1. LAPORAN PEMBUATAN SIMPLISIA.docx

December 31, 2017 | Author: Sriwulan Ayuningtyas | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

Download 1. LAPORAN PEMBUATAN SIMPLISIA.docx...

Description

PERCOBAAN I PEMBUATAN SIMPLISIA

I. PENDAHULUAN A. Tujuan Percobaan Mampu membuat simplisia dengan kandungan zat berkhasiat tidak mengalami kerusakan dan dapat disimpan (tahan lama). B. Dasar Teori Menurut Departemen Kesehatan RI, Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dibedakan menjadi : simpisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan (mineral). 1. Simplisia nabati Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya, misalnya Datura Folium dan Piperis nigri Fructus. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau bahanbahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan/diisolasi dari tanamannya. 2. Simplisia hewani Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni, misalnya minyak ikan (Oleum iecoris asselli) dan madu (Mel depuratum). 3. Simplisia pelikan atau mineral Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni, contoh serbuk seng dan serbuk tembaga. Pada blog ini akan dibahas secara mendalam tentang simplisia tanaman obat. Simplisia tanaman termasuk dalam golongan simplisia nabati. Secara umum pemberian nama atau penyebutan simplisia didasarkan atas gabungan nama spesies diikuti dengan nama bagian tanaman. Contoh : merica dengan nama spesies Piperis albi maka nama simplisianya disebut sebgai Piperis albi Fructus. Fructus menunjukkan bagian tanaman yang artinya buah. (Agoes, 2007) Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaanya, maka simplisia harus memenuhi persyaratan minimal. Untuk dapat memenuhi persyaratan minimal tersebut, ada beberapa faktor yang berpengaruh antara lain bahan baku simplisia, proses pembuatan, serta cara pengepakan dan penyimpanan (Agoes, 2007).

Pemilihan sumber tanaman sebagai bahan baku simplisia nabati merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada mutu simplisia, termasuk didalamnya pemilihan bibit (untuk tumbuhan hasil budidaya) dan pengolahan maupun jenis tanah tempat tumbuh tanaman obat (Laksana, 2010). Proses pemanenan dan preparasi simplisia merupakan proses yang dapat memenuhi mutu simplisia dalam berbagai artian, yaitu komposisi senyawa kandungan, kontaminasi dan stabilitas bahan. Namun demikian, simplisia sebagai produk olahan, fariasi senyawa kandungan dapat diperkecil, diatur atau diajegkan. Hal ini karena penerapan (aplikasi) IPTEK pertanian pasca panen yang terstandar (Laksana, 2010). Tahap-tahap pembuatan simplisia secara garis besar adalah sebai berikut: 1. Pengolahan bahan baku 2. Sortasi basah 3. Pencucian 4. Perajangan 5. Pengeringan 6. Sortasi kering 7. Pengepakan dan penyimpanan. (Laksana, 2010). II. ALAT DAN BAHAN Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah alumunium foil, tampah, plastik, label/etiket, kertas, timbangan, baskom, saringan, oven, nampan (loyang alumunium). Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah daun semanggi, dan air. III. PROSEDUR KERJA BAHAN BAKU  Dilakukan pengumpulan yang sudah disiapkan  Ditimbang seksama sebanyak ± 50 gram  Dicatat beratnya  Ditempatkan diatas tempat yang terbuat dari bambu yang datar (tampah atau nampan)  SORTASI BASAH  Dilakukan terhadap tanah dan kerikil, rumputrumputan, bahan tanaman lain atau bagian tanaman lain, bagian tanaman yang rusak SIMPLISIA  Dilakukan pencucian

  

Dilakukan pengubahan bentuk meliputi perajangan atau pemotongan pada daun semanggi Ditempatkan dalam nampan Dikeringkan dengan cara yang sesuai berdasarkan jenis bagian tanaman dan kandungan zat aktifnya

SORTASI KERING  ditimbang lagi dengan seksama  Dicatat beratnya  Dilakukan pengepakan  Dimasukkan dalam kertas dan ditempat kering  Ditutup rapat-rapat  Dibuat laporan hasil kerja praktikum HASIL IV. HASIL PERCOBAAN

Pencucian

Pengeringan

Sortasi kering dengan menggunakan oven

Hasil simplisia semanggi 1. 2. 3. 4.

Berat bahan baku awal Suhu yang dibutuhkan pada saat pengeringan Waktu yang dibutuhkan pada saat pengeringan Berat akhir simplisia kering

Rendemen Daun Semanggi =

=

: 51,1 gram : 66,5 0C : 2 jam 23 menit : 7,85 gram

bobot akhir x 100 bobot awal 7,85 gram x 100 51,1 gram

= 15,36 % V. PEMBAHASAN

Semanggi adalah sekelompok paku air (Salviniales) dari marga Marsilea yang di Indonesia mudah ditemukan di pematang sawah atau tepi saluran irigasi. Morfologi tumbuhan marga ini khas, karena bentuk entalnya yang menyerupai payung yang tersusun dari empat anak daun yang berhadapan. Akibat bentuk daunnya ini, nama "semanggi" dipakai untuk beberapa jenis tumbuhan dikotil yang bersusunan daun serupa, seperti klover. Semua anggotanya heterospor : memiliki dua tipe spora yang berbeda kelamin. Daun tumbuhan ini (biasanya M. crenata) biasa dijadikan bahan makanan yang dikenal sebagaipecel semanggi, khas dari

daerah Surabaya. Organ penyimpan spora (sporokarp) M. drummondii juga dimanfaatkan oleh penduduk asli Australia (aborigin) sebagai bahan makanan. Semanggi M. crenata diketahui mengandung fitoestrogen (estrogen tumbuhan) yang berpotensi mencegah osteoporesis. Tumbuhan ini juga berpotensi sebagai tumbuhan bioremediasi, karena mampu menyerap logam berat Cd dan Pb . Kemampuan ini perlu diwaspadai dalam penggunaan daun semanggi sebagai bahan makanan, terutama bila daunnya diambil dari lahan tercemar logam berat. Habitat: Tumbuh pada tempat yang terkena sinar matahari atau agak rindang pada dataran rendah hingga ketinggian 3000 m dpl. Bagian tanaman yang digunakan: Seluruh bagian tumbuhan. Kandungan kimia: Minyak atsiri; Saponin; Zat samak. Tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat pengecilan hati dengan busung (Liver cirrhosis dan ascites), batu empedu, infeksi saluran kencing, batuk dan sesak nafas, sariawan, radang tenggorok, infeksi amandel, infeksi telinga tengah (Tagawa, 1989). Klasifikasi Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Divisi : Pteridophyta (paku-pakuan) Kelas : Pteridopsida Ordo : Salviniales Famili : Marsileaceae Genus : Marsilea Spesies : Marsilea crenata Presl Sekitar 35 spesies, diantaranya adalah M. crenata, M. quadrifolia, M. drummondli, M. macrocarpa, M. exarata (Singh, 2010). Deskripsi Semanggi atau paku bernama ilmiah Marsilea crenata Presl. adalah tanaman yang termasuk kedalam famili Marsiliaceae. Deskripsi menurut buku flora adalah tumbuhan dengan daun berdiri sendiri atau dalam berkas, menjari berbilang 4, tangkai daun panjang dan tegak, panjang 2-30 cm, anak daun menyilang, berhadapan, berbentuk baji bulat telur, gundul atau hampir gundul, dengan panjang 3-22 cm dan lebar 2-18 cm, urat daun rapat berbentuk kipas, pada air yang tidak dalam muncul diatas air. Biasanya di temukan di sawah, selokan dan genangan air dangkal. Tanaman semanggi ini terkadang di konsumsi oleh sebagian orang sebagai lalapan.Adapun beberapa ciri-ciri morfologisnya secara umum adalah sebagai berikut: 1. Bentuk kecambah. Semanggi merah yang baru tumbuh memiliki bentuk kotiledon seperti spatula yang panjangnya 6-7 mm dan tidak memiliki serabut. 2. Akar Semanggi merah memiliki jenis akar tunggang, dengan serabut-serabut akar yang berada di sekitar akar tunggang tersebut. 3. Batang Bentuk batangnya agak lemah, tetapi tingginya 8-20 inchi. Cabang batangnya berwarna kemerah-merahan mengkilat dengan dikelilingi serabut yang berwarna keputih-putihan.

• • • •

(Singh, 2010) Khasiat Semanggi sebagai obat herbal diantaranya adalah sebagai berikut: sebagai penurun panas sembuhkan darah tinggi sesak nafas dan juga obat untuk tidur mendengkur, serta untuk sakit gigi, dapat dijadikan sebagai obat kumur. Daun semanggi juga memberikan khasiat lebih untuk kesehatan wanita, karena mengandung isoflavon. Isoflavon merupakan zat aktif yang mengandung hormone esterogen dari bahan tanaman yang bika dikonsumsi teratur, daun semanggi akan mengurangi gejala klinis yang muncul sebelum dan saat masuk tahap menopause serta meningkatkan kualitas tulang hingga terhindar dari Osteoporosis (Soni, 2010). Tahap-tahap pembuatan simplisia adalah sebagai berikut: 1. Pengumpulan atau Pengelolaan Bahan Baku Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda antara lain tergantung pada bagian tanaman yang digunakan, umur tanaman atau bagian tanaman pada saat panen, waktu panen, dan lingkungan tempat tumbuh. Jika penanganan ataupun pengolahan simplisia tidak benar maka mutu produk yang dihasilkan kurang berkhasiat atau kemungkinan dapat menimbulkan toksik apabila dikonsumsi (Wallis, 1960). Waktu panen sangat erat hubunganya dengan pembentukan senyawa aktif di dalam bagian tanaman yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian tanaman tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar. Senyawa aktif tersebut secara maksimal di dalam bagian tanaman atau tanaman pada umur tertentu. Di samping waktu panen yang dikaitkan dengan umur, perlu diperhatikan pula saat panen dalam sehari. Dengan demikian untuk menentukan waktu panen dalam sehari perlu dipertimbangkan stabilitas kimia dan fisik senyawa aktif dalam simplisia terhadap panas sinar matahari (Wallis, 1960). Semanggi yang sudah diambil dari daerah sawah atau daerah lain kemudian dikumpulkan dan daun semanggi dipisahkan dari batangnya. Bagian Tanaman Kulit Batang

Batang Kayu

Cara pengumpulan Batang utama dan cabang dikelupas dengan ukuran panjang dan lebar tertentu; untuk kulit batang yang mengandung minyak atsiri atau golongan senyawa fenol digunakan alat pengupas bukan dari logam Cabang dengan diameter tertentu dipotong-potong dengan panjang tertentu Batang atau cabang, dipotong kecil setelah kulit dikelupas

Kadar Air Simplisia < 10%

< 10% < 10%

Daun Bunga Pucuk Akar Rimpang Buah Biji Kulit buah Bulbus

Pucuk yang sudah tua atau muda dipetik dengan menggunakan tangan satu per satu Kuncup atau bunga mekar, mahkota bunga atau daun bunga dipetik dengan tangan Pucuk berbunga dipetik dengan tangan (mengandung daun muda dan bunga) Dari bawah permukaan tanah, dipotong dengan ukuran tertentu Dicabut, dibersihkan dari akar, dipotong melintang dengan ketebalan tertentu Masak, hampir masak, dipetik dengan tangan Buah dipetik, dikupas kulit buahnya menggunakan tangan, pisau atau digilasi, biji dikumpulkan dan dicuci Seperti biji, kulit buah dikumpulkan dan dicuci Tanaman dicabut, bulbus dipisahkan dari daun dan akar dengan memotongnya, kemudian dicuci

< 5% < 5% < 8% < 10% < 8% < 8% < 10% < 8% < 8%

(Agoes, 2007). 2. Sortasi Basah Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahanbahan asing lainnya dari bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak serta pengotor-pengotor lainnya harus dibuang (Laksana, 2010). Penyortiran segera dilakukan setelah bahan selesai dipanen, bahan yang mati, tumbuh lumut ataupun tumbuh jamur segera dipisahkan yang dimungkinkan mencemari bahan hasil panen. Dalam proses sortasi basah, setelah daun semanggi dipisahkan dari batangnya, kotorankotoran seperti tanah yang menempel kemudian dipisahkan. 3. Pencucian Setelah disortir bahan harus segera dicuci sampai bersih. Pencucian bertujuan untuk menghilangkan kotoran dan mengurangi mikroba-mikroba yang menempel pada bahan. Pencucian harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin untuk menghindari larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam simplisia. Pencucian harus menggunakan air bersih, seperti air dari mata air, sumur atau PAM (Laksana, 2010). Penggunaan air perlu diperhatikan. Beberapa mikroba yang lazim terdapat di air yaitu Pseudomonas, Proteus, Micrococcus, Bacillus, Streptococcus, Enterobacter, dan E.Coli pada simplisia akar, batang, atau buah. Cara pencucian dapat dilakukan dengan cara merendam sambil disikat menggunakan sikat yang halus. Perendaman tidak boleh terlalu lama karena zat-zat tertentu yang terdapat dalam bahan dapat larut dalam air sehingga

mutu bahan menurun. Penyikatan diperbolehkan karena bahan yang berasal dari rimpang pada umumnya terdapat banyak lekukan sehingga perlu dibantu dengan sikat. Tetapi untuk bahan yang berupa daun-daunan cukup dicuci dibak pencucian sampai bersih dan jangan sampai direndam berlama-lama (Agoes, 2007). Setelah proses sortasi basah, dilakukan pencucian pada daun semanggi dengan air mengalir untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran yang masih menempel. 4. Perajangan Perajangan atau pengubahan bentuk bertujuan untuk memperluas permukaan sehingga lebih cepat kering tanpa pemanasan yang berlebih. Pengubahan bentuk dilakukan dengan menggunakan pisau tajam yang terbuat dari bahan steinles (Laksana, 2010). Dalam perajangan atau pemotongan daun semanggi dilakukan tanpa pisau, dapat dengan tangan yaitu dengan cara helaian daun dipetik-petik. 5. Pengeringan Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah suhu pengeringan, kelembaban udara, aliran udara, waktu pengeringan (cepat), dan luas permukaan bahan. suhu pengeringan bergantung pada simplisia dan cara pengeringan. Pengeringan dapat dilakukan antara suhu 300-900 C. Pengeringan dilakukan untuk mengeluarkan atau menghilangkan air dari suatu bahan dengan menggunakan sinar matahari. Cara ini sederhana dan hanya memerlukan lantai jemur. Simplisia yang akan dijemur disebar secara merata dan pada saat tertentu dibalik agar panas merata. Cara penjemuran semacam ini selain murah juga praktis, namun juga ada kelemahan yaitu suhu dan kelembaban tidak dapat terkontrol, memerlukan area penjemuran yang luas, saat pengeringan tergantung cuaca, mudah terkontaminasi dan waktu pengeringan yang lama. Dengan menurunkan kadar air dapat mencegah tumbuhnya kapang dan menurunkan reaksi enzimatik sehingga dapat dicegah terjadinya penurunan mutu atau pengrusakan simplisia. Secara umum kadar air simplisia tanaman obat maksimal 10%. Pengeringan dapat memberikan keuntungan antara lain memperpanjang masa simpan, mengurangi penurunan mutu sebelum diolah lebih lanjut, memudahkan dalam pengangkutan, menimbulkan aroma khas pada bahan serta memiliki nilai ekonomi lebih tinggi (Laksana, 2010). Terdapat beberapa metode pengeringan yaitu:  Pengeringan secara langsung di bawah sinar matahari Pengeringan dengan metode ini dilakukan pada tanaman yang tidak sensitif terhadap cahaya matahari. Pengeringan terhadap sinar matahari sangat umum untuk bagian daun, korteks, biji, serta akar. Bagian tanaman yang mengandung flavonoid, kuinon, kurkuminoid, karotenoid, serta beberapa alkaloid yang cukup mudah terpengaruh cahaya, umumnya tidak boleh dijemur di bawah sinar matahari secara langsung. Kadangkala suatu simplisia dijemur terlebih dahulu untuk mengurangi sebagian besar kadar air, baru kemudian dikeringkan dengan panas atau digantung di dalam ruangan.

Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari secara langsung memiliki keuntungan yaitu ekonomis. Namun lama pengeringan sangat bergantung pada kondisi cuaca (Agoes, 2007).  Pengeringan di ruangan yang terlindung dari cahaya matahari namun tidak lembab Umumnya dipakai untuk bagian simplisia yang tidak tahan terhadap cahaya matahari. Pengeringan dengan metode ini harus memperhatikan sirkulasi udara dari ruangan. Sirkulasi yang baik akan menunjang proses pengeringan yang optimal. Pengeringan dengan cara ini memiliki keuntungan yaitu ekonomis, serta untuk bahan yang tidak tahan panas atau cahaya matahari cenderung lebih aman. Namun demikian, pengeringan dengan cara ini cenderung membutuhkan waktu yang lama dan jika tidak dilakukan dengan baik, akan mengakibatkan tumbuhnya kapang (Agoes, 2007).  Pengeringan dengan menggunakan oven Pengeringan menggunakan oven, umumnya akan menggunakan suhu antara 30°-90°C. Terdapat berbagai macam jenis oven, tergantung pada sumber panas. Pengeringan dengan menggunakan oven memiliki keuntungan berupa: waktu yang diperlukan relatif cepat, panas yang diberikan relatif konstan. Kekurangan dari teknik ini adalah biaya yang cukup mahal (Agoes, 2007).  Pengeringan dengan menggunakan oven vakum. Pengeringan dengan menggunakan oven vakum merupakan cara pengeringan terbaik. Hal ini karena tidak memerlukan suhu yang tinggi sehingga senyawa-senyawa yang tidak tahan panas dapat bertahan. Namun cara ini merupakan cara paling mahal dibandingkan dengan cara pengeringan yang lain (Agoes, 2007).  Pengeringan dengan menggunakan kertas atau kanvas Pengeringan ini dilakukan untuk daun dan bunga. Pengeringan ini bagus untuk mempertahankan bentuk bunga atau daun serta menjaga warna simplisia. Pengeringan dengan cara ini dilakukan dengan mengapit bahan simplisia dengan menggunakan kertas atau kanvas. Pengeringan ini relatif ekonomis dan memberikan kualitas yang bagus, namun untuk kapasitas produksi skala besar tidak ekonomis (Agoes, 2007). Selain harus memperhatikan cara pengeringan yang dilakukan, proses pengeringan juga harus memperhatikan ketebalan dari simplisia yang dikeringkan (Agoes, 2007). Proses pengeringan bertujuan untuk menghilangkan sisa air yang ada pada daun semanggi. Pengeringan dapat dilakukan dengan cara didiamkan, diangin-anginkan, ataupun dijemur di bawah sinar matahari. 6. Sortasi Kering Sortasi setelah pengeringan merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing dan pengotorpengotor lain yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering (Laksana,

2010). Proses sortasi kering dilakukan dengan menggunakan oven, daun semanggi yang telah dikeringkan kemudian dilakukan sortasi hingga benarbenar kering agar sisa kotoran hilang dan kadar air pada daun semanggi berkurang atau tidak ada. 7. Pengepakan dan Penyimpanan Pengemasan dapat dilakukan terhadap simplisia yang sudah dikeringkan. Setelah bersih, simplisia dikemas dengan menggunakan bahan yang tidak beracun atau tidak bereaksi dengan bahan yang disimpan. Pada kemasan dicantumkan nama bahan dan bagian tanaman yang digunakan. Tujuan pengepakan dan penyimpanan adalah untuk melindungi agar simplisia tidak rusak atau berubah mutunya karena beberapa faktor, baik dari dalam maupun dari luar. Simplisia disimpan di tempat yang kering, tidak lembab, dan terhindar dari sinar matahari langsung. Jenis kemasan yang digunakan dapat berupa plastik, kertas maupun karung goni. Bahan cair menggunakan botol kaca, atau guci porselen. Bahan beraroma menggunakan peti kayu yang dilapisi timah atau kertas timah (Laksana, 2010). Setelah melewati semua proses di atas, daun semanggi yang sudah kering kemudian dikemas dengan menggunakan kantong kertas atau plastik kemudian disimpan ditempat yang kering. Pengepakan dilakukan dengan sebaik mungkin untuk menghindarkan simplisia dari beberapa faktor yang dapat menurunkan kualitas simplisia antara lain:  Cahaya matahari  Oksigen atau udara  Dehidrasi  Absorbsi air  Pengotoran  Serangga  Kapang Hal yang harus diperhatikan saat pengepakan dan penyimpanan adalah suhu dan kelembapan udara. Suhu yang baik untuk simplisia umumnya adalah suhu kamar (15° - 30°C). Untuk simplisia yang membutuhkan suhu sejuk dapat disimpan pada suhu (5 - 15°C) atau simplisia yang perlu disimpan pada suhu dingin (0° - 5°C) (Agoes, 2007). Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan atau pembelian dari pengumpul atau pedagang simplisia. Simplisia yang diterima harus berupa simplisia murni dan memenuhi persyaratan umum untuk simplisia seperti yang disebutkan dalam Buku Farmakope Indonesia, Ekstra Farmakope Indonesia ataupum Materia Medika Indonesia Edisi terakhir (Anonim,1985). VI. KESIMPULAN 1. Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan.

2. Simplisia dibedakan menjadi : simpisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan (mineral). 3. Tahap-tahap pembuatan simplisia secara garis besar adalah sebagai berikut: Pengolahan bahan baku, Sortasi basah, Pencucian, Perajangan, Pengeringan, Sortasi kering, Pengepakan dan penyimpanan. Kadar air di dalam simplisia dianjurkan kurang dari 10%. 4. Rendemen simplisia daun semanggi yang diperoleh dalam praktikum adalah sebesar 15,36 %. VII. DAFTAR PUSTAKA Agoes, Goeswin, 2007, Teknologi Bahan Alam, Penerbit ITB, Bandung. Anonim, 1985, Cara Pembuatan Simplisia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Laksana, Toga, dkk, 2010, Pembuatan Simplisia dan Standarisasi Simplisia, UGM, Yogyakarta. Singh, Pande, dan Jain, 2010, Text Book Of Botany Diversity Of Microbes And Cryptogams, Gangotri, India. Soni N K, Soni Vandana, 2010, Fundamentals of Botany, McGraw Hill, New delhi. Tagawa .M, Iwatsuki .K, 1989, Flora of Thailand, Tem Smitinand. Flora of Thailand, Bangkok. Wallis, T. E. 1960, Textbook of Pharmacognosy 4th Edition, J & A. Churcill, London.

View more...

Comments

Copyright ©2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF