Kelompok 2 Askep CA. Gaster
August 16, 2024 | Author: Anonymous | Category: N/A
Short Description
Download Kelompok 2 Askep CA. Gaster...
Description
Asuhan Keperawatan dengan Gangguan CA. Gaster
Mata Kuliah Pencernaan Dosen Pembimbng Hj. Masjanifah, S. Kep, Ners
Kelompok 2 :
1. Akbar Farpenta
2. Surya Nopriatama 3. Ricky Ersaputra 4. Weni Karunia 5. Lestari Saptayanti 1
Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan
Muhammadiyah PontianakKata Pengantar
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami membahas mengenai Asuhan Keperawatan dengan Gangguan CA. Gaster..
Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian.
2
Daftar Isi Kata Pengantar
2
Daftar Isi
3
BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
4
1.2 Rumusan Masalah
4
1.3 Tujuan
5
BAB II Pembahasan 2.1 Lambung 2.2 Kanker lambung 2.3 Etiologi dan Patogenesis 8 2.4 Patofisiologi 9 2.5 P rognosis dan stadium 10 2.6 Pengkajian 11 2.7 Pemeriksaan radiografi 14 2.8 Pengkajian penatalaksanaan medis 16 2.9 Diagnossis keperawatan 16 2.10 Rencana keperawatan 17 2.11 Evaluasi 3
21
BAB III Penutup
6 7
3.1 Kesimpulan
23
3.2 Saran
23
Daftar Pustaka
24
4
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Kanker lambung adalah suatu keganasan yang terjadi di lambung, sebagian besar adalah dari jenis adenokarsinoma. Jenis kanker lambung lainnya adalah leiomiosarkoma (kanker otot polos) dan limfoma. Kanker lambung lebih sering terjadi pada usia lanjut. Kurang dari 25% kanker tertentu terjadi pada orang di bawah usia 50 tahun (Osteen, 2003). Kanker lambung pada pria merupakan keganasan terbanyak ketiga setelah kanker paru dan kanker kolorektal, sedangkan pada wanita merupakan peringkat keempat setelah kanker payudara, kanker serviks, dan kanker kolorektal (Crishtian, 1999). Secara umum kanker lambung lebih sering terjadi pada laki-laki dengan perbandingan 2:1; pada kanker kardia lambung, insidensi pada laki-laki tujuh kali lebih banyak dari wanita. Kanker lambung lebih sering terjadi pada usia 50-70 tahun, tetapi sekitar 5% pasien kanker lambung berusia kurang dari 35 tahun dan 1% kurang dari 30 tahun (Neugut, 1996).
1.2 Rumusan Masalah 1.
Bagaimana anatomi lambung secara umum ?
2.
Apa itu kanker lambung ?
3.
Apa penyebab dari kanker lambung ?
4.
Bagaimana patofisiologi dari kanker lambung ?
5
5.
Bagaimana prognosis dan stadium pada kanker lambung ?
6.
Pengkajian seperti apa yang dilakukan pada orang yang mengidap penyakit
kanker lambung ? 7.
Bagaimana pemeriksaan radiografi yang dilakukan pada kanker lambung ?
8.
Bagaimana penatalaksanaan medis yang dilakukan pada kanker lambung ?
9.
Diagnosis seperti apa yang dilakukan pada penderita kanker lambung ?
10. Bagaimana bentuk rencana keperawatan pada kanker lambung ? 11. Seperti apa bentuk evaluasi pada kanker lambung ? 1.3 Tujuan 1.
Agar mahasiswa dapat memahami apa itu kanker lambung
2.
Diharapkan mahasiswa dapat memahami membuat asuhan keperawatan yan berkaitan dengan kanker lambung
6
BAB II Pembahasan
2.1 Lambung
Lambung adalah rongga seperti kantung berbentuk J yang terletak antara esofagus dan usus halus. Organ ini dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan pembedaan anatomik, histologis, dan fungsional. Fundus adalah bagian lambung yang terletak di atas lubang esofagus. Bagian tengah atau utama lambung adalah korpus. Lapisan otot polos d fundus dan korpus relatif tipis, tetapi bagian bawah lambung, antrum, memiliki otot yang jauh lebih tebal. Perbedaan ketebalan otot ini emmiliki peran penting dalam motilitas lambung di kedua regio tersebut, seperti 7
segera akan anda ketahui. Juga terdapat perbedaan kelenjar di mukosa regio-regio ini, sperti akan dijelaskan nanti. Bagian terminal lambung adalah sfingter pilorus, yang
bekerja sebagai sawar antara lambung dan bagian atas usus halus, duodenum. 2.2 Kanker Lambung Karsinoma lambung merupakan bentuk neoplasma lambung yang paling sering terjadi dan menyebabkan sekitar 2,6% dari semua kematian akibat kanker (Cancer Facts and Figures, 1991). Laki-laki lebih sering terserang dan sebagian besar kasus timbul setelah usia 40 tahun. Penyebab kanker lambung tidak diketahui, tetapi dikenal faktor-faktor predisposisi tertentu. Faktor genetik tampaknya penting, karena kanker lambung lebih sering pada orang dengan golongan darah A. Faktor geografis dan lingkungan tampaknya penting, karena kanker lambung sangat sering terdapat di Jepang, Chili, dan Islandia. Karena alasan yang tidak diketahui, kanker lambung di Amerika sudah berkurang selama 60 tahun terakhir. Kanker lambung lebih sering terdapat pada golongan sosial ekonomi rendah. Salah satu faktor predisposisi yang paling penting adalah adanya gastritis atrofik atau anemia pernisiousa seperti yang telah dibicarakan sebelumnya. Sekitar 50% kanker lambung terletak pada antrum pilorus. Sisanya tersebar di seluruh korpus lambung. Terdapat tiga bentuk umum karsinoma lambung. Karsinoma ulseratif merupakan jenis yang paling sering terdapat dan harus dibedakan dari tukak lambung jinak. Karsinoma polipoid tampak seperti kembang kol yang menonjol ke dalam lumen dan dapat berasal dari polip adenoma. Karsinoma infiltratif dapat menembus seluruh tebal dinding lambung dan dapat menyebabkan terbentuknya “ lambung botol kulit” (linitis plastika) yang tidak lentur. 8
Karsinoma lambung jarang didiagnosis pada stadium dini karena gejala timbul lambat atau tidak nyata dan tidak pasti. Gejala dini dapat berupa perasaan sedikit
tidak enak pada abdomen bagian atas atau perasaan penuh setelah makan. Pada akhirnya timbul anoreksia dan penurunan berat badan. Bila tumor terletak dekat kardia, disfagia mungkin merupakan gejala utama yang pertama. Muntah karena obstruksi pilorus dapat terjadi bila tumor berada dekat jalan keluar lambung. Pemeriksaan radiologik, sotologi eksfoliatif, dan endoskopi disertai biopsi, semuanya merupakan cara diagnosis kanker lambung yang pentin. Eksisi pembedahan merupakan satu-satunya terapi yang efektif. Karena diagnosis yang biasanya terlambat, prognosisnya jelek, angka kelangsungan hidup 5 tahun 10%.
2.3 Etiologi dan Patogenesis Penyebab pasti dari kanker lambung belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor predisposisi yang bisa meningkatkan perkembangan kanker lambung, meliputi halhal sebagai berikut. 1.
Konsumsi makanan yang diasinkan, diasap, atau yang diawetkan. Beberapa studi menjelaskan intake diet dari makanan yang diasinkan menjadi faktor utama peningkatan kanker lambung. Kandungan garam yang masuk ke dalam lambung akan menjadi carcinogenic nitrosamines di dalam lambung. Gabungan kondisi terlambatnya pengosongan asam lambung dan peningkatan komposisi nitrosamines di dalam lambung memberikan kontribusi terbentuknya kanker lambung (Yarbro, 2005).
2.
Infeksi H. Pylori. H. Pylori adalah bakteri penyebab lebih dari 90% ulkus duodenum dan 80% tukak lambung (Fuccio, 2007). Bakteri ini menempel di permukaan dalam tukak lambung melalui interaksi antara membran bakteri
9
lektin dan oligosakarida spesifik dari glikoprotein membran sel-sel epitel lambung (Fuccio, 2009).
3.
Sosioekonomi. Kondisi sosioekonomi yang rendah dilaporkan meningkatkan risiko kanker lambung, namun tidak spesifik. Menurut hasil penelitian di Amerika Serikat, kondisi sosioekonomi yang rendah dihubungkan dengan faktor-faktor asupan diet, kondisi lingkungan miskin dengan sanitasi buruk.
4.
Mengonsumsi rokok dan alkohol. Pasien dengan konsumsi rokok lebih dari 30 batang sehari dan dikombinasi dengan konsumsi alkohol kronik akan meningkatkan risiko kanker lambung (Gonzalez, 2003)
5.
NSAIDs. Inflamasi polip lambung bisa terjadi pada pasien yang mengonsumsi NSAIDs dalam jangka waktu yang lama dan hal ini (polip lambung) dapat menjadi prekursor kanker lambung. Kondisi polip lambung berulang akan meningkatkan risiko kanker lambung (Houghton, 2006).
6.
Faktor genetik. Sekitar 10% pasien yang mengalami kanker lambung memiliki hubungan genetik. Walaupun maish belum sepenuhnya dipahami, tetapi adanya mutasi dari gen E-cadherin terdeteksi pada 50% tipe kanker lambung. Adanya riwayat keluarga anemia pernisosa dan polip adenomatus juga dihubungkan dengan kondisi genetik pada kanker lambung (Bresciani, 2003).
7.
Anemia pernisiosa. Kondisi ini merupakan penyakit kronis dengan kegagalan absorpsi kobalamin (vitamin B12), disebabkan oleh kurangnya faktor instrinsik sekresi lambung. Kombinasi anemia pernisiosa dengan infeksi h. Pylori memberikan kontribusi penting terbentuknya tumorigenesis pada dinding lambung (Santacrose, 2008).
10
2.4 Patofisiologi Sekitar 95% kanker lambung adalah jenis adenokarsinoma, dan 5%-nya bisa
berupa limfoma, leimiosarkoma, karsinoid, atau sarkoma. Menurut Fuccio, 2009, adenokarsinoma lambung terdiri atas dua tipe, yaitu tipe intestinal (tipe struktur glandular) dan tipe difus (infiltratif pada dinding lambung). Dengan adanya kanker lambung, lesi tersebut akan menginvasi muskularis propia dan akan melakukan metastasis pada kelenjar getah bening regional. Lesi pada kanker lambung memberikan berbagai macam keluhan yang timbul, gangguan dapat dirasakan pada pasien biasanya jika sudah pada fase progresif, di mana berbagai kondisi akan muncul seperti dispepsia, anoreksia, penurunana BB, nyeri abdomen, konstipasi, anemia, mual serta muntah. Kondisi ini akan memberikan berbagai masalah keperawatan.
2.5 Prognosis dan Stadium Prognosis kanker lambung disesuaikan dengan stadiumnya. Penilaian untuk menentukan stadium kanker lambung dilakukan dengan menggunakan sistem TNM yang telah disepakati (Hassan, 2009). Tabel di bawah ini menggambarkan stadium patologis dari kanker lambung dengan menggunakan penilaian sistem TNM.
Stadium kanker lambung dengan menggunakan sistem TNM Tumor Primer (T) Kelenjar Getah Bening Metastasis jauh (M) Tis Carcinoma in situ.
(KGB) Regional (N) N0 Kelenjar getah
Tumor intraepitel.
bening regional
T1
Ekstensi tumor ke
N1
tidak terlibat. Metastasis pada 1-6
T2
submukosa. Ekstensi tumor ke
N2
nodus limfe regional Metastasis pada 7-
11
T3
propia muskular dan
15 nodus limfe
serosa Penetrasi ke serosa
regional. Metastasis pada >15
N3
M0
Tidak ada metastasis jauh
M1
Ada metastasis jauh.
nodus limfe regional. T4
Invasi ke struktur sekitar
Pengelompokan stadium dan prediksi bertahan hidup. Stadium TNM Bertahan Hidup Setelah 5 Stadium I Stadium II Stadium III a Stadium III b Stadium IV
T1 T1 T2 T3 T2 T3 T4 T3 T4 Setiap T Setiap T
N0 N2 N1 N0 N2 N1 N0 N2 N1-3 N3 Setiap N
M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M1
Tahun 88% 65% 35% 35% 5%
2.6 Pengkajian Pengkajian akan didapatkan sesuai stadium kanker lambung. Keluhan anoreksia terjadi pada hampir semua pasien yang mengalami kanker lambung. Keluhan gastrointestinal yang lazim biasanya adalah nyeri epigastrium, berat badan menurun dengan cepat, melena, dan anemia; pada kondisi ini biasanya sudah ada metastasis dalam kelenjar getah bening, regional, paru, otak, tulang, dan ovarium. Pada pengkajian riwayat penyakit, penting diketahui adanya penyakit yang pernah diderita seperti ulkus peeptikum atau gastritis kronis yang disedbabkan oleh infeksi H. Pylori. Pengkajian perilaku/kebiasaan yang mendukung peningkatan risiko penyakit ini, seperti konsumsi alkohol dan tembakau kronis, konsumsi makanan yang diasinkan (seperti daging bakar atau ikan asin). Perawat juga mengkaji terdapatnya 12
penurunan berat badan selama ada riwayat penyakit tersebut. Pengkajian psikososial biasanya didapatkan adanya kecemasan berat setelah
pasien mendapat informasi mengenai kondisi kanker lambung. Perawat juga mengkaji pengetahuan pasien tentang program pengobatan kanker; meliputi radiasi, kemoterapi, dan pembedahan gastrektomi. Pengkajian tersebut memberikan informasi untuk merencanakan tindakan yang sesuai dengan kondisi pasien.
13
Walaupun pemeriksaan fisik tidak banyak membantu untuk menegakkan diagnosis, tetapi pada pemeriksaan gastrointestinal akan didapatkan adanya anoreksia, penurunan berat badan, dan pasien terlihat kurus. Pengkajian diagnostik yang diperlukan untuk kanker lambung adalah pemeriksaan radiografi, endoskopi biopsi, sitologi, dan laboratorium klinik.
2.7 Pemeriksaan Radiografi 1.
Dengan bubur barium, akan terdapat gambaran yang khas pada sebagian besar kasus, di mana akan terlihat tumor dengan permukaan yang erosif dan kasar pada bagian lambung.
Pemeriksaan radiografi dengan barium. Ketidaknormalan kontur dinding lambung menandakan adenomatus lambung (kiri). Polypoid karsinoma pada badan lambung (kanan) (Cabebe E.E. 2008).
2. CT Scan. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai evaluasi praoperatif dan untuk melihat stadium dengan sistem TNM dan penyebaran ekstra lambung, yang 14
penting untuk penentuan intervensi bedah radikal dan pemberian informasi prabedah pada pasien.
CTscan. Carcinoma pada baigna kardia lambung tanpa disertai metastasi pada hati (kiri). Metastasis ke meseterik, omentum, dan peritoneal (kanan) (Isaac Hassan, 2009).
3.
Endoskopi dan biopsi. Pemeriksaan endoskopi dan biopsi dangat penting untuk mendiagnosis karsinoma lambung, terutama untuk membedakan antara karsinoma epidermal dan adenokarsinoma. Paling tidak diperlukan beberapa tindakan biopsi, karena kemungkinan terjadi penyebaran ke submukosa dan adanya kecenderungan tertutuppnya karsinoma epidermal oleh sel epitel skuamus yang normal.
15
Endoskopi kanker lambung. (A) Pengambilan biopsi pada infeksi Helicobacter
pylori; (B) Kanker lambung dengan nodular hemoragis; (C) kanker lambung dengan tumpukan iregular yang menutup permukaan lambung; (D) kanker lambung dengan massa ulseratif (Cabebe E.C., 2008).
2.8 Pengkajian Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan medis disesuaikan dengan penentuan stadium (staging) dan pengelompokan stadium tumor. Intervensi yang lazim dilakukan adalah tindakan endoskopi, kemoterapi, radioterapi, dan intervensi bedah. Pada polip lambung jinak, diankat dengan menggunakan endoskopi. Bila karsinoma ditemukan di dalam lambung, pembedahan biasanya dilakukan untuk mencoba menyembuhkannya. Sebagian besar atau semua lambung diangkat (gastrektomi) dan kelenjar getah bening di dekatnya juga ikut diangkat. Bila karsinoma telah menyebar ke luar lambung, tujuan pengobatan yang dilakukan adalah untuk mengurangi gejala dan memperpanjang harapan hidup pasien. Kemoterapi dan terapi penyinaran bisa meringankan gejala. Didapatkan hasil kemoterapi dan terapi penyinaran pada limfoma lebih baik pada karsinoma. Beberapa pasien dengan tingkat toleransi yang baik akan bertahan hidup lebih lama bahkan bisa sembuh total.
2.9 Diagnosis Keperawatan 1.
Pemenuhan informasi b.d. Adanya evaluasi diagnostik, intervensi kemoterapi, radioterapi, rencana pembedahan (gastrektomi), dan rencana perawatan rumah.
2.
Risiko injuri b.d. Pascaprosedur bedah gastrektomi.
16
3.
Aktual/risiko ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. Kemampuan batuk menurun, nyeri pascabedah.
4.
Aktual/risiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d. Intake makanan tidak adekuat.
5.
Nyeri b.d. Iritasi mukosa esofagus, respons pembedahan.
6.
Risiko tinggi infeksi b.d. Adanya port de entree luka pascabedah.
7.
Kecemasan b.d. Prognosis penyakit, salah interpretasi mengenai informasi, dan rencana pembedahan.
2.10 Rencana Keperawatan Pemenuhan informasi b.d. Adanya evaluasi diagnostik, intervensi kemoterapi, radioterapi, rencana pembedahan (gastrektomi), dan rencana perawatan rumah Tujuan: dalam waktu 1 x 24 jam informasi kesehatan terpenuhi. Kriteria evaluasi: - Pasien mamu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang diberikan. - pasien termotivasi untuk melaksanakan penjelasan yang telah diberikan. Intervensi Rasional Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang Tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh prosedur diagnostik, intervensi
kondisi sosioekonomi pasien. Perawat
kemoterapi, radiasi, pembedahan
menggunakan pendekatan yang sesuai
esofagus, dan rencana perawatan rumah.
dengan kondisi pasien, dengan mengetahui tingkat pengetahuan pasien, perawat dapat lebih terarah dalam memberikan pendidikan yang sesuai dengan pengetahuan pasien secara efektif
Cari sumber yang meningkatkan
dan efisien. Keluarga terdekat pasien perlu dilibatkan
penerimaan informasi.
dalam pemenuhan informasi untuk menurunkan risiko kesalahan interpretasi terhadap informasi yang diberikan.
Jelaskan dan lakukan intervensi prosedur 17 diagnostik
radiografi dengan barium.
Risiko injuri b.d. Pascaprosedur bedah gastrektomi Tujuan: dalam waktu 2 x 24 jam pascaintervensi reseksi esofagus, pasien tidak
mengalami injuri. Kriteria evaluasi: - TTV dalam batas normal. - Kondisi kepatenan selang dada optimal. - tidak terjadi infeksi pada daerah insisi. Intervensi Lakukan perawatan di ruang intensif
Rasional Untuk menurunkan risiko injuri dan memudahkan intervensi pasien selama 48
Kaji faktor-faktor yang miningkatkan
jam di ruang rawat. Saat kondisi pascabedah, akan terdapat
risiko injuri.
banyak drain pada tubuh pasien. Keterampilan keperawatan kritis diperlukan agar pengkajian tanda-tanda
Kaji status neurologi dan laporkan
vital dapat dilakukan secara sistematis. Pengkajian status neurologi dilakukan
apabila terdapat perubahan status
pada setiap pergantian shift. Setiap
neurologi.
perubahan status neurologis merupakan slaah satu tanda terjadi komplikasi bedah. Penurunan respons, perubahan pupil, gangguan atau kelemahan yang bersifat satu sisi (unilateral), ketidakmampuan dalam kontrol nyeri, atau perubahan neurologis lainnya perlu dilaporkan pada tim medis untuk mendapatkan intervensi selanjutnya.
Aktual/risiko ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. Kemampuan batuk menurun, nyeri pascabedah. Tujuan: dalam waktu 2 x 24 jam pascabedah gastrektomi, kebersihan jalan napas pasien tetap optimal. Kriteria evaluasi: - Jalan napas bersih, tidak ada akumulasi darah pada jalan napas. 18
- Suara napas normal, tidak ada bunyi napa tambahan seperti stridor. - tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan. - RR dalam batas normal 12-20 x/menit Intervensi
Rasional
Kaji dan monitor jalan napas.
Deteksi awal untuk interpretasi intervensi selanjutnya. Salah satu cara untuk mengetahui apakah pasien bernapas atau tidak adalah dengan menempatkan telapak tangan di atas hidung dan mulut pasien, untuk merasakan hembusan napas. Gerakan toraks dan diafragma tidak selalu menandakan pasien
Beri oksigen 3 liter/menit
bernapas. Pemberian oksigen dilakukan pada fase awal pascabedah. Pemenuhan oksigen dapat membantu meningkatkan PaO2 di cairan otak, yang akan mempengaruhi
Instruksikan pasien untuk napas dalam
pengaturan pernapasan. Pada pasien pascabedah dengan tingkat
dan melakukan batuk efektif
toleransi yang baik, pernapasan diafragma dapat meningkatkan ekspansi paru. Berbagai tindakan dilakukan untuk memperbesar ekspansi dada dan pertukaran gas. Sebagai contoh, meminta pasien untuk menguap atau melakukan inspirasi maksimal. Batuk juga didorong untuk melonggarkan sumbatan mukus. Bantu pasien mengatasi ketakutannya bahwa ekskresi dari batuk dapat menyebabkan insisi bedah akan terbuka.
Nyeri b.d. Iritasi mukosa lambung, respons pembedahan Tujuan: dalam waktu 7 x 24 jam pascabedah, nyeri berkurang atau teradaptasi. Kriteria evaluasi: -19Secara subjektif menyatakan nyeri berkurang atau teradaptasi. - skala nyeri 0-1 (dari skala 0-4). - TTV dalam batas normal, wajah terlihat rileks. Intervensi Rasional
Jelaskan dan bantu pasien dengan
Pendekatan dengan menggunakan
tindakan pereda nyeri nonfarmakologi
relaksasi dan terapi nonfarmakologi telah
dan noninvasif.
menunjukkan keefektifan dalam
Istirahatkan pasien pada saat nyeri
mengurangi nyeri. Istirahat, secara fisiologis akan
muncul.
menurunkan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
Ajarkan teknik relaksasi napas dalam
metabolisme basal. Meningkatkan asupan oksigen sehingga
pada saat nyeri muncul.
akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia intestinal.
Risiko tinggi infeksi b.d. Adanya port de entree luka pascabedah Tujuan: dalam waktu 12 x 24 jam terjadi perbaikan pada integritas jaringan lunak dan tidak terjadi infeksi. Kriteria evaluasi: - Jahitan dilepas pada hari ke-12 tanpa adanya tanda-tanda infeksi dan peradangan pada area luka pembedahan. - Leukosit dalam batas normal. - TTV dalam batas normal. Intervensi Kaji jenis pembehahan, waktu
Rasional Mengidentifikasi kemajuan atau
pembedahan, dan apakah adanya
penyimpangan dari tujuan yang
instruksi khusus dari tim dokter bedah
diharapkan.
dalam melakukan perawatan luka. Jaga kondisi balutan dalam keadaan
Kondisi bersih dan kering akan
bersih dan kering.
menghindari kontaminasi komensal yang akan menyebabkan respons inflamasi lokal dan aan memperlambat proses
Lakukan perawatan luka steril pada hari
penyembuhan luka. Perawatan luka sebaiknya tidak
ke dua pasca bedah dan diulang setiap
dilakukan setiap hari untuk mengurangi
dua hari sekali pada luka abdomen.
kontak dengan luka yang steril, sehingga
20
mencegah kontaminasi kuman pada luka bedah.
Kecemasan b.d. Prognosis penyakit, salah interpretasi mengenai informasi Tujuan: dalam waktu 1 x 24 jam pasien secara subjektif melaporkan rasa cemas berkurang. Kriteria evaluasi: - Pasien mampu mengungkapkan perasaannya kepada perawat. - Pasien dapat mendemonstrasikan keterampilan pemecahan masalahnya dan perubahan koping yang digunakan sesuai situasi yang dihadapi. - Pasien dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakutan di bawah standar. - Pasien dapat rileks dan tidur/istirahat dengan baik. Intervensi Rasional Monitor respons fisik seperti kelemahan, Digunakan dalam mengevaluasi perubahan tanda vital, atau gerakan yang
derajat/tingkat kesadaran/konsentrasi,
berulang-ulang. Catat kesesuaian respons
khususnya ketika melakukan komunikasi
verbal dan nonverbal selama komunikasi. Anjurkan pasien dan keluarga untuk
verbal. Memberikan kesempatan untuk
mengungkapkan dan mengekspresikan
berkonsentrasi, kejelasan dari rasa takut,
rasa takutnya.
dan mengurangi cemas yang berlebihan.
2.11 Evaluasi Kriteria evaluasi yang diharapkan pada pasien kanker lambung setelah mendapat intervensi keperawatan adalah sebagai berikut. 1.
Terpenuhinya informasi mengenai pemeriksaan diagnostik, intervensi kemoterapi, radiasi, dan keadaan prabedah.
21
2.
Tidak mengalami injuri dan komplikasi pascabedah.
3.
Pasien tidak mengalami penurunan berat badan.
4.
Terjadi penurunan respons nyeri.
5.
Tidak terjadi infeksi pascabedah.
6.
Kecemasan pasien berkurang.
BAB III Penutup 3.1 Kesimpulan Karsinoma lambung merupakan bentuk neoplasma lambung yang paling sering terjadi dan menyebabkan sekitar 2,6% dari semua kematian akibat kanker (Cancer Facts and Figures, 1991). Laki-laki lebih sering terserang dan sebagian besar kasus timbul setelah usia 40 tahun. Penyebab pasti dari kanker lambung belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor predisposisi yang bisa meningkatkan perkembangan kanker lambung
3.2 Saran Kedepannya diharapkan perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang optimal kepada pasien atau klien yang mengalami gangguan kanker lambung.
22
Daftar Pustaka
Arif Muttaqin, dan Kumala Sari. 2011. Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Salemba Medika: Jakarta Price, S. A. (1992). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. EGC: Jakarta Sherwood, Lauralee. 2007. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem. EGC: Jakarta
23
View more...
Comments