. Bagian anterior kemudian menempel pada bagian depan atas ulna, yang dikenal sebagai proses Coranoid dan bagian posterior bagian belakang ulna, atau proses olekranon. Ø Jaminan lateral Ligamen: Kadang-kadang dikenal sebagai Radial Jaminan Ligamen dan adalah band, pendek sempit yang lolos dari dasar Epicondlye Lateral ke Ligamen annular. Ø Annulus Ligamen: Ini adalah sebuah band dari serat yang lingkaran kepala Radius, mempertahankan kontak antara Radius dan humerus. Otot-otot Siku Bersama Ada sejumlah besar otot-otot yang salib sendi siku menyebabkan fleksi / ekstensi dan supinasi / pronasi. Berikut ini adalah yang terbesar dan paling sering terluka: Biceps brachii: otot ini timbul dari proses Coracoid dan tuberkulum Supragleniod (kedua bagian tulang belikat) dan bergerak ke bawah lengan, salib sendi siku dan menyisipkan di Radius. Tindakan adalah untuk melenturkan sendi siku dan supinate lengan bawah. Triceps
brachii:
berasal
dari
Scapula
dan
belakang
permukaan
humerus
menyeberangi siku dan melampirkan proses olekranon (posterior ulna). Ini adalah ekstensor utama dari siku. brakialis: Otot ini adalah fleksor siku kuat ketika telapak tangan adalah pronated. Ini muncul dari bagian bawah bagian depan humerus dan memasukkan pada proses koronoideus (protusion kurus depan) dari ulna. brakioradialis: otot ini dimulai padatepi luar sepertiga bagian bawahhumerus, melintasi sendi danmenyisipkan pada ujung bawah Radius.Tugasnya adalah untuk melenturkan pronasi siku dan bantuan dan supinasi.pronator teres: otot ini sering terlibat dalam siku pegolf (Medial Epicondylitis) dan tindakan adalah untuk membantu fleksi siku dan pronate lengan bawah. Tersebut berasal tepat di atas epikondilus medial dan menyisipkan pada permukaan luar Radius. ekstensor Carpi radialis Brevis: Paling
5
sering
otot
yang
terlibat
dalam
tennis
elbow
(lateral
Epicondylitis),tindakan adalah untuk memperluas ekstensi pergelangan tangan dan bantuan siku. Ini muncul dari epikondilus lateral humerus dan menyisipkan pada metakarpal ketiga tangan.
2.3.
PATOLOGI & INDIKASI PEMERIKSAAN
2.3.1. Tenis siku / Lateral epicondylitis Apa tenis siku atau epicondylitis lateral? Tenis siku atau epicondylitis lateral adalah cedera sangat umum yang awalnya mendapat namanya karena cedera tenis sering, muncul di sebagian besar pemain tenis. Namun demikian biasanya mewujud dalam sebagian besar orang yang tidak bermain tenis sama sekali 2.3.1. Fraktur (ruda paksa) Hasil radiografi →lokasi, bentuk, kedudukan fraktur
2.3.3. Dislokasi Hasil radiografi →kearah mana dislokasi terjadi
2.3.4. Kelainan Patologis Untuk obyek yg berpasangan umumnya dilakukan foto perbandingan
2.4. TEKNIK PEMERIKSAAN ELBOW JOINT Alat & Bahan : 1. Film berukuran 18 cm x 24 cm 2. Kaset 3. Pesawat Rontgen (Faktor Eksposi : kVp, mAs, s ) 4. Grid (Jika Dibutuhkan) 5. Sinar X 6. pelindung radiasi 7. Marker R dan L
6
PERSIAPAN PASIEN
Pasien melepas semua benda yang bisa mengganggu proses pemotretan.
Petugas mengecek kembali identitas pasien
Petugas memasangkan alat pelindung radiasi kepada pasien
Petugas memposisikan pasien
2.5. TEKNIK PEMERIKSAAN
Proyeksi Antero Posterior (AP)
Posisi pasien : duduk menyamping ditepi atau ujung meja pemeriksaan
Posisi Obyek : lengan yang diperiksa atur AP dan atur elbow ditengah kaset.
Atur lengan pasien betul-betul true AP sehingga permukaan anterior elbow paralel dengan bidang film.
CR : vertikal tegak lurus kepertengahan kaset
CP : tepat pertengahan elbow joint
FFD : 90 cm
Struktur yang terlihat : elbow joint terproyeksi AP, distal humerus dan proksimal radius ulna tampak.
Kriteria Evaluasi : Caput, collum dan tuberositas radius superposisi dengan proksimal ulna
Sendi elbow terbuka dan tepat dipertengahan
Epicondylus humerus tidak mengalami rotasi
Kualitas radiograf mampu memperlihatkan soft tissue dan trabekula
7
Proyeksi Oblik Medial
Posisi pasien : duduk menyamping ditepi atau ujung meja pemeriksaan Posisi obyek : obyek tangan yang akan diperiksa diletakkan dipertengahan kaset. Dari posisi AP tangan di pronasikan sehingga telapak tangan menempel meja. Permukaan anterior elbow joint membentuk sudut 45° sehingga pros. Coronoid bebas dari superposisi dengan caput radius
CR : vertikal tegak lurus kepertengahan kaset/film
CP : tepat dipertengahan elbow joint
FFD : 90 cm
Struktur yang terlihat : elbow joint terproyeksi oblik dan proc. coronoid bebas dari superposisi
Kriteria Evaluasi : Proc. coronoideus terbebas dari superposisi
Epicondylus media os humerus mengalami elongation
Caput dan collum radius superposisi dengan ulna
Proc. olecranon harus terlihat dipertengahan fossa olecranon
Kualitas radiograf mampu menunjukkan soft tissue dan trabekula tulang
8
Proyeksi Oblik Lateral
Posisi pasien : duduk menyamping ditepi atau ujung meja pemeriksaan posisi Obyek : atur obyek yang akan difoto ditengah kaset. Dari posisi AP tangan dirotasikan kearah lateral sehingga permukaan posterior elbow joint membentuk sudut 40°.
CR : vertikal tegak lurus kepertengahan kaset/film
CP : tepat dipertengahan obyek
FFD : 90 cm
Struktur yang terlihat : elbow joint terproyeksi oblik dengan caput radius bebas superposisi dengan ulna.
Kriteria evaluasi : caput, collum dan tuberositas radius terproyeksi bebas dari ulna
sendi elbow terbuka
kualitas radiografi mampu memperlihatkan soft tissue dan trabekula tulang
9
Proyeksi Lateral Griswold memberikan dua alasan pentingnya fleksi elbow 90°: secara jelas prosessus olecranon
memperlihatkan bursa elbow dalam keadaan relaks.
Posisi pasien : duduk menyamping ditepi atau ujung meja pemeriksaan
Posisi obyek : dari posisi AP atau oblik, elbow fleksi 90°. Lengan atas diatur agar lebih menempel / dekat film. Untuk mendapatkan posisi elbow lateral : (1)tangan harus diatur dalam posisi true lateral, (2) epicondylus lateral tegak lurus dengan bidang kaset
CR : vertikal tegak lurus pertengahan kaset/film
CP : pertengahan obyek
FFD : 90 cm
Struktur yang terlihat : elbow joint terproyeksi lateral, distal humerus
Kriteria evaluasi : sendi elbow terbuka dan tepat dipertengahan film
Elbow fleksi 90°
Epicondylus humerus superposisi
Tuberositas radius menghadap kearah anterior
10
Caput radius sebagian superposisi dengan proc. coronoid
Proc. olecranon terlihat jelas
Kualitas radiograf harus terjaga
Proyeksi AP (Partial Flexion) Jika pasien tidak dapat mengekstensikan lengan, maka dibuat dua proyeksi dibawah ini dalam satu film ( 18 x 24 cm ) Distal Humerus Posisi pasien : pasien duduk ditepi atau ujung meja pemeriksaan
Posisi obyek : obyek yang akan diperiksa diletakkan diatas dipertengahan kaset. Lengan atas lurus, lengan bawah diangkat dan diberi pengganjal. Jika memungkinkan tangan dalam keadaan supinasi.
CR : vertikal tegak lurus menuju kepertengahan kaset/film
CP : pertengahan obyek yang diperiksa
FFD : 90 cm
Struktur yang terlihat : memperlihatkan bagian distal humerus jika elbow tidak dapat diekstensikan
Kriteria Evaluasi : Distal humerus terlihat tanpa mengalami rotasi atau distorsi
Proksimal radius superposisi dengan ulna
Sendi elbow menutup
11
Proksimal radio-ulnar akan mengalami foreshortening
Trabekula tulang tampak pada distal humerus
Proximal Forearm
Posisi pasien : pasien duduk ditepi atau ujung meja pemeriksaan Posisi obyek : obyek yang akan diperiksa diletakkan diatas dipertengahan kaset. Lengan bawah, lengan atas tidak menempel kaset. Jika tidak memungkinkan, lengan diganjal spon, letakkan kaset dalam posisi vertikal dibelakang elbow. Dan central ray horisontal.
CR : tegak lurus pertengahan obyek
CP : pertengahan elbow joint
Struktur yang terlihat : memperlihatkan bagian proximal lengan bawah jika elbow tidak dapat diekstensikan
Kriteria Evaluasi: Proksimal radio-ulnar terlihat tanpa rotasi dan distorsi
Caput, collum, dan tuberositas radius sedikit superposisi dengan ulna
Elbow joint hanya membuka sedikit
Distal humerus mengalami foreshortening
Trabekula tulang terlihat pada proximal lengan bawah
12
Proyeksi Axial (Acute Flexion Distal Humerus
Posisi pasien : pasien duduk di tepi atau ujung meja pemeriksaan Posisi obyek : obyek yang diperiksa diletakkan dipertengahan kaset atau film. Sendi siku ditekuk sehingga telapak tangan menyentuh pundak.
CR : vertikal tegak lurus film
CP : superior epicondilus humerus
FFD : 90 cm
Struktur yang terlihat : lengan bawah dan lengan atas superposisi, processus olecranon terlihat jelas.
Kriteria Evaluasi : lengan bawah dan humerus superposisi
Tidak ada rotasi
Proc. Olecranon dan distal humerus tampak
Jaringan lunak sekitar olecranon terlihat
13
Proximal Forearm
Posisi pasien : pasien duduk di tepi atau ujung meja pemeriksaan Posisi obyek : obyek yang diperiksa diletakkan dipertengahan kaset atau film. Sendi siku ditekuk sehingga telapak tangan menyentuh pundak. CR : sinar tegak lurus humerus (menyudut, kaset diatur sedemikian rupa sehingga pertengahan obyek tepat dipertengahan film)
CP : superior epicondilus humerus
FFD : 90 cm
Struktur yang terlihat : lengan atas bagian distal dan lengan bawah bagian proximal superposisi. Elbow joint lebih terbuka dibanding distal humerus
Kriteria evaluasi :
lengan atas dan bawah superposisi
Tidak ada rotasi
Proximal radius dan ulna tampak
14
Teknik Radiografi Caput Radius (Lateromedial Rotation) Untuk memperlihatkan caput radius bebas dari superposisi dengan berbagai macam posisi tangan.
Ukuran film 18 x 24 cm atau 24 x 30 cm, satu film untuk empat eksposi.
Posisi pasien : duduk ditepi atau ujung meja pemeriksaan
Posisi obyek : tekuk elbow 90°, atur lengan dalam posisi lateral.
a. Exposi pertama dibuat dengan tangan supinasi sebisa mungkin
Exposi kedua dibuat dengan tangan true lateral, dimana permukaan dorsal jari 1 menghadap keatas Exposi ketiga dibuat dengan tangan pronasi Exposi keempat dengan tangan rotasi interna sehinggassisi radius menempel kaset
CR : vertikal tegak lurus obyek
CP : pertengahan elbow
FFD : 90 cm
Struktur yang terlihat : caput radius tampak dalam berbagai profile.
Kriteria evaluasi :
Tuberositas radius menghadap anterior (untuk exposi I dan II) dan menghadap ke posterior (untuk exposi III dan IV)
Elbow harus fleksi 90°
Caput radius sebagian seperposisi dengan proc. coronoid.
15
BAB III PEMBAHASAN
3.1.
Identitas Pasien Pasien yang dijadikan sebagai sampel dalam penyusunan laporan studi kasus
dengan judul ”Teknik Pemeriksaan radiologi Elbow joint dengan proyeksi ap axial
pada kasus post orif di Instalasi Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta ” dimana pasien mempunyai identitas sebagai berikut :
3.2.
Nama
: Sdr B
Jenis Kelamin
: Laki Laki
Umur
: 15 tahun
No. RM
: 860812
Dokter Pengirim
: dr.Bambang K, Sp. OT
Diagnosa
: post orif
Riwayat Penyakit Pada hari Kamis, tanggal 3 November 2018 pasien datang ke Instalasi Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta dengan keadaan post orif. Dokter spesialis Orthopedi ingin melihat hasil pemasangan ware (kawat) pada sendi elbow , oleh karena itu dokter menyarankan pasien untuk dilakukan foto Ap & Lateral. Pasien datang ke Instalasi Radiologi dengan membawa surat permintaan foto. Dalam kondisi ini elbow joint pasien sudah terfiksasi dengan gips dengan posisi tangan fleksi. Pemeriksaan elbow joint pada kasus post orif di Instalasi Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta, meliputi persiapan pasien, persiapan alat dan bahan, serta prosedur pemeriksaan radiografi elbow joint.
16
3.3.
Persiapan Pasien Persiapan pasien pada pemeriksaan elbow joint dengan indikasi post orif , yaitu tidak ada persiapan khusus, tetapi pasien diberikan penjelasan atau arahan mengenai prosedur apa saja yang akan dilakukan oleh radiografer dan hati-hati dalam memposisikan
3.4.
Persiapan Alat dan Bahan Persiapan alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan Elbow Joint proyeksi ap & lateral pada pasien post orif di Instalasi radioloi RS Panti Rapih Yogyakarta , antara lain :
Pesawat sinar-x
Kaset dan film
Computer Radiografi
3.5.
Meteran
Alat proteksi radiasi
Teknik Pemeriksaan Teknik pemeriksaan yang dilakukan pada pasien post orif di Instalasi Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta yaitu dengan proyeksi AP & Lateral, pada kasus ini penulis hanya membahas proyeksi AP dimana proyeksi ini dilakukan berdasarkan keadaan pasien, sedangkan proyeksi Lateral sudah sesuai dengan Bontranger
Proyeksi AP Posisi Pasien : semi erect atau supine (sessuai kondisi pasien) Posisi Objek
: -elbow diposisikan diatas kaset -tangan diposisikan setegak mungkin -pastikan objek dipertengahan kaset
Central Ray
: 15° caudad
Center Point
: menuju pertengahan elbow
FFD
: 100 cm
17
Kriteria Radiograf :
3.6.
Caput, collum dan tuberositas radius superposisi dengan proksimal ulna
Sendi elbow terbuka dan tepat dipertengahan
Epicondylus humerus tidak mengalami rotasi
Kualitas radiograf mampu memperlihatkan soft tissue dan trabekula
Hasil Pembacaan Radiograf Dari hasil pembacaan kedua radiograf pemeriksaan elbow joint yang dilakukan pada pasien post orif, dokter spesialis radiologi memberikan diagnosa sebagai berikut:
Tampak fraktur humeri dextra fiksasi 2 pin ke-wire, masih tam pak garis fraktur , tampak angulasi dan displacement minimal Struktur dan Trabekulasi os radius dan ulna yang tervisualisasi intak, tak tampak jelas garis fraktur , tak tampak fad pad sign Radiocapitellar line normal Join space simetris Facies artikularis licin
18
3.7.
Pembahasan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, maka penulis menyimpulkan permasalahan, sebagai berikut ini:
3.7.1. Persiapan pasien Menurut Bontrager (2014), pemeriksaan radiografi elbow joint tidak ada persiapan khusus, hanya melepas benda-benda yang dapat mengganggu gambaran radiograf.
Di Instalasi Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta, pemeriksaan radiografi elbow joint pada pasien post orif tidak ada persiapan khusus,hanya melepas benda-benda yang mengganggu gambaran radiograf dan memberikan penjelasan tentang jalannya pemeriksaan. Menurut penulis, persiapan pasien di Instalasi Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta sudah sesuai dengan Bontranger (2014), tetapi pada kasus pasien post orif
terdapat gips yang sudah terpasang sebelumnya. Dan pemeriksaan ini
dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran radiograf yang baik terhadap Elbow Joint
3.7.2. Persiapan Alat dan Bahan Menurut Bontrager (2014), persiapan alat dan bahan pada kasus post orif yakni menggunakan pesawat sinar-X, meja pemeriksaan, menggunakan kaset yang sudah diisi film dan grid ukuran 24x30 cm. Persiapan alat dan bahan yang dilakukan di Instalasi Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta pada pemeriksaan radiografi elbow joint proyeksi AP pada kasus post orif , yakni menggunakan pesawat sinar-X, menggunakan kaset ukuran 24x30 cm. Menurut penulis, persiapan alat yang ada di literatur Bontrager (2014) dan di Instalasi Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta sudah sesuai.
19
3.7.3. Teknik Pemeriksaan Proyeksi-proyeksi yang ada didalam literatur (Bontranger, 2014). Dijelaskan bahwa untuk melihat kondisi elbow keseluruhan dibuat dengan menggunakan proyeksi Ap dan lateral. Instalasi Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta, pemeriksaan radiografi elbow joint pada pasien post orif menggunakan proyeksi Ap axial dan lateral
Menurut penulis, proyeksi yang ada pada literatur Bontrager (2014) dan di Instalasi Radilogi RS Panti Rapih Yogyakarta
tidak sesuai, karena di RS Panti Rapih
Yogyakarta untuk menegakkan diagnosa digunakan proyeksi Ap axial sedangkan pada literatur (Bontranger,2014) menggunakan proyeksi Ap.
Alasan Pemeriksaan Elbow Joint pada kasus Post Orif tidak menggunakan proyeksi Ap. Menurut Bontrager (2014), tujuan dari pemeriksaan elbow joint dengan proyeksi Ap adalah untuk mendapatkan gambar radiograf yang dapat menampilkan gambaran Elbow dari aspek Anteroposterior. Pada Pemeriksaan Elbow Joint di RS panti Rapih Yogyakarta dilakukan pemeriksaan radiografi Elbow Joint dengan menggunakan proyeksi Ap Axial, karena proyeksi ini dapat menampilkan dengan jelas anatomi Elbow Dari aspek Ap Dengan objek yang telah difiksasi. Selain itu pemeriksaan Elbow Joint di Instalasi Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta menggunakan Ap axial ini dirasa lebih mampu menampilkan gambaran anatomi elbow secara jelas dengan posisi pasien post orif. Menurut penulis, dengan pertimbangan melihat tujuan dari dilakukannya proyeksi Ap axial, proyeksi tersebut harus tetap dilakukan mengingat kondisi dan kefektifan pemeriksaan kepada pasien. Pada proyeksi ini, gambaran persendian dapat diperlihatkan dengan jelas.
20
BAB IV PENUTUP
4.1.
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari Laporan Studi Kasus ini, adalah sebagai berikut : 4.1.1. Pemeriksaan Elbow joint pada kasus post orif di Instalasi Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta dibuat dengan proyeksi Ap Axial dengan center point pada pertengahan elbow joint dengan posisi objek terfiksasi fleksi 90 derajat.
4.1.2. Hasil radiograf Di Instalasi Radiologi RS Panti Rapih Yogyakarta, pada pemeriksaan elbow joint dengan post orif mengunakan proyeksi Ap Axial dengan alasan proyeksi tersebut dilakukan karna melihat kondisi objek yang telah difiksasi yang tidak dapat dibuka dan lebih memudahkan posisi pasien serta dapat menampakkan gambaran elbow dengan jelas. Dengan alasan tersebut pada pemeriksaan elbow joint dengan menggunakan proyeksi Ap Axial lebih dapat menegakkan diagnosa dibandingkan proyeksi Ap pada kondisi pasien yang telah difiksasi.
4.2.
Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan sehubungan dengan penulisan Laporan Studi Kasus ini, adalah : 4.2.1. Sebaiknya Pemeriksaan elbow di Instalasi RS Panti Rapih dengan proyeksi Ap Axial lebih meningkatkan proteksi radiasi yang dberikan kepada pasien.
21
View more...
Comments