Cell Cure

March 18, 2018 | Author: Ivan | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

cc...

Description

LAPORAN UTAMA Penyakit-penyakit yang dapat diobati dengan menggunakan terapi cell cure Terapi baru sel yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit kini hadir di Indonesia. Teknologinya telah mampu dikuasai putra-putra bangsa. Hanya tersedia di RSPAD Gatot Soebroto. Terapi cure cell pertama, dan satu-satunya di Asia. a. Penyakit degeneratif di antaranya 1) Ekstremitas (misalnya, penyakit sendi, tulang, ligamentum, tulang rawan, dan stromal ) 2) Aterosklerosis (misalnya penyakit jantung koroner dan penyakit stroke) 3) Endokrin (misalnya diabetes tipe I dan II, penyakit tiroid) 4) Syaraf ( misalnya penyakit parkinson dan alzheimer ) 5) Gastrointestinal (misalnya penyakit hati, usus, pankreas, lambung, limpa ) 6) Sirkulasi (misalnya penyakit jantung, paru, dan darah tinggi ) b. Penyakit autoimun di antaranya : 1) Diabetes melitus tipe I 2) Psoriasis 3) Eksim 4) Skleroderma 5) Vaskulitis (lupus) 6) Artritis Reumatoid (poliarthrosis) c. Penyakit kanker padat (solid tumor) : 1) Tumor otak 2) Tumor THT 3) Tumor kulit 4) Tumor paru-paru 5) Tumor saluran cerna 6) Tumor hati 7) Tumor traktus biliaris 8) Tumor pankreas 9) Tumor ginjal 10) Tumor ureter 11) Tumor kandung kemih 12) Tumor ovarium 13) Tumor uterus 14) Tumor pada anak ( misalnya tumor Wilms, neuroblastoma, tumor sarkoid) 15) Sarkoma (tulang, tulang rawan, jaringan lemak) === Tahapan terapi cell cure penyakit berbasis inflamasi Tahap I (Aferesis) Pada tahap ini dilakukan pengambilan monosit dari darah pasien menggunakan alat aferesis yang telah diprogram. Proses ini memakan waktu selama tiga jam. Sebelum dilakukan tindakan aferesis terhadap pasien, dilakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium terlebih dahulu untuk mengetahui kelayakan tindakan aferesis dan kondisi pasien. Tahap II (Elutrasi) Monosit yang didapat dari tahap I dimurnikan dengan alat elutrasi. Tindakan ini dilakukan di ruangan steril dengan syarat tertentu. Ini supaya tidak terjadi kontaminasi yang dapat menggagalkan terapi. Proses ini memakan waktu selama tiga jam Tahap III (Perlakuan sel ) Sel monosit yang didapat dari elutrasi ditambahkan dengan zat tertentu seperti IL-3 (interleukin 3) dan M-CSF (macrophage-coloni stimulating factor) pada

media tertentu. Ini supaya sel menjadi pemicu yang dapat menghilangkan proses inflamasi di tubuh setelah dilakukan inplantasi. Hasil perlakuan sel tersebut dapat diketahui dengan mikroskop dan alat flow cytometri untuk melakukan uji silang. Hal ini dilakukan supaya dapat menambah jumlah monosit tiap mililiter di kisaran 1-3 juta. Sebagian sel yang dihasilkan akan disimpan pada tabung pendingin nitrogen bersuhu -196 derajat celcius. Proses ini memakan waktu selama tujuh hari Tahap IV (Optimalisasi pasien) Selama menunggu tahap ketiga (perlakuan sel), dilakukan optimalisasi kondisi terhadap pasien berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan hasil laboratorium. Tahap V ( Inplantasi sel ) Bila kondisi pasien sudah optimal dan perlakuan sel sudah selesai, sehingga memenuhi persyaratan, sel itu kemudian akan diimplantasikan secara intravena. === Tahapan Terapi Sel untuk Kanker Proses tahapannya sama kecuali pada tahap ketiga zat yang ditambahkan berbeda. Demikian juga media yang digunakan berbeda sehingga hasilnya adalah sel dendritik yang akan menghancurkan sel kanker pasien. Siklus Terapi Untuk penyakit berbasis inflamasi terapinya bisa diulang sampai lima kali, sedangkan terapi kanker hanya bisa sekali Cell Cure menghasilkan tiga jenis produk: (1) Dendritic cells (DCs) untuk pengobatan kanker; (2) Repair macrophages cells (REMs) untuk perbaikan jantung dan pembuluh darah otak; dan (3) Regulatory macrophages cells (TOMs) untuk pengobatan penyakit yang berasal dari sistem kekebalan tubuh Sumber : RSPAD Gatot Soebroto

LAPORAN UTAMA Terobosan Baru Sel Penyembuh Penelitian mengenai terapi sel terus berkembang. Setelah berhasil dengan terapi punca, kini muncul terapi cell cure. Diklaim lebih mengungguli sel punca. Satu dekade terakhir ini sebagian orang menjadikan terapi sel untuk mengobati beragam penyakit berat. Mulai dari diabetes, disfungsi ereksi, leukemia, stroke, kanker, hingga jantung. Penelitian tentang terapi sel terus dilakukan. Terutama terapi sel bermetodekan stem cell atau sel punca. Baru-baru ini, seorang peneliti asal Denmark meneliti khasiat terapi sel punca dari lemak perut untuk mengatasi disfungsi ereksi. Penelitian sel punca kali pertama dilakukan pada awal 1980-an oleh para peneliti biologi di Universitas Cambridge, Inggris. Setelah itu sejumlah lembaga penelitian dan universitas berlomba-lomba melakukan penelitian serupa. November 1998, peneliti di Universitas of Winsconsin dan John Hopkins University mengklaim berhasil meneliti sel punca yang diisolasi dari embrio manusia, yang berpotensi menumbuhkan sel baru untuk mengganti selsel yang rusak atau sudah uzur. Di Indonesia, penelitian sel punca dilakukan sejak 1985. Saat itu terapi sel punca digunakan untuk mengobati pasien yang menderita leukemia akut. Caranya adalah dengan mengganti sumsum tulang yang ditransplasi dari sumsum tulang pasien. Padahal, sebelumnya, untuk mengobati leukemia, si pasien harus menjalani berbagai metode pengobatan mulai dari pemberian obat-obatan hingga kemoterapi. Namun, hasilnya sia-sia. Minat masyarakat Indonesia untuk melakukan pengobatan dengan terapi sel terbilang cukup tinggi. Bahkan ada yang menjalani terapi sel di rumah sakit atau klinik kesehatan di luar negeri. Padahal, biaya untuk melakukan terapi sel punca bisa menguras isi kantong. Tarif terapi sel punca yang termurah berkisar Rp 100 juta. Harganya semakin melejit jika terapi sel punca dilakukan untuk pengobatan penyakit berat seperti kanker dan jantung. Karena itu, tak mengherankan, jika terapi sel punca hanya bisa dinikmati orang-orang berkocek tebal. Dr. Sandy Qlintang, Deputy Directur Stem Cell and Cancer Institute (SCI) Kalbe menerangkan, selain untuk keperluan medis, tak sedikit pasien yang melakukan terapi sel punca agar tetap terlihat awet muda (anti-aging) dan sehat. "Kebanyakan tidak peduli berapa pun harganya, mengotot minta diterapi sel punca. Padahal kan tidak semua bisa disembuhkan begitu saja dengan terapi sel punca," kata Sandy kepada Gatra, April lalu.

Saat ini, tercatat 11 rumah sakit di Indonesia yang menjadi pusat pengembangan pelayanan medis penelitian dan pendidikan bank-jaringan dan sel punca. Seperti RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta dan RS Dr. Soetomo, Surabaya. Juga sejumlah laboratorium swasta yang telah mengantongi legalitas untuk penyimpanan dan pengolahan sel punca. Selain terapi sel dengan metode sel punca, kini muncul terobosan baru dalam terapi sel, yakni cell cure. Terapi ini dikembangkan oleh Universitatklinikum Schleswig-Holsten, Jerman. Tim ini dipimpin Prof. Dr. Med F Fandrich, FRCS, seorang ahli bedah. Penelitian dimulai 2005 silam. Para peneliti mengklaim terapi cell cure memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan terapi sel punca. Misalnya, sel punca yang dimasukan ke badan manusia dapat berubah menjadi sel kanker bila sel puncanya berada di lingkungan sel kanker. Angka kegagalannya juga cukup tinggi. Proses pembuatan sel punca lebih sulit dibandingkan cell cure. Keuntungan cell cure adalah tidak dapat menjadi sel kanker sehingga lebih aman. Berbeda dari sel punca yang telah mempunyai pelayanan di beberapa rumah sakit dan laboratorium klinik, untuk layanan terapi cell cure hanya ada di RSPAD Gatot Subroto. Kepala Laboratorium Cell Cure RSPAD, Letnan Kolonel Nurhandiyanta mengungkapkan, layanan terapi cell cure di RSPAD Gatot Soebroto adalah satu-satunya dan yang pertama di Indonesia bahkan di Asia. "Di dunia hanya ada dua. Satu di Jerman dan satu di Indonesia, di tempat kita (RSPAD)," kata Nur saat ditemui Gatra di ruang kerjanya, RSPAD, Jakarta Pusat, Rabu kemarin. Nur menceritakan, pilihan RSPAD membuka layanan cell cure melalui proses yang panjang. Berawal pada 2013. Ketika itu, Nur berniat membuka layanan lanjutan terapi sel punca yang menjadi tren saat itu. Namun, dalam perjalanan waktu, RSPAD memutuskan membuka layanan cell cure. "Setelah dipertimbangkan, kami pilih cell cure," kata alumnus Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada ini. Lalu, dimulailah penjajakan kerja sama antara RSPAD dan Medical Consulting for Cell Therapy GmbH, yakni sebuah klinik kesehatan yang di Duderstadt, Hinterst, Jerman. Klinik ini merupakan pemegang paten dari terapi sel dengan metode cell cure. Mereka sepakat bekerja sama membuka layanan cell cure di RSPAD. Agar RSPAD dapat mengoperasikan teknologi cell cure, pada 2015 enam tenaga medis RSPAD dikirim ke Jerman untuk mempelajari cell cure di Medical Consulting for Cell Therapy GmbH. "Kami mengikuti pendidikan di Duderstadt selama enam bulan, mulai Maret hingga September (2015)," kata Nur, yang juga merupakan salah satu anggota tim medis RSPAD ,yang berkesempatan mengikuti pelatihan terapi cell cure.

Di saat tim medis melakukan pelatihan di Jerman, di RSPAD dibangun fasilitas cell curetermasuk membangun laboratorium. Seluruh peralatan medis canggih untuk cell cure dikirim langsung dari Jerman. Setelah semua urusan teknis selesai, pada Mei lalu, layanan cell cureRSPAD mulai dioperasikan. Animo masyarakat untuk mendapatkan layanan cell cure cukup tinggi. "Sebelum kita resmi beroperasi sudah banyak yang menanyakan kapan RSPAD membuka cell cure, mereka mau daftar," kata Nur. Sujud Dwi Pratisto

Revolusi Terapi Sel Penyembuh Terapi baru sel yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit kini hadir di Indonesia. Teknologinya telah mampu dikuasai putra-putra bangsa. Hanya tersedia di RSPAD Gatot Soebroto. Terapi cure cell pertama, dan satu-satunya di Asia. Intan tak berhenti bersyukur. Kondisi kesehatan suaminya, Budi Santoso, terus menunjukkan kemajuan yang signifikan. "Wajahnya kini terlihat fresh sekali, kulitnya juga bagus. Seperti awet muda," ujar Intan, kepada Gatra, Selasa sore lalu. Kegembiraan Intan bukan tanpa alasan. Tiga tahun lalu, sang suami terserang stroke hebat. Ada sumbatan pada batang otak Budi. Pria 61 tahun itu harus terbaring tak berdaya akibat koma. "Itu serangan (stroke) yang kedua. Empat tahun sebelumnya ia juga terkena serangan serupa. Tapi, hanya keseimbangan tubuhnya yang terganggu," kata Intan mengenang. Budi lantas dirawat di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Kondisinya memprihatinkan, dengan alat bantu pernapasan terpasang di hidung. Sepuluh hari ia dirawat, namun tidak ada perubahan. "Dokter angkat tangan, dan menyarankan keluarga merawatnya di rumah saja," Intan menuturkan. Intan lantas diminta menyiapkan ruangan khusus di rumah yang didesain seperti ruang ICU. Tapi, ia merasa tidak puas dengan vonis dokter. Ia kemudian teringat akan terapi yang pernah diperkenalkan oleh Dokter Terawan Agus Putranto, radiolog sekaligus Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Yaitu: metode cuci otak alias brainwash. Terawan meminta Intan untuk membawa suaminya ke Jakarta. Di sana suaminya itu akan diterapi di rumah sakit yang terletak di bilangan Senen, Jakarta Pusat, tersebut. Namun, Intan tidak begitu yakin mengingat suaminya itu dalam kondisi parah. "Saya merasa aneh, kok enteng banget dibawa ke Jakarta," ujarnya. Ia juga meragukan efektivitas terapi yang bisa menyembuhkan suaminya. Namun, Terawan memberikan angin segar. "Beliau (dr. Terawan) mengatakan, orang dari seluruh dunia saja lari (berobat) ke sini (RSPAD). Jadi, tidak perlu khawatir," kata Intan. Dalam kondisi koma, Budi akhirnya dibawa ke RSPAD Gatot Soebroto. Di sana ia dirawat di ruang ICU selama 16 hari. Sesudah kondisinya stabil, Budi mulai menjalani terapi cuci otak. Tiga bulan dirawat, ia akhirnya sadar dari koma. Intan bersyukur namun juga penasaran. Ia ingin melihat suaminya segera sembuh. Kepada dokter jaga, Intan menanyakan cara lain untuk mempercepat pemulihan suaminya. Dokter

jaga itu menjawab ada, namun itu belum diluncurkan. "Dibilangnya terapi stem cell (sel punca) yang dikelola Dokter Nyoto," ujar Intan. Intan dan suaminya pun kembali ke rumah. Tiga bulan berselang, mereka kembali ke RSPAD untuk melakukan kontrol. Saat itu, mereka bertemu dr. Nyoto. Dokter tersebut menjelaskan bahwa terapi yang akan dikelolanya bukan sel punca, melainkan cell cure. Budi pun ditawari untuk menjajal terapi anyar tersebut. Tanpa banyak pertimbangan, Intan langsung menyetujui tawaran Nyoto. Budi mulai menjalani terapi bulan lalu. Hasilnya, kondisi badannya jauh lebih segar. Ia bahkan mulai berlatih berjalan. Intan menceritakan kemajuan yang dialami Budi kepada dokter yang pernah merawat Budi di Yogya. Sang dokter, kata Intan, terperanjat tak percaya. "Mereka bilang ini sangat cepat. Bayangan mereka, Budi bisa duduk saja sudah bagus, apalagi ini sudah latihan jalan," kata Intan dengan semringah. *** Sejauh ini, terapi cell cure yang dijalani Budi memang baru tersedia di RSPAD. Kolonel Nyoto, ahli penyakit darah dan kanker sekaligus penanggung jawab terapi cell cure cellularRSPAD, mengatakan teknologi canggih ini didapat dari Jerman. "Penelitian teknologi ini sudah dilakukan pada awal tahun 1970-an," katanya kepada Gatra. Ia mengklaim Indonesia merupakan negara pertama di Asia yang menggunakan teknologi cell cure cellular. Menurut Nyoto, dipilihnya RSPAD karena rumah sakit tersebut menerapkan disiplin ala tentara. Sehingga tepat untuk mengoperasikan alat. "Banyak protokol yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Jika tidak, terapinya tak akan berguna," ujar Nyoto. Sebelumnya, RSPAD ingin mengembangkan terapi sel punca. Tapi, kemudian perusahaan Jerman, Medical Consulting for Cell Therapy GmbH yang berbasis di Duderstadt, menawarkan teknologi cell cure. Kemudian ditekenlah kerja sama antara RSPAD dan Medical Consulting oleh Kepala RSPAD Gatot Soebroto, Brigadir Jenderal Dokter Douglas S. Umboh, pada 2013. Dua tahun kemudian, sejumlah tenaga spesialis dari RSPAD, yang terdiri atas lima teknisi, satu biolog, satu dokter gizi, dan seorang dokter menjalani pelatihan selama enam bulan di Jerman. Nyoto mengatakan, investasi yang ditanamkan untuk seluruh alat cell cure-nya melebihi Rp 100 milyar. Jerman kemudian melatih sejumlah dokter di RSPAD, memonitor, dan

mengawasi penerapannya. "Mereka masih datang ke sini secara khusus, dua bulan sekali, ujarnya. Menurut Nyoto, pihaknya mendatangkan teknologi anyar ini lantaran lompatan teknologi kedokteran Indonesia terbilang lambat dan tertinggal dari sejumlah negara lain. Bahkan, ia menduga Jepang akan beralih menggunakan terapi cell cure cellular untuk mengobati pasien-pasiennya. Terapi cell cure adalah terapi seluler terapan yang berbeda dari terapi sel punca yang belakangan ini juga dikembangkan. Apabila terapi sel punca mengandalkan pada sel-sel yang belum terdiferensiasi, cell cure mengandalkan sel yang sudah terbentuk. Sel yang dihasilkan oleh terapi ini adalah sel darah putih autologus yang dipisahkan dari seorang pasien. Selanjutnya diprogram dan diekspansi di sebuah lingkungan laboratorium khusus, dan disuntikkan kembali kepada pasien yang sama. Produk sel ini, Nyoto menyambung, berasal dari sel darah somatik, bukan sel punca. Namun ia memiliki banyak ciri regeneratif dan regulatory seperti sel-sel punca. Selain itu, sel-sel yang terprogram ini memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan sel punca. Salah satunya adalah sel ini tidak dapat berubah menjadi sel lain meskipun ada pemicunya. Sel itu justru memicu sel lain untuk memperbaiki diri dan membunuh sel yang diperkenalkan di awal sebagai sel musuh, seperti sel kanker dan lainnya. Lain halnya dengan sel punca. Jika sel punca digunakan dan dimasukkan ke tubuh pasien kanker, dikhawatirkan justru berubah menjadi sel kanker. Terapi cell cure memiliki tiga jenis produk. Yaitu: dendritic cells (DCs), untuk pengobatan kanker, repair macrophages cells (REMs), untuk perbaikan jantung dan pembuluh darah otak, serta regulatory macrophages (TOMs) untuk pengobatan penyakit dari sistem kekebalan tubuh. Macrophages adalah sel jaringan sel darah putih yang disebut monosit. REM digunakan untuk mengatasi pasien dengan luka yang sulit disembuhkan. Di situ REM mendorong timbulnya pembuluh darah baru yang mempercepat penyembuhan. Penyakit peripheral artery disease (PAD) juga bisa disembuhkan dengan REMs. PAD adalah penyakit penyumbatan pembuluh darah arteri yang kerap terjadi di kaki, perut, tangan, dan kepala. Pasien PAD berisiko tinggi terkena penyakit jantung arteri, serangan jantung, dan stroke. Bila tak diterapi, kaki akan lumpuh, dan harus diamputasi. Gejalanya adalah kaki melunak, tak tampak berotot, bulu kaki rontok, dan nyeri di kaki. "Dengan REM, bisa memacu untuk menumbuhkan pembuluh darah yang baru," katanya.

Sementara, DC digunakan untuk mengatasi penyakit kanker. Nyoto mengatakan, semua jenis kanker bisa diterapi dengan DC. Fokusnya pada antigen kanker. Untuk kanker payudara, maka yang disasar adalah antigen kanker payudara. Begitu pun dengan kanker pankreas, dan jenis kanker lainnya. Kanker bisa dibasmi dengan sel natural killer (NK) yang merupakan unsur sel limfosit pada sel darah putih (Lihat: Beragam Unsur Sel Darah Putih). Kedua terapi ini bisa digunakan atau salah satu saja. "Tapi, selama terapi jangan dikemo," kata Nyoto. Menurutnya, kemoterapi bersifat menghancurkan semua sel sehingga daya tahan tubuhnya juga hancur. Untuk memanfaatkan terapi ini, pasien dipungut biaya yang tak begitu mahal. "Dari Rp 300 Juta sampai Rp 500 Juta," ujar Nyoto. Tapi, jika dibandingkan dengan biaya terapi di jerman, harga ini cukup murah. Apalagi, dengan pengobatan di negara-negara tetangga yang belum terbukti hasilnya. Menanggapi terapi baru tadi, Profesor Djoko Rahardjo, urolog yang berpraktik di Rumah Sakit Sahid Sahirman, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, menyambut positif. Ia mengaku sudah mencoba teknologi tersebut di Jerman. Ia sengaja datang ke sana untuk membuktikan klaim mengenai khasiat yang ditampilkan dalam brosur salah satu rumah sakit. Pada pemeriksaan awal, tidak ditemukan penyakit kanker di tubuh Djoko. "Untungnya fungsi ginjal saya masih bagus, tapi lever saya sedikit terganggu," katanya kepada Gatra. Setelah diperiksa, darahnya disedot dengan mesin untuk diambil monositnya. "Yang lain dikembalikan ke tubuh saya lagi." Djoko mengenang. Ia menggunakan terapi jenis REMs. Menurut Djoko, terapi itu berfungsi memperbaiki organ tubuh, memperkuat daya tahan tubuh, sehingga tidak mudah terkena infeksi. Selain itu, berfungsi seperti antioksidan. Setelah menjajal metode cure cell, Djoko mengaku tubuhnya merasa lebih sehat dan bugar. "Lebih sehat, bekerja juga lebih kuat. Orang awam bilang saya kelihatan lebih muda," katanya sembari tertawa. Djoko menilai, terapi cell cure lebih aman ketimbang terapi sel punca. Pasalnya, sel darah putih yang digunakan berasal dari tubuh pasien sendiri. Sel darah putih itu kemudian diprogram lebih akurat saat dibentuk menjadi cure cell. Jika dari tubuh sendiri tidak ada risiko resistensi dari tubuh. Dan ini tidak seperti menggunakan bagian tubuh atau darah orang lain yang belum tentu sama.

Aries Kelana, Sujud Dwi Pratisto, dan Putri Kartika Utami Beragam Unsur Sel Darah Putih Tubuh memiliki pertahanan tubuh untuk melawan berbagai serangan dari luar. Baik itu penyakit dari kuman, bakteri, parasit, jamur maupun benda-benda asing yang bisa menimbulkan penyakit. Sistem ketahanan tubuh manusia dibentuk di dalam sel darah putih. Sel darah putih mengandung blastosit, monosit, easinofil, limfosit, dan neutrofil. Mereka memiliki fungsi masing-masing. Blastosit adalah sel embrionik yang belum terbentuk Kemudian limfosit. Ini adalah unsur sel yang membantu sistem daya tahan tubuh terhadap penyakit. Sel ini terdiri dari sel T, B, dan sel natural killer (NK). Unsur dalam limfosit yang sering berperan menghadapi sejumlah penyakit infeksi, seperti kanker, acquired immune deficiency syndrome, dan lain-lain. Berikutnya, easinofil. Ini merupakan sel kekebalan tubuh yang mengkhususkan pada serangan parasit dan infeksi lain. Sedangkan, monosit merupakan bagian sel darah putih yang tidak memiliki granula, namun lebih kuat sehingga mampu memakan kuman atau bakteri yang lebih besar. Yang terakhir, neutrofil. Bagian dari sel darah putih inilah yang memainkan peran sangat penting dalam mempertahankan ketahanan. Jika infeksi datang, neutrofil yang pertama datang menghampiri sumber infeksi dan menyerangnya, lalu diikuti oleh unsur lain dari sel darah putih. Diolah dari berbagai sumber

View more...

Comments

Copyright ©2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF