Laporan BIOKIMIA GIZI Protein Dalam Urine
March 30, 2019 | Author: widya | Category: N/A
Short Description
gdhgdhdhg...
Description
BIOKIMIA GIZI “
Analisis Kualitatif Protein Dalam Urine
”
Oleh : Kelompok 2
1. A.A Istri Kencana Sari Devi 2. Ni Putu Devianasari 3. Ni Kadek Widya Pratiwi
(P07131216017) (P07131216022) (P07131216026)
KEMENTERIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR JURUSAN GIZI D IV A 2017
: Analisa Kualitatif Protein Dalam Urine
Judul
Tanggal Praktikum : 7 November 2017 Tujuan
:
Umum : Agar mahasiswa mengetahui/mengidentifikasi adanya protein dalam urine secara
kualitatif
Khusus : Agar mahasiswa mampu dan mengetahui cara mengidentifikasi protein dalam urine dengan cara test biuret, test koagolasi, dan test asam pikrat.
Dasar Teori
:
Urin atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Ekskresi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kantung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra ( Wikipedia ). Urin merupakan suatu cairan esensial dari hasil metabolisme nitrogen dan sulfur, garam-garam anorganik dan pigmen-pigmen. Biasanya berwarna kekuning-kuningan, meskipun secara normal banyak vairasinya. Mempunyai bau yang khas untuk spesies yang berbeda. Jumlah urin yang diekskresikan tiap harinya bervariasi, tergantung pada makanan, konsumsi air, temperature lingkungan, musim, dan faktor-faktor lainnya (Ganong,2003). Proses pembentukan urin dalam ginjal meliputi proses penyaringan (filtrasi), penyerapan kembali (reabsorbsi), dan penambahan zat-zat (augmentasi). Proses filtrasi terjadi di glomerulus dan kapsula bowman. Proses reabsorbsi terjadi di tubulus distal. Ginjal kira-kira mengandung 1,3 x 10 6 nefron yang beroprasi secara paralel. Tiap nefron terdiri dari suatu glomerulus yang dibekali dengan darah dalam system kapiler arteri sedemikian sehingga terjadi tekanan filtrasi yang memadai untuk mempengaruhi ultrafiltrasi material berberat molekul rendah dalam plasma (Roberts,1993).
Urin sering dianggap sebagai hasil uangan yang sudah tidak berguna. Padahal urin sangat membantu pemeriksaan medis. Urin merupakan salah satu cairan fisiologis yang sering dijadikan bahan untuk pemeriksaan (pemeriksaan visual, pemeriksaan mikroskopis, dan menggunakan kertas kimia) dan menjadi salah satu parameter kesehatan dari pasien yang diperiksa. Selain darah, urin juga menjadi komponen yang penting dalam diagnosis keadaan kesehatan seseorang. Ada 3 macam pemeriksaan, antara lain : 1). Pemeriksaan visual. Urin mengindikasikan kesehatan yang baik bila terlihat bersih. Bila tidak, maka ada masalah dalam tubuh. Kesehatan bermasalah biasanya ditunjukkan oleh kekeruhan, aroma tidak biasa, dan warna abnormal. 2). Tes yang mengandung kertas kimia yang akan berganti warna bila substansi tertentu terdeteksi atau ada diatas normal. 3). Hasil yang datang dari pemeriksaan mikroskopis yang dilakukan untuk mengetahui apakah kandungan berikut ini berada diatas normal atau tidak (Ganong,2002). Sifat-sifat urin normal : 1. Volume: 800-2500 ml/hari 2. Berat jenis: 1.003-1.030 3. Ph: asam dengan Ph rata-rata 6 (4,7-8) Prinsip
:
-
Test Koagulasi : Protein (albumin)
-
Test Biuret
terkoagulasi oleh panas.
:
Ikatan peptida protein + CuSO4 dalam suasana basa membentuk ikatan kompleks berwarna ungu. - Test asam pikrat
terdapat endapan pada sample karena terbentuknya garam proteinat yang tidak larut. Alat dan Bahan
-
Alat Gelas beker.
-
Tabung reaksi.
-
Gelas ukur.
-
Pipet tetes.
:
-
Penangas air.
-
Penjepit.
-
Rak tabung.
Bahan
-
Urin sampel.
-
Urin patologis.
-
Larutan CuSO4 0,5 %.
-
Larutan NaOH 10 %.
-
Blanko
-
Asam pikrat
Prosedure kerja
:
1. Memasuki lab lengkap dengan menggunakan jas lab. 2. Mengecek dan mencuci bersih alat-alat yang akan digunakan. 3. Menyiapkan sampel yaitu urin. 4. Test Koagulasi :
5 ml urin sampel dan 5 ml urin patologis dimasukkan masing-masing ke dalam tabung reaksi.
Kemudian urin sampel dan urin patologis dipanaskan selama 5 menit hingga terlihat gumpalan ( koagulasi ) jika terdapat protein.
Test Biuret :
1 ml urin sampel dan 1 ml urin patologis dimasukkan masing-masing ke dalam tabung reaksi.
Setelah itu ditambahkan dengan 2 ml larutan CuSO4 0,5 % dan 2 ml larutan NaOH 10 % ke dalam masing-masing tabung reaksi.
Kemudian di homogenkan dan di diamkan selama 10 menit hingga terjadi perubahan warna menjadi warna ungu jika terdapat protein.
Test Asam Pikrat :
2 ml urin sample, urine patologis dan blanko dimasukkan kemasingmasing tabunng reaksi.
Kemudian tetesi dengan asam pikrat tetes demi tetes hingga terjadi pengndapan.
Amati perubahan yang terjadi.
5. Mencuci dan mengecek kembali alat-alat yang telah digunakan. Hasil Praktikum
:
A. TEST BIURET Larutan Urine (Sampel)
Urine Patologi
Blanko
Warna awal bening kekuningan (transparan) bening kekuningan (transparan) bening kekuningan (transparan)
Warna akhir
Hasil
Bening kebiruan Negatif (-) (transparan) Bening Positif (+) keunguan (transparan) Bening kebiruan Negatif (-) (transparan)
B. TEST ASAM PIKRAT Larutan Urine (Sampel)
Urine Patologi Blanko
Warna awal
Warna akhir
bening kekuningan Tidak ada
Asam Pikrat
Hasil
30 tetes
Negatif (-)
(transparan)
endapan
bening kekuningan (transparan) bening kekuningan (transparan)
Ada endapan
2 tetes
Positif (+)
Tidak ada endapan
20 tetes
Negatif (-)
C. TEST KOAGULASI Larutan Urine (Sampel)
Urine Patologi Blanko
Warna awal
Warna akhir
bening kekuningan Tidak ada
Waktu
Hasil
5 menit
Negatif (-)
(transparan)
endapan
bening kekuningan (transparan) bening kekuningan (transparan)
Ada endapan
5menit
Positif (+)
Tidak ada endapan
5 menit
Negatif (-)
Pembahasan
:
Pada praktek biokimia kualitatif protein dalam urine pada proses koagolasi jangan sampai larutan mendidih dan hanya berlangsung 5 menit agar protein yang ada di dalam urine tersebut tidak pecah. Pemanasan akan membuat protein sample terdenaturasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini terjadi karena energi panas akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada struktur alami protein tapi tidak memutuskan ikatan non-kovalennya yang berupa ikatan peptida. Proses ini biasanya berlangsung pada kisaran suhu yang sempit. Setelah ± 5 menit, tabung reaksi kami angkat, dan setelah diamati, larutan berwarna keruh ringan dengan butiran halus pada urine patologis dan bening pada urine sample dan blanko . Indikator pengamatan yang kami gunakan yaitu : -
(-)
: Ada kekeruhan
-
(+)
: Keruh sedikit tanpa butiran
-
( ++ )
: Kekeruhan lebih jelas dan tampak butiran
-
( +++ )
: Urin keruh dan tampak kepingan
-
( ++++ ) : Sangat keruh + gumpalan + kepingan lebih besar Penentuan protein urin secara kualitatif yang kami lakukan terhadap sampel urin patologis dari kelompok kami yaitu : (+) Keruh sedikit dengan butiran Artinya urin sampel yang kami gunakan dengan hasil + menandakan bahwa untuk protein, ginjal orang yang sampel urinnya diambil masih dalam keadaan baik, begitu pula dengan kelompok yang lain. Jika hasil yang terjadi +++ (urin keruh dan ada kepingan) atau hasil ++++ (sangat keruh, ada gumpalan dan kepingan), berarti dalam urin orang tersebut proteinnya tinggi, itu menandakan ada gangguan di Nefron yang berfungsi sebagai penyaring protein. Biasanya orang yang protein di dalam urinnya tinggi disebut penderita syndroma Nefrotik. Sedangkan pada urine mahasiswa dan blako berwarna bening artinya tidak terdapat protein di dalam urine (negatif ) Uji biuret digunakan untuk menunjukkan adanya ikatan peptida dalam suatu zat yang diuji. Adanya ikatan peptida mengindikasikan adanya protein, karena asam amino berikatan dengan asam amino yang lain melalui ikatan peptida membentuk protein. Ikatan peptida merupakan ikatan yang terbentuk ketika atom karbon dari gugus karboksil suatu molekul berikatan dengan atom nitrogen dari gugus amina molekul lain. Reaksi tersebut melepaskan molekul air sehingga disebut reaksi kondensasi.
asam amino yang berikatan dengan ikatan peptida dan membentuk molekul protein. Ikatan peptida tersebut yang akan bereaksi dengan reagen biuret menghasilkan perubahan warna. Reaksi positif uji biuret ditunjukkan dengan munculnya warna ungu atau merah muda akibat adanya persenyawaan antara Cu++ dari reagen biuret dengan NH dari ikatan peptida dan O dari air. Semakin panjang ikatan peptida (banyak asam amino yang berikatan) akan memunculkan warna ungu, semakin pendek ikatan peptida (sedikit asam amino yang berikatan) akan memunculkan warna merah muda. Uji biuret akan menunjukkan hasil negatif pada asam amino bebas karena tidak memiliki ikatan peptida. hasil positif uji biuret terhadap suatu larutan yang ditandai dengan berubahnya larutan menjadi berwarna ungu. Sehingga pada pengujian dengan test biuret urin patologis berwarna ungu yang artinya terdapat protein dalam urine tersebut (positif), dan untuk urine mahasiswa dan blanko berwarna biru yang artinya tidak terdapat protein di dalam sample (negatif). Pada test asam pikrat akan memberikan hasil positif bila terdapat endapan. Sebagian besar protein dapat diendapkan dengan penambahan asam- asam yang salah satunya yaitu asam pikrat. Penambahan asam- asam seperti asam pikrat menyebabkan terbentuknya garam proteinat yang tidak larut, kemudian protein dapat pula mengalami denaturasi irreversibel dengan adanya logam – logam berat seperti Cu2+, Hg2+, dan Pb2+ sehingga mudah mengendap. Pada praktikum kami terdapat endapan pada urin patologis sedangkan tidak terdapat endapan pada urine mahasiswa dan blanko
Kesimpulan
:
Adapun kesimpulan yang dapat diambil daripercobaan ini adalah sebagai berikut : 1. Pemanasan akan membuat protein sample terdenaturasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini terjadi karena energi panas akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada struktur alami protein tapi tidak memutuskan ikatan non-kovalennya yang berupa ikatan peptida. 2. Uji biuret digunakan untuk menunjukkan adanya ikatan peptida dalam suatu zat yang diuji. Adanya ikatan peptida mengindikasikan adanya protein, karena asam amino berikatan dengan asam amino yang lain melalui ikatan peptida membentuk protein. Ikatan peptida tersebut yang akan bereaksi dengan reagen biuret menghasilkan perubahan warna. Uji biuret akan menunjukkan hasil negatif pada asam amino bebas karena tidak memiliki ikatan peptida. hasil positif uji biuret terhadap suatu larutan yang ditandai dengan berubahnya larutan menjadi berwarna ungu.
3. Pada test asam pikrat akan memberikan hasil positif bila terdapat endapan. Sebagian besar protein dapat diendapkan dengan penambahan asam- asam yang salah satunya yaitu asam pikrat. Penambahan asam- asam seperti asam pikrat menyebabkan terbentuknya garam proteinat yang tidak larut, kemudian protein dapat pula mengalami denaturasi irreversibel dengan adanya logam – logam berat seperti Cu2+, Hg2+, dan Pb2+ sehingga mudah mengendap. 4. Pada pengujian test koagulasi mendapatkan hasil yaitu urine patologis (+) ditandai dengan adanya endapan bintik putih pada sample, sedangkan pada urine mahasiswa dan blanko (-) ditandai dengan tidak adanya endapan. 5. Pada pengujian dengan test biuret urin patologis berwarna ungu yang artinya terdapat protein dalam urine tersebut (positif), dan untuk urine mahasiswa dan blanko berwarna biru yang artinya tidak terdapat protein di dalam sample (negatif). 6. Pada test asam pikrat terdapat endapan pada urin patologis sedangkan tidak terdapat endapan pada urine mahasiswa dan blanko
DAFTAR PUSTAKA
Modul praktikum biokimia 2017 Day, R. A dan Underwood. 1999. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi Enam. Erlangga, Jakarta.
Hawab, H. M. 2004. Pengantar Bio Kimia Edisi Revisi. Bayumedia Publishing, Jakarta.
Keenan, C. W. Donald C. K dan Jesse, H. Wood. 1986. Ilmu Kimia. Erlangga, Jakarta.
Khopker, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Indonesia Press. Jakarta.
Kimbell, J. W. 1992. Edisi Kelima. Erlangga, Jakarta.
Kuchel, P. 2006. Biokimia. Erlangga, Jakarta.
Kusumah, W. M. 1997. Biokimia. IPB, Bogor.
Marks, D. B., A. D. Marks dan C. M. Smith. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar. Penerbit EGC, Jakarta.
Martoharsono, S. dan Mulyono. 1976. Petunjuk Praktikum Biokimia. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Penanggungjawab
Ni Kadek Widya Pratiwi
LAMPIRAN 1
View more...
Comments