laporan ekologi fix.docx
April 19, 2017 | Author: maya | Category: N/A
Short Description
Download laporan ekologi fix.docx...
Description
ANALISIS VEGETASI Laporan Praktikum Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Ekologi yang dibimbing oleh Bapak Dr.Hadi Suwono, M.Si. dan Ibu Dr.Vivi Novianti,S.Si,M.Si. Disusun oleh: Kelompok1 Bidari Intan Rucitra/150341602763 Dessi Endriyani/15034160 Maya Agustin/150341607439 Regia Ilmahani//150341600415 Rido Sigit Wicaksono//150341603332
UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI FEBRUARI 2017
BAB 1. PENDAHULUAN 1.1
Latar Belakang Vegetasi adalah komunitas tumbuhan yang terdiri dari
pelbagai macam populasi yang tersebar di suatu wilayah tertentu dengan pola persebaran tertentu. Dalam kajian ekologi, vegetasi adalah hal yang penting dan krusial untuk dianalisis. Oleh karena itu, terciptalah sebuah metode yang bernama analisis vegetasi. Analisis vegetasi adalah sebuah metode untuk menganalisis keanekaragaman vegetasi dengan menentukan keberagaman jenis, persebaran, kelimpahan, dan kerapatan. Praktikum
analisis
vegetasi
ini
akan
mengakomodasi
banyak metode analisis vegetasi, sehingga akan sangat rasional dan relevan jika diperuntukkan bagi mahasiswa agar mampu menerapkan secara praktis, teoretis, dan konseptual mengenai analisis vegetasi dan kaitannya dengan ekologi. 1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana
cara
menggunakan
variabel
kerapatan,
kerimbunan, dan frekuensi dengan cara yang berbeda dan diaplikasikan dalam metode kuadrat dan garis ? 2. Bagaimana cara memberi nama pada suatu
vegetasi
berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP) ? 3. Bagaimana cara memahami dan menerapkan metode analisis vegetasi tanpa plot ? 1.3 Tujuan Tujuan dari praktikum ini dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. Mahasiswa
dapat
menggunakan
variabel
kerapatan,
kerimbunan, dan frekuensi dengan cara yang berbeda, kemudian diaplikasikan dalam metode kuadrat dan garis. 2. Dapat memberi nama suatu vegetasi berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP).
3. Memahami analisis vegetasi tanpa plot.
1.4 Manfaat Manfaat dari praktikum ini dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. Mengembangkan vegetasi
kemampuan
dengan
beragam
mahasiswa metode
mengaplikasikannya dalam kerja lapangan.
pada
analisis
dan
mampu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Umum Analisis Vegetasi Analisa
vegetasi
adalah
cara
mempelajari
susunan
(komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan. Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian. Karena titik berat analisa vegetasi terletak pada komposisi jenis dan jika kita tidak bisa menentukan luas petak contoh yang kita anggap
dapat
mewakili
komunitas
tersebut,
maka
dapat
menggunakan teknik Kurva Spesies Area (KSA). Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan : (1) luas minimum suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur, (2) jumlah minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode jalur (Rohman,2001)
Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membentuk populasinya, dimana sifat – sifatnya bila di analisa akan menolong dalam menentukan struktur komunitas. Sifat – sifat individu ini dapat dibagi atas dua kelompok besar, dimana dalam analisanya akan memberikan data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Analisa kuantitatif meliputi : distribusi tumbuhan (frekuensi), kerapatan (density), atau banyaknya (abundance). Dalam pengambilan contoh kuadrat, terdapat empat sifat yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan, karena hal ini akan mempengaruhi data yang diperoleh dari sample. Keempat sifat itu adalah (Michael,1992) : 1. Ukuran petak. 2. Bentuk petak. 3. Jumlah petak. 4. Cara meletakkan petak di lapangan. Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Michael, 1992). Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan
merupakan
sesuatu
sistem
yang
dinamis,
selalu
berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya. Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari tumbuh-tumbuhan. Unsur
struktur
vegetasi
adalah
bentuk
pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi
untuk menentukan indeks nilai penting dari penvusun komunitas hutan
tersebut.
Dengan
analisis
vegetasi
dapat
diperoleh
informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan. Jika berbicara mengenai vegetasi, kita tidak bisa terlepas dari komponen
penyusun
vegetasi
itu
sendiri
dan
komponen
tersebutlah yang menjadi fokus dalam pengukuran vegetasi. Komponen
tumbuh-tumbuhan
penyusun
suatu
vegetasi
umumnya terdiri dari: 1. Belukar (Shrub) : Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar, dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai. 2. Epifit (Epiphyte)
:
Tumbuhan
yang
hidup
dipermukaan
tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit. 3. Paku-pakuan (Fern) : Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu, dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun. 4. Palma (Palm) : Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan biasanya tinggi; tidak bercabang sampai daun pertama. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun. 5. Pemanjat (Climber) : Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar. 6. Terna (Herb) : Tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai rumput. Daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadangkadang keras. 7. Pohon (Tree) : Tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm.
8. Tiang (Poles) : Pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm. Sedikit
berbeda
dengan
inventarisasi
hutan
yang
titik
beratnya terletak pada komposisi jenis pohon. Perbedaan ini akan mempengaruhi cara sampling. Dari segi floristis-ekologis “random-sampling” hanya mungkin digunakan apabila langan dan vegetasinya homogen, misalnya padang rumput dan hutan tanaman. Pada umumnya untuk keperluan penelitian ekologi hutan
lebih
tepat
dipakai
“systimatic
sampling”,
bahkan
“purposive sampling” pun boleh digunakan pada keadaan tertentu (Irwanto, 2010). 2.2 Metode dalam Analisis Vegetasi Untuk memperoleh informasi vegetasi secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien ketidaksamaan (Michael, 1992). Variasi dalam releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi dalam bentuk model geometrik yang sedemikian rupa sehingga releve yang paling serupa mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan rnempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan untuk menghubungkan pola sebaran jenis jenis dengan perubahan faktor lingkungan. Dalam analisa vegetasi ini terdapat banyak ragam metode analisa diantaranya yaitu: 1. 2. 3. 4.
Dengan Dengan Dengan Dengan
cara petak tunggal cara petak berganda cara jalur (Transek) dengan cara garis berpetak cara-cara tanpa petak
Beberapa metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan
tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode kuadran.
BAB III METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Kegiatan Tempat
: Kawasan FMIPA Universitas Negeri Malang
Waktu : Hari Kamis Tanggal 9 Februari 2017 Pukul 07.00 – 10.25 3.2 Alat dan Bahan Alat : 1. Meteran untuk mengukur jarak antar plot dan antar kelompok. 2. Kuadran sebagai alat bantu analisis vegetasi metode kuadrat. 3. Point frame sebagai alat bantu analisis vegetasi metode titik. 4. Anemometer sebagai alat ukur faktor abiotik berupa kecepatan angin. 5. Rapitest Soil 4-Way Analyzer sebagai alat ukur faktor abiotik berupa pH, kelembaban tanah, intensitas cahaya, dan kesuburan tanah. 6.Termohigrometer sebagai alat ukur faktor abiotik berupa suhu dan kelembaban udara. 7. Termometer tanah sebagai alat ukur faktor abiotik berupa suhu rata-rata tanah. Bahan : 1. Tali rafia sebagai bahan bantu sekali pakai untuk analisis vegetasi metode garis. 2. Kantong plastik transparan sebagai wadah sementara spesies yang akan diidentifikasi. 3.3 Metode Umum Analisis Vegetasi 3.3.1 Metode petak (kuadrat) a. Cara Petak Tunggal
Menurut cara ini digunakan satu petak (kuadrat) berupa tegakkan hutan sebagai unit sampel. Besar unit sampel tidak boleh
terlalu
kecil
sehingga
tidak
dapat
menggambarkan
keadaan hutan yang dipelajari. Ukuran minimum dari petak tunggal tergantung dari kerapatan vegetasi dan banyaknya jenisjenis pohon. Semakin jarang pepohonan yang ada atau semakin banyak jenis-jenis tumbuhan, semakin besar ukuran kuadrat sebagai
petak
tunggal
yang
digunakan.
Ukuran
minimum
ditetapkan dengan menggunakan kurva lengkung spesies. Luas minimum ditetapkan dengan dasar penambahan luas kuadrat yang tidak menyebabkan kenaikan jumlah jenis lebih besar dari 10% atau 5%. Dengan menggunakan kurva lengkung jenis untuk kebanyakan
hutan
hujan
tropika
menurut
Richard
pada
umumnya diperlukan petak tunggal seluas 1,5 Ha, sebaliknya menurut vestal rata-rata luas petak tunggal yang diperlukan untuk hutan hujan tropika adalah 3 Ha (Soerianegara dan Indrawan, 1998). Untuk itu unit sampel berbentuk persegi panjang akan lebuh efektif dari pada kuadrat berbentuk bujur sangkar. b. Cara Petak Ganda Menurut cara ini pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan banyak kuadrat yang diletakkan tersebar merata dengan secara sistematis. Penentuan besar atau luas unit sampel juga harus ditentukan kurva lengkung jenis. Di Indonesia biasanya digunaka kuadrat berukuran 0,1 Ha untuk pohon, 0,01 untuk anakan pohon sampling dan semak atau 0,001 Ha untuk tumbuh-tumbuhan bawah dan semai (seedling). 3.3.2 Metode Garis Metode
garis
merupakan
suatu
metode
yang
menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka
garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990). Pada metode garis ini, sistem analisis melalui variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis
yang
tertutup
oleh
individu
tumbuhan,
dan
dapat
merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman dan I Wayan, 2001). a. Metode Intersepsi Titik Merupakan
suatu
metode
analisis
vegetasi
dengan
menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohmandan I Wayan, 2001). Kelimpahan
setiap
spesies
individu
atau
jenis
struktur
biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatif. Dari nilai relatif ini, akan diperoleh sebuah nilai yang merupakan INP. Nilai ini digunakan sebagai dasar pemberian nama suatu vegetasi yang diamati.Secara
bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1994). 3.4 Prosedur Praktikum 3.4.1 Metode Kuadrat Langkah pertama yang dilakukan adalah menyebarkan minimal 6 kuadrat ukuran 1m2 secara acak di vegetasi rumput. Lalu dilakukan analisis berdasarkan variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi dan dimasukkan ke dalam tabel pengamatan. Setelah langkah kerja lapangan selesai, maka dilanjutkan dengan mencari harga relatif untuk setiap variabel dan berlaku untuk setiap tumbuhan dan dilanjutkan dengan mencari nilai penting dari setiap spesies tumbuhan dan semua variabel dimasukkan ke dalam tabel hasil perhitungan. Hal yang tidak boleh dilupakan adalah memberi nama spesies dengan bahasa
Latin
dengan
melakukan
pencirian
pada
tahap
sebelumnya dan setelah isi tabel lengkap, diberi pula keterangan untuk 2 spesies dengan nilai penting tertinggi. 3.4.2 Metode Garis Langkah pertama yang harus dilakukan ialah dengna meyebar minimal 6 plot dengan jarak antar plot 1 meter diusahakan
pula
setiap
plot
bersifat
sistematis
dengan
keragaman vegetasi yang tinggi. Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis vegetasi berdasarkan kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi pada setiap garis dan dimasukkan pada tabel pengamatan. Setelah semua selesai, dilakukan identifikasi untuk menentukan nama spesies yang belum diketahui. Setelah semua data lengkap, dilakukan perhitunngan untuk nilai penting dari setiap jenis yang ditemukan. Selanjutnya adalah menyusun harga nilai penting tersebut dalam suatu tabel dan melakukan pengurutan nilai penting dari yang tertinggi ke yang lebih rendah.
3.4.3 Metode Titik Langkah pertama yaitu digunakan alat bantu point frame untuk membuat plot sebanyak 6 plot dengan jarak antar plot sejauh 1 meter. Pada alat point frame tedapat sebuah batang besi dan lubang-lubang sejumlah 10 lubang. Lalu, jatuhkan batang besi sebanyak 10 kali sesuai denga jumlah lubang. Setiap kali tusukan, jika ujung batang besi mengenai salah satu bagian tumbuhan maka harus dihitung sebagai satu tumbuhan untuk spesies tertentu. Lalu, data dimasukkan ke dalam tabel dan dhitung semua harga nilai pentignya seperti pada metode yang lainnya. 3.4.4 Aturan Tambahan Hal yang masuk dalam aturan tabahan adalah pengukuran faktor abiotik dengan cara yang tepat dengan menggunakan alat-alat dengan segala macam fungsi pengukuran yang sesuai dengan utilitas dan spesifikasinya. 3.5 Teknik Analisis Data Jenis penelitian penelitian ini adalah dengan menggunakan deskriptif eksploratif kuantitatif.Lokasi penelitian dibagi menjadi beberapa stasiun pengamatan. Jarak antar satu stasiun dengan stasiun berikutnya adalah 10 m. Setiap stasiun dibuat 20 plot dengan luas masing-masing plot adalah 10m x 10m. Dalam setiap plot dibagi menjadi empat kuadran. Pengamatan dengan menggunakan metode kuadrat dilakukan pada kuadran pertama setiap plotnya. Variabel yang diperlukan untuk menggambarkan struktur dan komunitas dari vegetasi adalah : 1. Kerapatan, untuk menggambarkan jumlah individuividu dari populasi sejenis. 2. Kerimbunan,
variabel
yang
menggambarkan
persentase
penutupan suatu populasi disuatu kawasan dan bisa juga
menggambarkan luas daerah yang dikuasai oleh suatu populasi tertentu atau yang mendominasinya. 3. Frekuensi variabel yang menggambarkan penyebaran dari populasi disuatu kawasan. 4. Indeks nilai penting didapatkan dengan menjumlahkan harga relatif dari variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil A. Metode Garis No
Nama Spesies
Jumlah
Frekuensi
3 2 5
√ √ √
-
-
1 1
√ √
2 3
√ √
2
√
3
√
4 4 30
√ √
Plot 1 Panax sp. Richardia brasiliensis Andropogon sp.
Plot 2 -
Plot 3 Mikania micrantha Pueraria sp.
Plot 4 Pueraria sp. Portulaca sp.
Plot 5 Nephrolepis biserrata
Plot 6 Nephrolepis biserrata
Plot 7 Nephrolepis biserrata Neptunia oleraceae Jumlah
Analisis Data
Kerapatan mutlak Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Kerapatan Mutlak
=
∑ individu spesies X ∑ luas total area
∑ Luas total area = 13 m2 1. Panax sp.
:
3 13 = 0,231
2. Richardia brasiliensis
:
2 =¿ 0,154 13
5 : 13
3. Andropogon sp.
1 : 13
4. Mikania micrantha 5. Pueraria sp.
3 : 13
= 0,077
= 0,231
6. Portulaca sp.
3 : 13
= 0,231
7. Nephrolepis biserrata
9 : 13
= 0,692
8. Neptunia oleraceae
4 : 13
= 0,308
Jumlah
= 0,385
= 2,309
Kerapatan relatif Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Kerapatan mutlak spesies X x 100 ∑ total
Kerapatan Relatif = 1. Panax sp.
:
10% 2. Richardia brasiliensis
:
% 3. Andropogon sp.
:
0,231 2,309
0,154 2,309
0,385 2,309
17% 4. Mikania micrantha = 3,3% 5. Pueraria sp.
:
:
0,231 2,309
x 100% =
x 100% = 6,7
x 100% =
0,077 2,309
x 100%
x 100% = 10%
6. Portulaca sp.
:
0,231 2,309
x 100% =
:
0,692 2,309
x 100% =
:
0,308 2,309
x 100% =
10% 7. Nephrolepis biserrata 30% 8. Neptunia oleraceae 13% Jumlah
= 100%
Frekuensi mutlak Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
∑ frekuensi spesies X ∑ total frekuensi
Frekuensi Mutlak =
:
1 7
= 0,143
2. Richardia brasiliensis
:
1 7
= 0,143
3. Andropogon sp.
:
1 7
= 0,143
1. Panax sp.
4. Mikania micrantha 5. Pueraria sp.
:
: 2 7
1 7
= 0,143
= 0,286 :
1 7
= 0,143
7. Nephrolepis biserrata
:
3 7
= 0,429
8. Neptunia oleraceae
:
1 7
= 0,143
6. Portulaca sp.
Jumlah
= 1,573
Frekuensi relatif Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
∑ frekuensi spesies X ∑ total frekuensi
Frekuensi Mutlak =
1. Panax sp.
:
0,143 1,573
x 100% =
:
0,143 1,573
x 100% =
:
0,143 1,573
x 100% =
9,1% 2. Richardia brasiliensis 9,1% 3. Andropogon sp. 9,1% 4. Mikania micrantha = 9,1% 5. Pueraria sp.
:
:
0,286 1,573
6. Portulaca sp.
x 100% = 18%
:
x 100% =
:
0,429 1,573
x 100% =
:
0,143 1,573
x 100% =
27% 8. Neptunia oleraceae
x 100%
0,143 1,573
9,1% 7. Nephrolepis biserrata
0,143 1,573
9,1% Jumlah
= 100%
Indeks Nilai Penting (INP) INP = Kerapatan relatif + Frekuensi relatif 1. 2. 3. 4.
Panax sp. Richardia brasiliensis Andropogon sp. Mikania micrantha
: 10% + 9,1% = 19,1% : 6,7% + 9,1% = 15,8% : 17% + 9,1% = 26,1% : 3,3% + 9,1% =
5. 6. 7. 8.
12,4% Pueraria sp. : 10% + 18% = 28% Portulaca sp. : 10% + 9,1% = 19,1% Nephrolepis biserrata : 30% + 27% = 57% Neptunia oleraceae : 13% + 9,1% = 22,1%
Jumlah
= 199,6% = 200% (pembulatan)
Peringkat berdasarkan INP 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.
Panax sp. Richardia brasiliensis Andropogon sp. Mikania micrantha Pueraria sp. 2 Portulaca sp. 6 Nephrolepis biserrata Neptunia oleraceae 4
5 7 3 8 1
B. Metode Kuadrat No 1. 2. 3. 4.
Nama Spesies Richardia brasiliensis Andropogon sp. Panax sp. Cynodon dactylon
Jumlah Plot 1 7 21 2 4
Dominasi (%) Frekuensi 10 50 5 15
√ √ √ √
5..
-
6. 7/
Mikania micrantha Chromolaena odorata
8. 9 10. 11
Mikania micrantha Chromolaena odorata Ageratum conyzoides Borreria sp
12. 13. 14.
Mikania micrantha Chromolaena odorata Nephrolepsis biserrata
15. 16. 17. 18.
Mikania micrantha Chromolaena odorata Nephrolis biserrata Portulaca sp.
19. 20 21. 22.
Mikania micrantha Chromolaena odorata Portulaca sp. Neptunia oleraceae
Plot 2 Plot 3 2 2 Plot 4 4 6 2 2 Plot 5 6 4 5 Plot 6 4 5 3 4 Plot 7 3 6 4 1
-
-
40 40
√ √
40 35 20 18
√ √ √ √
40 30 35
√ √ √
40 40 15 10
√ √ √ √
35 30 10 5
√ √ √ √
Analisis Data Kerapatan mutlak Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: ∑ individu spesies X Kerapatan Mutlak = ∑ luas total area ∑ Luas total area = 13 m2 1. Richardia brasiliensis
:
7 13 = 0,538
2. Andropogon sp.
:
21 13 = 1,615
3. Panax sp.
:
2 13 = 0,154
4. Cynodon dactylon
:
4 13 = 0,308
5. Mikania micrantha
19 : 13 =1,462
6. Chromolaena odorata
:
23 13 = 1,769
7. Ageratum conyzoides
:
3 13 = 0,231
8. Borreria sp.
:
2 13 = 0,154
9. Nephrolepsis biserrata
:
8 13 = 0,615
10. Portulaca sp.
:
8 13 = 0,615
11. Neptunia oleraceae
:
1 13 = 0,077
Total
: 7,538
Kerapatan relatif Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Kerapatan Relatif =
Kerapatan mutlak spesies X x 100 ∑ total
1. Richardia brasiliensis
:
0,538 x 100 = 7,143% 7,538
2. Andropogon sp.
:
1.615 x 100 = 21,429% 7,538
3. Panax sp.
:
0,154 x 100 = 2,041% 7,538
4. Cynodon dactylon
:
0,308 x 100 = 4,082% 7,538
5. Mikania micrantha
1,462 x 100 : 7,538 = 19,388%
6. Chromolaena odorata
:
1,769 x 100 = 23,469% 7,538
7. Ageratum conyzoides
:
0,231 x 100 = 3,061% 7,538
8. Borreria sp.
:
0,154 x 100 = 2,041% 7,538
9. Nephrolis biserrata
:
0,615 x 100 = 8,63% 7,538
10. Portulaca sp.
:
0,615 x 100 = 8,163% 13
11. Neptunia oleraceae
:
0,077 x 100 = 1,020% 13
Dominansi mutlak Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: ∑ individu spesies X Dominansi Mutlak = ∑ dominansi
1. Richardia brasiliensis
:
15 540 = 0,028
2. Andropogon sp.
:
50 540 = 0,093
3. Panax sp.
:
5 540 = 0,009
4. Cynodon dactylon
:
15 540 = 0,028
5. Mikania micrantha
195 : 540 = 0,361
6. Chromolaena odorata
:
175 540 = 0,324
7. Ageratum conyzoides
:
20 540 = 0,037
8. Borreria sp.
:
5 540 = 0,009
9. Nephrolepsis biserrata
:
35 540 = 0,065
10. Portulaca sp.
:
20 540 = 0,037
11. Neptunia oleraceae
:
5 540 =0,009
Total
:1
Dominansi relatif Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Dominansi mutlak spesies X x 100 Dominansi Relatif = ∑ dominansi mutlak
1. Richardia brasiliensis
:
0,028 x 100 = 2,778% 1
2. Andropogon sp.
:
0,093 x 100 = 9,259% 1
3. Panax sp.
:
0,009 x 100 = 0,926% 1
4. Cynodon dactylon
:
0,028 x 100 = 2,778% 1
5. Mikania micrantha
0,361 x 100 : = 36,111% 1
6. Chromolaena odorata
:
0,324 x 100 =32,407% 1
7. Ageratum conyzoides
:
0,037 x 100 = 3,704% 1
8. Borreria sp.
:
0,009 x 100 = 0,926% 1
9. Nephrolepsis biserrata
:
0,065 x 100 = 6,481% 1
10. Portulaca sp.
:
0,037 x 100 = 3,704% 1
11. Neptunia oleraceae
:
0,009 x 100 = 0,926% 1
Frekuensi mutlak Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: ∑ frekuensi spesies X Frekuensi Mutlak = ∑ total frekuensi
1. Richardia brasiliensis
:
1 7 = 0,143
2. Andropogon sp.
:
1 7 = 0,143
3. Panax sp.
:
1 7 = 0,143
4. Cynodon dactylon
:
1 7 = 0,143
5. Mikania micrantha
5 : 7 = 0,714
6. Chromolaena odorata
:
5 7 = 0,714
7. Ageratum conyzoides
:
1 7 = 0,143
8. Borreria sp.
:
1 7 = 0,143
9. Nephrolepsis biserrata
:
2 7 = 0,286
10. Portulaca sp.
:
2 7 = 0,286
11. Neptunia oleraceae
:
1 7 = 0,143
Total
:3
Frekuensi relatif Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: ∑ frekuensi spesies X Frekuensi Mutlak = ∑ total frekuensi
1. Richardia brasiliensis
:
0,143 x 100 = 4,762% 3
2. Andropogon sp.
:
0,143 x 100 = 4,762% 3
3. Panax sp.
:
0,143 x 100 = 4,762% 3
4. Cynodon dactylon
:
0,143 x 100 = 4,762% 3
5. Mikania micrantha
0,714 x 100 : = 23,810% 3
6. Chromolaena odorata
:
0,714 x 100 = 23,810% 3
7. Ageratum conyzoides
:
0,143 x 100 = 4,762% 3
8. Borreria sp.
:
0,143 x 100 = 4,762% 3
9. Nephrolepsis biserrata
:
0,286 x 100 = 9,524% 3
10. Portulaca sp.
:
0,286 x 100 = 9,524% 3
11. Neptunia oleraceae
:
0,143 x 100 = 4,762% 3
Indeks Nilai Penting (INP) INP (%) = Kerapatan relative + Dominansi relative + Frekuensi relatif 1. Richardia brasiliensis 2. Andropogon sp. 3. Panax sp. 4. Cynodon dactylon 5. Mikania micrantha 6. Chromolaena odorata 7. Ageratum conyzoides 8. Borreria sp. 9. Nephrolepsis biserrata 10. Portulaca sp. 11. Neptunia oleraceae
=14,683 = 35,450 = 7,729 = 11,621 = 79,308 = 79,686 = 11,527 = 7,729 = 24,169 = 21,391 = 6,708
C. Metode Titik Titik Plot 1 2 3 4 5 6 7
Titik Plot 1 2
1
2
3
4
5
-
-
-
-
-
-
Andropogon sp. -
Nephrolis biserrata Mikania micrantha.
Mikania micrantha Mikania micrantha Mikania micrantha
Mikania micrantha Mikania micrantha -
Mikania micrantha -
Mikania micrantha Mikania micrantha Mikania micrantha
6
7
8
9
10
Andropog on sp. -
Andropogon sp. -
-
Andropogo n sp. -
-
-
-
3
-
-
4
Mikania micrantha Mikania micrantha -
Chromolaen a odorata -
5 6 7
Mikania micrantha
Mikania micrantha Chromolaen a odorata -
Mikania micrantha Mikania micrantha
-
-
-
-
Chromolaen a odorata -
Mikania micrantha Mikania micrantha
-
Mikania micrantha
Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah dengan metode titik, sehingga sistem analisis yang dilakukan meliputi kerimbunan, dan frekuensi.
Spesies Andropogon sp.
:4
Spesies Mikania micrantha
: 19
Spesies Chromolaena odorata : 3 Spesies Nephrolis biserrata
:1
+
2 7
Frekuensi mutlak
=
∑ tusukan spesies ∑ tusukan
Spesies Andropogon sp.
:
4 70
= 0,06
Spesies Mikania micrantha
:
19 70
= 0,27
Spesies Chromolaena odorata :
3 70
= 0, 04
Spesies Nephrolis biserrata
1 70
= 0,01
:
0,38
+
Frekuensi relatif Dapat didefinisikan sebagai berapa kali satu jenis tumbuhan dijumpai selama pengamatan dilakukan. Penghitungan dapat menggunakan rumus: ∑ frekuensi suatu spesies yang tertunjuk x 100 Frekuensi = ∑ total seluruh frekuensi spesies
Frekuensi relatif
=
fm × 100 ∑ fm
Spesies Andropogon sp.
Spesies Mikania micrantha
:
0,06 0,38
×100
= 15,8%
:
0,27 0,38
×100
= 71%
Spesies Chromolaena odorata :
0,04 0,38
×100
= 10%
Spesies Nephrolis biserrata
0,01 0,38
×100
= 2,6%
Dominansi mutlak
=
:
∑ spesies ∑ spesies seluru h nya
Spesies Andropogon sp.
:
4 27
Spesies Mikania micrantha
:
19 27
= 0,7
Spesies Chromolaena odorata:
3 27
= 0,11
Spesies Nephrolepsis biserrata
:
= 0, 15
1 27
= 0, 037 1,33
+
Dominansi relatif
=
DM spesies ∑ DM
Spesies Andropogon sp. =
0,15 ×100 1,33
Spesies Mikania micrantha =
×100
= 11,3%
0,7 ×100 1,33
= 52,6%
Spesies Chromolaena odorata =
0,11 ×100 1,33
= 8,3%
Spesies Nephrolis biserrata =
0,037 ×100 1,33
= 2,8%
Indeks Nilai Penting Merupakan suatu harga yang diperoleh dari menjumlahkan harga-harga relatif dari variable kerimbunan, dan frekuensi. Dihitung dengan menggunakan rumus : INP = Kerimbunan relatif + frekuensi relatif. INP Andropogon sp. = 15,8 % + 11,3 % = 27,1 % INP Mikania micrantha = 71 % + 52,6 % = 123,6 % INP Chromolaena odorata = 10 % + 8,3 % = 18,3% INP Nephrolepsis biserrata = 2,6 %+ 2,8 % = 5,4 % Tabel Ringkasan Analisis Data
Spesies Andropogon sp. Mikania micrantha Chromolaena odorata Nephrolepsis biserrata
Fr 15,8 % 71 % 10 % 2,6 %
Dr 11,3 % 52,6 % 8,3 % 2,8 %
4.4 Tabel Faktor Abiotik No
Faktor Pengukuran
Nilai
INP 27,1 % 123,6 % 18,3 % 5,4 %
1 2 3 4 5
pH Intensitas Cahaya Kelembaban Kesuburan Suhu Rata-rata
7 2 2 Too Little 250C
4.2 Pembahasan A. Metode Garis Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa spesies yang mendominasi selama praktikum analisis vegetasi metode garis adalah spesies Nephrolepis biserrata. Hal ini disebabkan karena spesies Nephrolepis biserrata memiliki Indeks Nilai Penting (INP) sebesar 57%. Keberadaan dari spesies Nephrolepis biserrata mulai terlihat dari plot ke 5 sampai 7. Pada pengukuran parameter faktor abiotik didapati hasil bahwa pada plot ke 5 sampai 7 memiliki rentangan parameter yang relatif sama yaitu suhu tanah 25oC- 26oC, kelembaban tanah 24,5%-25%, low fertility, pH tanah 7, suhu udara 25 oC-25,2oC, kelembaban udara 25%, intensitas penyinaran 235x10 Lux, dan kecepatan angin 0,27 m/s. Pada kasus ini keberadaan Nephrolepis biserrata didukung faktor abiotik yang mendudukung keberadaannya. Menurut
Odum
(1992),
jenis
yang
dominan
mempunyai
produktivitas yang besar. Keberadaan jenis dominan pada lokasi penelitian menjadi suatu indikator bahwa komunitas tersebut berada
pada
habitat
yang
sesuai
dan
mendukung
pertumbuhannya. Spesies yang dominan dalam suatu komunitas tumbuhan memiliki INP paling tinggi diantara spesies lainnya. Selain itu besarnya INP juga menandakan besar atau tidaknya pengaruh spesies tersebut dalam suatu komunitas tumbuhan . Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Nephrolepis bisserata adalah spesies yang paling dominan. Nephrolepis bisserata merupakan organisme yang memiliki karakteristik tumbuh di tempat terbuka atau epifit pada pohon lain. De Winter (2003) menyatakan bahwa faktor abiotik sangat menentukan pola persebaran dan kelimpahan dari tumbuhan paku. Nephrolepis bisserata memiliki lingkungan hidup di area terbuka dengan pH tanah bersifat netral dengan kisaran 6,8–7, kelembaban tanah berkisar antara 30-65 %, dan suhu udara berkisar 24.50C-27,5 0C.
Sedangkan
pada
praktikum
ini
dijumpai
micrantha dengan Indeks Nilai Penting (INP)
spesies
Mikania
terendah yaitu
12,4%. Mikania micrantha memiliki nilai INP yang paling rendah karena hanya ditemukan pada plot ke 3. Vegetasi ini hanya berada pada lingkungan yang lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Barus (2003) bahwa Mikania micrantha termasuk dalam gulma penting pada kelapa sawit yang dapat tumbuh hingga ketinggian 700 mdpl. Mikania umumnya tumbuh dominan pada areal kelapa sawit belum menghasilkan (TBM) hingga dapat meimbelit/menutupi seluruh pelepah/tajuk kelapa sawit. Pada plot ini hanya ditemukan sedikit spesies Mikania micrantha karena area praktikum analisis vegetasi memiliki ketinggian sekitar 440-667 m dpl. Spesies ini tidak ditemukan di plot plot sebelumnya karena plot-plot sebelumnya dan sesudahnya karena sudah
didominasi
oleh
Nephrolepis
biserrata.
Nephrolepis
biserrata termasuk salah satu tanaman tumbuh di tempat terbuka atau epifit pada pohon lain. B. Metode Kuadrat Berdasarkan hasil analisis sebelumnya dikeahui bahwa spesies yang mendominasi selama praktikum analisis vegetasi ini adalah spesies Chromolaena odorata. Hal ini disebabkan karena spesies Chromolaena odorata memiliki indeks nilai penting (INP) sebesar 79,686%. Dominasi dari spesies Chromolaena odoratamulai terlihat dari plot ke 3 sampai 7. Pada pengukuran parameter faktor abiotik didapati hasil bahwa pada plot ke 3 sampai 7 memiliki rentangan parameter yang relatif sama yaitu suhu tanah 25 oC- 26oC, kelembaban tanah 24,525, suhu udara 25oC-25,2oC, dan kelembaban udara 25%. Pada kasus ini dominasi Chromolaena
odorata
didukung
faktor
abiotik
yang
mendudukung
keberadaannya. Hal ini sesuai menurut Codilla,2011 yang menyebutkan bahwa tanaman ini dapat mendominasi di suatu lahan terbuka yang terdrainasi dengan baik, lahan terbengkalai, hingga berbagai perkebunan dengan curah hujan mencapai 200 cm3 tiap tahun, suhu udara berkisar 20oC sampai 37oC.
Sedangkan pada praktikum ini dijumpai spesies Neptunia oleraceae, dengan INP terendah yaitu 6,708%. Neptunia oleraceae memiliki nilai INP yang paling rendah karena hanya ditemukan pada plot ke 7. Pada saat pengamatan di plot 7, vegetasi ini hanya berada pada lngkungan yang lebih terbuka dan dekat dengan air. Hal ini sesuai dengan yang terkutip dari United States Department of Agriculture (USDA), 2012 yang menyatakan bahwa Neptunia oleracea sering mendiami lahan basah terbuka dekat dengan tepi air, atau biasa ditemukan mengapung di atas permukaan air. Pada plot ini hanya dtemukan dekiti spesies, namun praktikan percaya bahwa pada plot plot selanjutnya yang lebih basah memiliki jumlahh Neptunia oleraceae yang lebih banyak. Spesies ini tidak ditemukan di plot plot sebelumnya karena seperti yang terpapar sebelumnya bahwa plot plot sebelumnya di dominasi oleh Chromolaena odorata. Chromolaena odorata termasuk salah satu tanaman invasif yang dapat mengancam keberadaan spesies lain, dengan menutupi sebagian besar suatu wilayah sehingga mampu mengalihkan lahan terbuka menjadi lahan tertutup (Muniappan, 1989). C. Metode Titik Dalam praktikum ini bertujuan untuk menganalisis vegetasi menggunakan metode titik. Berdasarkan hasil penelitian analisis vegetasi dengan menggunakan metode titik yang dilakukan di Hutan BIOLOGI FMIPA UM, yang dilakukan sepanjang 7 plot didapatkan data sebanyak 4 jenis tumbuhan yang berbeda spesiesnya. Jenis tumbuhan tersebut yaitu Andropogon sp., Mikania
micrantha,
Chromolaena
odorata,
dan
Nephrolis
biserrata. Metode
titik
menggunakan
perhitungan
frekuensi,
dominansi, serta indeks nilai penting setiap spesies di hutan biologi pada stasiun 1. Berdasarkan analisa data indeks nilai penting yang tertinggi spesies 123,6%.
Mikania micrantha sebesar
Sedangkan frekuensi relatifnya sebesar 71% dan
dominansi relatif 52,6%. Sehingga dengan metode titik ini, tumbuhan yang paling banyak ditemui yaitu Mikania micrantha.
Mikania micrantha merupakan gulma tahunan yang tumbuh merambat
dengan
cepat.
Batang
Mikania
berwarna
hijau
menjalar, tiap ruas batang ditumbuhi dua helai yang saling berhadapan (Harahap, 2015). Mikania micrantha memiliki pertumbuhan yang sangat cepat sehingga menjadi gulma yang ganas di Indonesia (Srima, 2008). Selain itu, dengan keadaan batang yang menjalar mengakibatkan tumbuhan ini tersebar dengan luas. Sehingga keberadaan tumbuhan ini banyak ditemui mulai dari plot 3 sampai plot 7. Tumbuhan kedua yang memiliki indeks nilai penting 27,1 % Andropogon sp. Frekuensi relatif 15,8%, dominansi relatif 11,3 %. Andropogon bentuk
daun
sp.merupakan yang
jenis
memanjan.
rumput-rumputan Daun
Andropogon
dengan sp.rapat
disepanjang rimpang sehingga membentuk hamparan yang menutupi permukaan tanah. Keberadaan rumput ini paling banyak ditemui pada plot 1, dan jarang bahkan tidak ditemui pada plot selanjutnya. Hal ini dikarenakan keberadaan tumbuhan lain lebih mamu bersaing. Indeks nilai penting yang ketiga sebesar 18,3 %, frekuensi relatif 10% dan dominansi relative 8,3% yaitu tumbuhan Chromolaena odorata. Chromolaena odorata termasuk tanaman gulma yang memiliki karakteristik batang tegak, berkayu, dirumbuhi rambut-rambut halus, bercabang dan susunan daun berhadapan. Chromolaena odorata dapat hidup lebih dari satu tahun hingga beberapa tahun, dengan perkembang biakan melalui biji. Chromolaena odorata dapat tumbuh baik hampir disemua jenis tanah dan akan tumbuh dengan baik jika cahaya yang diperlukan mencukupi.
Indeks nilai penting yang terendah yaitu spesies Nephrolis biserrata sebesar 5,4 %, dengan frekuensi relatif 2,6 % dan dominansi relatif 2,8%. Nephrolis biserrata
jarang ditemukan di
lereng-lereng gunung, namun lebih menyukai datarn rendah. Nephrolis biserrata merupakan jenis tumbuhan paku-pakuan yang tumbuh langsung di tanah atau disela-sela bebatuan. Tumbuhan ini tidak banyak ditemui, hanya di plot 5 karena kondisi plot lima ada sekumpulan batu bata. Keberadaan spesies-spesies tersebut tidak lain karena adanya faktor biotic dan faktor abiotik yang mendukung. Faktor biotic dapat berupa kopetitor, maupun predator dari spesies tersebut. Sedangkan faktor abiotik seperti suhu, pH, kelembapan, serta intensitas cahaya. Rata-rata pH tanah di stasiun 1 bersifat netral yaitu ± 7, dengan suhu 25 0C, kelembapan 24,5%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kondisi lingkungan tersebut sesuai
untu
spesies
Andropogon
sp.,
Mikania
micrantha,
Chromolaena odorata, dan Nephrolis biserrata.
BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Kesimpulan yang dapat ditarik dari praktikum ini adalah sebagai berikut ; 1. Ada spesies gulma yang memiliki daya invasi tinggi dan mampu hidup degan derajat toleransi terhadap faktor abiotik
yang sangat tinggi juga, sehingga tumbuhan tersebut mampu hidup dan berkembangbiak dengan pesat. 5.2 Saran 1. Kerapatan, frekuensi dan densitas pada semua metode analisis vegetasi merupakan variabel hitung Indeks Nilai Penting, sehingga praktikan harus meningkatkan ketelitian dalam menghitung. 5.3 Jawaban Pertanyaan Jika praktikan dihadapkan pada kondisi bentang alam hutan hujan tropis dan harus melakukan analisis vegetasi, maka faktor yang harus diantisipasi adalah faktor abiotik dan biotik. Faktor biotik contohnya kehadiran hewan perusak tumbuhan tersebut yang dapat mengurangi kerapatan dan kerimbunan tumbuhan tersebut. Jika ditinjau dari faktor abiotik adalah, adanya curah hujan yang terlalu tinggi dan seharusnya dapat diantisipasi dengan mencari plot yang aman dan bebas banjir. Selain itu, faktor abiotik juga harus senantiasa diamati dan dicatat.
DAFTAR RUJUKAN
Barus, Emanuel .2003. Pengendalian Gulma Perkebunan. Yogyakarta: Kanisius Codilla, Lina. Ephrime Metillo. 2011. Distribution of the Invasive Plant Species Chromolaena odorata I., in the Zamboangan, Peninsula, Philippines. Singapore : LACSIT press. De Winter, W.P and Amoroso, V.B. 2003. Plant Resources of South-East Asia no. 15(2). Cryptogams: Ferns and Ferns Allies. Bogor: prosea foundation. Harahap, Adil Kari Salam. Rahman Hidayat. 2015. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Mikania (Mikania micrantha) terhadap Bakteri Salmonella, Escherichia Coli, dan Staphylococcus Aureus. Jurnal Grahatani, 1-12, (Online), (http://faperta.ugm.ac.id/wp-content/uploads/2015/10), diakses pada 15 februari 2017. Michael, M. 1992. Ekologi Umum. Jakarta: Universitas Indonesia. Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. UI Press: Jakarta. Muntappan, R. V. Sundaramurthy. C Viraktamath. 1989. Distribution of Chromolaena odoeata and Bionomics and Consumption and Utilization of Food by Pareuchaetes pseudoinsulata. Guam : Agricultural Experiment Station, University of Guam. Odum EP.1980. Dasar-Dasar Ekologi terjemahan Thahjono Samingan (1992). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha.
2001. Petunjuk
Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA: Malang. Soerianegara, I dan Indrawan A. 1998. Ekologi Hutan Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Srima, Ningsih Mismawarni. 2008. Analisis Daya Invasi Sembung Rambat (Mikania
micrantha),
(online),
26
(3):
152-161,
(http://journal.fkugm.ac.id/nju/index.php/kemas), diakses 15 Februari 2017. Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB: Bandung.
United States Departement of Agriculture. 2012. Weed Risk Assessment for Ne(Fabaceae)- Water mimosa. Virginia : APHIS LAMPIRAN No 1
Nama Tumbuhan Ageratum conyzoides
Gambar
Keterang an Kuadrat G
2
Borreria sp.
Kuadrat H
3
Chromolaena odorata
Titik C
4
Cynodon dactylon
Kuadrat D
5
Mikania micrantha
Titik B, Kuadrat E, garis D
6
Pueraria sp.
Titik D,Garis E
7
Nephrolepsis biserrata
Kuadrat I, Garis G,Titik D
8
Neptunia oleraceae
Kuadrat K,Garis H
9
Portulaca sp.
Garis F, Kuadrat J
10
Panax sp.
Garis A, Kuadrat C
11
Richardia brasiliensis
Kuadrat A Garis B
12
Andropogon sp.
Titik A, Kuadrat B, Garis C
View more...
Comments